HIKAYAT INDERAPUTERA - TEXT WITH PAGE & LINE REFERENCES
This text is based on the Malay text edition by S.W.R. Mulyadi,
Hikayat Indraputra: A Malay Romance (Dordrecht: Foris, 1983.
Bibliotheca Indonesica no. 23.). The publishers, Koninklijk Instituut
voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Leiden, have authorized the use of
the text for this purpose. By arrangement with the KITLV, this text
is deposited in the Oxford Text Archive, for use by scholars after
notification to the KITLV.
The text was prepared in the course of making a concordance:
Concordance to Hikayat Inderaputera, A Complete Lemmatized Concordance
with Indexes and Frequency Tables prepared by I. Proudfoot and
published by the Malay Concordance Project, Australian National
University, 1990.
Mulyadi's edition is a transcription of a manuscript in the Koninklijk
Instituut collection (HS. 542, now Or. 53; Ph. S. van Ronkel,
"Catalogus der Malaische Handschriften van het Koninklijk Instituut
voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie", Bijdragen
tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, vol.60
(1908), pp.186-187). It is of unknown provenance, and dates from the
year 1700.
Words running across line or page divisions in the printed source have
been dehyphenated as appropriate and attributed in full to the line or
page on which they begin.
A few typographical errors have been emended. These are listed below
(page:line)
50: 4 Demikianlan Demikianlah
60: 2 subahanahu subhanahu
60:16 etc. s-sawab [diacritics omitted]
62: 2 (per) malaun (per)maluan
64:51 hulubanag hulubalang
67:32 mudah muda(h)
70:16 jang yang
76: 1 demikan demikian
79:23 kolom kolam
84:47 lawanya lawannya
91:16 [di]edarkan [diper]edarkan
100:47 keduah kedua(h)
111:28 mudah muda(h)
112:24 diremdamkan direndamkan
119: 8 Adab Ad[h]ab
132:35 Hinus Hinis
135:40 permulaanya permulaannya
141:40 ahlunnujun ahlunnujum
145:37 subanahu subhanahu
163: 4 digertakan digertakkan
168: 1 Setelah sudah masak maka
dibubuhnya racun. [omitted (dittography)]
170:48 mata maka
175:35 dibawah dibawa(h)
176:47 dingdingnya din(g)dingnya
179:21 kapaiannya pakaiannya
192: 2 cera-berai cerai-berai
205:18 (Sri) Sri
The longest line in the file is 89 characters.
Special characters with ASCII values:
< 60
> 62
The function of the special characters is to enclose cocoa references
to page (P) and line (L) of the printed text and folio (F) of the
original manuscript.
CONTACT ADDRESSES
For permission to use this text:
Afdeling Redactie,
Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde,
Postbus 9515,
2300 RA Leiden,
The Netherlands
Please notify corrections or address queries to:
Dr I. Proudfoot
Asian Studies Faculty
Australian National University
Box 4
Canberra 2601
Australia
Bahwa ini kisah ceritera Hikayat Indraputra yang indah-indah
perkataannya yang masyhur pada tanah manusyia dan pada tanah jin,
terlalu elok rupanya, syahdan kesaktiannya, dan terlalu pantas
barang lakunya, dan sikapnya terlalu baik dan rupanya terlalu amat
manis seperti laut madu, dan jejaknya sederhana, barang lakunya
dan pekertinya terlalu baik.
Sebermula pada zaman itu seorang pun tiada samanya, dan terlalu
arif dan bijaksana dengan gagah dan perkasyanyanya, dan dengan
beraninya, dan beberapa pekerjaanan yang tiada dapat dikerjakan orang
dapat dikerjakan oleh Indraputra.
Sebermula ialah yang disuruhkan oleh Raja Syahsyian kepada Berma
Sakti, dan ialah yang diterbangkan merak emas, dan ialah yang berjalan
dalam hutan belantara seorang dirinya, beberapa ia melalui
gunung yang besar-besar dan bertemu dengan Tasik Samundra dan ialah
yang bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari, dan ialah yang
beroleh kemala hikmat, dan ialah yang mengadap Berma Sakti dengan
Raja Dewa Lela Mengerna, dan ialah yang diterbangkan jin yang
bernama Tamar Boga, dan ialah yang bertemu dengan bukit emas dan
bukit perak dan bukit permata, dan ialah yang bertemu gunung api,
dan ialah yang bertemu dengan Tasik Bahrul Ajaib, dan ialah yang
bertemu dengan Tasik Bahrul Asyik, dan ialah yang berjalan pada
jalan yang tiada dijalani orang; demikianlah gagah perkasa Indraputra,
dan ialah yang berjalan dalam guha sebulan lamanya, dan ialah
yang membunuh ular mamdud. Syahdan ialah membunuh Gur Akas mati
dalam tangan Indraputra, dan berapa hikmat Raja Tulela Syah hendak
membunuh Gur Akas itu tiada juga dapat dibunuhnya, maka dapat dibunuh
oleh Indraputra dengan diparangnya. Syahdan ialah yang dibuangkan
oleh menteri Raja Syahsyian ke dalam laut tiga tahun lamanya,
dan ialah yang beroleh kain sutra puri namanya halus seperti
air embun rupanya, dan ialah yang bertemu dengan Dewi Lakpurba di
dalam laut, dan ialah yang berjalan dalam laut jin, dan ialah yang
bertemu dengan Darma Gangga, maka diberinya suatu panah kesaktian
dan beberapa hikmat hulubalang diberikannya kepada Indraputra.
Demikianlah diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera peri
gagah perkasa Indraputra.
Bermula sekali peristiwa ada seorang raja di Negeri Samantapuri
dan nama raja (raja) itu Maharaja Bikrama Bispa dan akan raja itu
terlalu besar kerajaannya. Syahdan beberapa raja-raja takluk kepadanya
memberi upeti pada genap tahun, dan empat puluh raja-raja
yang memakai kulah yang keemasan dengan alat senjata hadir di
bawah istana raja itu. Demikianlah peri kebesaran raja itu.
Hatta berapa lamanya Raja Bikrama Bispa dalam kerajaan, maka
istri Raja Bikrama Bispa yang bernama tuan putri Jumjum Ratnadewi
pun hamillah. Setelah berapa lama antaranya genap bulannya pada
ketika yang baik, pada empat belas hari bulan ketika dinihari maka
tuan putri pun menyakit hendak beranak. Setelah itu maka tuan
putri pun beranaklah seorang laki-laki terlalu amat baik rupanya
seperti matahari baharu terbit, gilang-gemilang rupanya.
Setelah demikian maka baginda pun terlalu amat sukacita melihat
anakanda baginda itu. Maka raja pun menyuruh orang memalu bunyi-bunyian
seperti adat segala raja-raja berputra. Demikianlah
maka dinamai akan anakanda itu Indraputra.
Maka Maharaja Bikrama Bispa menyuruh memanggil segala ahlunnujum
dan sastrawan. Maka setelah datang segala ahlunnujum, maka Maharaja
Bikrama Bispa memberi titah pada segala ahlunnujum, "Betapa
peri kebesaran anakku ini?"
Maka segala ahlunnujum pun melihat nujumnya dan menggerakkan
kepalanya. Maka sembah segala ahlunnujum, "Ya tuanku Syah Alam,
terlalu sekali berbahagia paduka anakanda itu dan memangku kerajaan
yang mahabesar. Adapun tujuh tahun juga paduka anakanda itu
dapat bersama-sama dengan tuanku. Kemudian dari itu bercerailah
paduka anakanda dengan tuanku, beberapa paduka anakanda itu melihat
kekayaan Allah subhanahu wa taala Tu[h]an yang Mahatinggi;
dan jangan paduka anakanda itu tuanku beri bermain binatang,
karena sebab paduka anakanda bermain binatang itu jadi beroleh
bencana, bercerai dengan duli tuanku."
Setelah Maharaja Bikrama Bispa mendengar sembah segala ahlunnujum
itu demikian maka Maharaja Bikrama Bispa memberi anugerah
akan segala ahlunnujum dan sastrawan itu, dan memberi anugerah
akan segala fakir dan miskin, dan memberi persalin akan segala
raja-raja dan menteri dan hulubalang sekalian dan orang kaya-kaya.
Maka baginda menyuruh memalu bunyi-bunyian, makan minum empat puluh
hari empat puluh malam, bersuka-sukaan dengan segala raja-raja
dan menteri hulubalang dan orang kaya-kaya sekalian. Setelah genap
empat puluh hari empat puluh malam maka Raja Bikrama Bispa mengarak
anakanda baginda Indraputra berkeliling negeri tujuh kali
dengan segala bunyi-bunyian, diiringkan oleh segala raja-raja dan
menteri hulubalang dan orang kaya-kaya sekalian dengan segala bala
tentera kecil besar. Setelah sampai ke istana maka disambut baginda
akan anakanda baginda, didudukkan di atas tahta kerajaan,
diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian. Setelah
sudah maka disuruh peliharakan baginda akan anakanda itu dengan
sepertinya.
Hatta setelah berapa lamanya maka anakanda baginda Indraputra
pun besarlah, maka disuruhkan baginda kepada mualim disuruh ajar
mengaji. Setelah berapa lamanya kira-kira tujuh tahun umur Indraputra,
maka Indraputra pun tahulah mengaji Quran. Maka Maharaja
Bikrama Bispa pun mangkin sangat kasihnya akan anakanda baginda
Indraputra, seketika pun tiada dapat bercerai, karena baginda
sangat memeliharakan pesan ahlunnujum; dan jika baginda diadap
segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian pun anakanda itu
tiada bercerai dengan baginda.
Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra diterbangkan merak
emas dan peri mengatakan Indraputra jatuh kepada kebun nenek kebayan
maka diambil oleh nenek kebayan, dan peri mengatakan Indraputra
diangkat anak oleh perdana menteri, dan peri mengatakan
Indraputra ada dengki hati oleh menteri Raja Syahsyian.
Hatta sekali peristiwa Raja Bikrama Bispa duduk semayam diadap
orang di atas tahta kerajaan maka Indraputra pun ada diriba oleh
ayahanda baginda, maka datang seorang utusan daripada sebuah
negeri membawa upeti. Maka ada utusan itu membawa utas pandai dua
orang, seorang pandai emas dan seorang pandai kayu, maka dipersembahkannya
kepada Raja Bikrama Bispa dua orang utas itu.
Maka titah Raja Bikrama Bispa, "Apa tahunya utas ini?"
Maka sembah utusan itu, "Ya tuanku, seorang ini pandai emas dan
seorang ini tukang kayu."
Maka titah baginda kepada dua orang utas itu, "Perbuatlah olehmu
barang tahu kamu."
Maka diperbuat oleh pandai kayu itu seekor ikan terlalu indah-indah
rupanya seperti rupa ikan yang benar. Maka dipersembahkannya
kepada raja, maka disuruh taruh (oleh) dalam suatu jambangan, maka
di atas air dalamnya maka ikan kayu itu dilepaskan dalam air itu.
Maka ikan kayu itu pun tertawa dan berenang dalam air itu, berpantun
dan berseloka.
Maka titah baginda kepada pandai emas itu, "Hai utas, perbuatlah
olehmu barang tahumu supaya kulihat."
Maka pandai emas itu pun menyembah kepada raja itu, maka diperbuatnya
suatu merak emas terlalu indah-indah perbuatannya. Setelah
sudah maka dipersembahkannya kepada raja. Maka dilihat baginda
terlalu ajaib indah-indah rupanya merak itu. Maka ditaruh baginda
di atas talam emas, maka merak itu pun mengigal di atas talam itu
seraya berpantun dan berseloka.
Maka Maharaja Bikrama Bispa bertitah kepada dua orang utas itu,
"Bahwa pada hari ini tiadalah aku mengambil upeti daripada negeri
kamu kedua."
Maka kedua utas itu pun sujud menyembah kepada Maharaja Bikrama
Bispa dengan sukacitanya. Hatta setelah berapa lamanya dalam antara
berkata-kata itu maka Indraputra turun daripada ribaan ayahanda
baginda itu melihat merak emas itu mengigal, duduk hampir
sisi talam itu, maka Indraputra disambar oleh merak itu dibawanya
terbang. Maka Indraputra pun gaiblahlah dengan seketika itu
daripada mata Maharaja Bikrama Bispa dan mata orang banyak.
Setelah Maharaja Bikrama Bispa melihat anakanda baginda hilang
itu maka baginda pun murca seketika. Setelah baginda sadar akan
dirinya maka baginda menangis terlalu sangat dengan segala isi
istana gempar menangis. Maka segala isi negeri pun semuanya dukacita
mendengar Indraputra hilang itu.
Maka tersebutlah perkataan Indraputra diterbangkan merak emas
itu jatuh kepada suatu negeri pada kebun nenek kebayan. Maka Indraputra
pun berjalan-jalan dalam kebun nenek kebayan maka ia berhenti
di bawah pohon delima, maka Indraputra makan buah delima itu.
Setelah sudah ia makan buah delima itu maka nenek kebayan pun
datang daripada berjual bunga itu, maka ditaruhnya bakulnya lalu
ia datang ke pintu kebun itu. Maka Indraputra pun melihat seorang
perempuan tuha datang, maka baharulah Indraputra ingat akan ayah
bundanyanya maka dalam hatinya sedihlah. Dengan kehendak Allah subhanahu
wa taala maka nenek kebayan pun masuklah ke dalam kebun,
maka dilihatnya ada seorang kanak-kanak laki-laki duduk di bawah
pohon delima, rupanya terlalu baik lengkap dengan pakaiannya serba
keemasan.
Maka ujar nenek kebayan, "Anak siapa engkau dan dari mana engkau
datang masuk kemari, karena pintu kebunku terikat juga dan tempatku
ini jauh daripada rumah orang banyak. Dari mana jalanmu masuk
kemari?"
Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, akulah yang bernama Indraputra
anak Maharaja Bikrama Bispa. Adapun maka sebab aku datang
kemari, karena aku diterbangkan merak emas," maka diceriterakannya
segala halnya semuanya kepada nenek kebayan.
Maka ujar nenek kebayan, "Maukah engkau kuambil akan cucuku duduk
sama-sama dengan aku di sini?"
Maka sahut Indraputra, "Hai nenekku, baiklah jikalau nenek kasihkan
aku, ke manatah lagi sekarang aku pergi?"
Maka nenek kebayan pun suka hatinya lalu dimandikannya Indraputra,
maka dibawanya pulang ke rumahnya dan dikeluarkannya segala
pakaiannya daripada tubuh Indraputra, ditaruh nenek kebayan, maka
diberinya pakaian yang lain.
Setelah esok harinya maka nenek kebayan pun pergi berjual bunga.
Maka Indraputra dibawanya sama-sama berjalan menjual bunga itu.
Maka dilihat orang banyak peri elok rupa Indraputra maka
sekalian orang itu pun bertanya, ujarnya, "Hai nenek kebayan, anak
siapa nenek bawa ini?"
Maka sahut kebayan, "Budak ini cucu hamba."
Maka kata orang itu, "Sekian lama mengapa tidak nenek bawa berjalan?"
Maka ujar nenek kebayan, "Adapun sekian lama maka tiada kubawa
berjalan, karena ia lagi kecil. Sekarang ia telah besar inilah
maka kubawa berjalan."
Maka barang siapa melihat rupa Indraputra itu kasih hatinya, ada
yang memberi pakaian daripada seorang kepada seorang. Demikianlah
peri orang kasih akan Indraputra itu, barang siapa memandang muka
Indraputra itu tiada lupa daripada hatinya. Maka beratlah nenek
kebayan membawa pulang pemberi orang akan Indraputra itu, demikianlah
pada tiap-tiap hari. Sebermula selama nenek kebayan beroleh
Indraputra maka kebun bunga nenek kebayan pun terlalu jadi.
Maka nenek kebayan pun jadi kaya karena harga bunga dan pemberi
orang kepada Indraputra.
Bermula pada suatu hari nenek kabayan pergi ke rumah perdana
menteri berjual bunga dengan Indraputra. Maka dihantarkannya bunga
pada bini perdana menteri maka disambut bunga itu oleh bini perdana
menteri.
Setelah perdana menteri melihat rupa Indraputra maka kata perdana
menteri, "Hai nenek kebayan, anak siapa kaubawa ini?"
Maka ujar nenek kebayan, "Ya tuanku perdana menteri, bahwa kanak-kanak
ini cucu hamba."
Maka kata perdana menteri, "Sekian lama mengapa maka tiada nenek
bawa berjalan?"
Maka sahut nenek kebayan, "Sekian lama maka tiada hambamu bawa
karena ia lagi kecil. Sekarang ia telah besar dan ada budinya inilah
maka hamba bawa."
Maka ujar perdana menteri, "Siapa nama [kanak-]kanakkanak ini?"
Maka ujar nenek kebayan, "Indraputra tuanku namanya."
Maka dipandang oleh perdana menteri akan Indraputra, diperamat-amatinya,
dilihatnya, maka dalam hati perdana menteri, "Kanak-kanak
ini seperti anak raja lakunya dan sikapnya."
Maka ujar perdana menteri, "Hai Indraputra, mari anakku hampir
ayahanda sini duduk."
Maka Indraputra pun hampir perdana menteri duduk dengan hormatnya.
Maka perdana menteri hendak makan nasi maka diajaknya akan
Indraputra makan sama-sama sehidangan. Tiada Indraputra mau makan
sehidangan perdana menteri, maka dipegang perdana menteri tangan
Indraputra dibawanya makan sama-sama. Maka Indraputra pun makanlah
sama dengan perdana [menteri] seraya menyembah dengan hormatnya.
Setelah sudah makan maka ujar perdana menteri pada nenek
kebayan, "Berilah Indraputra ini kuambil akan anakku, biar ia duduk
sama-sama dengan aku di sini."
Maka ujar nenek kebayan, "Ya tuanku perdana menteri, tiada hamba
dapat bercerai dengan cucu hambamu ini."
Maka ujar perdana menteri, "Biarlah Indraputra ini beta ambil
akan anak. Siang hari ia di sini, malam ia pergi ke rumah nenek
kebayan, karena beta tiada beranak."
Maka kata nenek kebayan, "Baiklah."
Maka tinggallah Indraputra kepada perdana menteri, diberinya
pakaian dengan sepertinya bagaimana pakaian anak orang besar-besar.
Demikianlah pakaian Indraputra diberi oleh perdana menteri, dipeliharakannya
seperti anaknya sendiri. Maka perdana menteri pun kasih
akan Indraputra. Apabila hari malam disuruhnya hantarkan Indraputra
ke rumah nenek kebayan, setelah hari siang disuruhnya dapatkan pada
hambanya. Demikianlah berapa lama, apabila perdana menteri duduk
diadap orang maka Indraputra duduk di sisinya dengan hormatnya.
Maka perdana menteri makin lama bertambah kasih hatinya akan Indraputra
dan Indraputra pun mangkin bertambah hormatnya akan perdana
menteri.
Sebermula maka nenek kebayan pun tiada lagi berjual bunga, hanya
hambanya yang disuruhnya berjual bunga. Hatta berapa lamanya maka
Indraputra pun mangkin bertambah budiman dan bijaksana, syahdan
rupanya pun mangkin bertambah baik dan barang lakunya sedap manis.
Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab.
Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra disuruhkan Raja Syahsyian
pergi kepada Berma Sakti, dan peri mengatakan Indraputra beroleh