HIKAYAT INDERAPUTERA - TEXT WITH PAGE & LINE REFERENCES This text is based on the Malay text edition by S.W.R. Mulyadi, Hikayat Indraputra: A Malay Romance (Dordrecht: Foris, 1983. Bibliotheca Indonesica no. 23.). The publishers, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Leiden, have authorized the use of the text for this purpose. By arrangement with the KITLV, this text is deposited in the Oxford Text Archive, for use by scholars after notification to the KITLV. The text was prepared in the course of making a concordance: Concordance to Hikayat Inderaputera, A Complete Lemmatized Concordance with Indexes and Frequency Tables prepared by I. Proudfoot and published by the Malay Concordance Project, Australian National University, 1990. Mulyadi's edition is a transcription of a manuscript in the Koninklijk Instituut collection (HS. 542, now Or. 53; Ph. S. van Ronkel, "Catalogus der Malaische Handschriften van het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie", Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, vol.60 (1908), pp.186-187). It is of unknown provenance, and dates from the year 1700. Words running across line or page divisions in the printed source have been dehyphenated as appropriate and attributed in full to the line or page on which they begin. A few typographical errors have been emended. These are listed below (page:line) 50: 4 Demikianlan Demikianlah 60: 2 subahanahu subhanahu 60:16 etc. s-sawab [diacritics omitted] 62: 2 (per) malaun (per)maluan 64:51 hulubanag hulubalang 67:32 mudah muda(h) 70:16 jang yang 76: 1 demikan demikian 79:23 kolom kolam 84:47 lawanya lawannya 91:16 [di]edarkan [diper]edarkan 100:47 keduah kedua(h) 111:28 mudah muda(h) 112:24 diremdamkan direndamkan 119: 8 Adab Ad[h]ab 132:35 Hinus Hinis 135:40 permulaanya permulaannya 141:40 ahlunnujun ahlunnujum 145:37 subanahu subhanahu 163: 4 digertakan digertakkan 168: 1 Setelah sudah masak maka dibubuhnya racun. [omitted (dittography)] 170:48 mata maka 175:35 dibawah dibawa(h) 176:47 dingdingnya din(g)dingnya 179:21 kapaiannya pakaiannya 192: 2 cera-berai cerai-berai 205:18 (Sri) Sri The longest line in the file is 89 characters. Special characters with ASCII values: < 60 > 62 The function of the special characters is to enclose cocoa references to page (P) and line (L) of the printed text and folio (F) of the original manuscript. CONTACT ADDRESSES For permission to use this text: Afdeling Redactie, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Postbus 9515, 2300 RA Leiden, The Netherlands Please notify corrections or address queries to: Dr I. Proudfoot Asian Studies Faculty Australian National University Box 4 Canberra 2601 Australia

Bahwa ini kisah ceritera Hikayat Indraputra yang indah-indah perkataannya yang masyhur pada tanah manusyia dan pada tanah jin, terlalu elok rupanya, syahdan kesaktiannya, dan terlalu pantas barang lakunya, dan sikapnya terlalu baik dan rupanya terlalu amat manis seperti laut madu, dan jejaknya sederhana, barang lakunya dan pekertinya terlalu baik. Sebermula pada zaman itu seorang pun tiada samanya, dan terlalu arif dan bijaksana dengan gagah dan perkasyanyanya, dan dengan beraninya, dan beberapa pekerjaanan yang tiada dapat dikerjakan orang dapat dikerjakan oleh Indraputra. Sebermula ialah yang disuruhkan oleh Raja Syahsyian kepada Berma Sakti, dan ialah yang diterbangkan merak emas, dan ialah yang berjalan dalam hutan belantara seorang dirinya, beberapa ia melalui gunung yang besar-besar dan bertemu dengan Tasik Samundra dan ialah yang bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari, dan ialah yang beroleh kemala hikmat, dan ialah yang mengadap Berma Sakti dengan Raja Dewa Lela Mengerna, dan ialah yang diterbangkan jin yang bernama Tamar Boga, dan ialah yang bertemu dengan bukit emas dan bukit perak dan bukit permata, dan ialah yang bertemu gunung api, dan ialah yang bertemu dengan Tasik Bahrul Ajaib, dan ialah yang bertemu dengan Tasik Bahrul Asyik, dan ialah yang berjalan pada jalan yang tiada dijalani orang; demikianlah gagah perkasa Indraputra, dan ialah yang berjalan dalam guha sebulan lamanya, dan ialah yang membunuh ular mamdud. Syahdan ialah membunuh Gur Akas mati dalam tangan Indraputra, dan berapa hikmat Raja Tulela Syah hendak membunuh Gur Akas itu tiada juga dapat dibunuhnya, maka dapat dibunuh oleh Indraputra dengan diparangnya. Syahdan ialah yang dibuangkan oleh menteri Raja Syahsyian ke dalam laut tiga tahun lamanya, dan ialah yang beroleh kain sutra puri namanya halus seperti air embun rupanya, dan ialah yang bertemu dengan Dewi Lakpurba di

dalam laut, dan ialah yang berjalan dalam laut jin, dan ialah yang bertemu dengan Darma Gangga, maka diberinya suatu panah kesaktian dan beberapa hikmat hulubalang diberikannya kepada Indraputra. Demikianlah diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera peri gagah perkasa Indraputra. Bermula sekali peristiwa ada seorang raja di Negeri Samantapuri dan nama raja (raja) itu Maharaja Bikrama Bispa dan akan raja itu terlalu besar kerajaannya. Syahdan beberapa raja-raja takluk kepadanya memberi upeti pada genap tahun, dan empat puluh raja-raja yang memakai kulah yang keemasan dengan alat senjata hadir di bawah istana raja itu. Demikianlah peri kebesaran raja itu. Hatta berapa lamanya Raja Bikrama Bispa dalam kerajaan, maka istri Raja Bikrama Bispa yang bernama tuan putri Jumjum Ratnadewi pun hamillah. Setelah berapa lama antaranya genap bulannya pada ketika yang baik, pada empat belas hari bulan ketika dinihari maka tuan putri pun menyakit hendak beranak. Setelah itu maka tuan putri pun beranaklah seorang laki-laki terlalu amat baik rupanya seperti matahari baharu terbit, gilang-gemilang rupanya. Setelah demikian maka baginda pun terlalu amat sukacita melihat anakanda baginda itu. Maka raja pun menyuruh orang memalu bunyi-bunyian seperti adat segala raja-raja berputra. Demikianlah maka dinamai akan anakanda itu Indraputra. Maka Maharaja Bikrama Bispa menyuruh memanggil segala ahlunnujum dan sastrawan. Maka setelah datang segala ahlunnujum, maka Maharaja Bikrama Bispa memberi titah pada segala ahlunnujum, "Betapa peri kebesaran anakku ini?" Maka segala ahlunnujum pun melihat nujumnya dan menggerakkan kepalanya. Maka sembah segala ahlunnujum, "Ya tuanku Syah Alam, terlalu sekali berbahagia paduka anakanda itu dan memangku kerajaan yang mahabesar. Adapun tujuh tahun juga paduka anakanda itu dapat bersama-sama dengan tuanku. Kemudian dari itu bercerailah paduka anakanda dengan tuanku, beberapa paduka anakanda itu melihat kekayaan Allah subhanahu wa taala Tu[h]an yang Mahatinggi; dan jangan paduka anakanda itu tuanku beri bermain binatang, karena sebab paduka anakanda bermain binatang itu jadi beroleh bencana, bercerai dengan duli tuanku." Setelah Maharaja Bikrama Bispa mendengar sembah segala ahlunnujum itu demikian maka Maharaja Bikrama Bispa memberi anugerah akan segala ahlunnujum dan sastrawan itu, dan memberi anugerah akan segala fakir dan miskin, dan memberi persalin akan segala raja-raja dan menteri dan hulubalang sekalian dan orang kaya-kaya. Maka baginda menyuruh memalu bunyi-bunyian, makan minum empat puluh hari empat puluh malam, bersuka-sukaan dengan segala raja-raja dan menteri hulubalang dan orang kaya-kaya sekalian. Setelah genap empat puluh hari empat puluh malam maka Raja Bikrama Bispa mengarak anakanda baginda Indraputra berkeliling negeri tujuh kali dengan segala bunyi-bunyian, diiringkan oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang dan orang kaya-kaya sekalian dengan segala bala tentera kecil besar. Setelah sampai ke istana maka disambut baginda akan anakanda baginda, didudukkan di atas tahta kerajaan, diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian. Setelah sudah maka disuruh peliharakan baginda akan anakanda itu dengan sepertinya.

Hatta setelah berapa lamanya maka anakanda baginda Indraputra pun besarlah, maka disuruhkan baginda kepada mualim disuruh ajar mengaji. Setelah berapa lamanya kira-kira tujuh tahun umur Indraputra, maka Indraputra pun tahulah mengaji Quran. Maka Maharaja Bikrama Bispa pun mangkin sangat kasihnya akan anakanda baginda Indraputra, seketika pun tiada dapat bercerai, karena baginda sangat memeliharakan pesan ahlunnujum; dan jika baginda diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian pun anakanda itu tiada bercerai dengan baginda. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra diterbangkan merak emas dan peri mengatakan Indraputra jatuh kepada kebun nenek kebayan maka diambil oleh nenek kebayan, dan peri mengatakan Indraputra diangkat anak oleh perdana menteri, dan peri mengatakan Indraputra ada dengki hati oleh menteri Raja Syahsyian. Hatta sekali peristiwa Raja Bikrama Bispa duduk semayam diadap orang di atas tahta kerajaan maka Indraputra pun ada diriba oleh ayahanda baginda, maka datang seorang utusan daripada sebuah negeri membawa upeti. Maka ada utusan itu membawa utas pandai dua orang, seorang pandai emas dan seorang pandai kayu, maka dipersembahkannya kepada Raja Bikrama Bispa dua orang utas itu. Maka titah Raja Bikrama Bispa, "Apa tahunya utas ini?" Maka sembah utusan itu, "Ya tuanku, seorang ini pandai emas dan seorang ini tukang kayu." Maka titah baginda kepada dua orang utas itu, "Perbuatlah olehmu barang tahu kamu." Maka diperbuat oleh pandai kayu itu seekor ikan terlalu indah-indah rupanya seperti rupa ikan yang benar. Maka dipersembahkannya kepada raja, maka disuruh taruh (oleh) dalam suatu jambangan, maka di atas air dalamnya maka ikan kayu itu dilepaskan dalam air itu. Maka ikan kayu itu pun tertawa dan berenang dalam air itu, berpantun dan berseloka. Maka titah baginda kepada pandai emas itu, "Hai utas, perbuatlah olehmu barang tahumu supaya kulihat." Maka pandai emas itu pun menyembah kepada raja itu, maka diperbuatnya suatu merak emas terlalu indah-indah perbuatannya. Setelah sudah maka dipersembahkannya kepada raja. Maka dilihat baginda terlalu ajaib indah-indah rupanya merak itu. Maka ditaruh baginda di atas talam emas, maka merak itu pun mengigal di atas talam itu seraya berpantun dan berseloka. Maka Maharaja Bikrama Bispa bertitah kepada dua orang utas itu, "Bahwa pada hari ini tiadalah aku mengambil upeti daripada negeri kamu kedua." Maka kedua utas itu pun sujud menyembah kepada Maharaja Bikrama Bispa dengan sukacitanya. Hatta setelah berapa lamanya dalam antara berkata-kata itu maka Indraputra turun daripada ribaan ayahanda baginda itu melihat merak emas itu mengigal, duduk hampir sisi talam itu, maka Indraputra disambar oleh merak itu dibawanya terbang. Maka Indraputra pun gaiblahlah dengan seketika itu daripada mata Maharaja Bikrama Bispa dan mata orang banyak. Setelah Maharaja Bikrama Bispa melihat anakanda baginda hilang itu maka baginda pun murca seketika. Setelah baginda sadar akan

dirinya maka baginda menangis terlalu sangat dengan segala isi istana gempar menangis. Maka segala isi negeri pun semuanya dukacita mendengar Indraputra hilang itu. Maka tersebutlah perkataan Indraputra diterbangkan merak emas itu jatuh kepada suatu negeri pada kebun nenek kebayan. Maka Indraputra pun berjalan-jalan dalam kebun nenek kebayan maka ia berhenti di bawah pohon delima, maka Indraputra makan buah delima itu. Setelah sudah ia makan buah delima itu maka nenek kebayan pun datang daripada berjual bunga itu, maka ditaruhnya bakulnya lalu ia datang ke pintu kebun itu. Maka Indraputra pun melihat seorang perempuan tuha datang, maka baharulah Indraputra ingat akan ayah bundanyanya maka dalam hatinya sedihlah. Dengan kehendak Allah subhanahu wa taala maka nenek kebayan pun masuklah ke dalam kebun, maka dilihatnya ada seorang kanak-kanak laki-laki duduk di bawah pohon delima, rupanya terlalu baik lengkap dengan pakaiannya serba keemasan. Maka ujar nenek kebayan, "Anak siapa engkau dan dari mana engkau datang masuk kemari, karena pintu kebunku terikat juga dan tempatku ini jauh daripada rumah orang banyak. Dari mana jalanmu masuk kemari?" Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, akulah yang bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa. Adapun maka sebab aku datang kemari, karena aku diterbangkan merak emas," maka diceriterakannya segala halnya semuanya kepada nenek kebayan. Maka ujar nenek kebayan, "Maukah engkau kuambil akan cucuku duduk sama-sama dengan aku di sini?" Maka sahut Indraputra, "Hai nenekku, baiklah jikalau nenek kasihkan aku, ke manatah lagi sekarang aku pergi?" Maka nenek kebayan pun suka hatinya lalu dimandikannya Indraputra, maka dibawanya pulang ke rumahnya dan dikeluarkannya segala pakaiannya daripada tubuh Indraputra, ditaruh nenek kebayan, maka diberinya pakaian yang lain. Setelah esok harinya maka nenek kebayan pun pergi berjual bunga. Maka Indraputra dibawanya sama-sama berjalan menjual bunga itu. Maka dilihat orang banyak peri elok rupa Indraputra maka sekalian orang itu pun bertanya, ujarnya, "Hai nenek kebayan, anak siapa nenek bawa ini?" Maka sahut kebayan, "Budak ini cucu hamba." Maka kata orang itu, "Sekian lama mengapa tidak nenek bawa berjalan?" Maka ujar nenek kebayan, "Adapun sekian lama maka tiada kubawa berjalan, karena ia lagi kecil. Sekarang ia telah besar inilah maka kubawa berjalan." Maka barang siapa melihat rupa Indraputra itu kasih hatinya, ada yang memberi pakaian daripada seorang kepada seorang. Demikianlah peri orang kasih akan Indraputra itu, barang siapa memandang muka Indraputra itu tiada lupa daripada hatinya. Maka beratlah nenek kebayan membawa pulang pemberi orang akan Indraputra itu, demikianlah pada tiap-tiap hari. Sebermula selama nenek kebayan beroleh Indraputra maka kebun bunga nenek kebayan pun terlalu jadi. Maka nenek kebayan pun jadi kaya karena harga bunga dan pemberi orang kepada Indraputra.

Bermula pada suatu hari nenek kabayan pergi ke rumah perdana menteri berjual bunga dengan Indraputra. Maka dihantarkannya bunga pada bini perdana menteri maka disambut bunga itu oleh bini perdana menteri. Setelah perdana menteri melihat rupa Indraputra maka kata perdana menteri, "Hai nenek kebayan, anak siapa kaubawa ini?" Maka ujar nenek kebayan, "Ya tuanku perdana menteri, bahwa kanak-kanak ini cucu hamba." Maka kata perdana menteri, "Sekian lama mengapa maka tiada nenek bawa berjalan?" Maka sahut nenek kebayan, "Sekian lama maka tiada hambamu bawa karena ia lagi kecil. Sekarang ia telah besar dan ada budinya inilah maka hamba bawa." Maka ujar perdana menteri, "Siapa nama [kanak-]kanakkanak ini?" Maka ujar nenek kebayan, "Indraputra tuanku namanya." Maka dipandang oleh perdana menteri akan Indraputra, diperamat-amatinya, dilihatnya, maka dalam hati perdana menteri, "Kanak-kanak ini seperti anak raja lakunya dan sikapnya." Maka ujar perdana menteri, "Hai Indraputra, mari anakku hampir ayahanda sini duduk." Maka Indraputra pun hampir perdana menteri duduk dengan hormatnya. Maka perdana menteri hendak makan nasi maka diajaknya akan Indraputra makan sama-sama sehidangan. Tiada Indraputra mau makan sehidangan perdana menteri, maka dipegang perdana menteri tangan Indraputra dibawanya makan sama-sama. Maka Indraputra pun makanlah sama dengan perdana [menteri] seraya menyembah dengan hormatnya. Setelah sudah makan maka ujar perdana menteri pada nenek kebayan, "Berilah Indraputra ini kuambil akan anakku, biar ia duduk sama-sama dengan aku di sini." Maka ujar nenek kebayan, "Ya tuanku perdana menteri, tiada hamba dapat bercerai dengan cucu hambamu ini." Maka ujar perdana menteri, "Biarlah Indraputra ini beta ambil akan anak. Siang hari ia di sini, malam ia pergi ke rumah nenek kebayan, karena beta tiada beranak." Maka kata nenek kebayan, "Baiklah." Maka tinggallah Indraputra kepada perdana menteri, diberinya pakaian dengan sepertinya bagaimana pakaian anak orang besar-besar. Demikianlah pakaian Indraputra diberi oleh perdana menteri, dipeliharakannya seperti anaknya sendiri. Maka perdana menteri pun kasih akan Indraputra. Apabila hari malam disuruhnya hantarkan Indraputra ke rumah nenek kebayan, setelah hari siang disuruhnya dapatkan pada hambanya. Demikianlah berapa lama, apabila perdana menteri duduk diadap orang maka Indraputra duduk di sisinya dengan hormatnya. Maka perdana menteri makin lama bertambah kasih hatinya akan Indraputra dan Indraputra pun mangkin bertambah hormatnya akan perdana menteri. Sebermula maka nenek kebayan pun tiada lagi berjual bunga, hanya hambanya yang disuruhnya berjual bunga. Hatta berapa lamanya maka Indraputra pun mangkin bertambah budiman dan bijaksana, syahdan rupanya pun mangkin bertambah baik dan barang lakunya sedap manis. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab.

Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra disuruhkan Raja Syahsyian pergi kepada Berma Sakti, dan peri mengatakan Indraputra beroleh pedang laksamana, dan peri mengatakan tengkorak berkata-kata dengan Indraputra. Bermula raja dalam negeri itu bernama Raja Syahsyian terlalu besar kerajaannya dan banyak menterinya kurang esa empat puluh orang dengan perdana menteri, maka genap empat puluh menteri raja itu. Bermula akan raja itu tiada beranak. Hatta pada suatu hari Raja Syahsyian pergi berburu suatu pun tiada beroleh perburuan dari pagi datang petang seekor perburuan pun tiada diperoleh. Maka Raja Syahsyian pun hendak kembali, maka datang seekor kijang lalu dari hadapan raja itu maka dipanah oleh Raja Syahsyian kena kijang itu terus ke belakangnya lalu mati. Maka ada seekor anak kijang itu berlari-lari datang mendapatkan ibunya maka kijang itu bersandar kepada ibunya. Setelah Raja Syahsyian melihat laku kijang itu bersandar kepada ibunya, maka Raja Syahsyian pun heran dan fikir dalam hatinya, "Selang binatang lagi ia tahu akan dirinya dan tahu ia akan ibunya mati, jikalau manusyia berapa lagi." Maka Raja Syahsyian pun kembali pulang ke istananya dengan dukacitanya, tiada lagi ia mau pergi berburu, dan jangankan baginda membunuh seekor binatang, mengganas daun kayu sehelai pun tiada. Setelah baginda datang ke istana lalu masuk ke peraduan tidur berselubung. Maka heranlahlah segala menteri dan hulubalang mendengarkan kelakuan baginda itu. Maka kata segala menteri dan hulubalang, "Mengapa pada hari ini baginda tidur, tiada keluar diadap seperti sedekala jikalau datang berburu baginda duduk diadap makan minum bersuka-sukaan dengan segala menteri dan hulubalang, maka sehari ini baginda masygul rupanya." Maka segala menteri dan hulubalang masing-masing pulang ke rumahnya, maka hari pun malamlah. Setelah esok harinya maka Raja Syahsyian pun keluar diadap orang di atas sehinggasana kerajaan diadap segala menteri dan hulubalang dan rakyat sekalian, maka titah baginda kepada segala menteri, "Hai segala menteriku, sekarang apa bicaramu sekalian; baik kamu carikan aku akan obat beranak karena sangat hasyratkuku hendak beranak." Maka sembah segala menteri, "Ya tuanku Syah Alam, patik sekalian mohonkan ampun kepada ke bawah duli tuanku; patik minta janji empat puluh hari patik bicarakan seperti hasyrat Syah Alam itu." Maka titah baginda, "Baiklah kunanti seperti katamu itu, jikalau tiada, niscaya kamu sekalian kubunuh." Maka segala menteri itu pun sujud kepalanya ke tanah. Maka baginda pun berangkat masuk ke istana dengan dukacitanya. Maka segala menteri itu pun keluar berbicara, maka kata seorang menteri, "Sekarang apa bicara kita sekalian akan titah duli Syah Alam menyuruh carikan obat beranak itu?" Maka sahut seorang, "Baik kita suruh palu mong-mongan berkeliling negeri, kalau ada orang tahu obat beranak atau hikmat beranak, supaya kita persembahkan ke bawah duli yang dipertuan." Maka [kata] segala menteri yang banyak, "Benarlah seperti bicara tuan hamba itu."

Maka segala menteri itu masing-masing kembali ke rumahnya. Setelah esok harinya pagi-pagi hari maka disuruh oleh segala menteri itu orang memalu mong-mongan berkeliling negeri, ujarnya, "Barang siapa kamu tahu obat dan hikmat beranak hendaklah kamu katakan, supaya dipersembahkan ke bawah duli yang dipertuan supaya kamu diberi karunia oleh yang dipertuan mahabanyak." Maka seorang pun tiada menyahut kata orang yang memalu mong-mongan itu. Hatta dengan demikian sehari-hari ia memalu bende itu, seorang pun tiada menyahut. Maka sampailah kepada kurang sehari empat puluh hari maka tiada juga orang yang menyahut, orang yang memalu bende itu pun datang kepada menteri itu mengatakan, "Sudah kurang esa empat puluh hari hamba memalu bende, seorang pun tiada yang bercakap memberi yang dipertuan obat beranak atau hikmat beranak." Maka segala menteri itu pun datang berhimpun kepada perdana menteri musyawarat. Maka kata segala menteri yang banyak itu, "Sekarang apa bicara kita, karena kurang sehari juga lagi janji kita dengan yang dipertuan maka seorang pun tiada yang bercakap memberi yang dipertuan obat beranak atau hikmat beranak." Maka ujar perdana menteri, "Ada hamba mendengar daripada nenek moyang hamba tatkala itu hamba lagi kecil, ada [di]wartakankan orang pada Gunung Mali Kesna namanya ada seorang maharesi bertapa pada gunung itu bernama Berma Sakti. Baginda itu terlalu amat sakti, jika ada raja-raja sakit atau hendak beranak maka pergi menyuruh kepada baginda itu minta obat, niscaya sembuh sakitnya dan beroleh anak, tetapi tempat baginda itu terlalu sukar, beberapa melalui gunung yang tinggi-tinggi dan beberapa melalui hutan padang rimba yang besar-besar dan beberapa bertemu dengan binatang yang buas-buas, lagi pun telah berapa zaman sudah lamanya sekarang. Maka ujar segala menteri itu, "Siapa yang dapat pergi ke sana kepada tempat baginda itu, karena terlalu jauh dan sangat sukar. Pada bicara hamba daripada mati habis dimakan binatang, biar kita mati dibunuh oleh yang dipertuan, apata[h]tah daya kita. Setelah sudah segala menteri itu musyawarat demikian maka kata perdana menteri, "Baik juga kita tanyakan kepada orang kalau ada orang yang bercakap pergi ke sana, supaya kita sekalian memberi upahnya akan ganti nyawa kita sekalian." Maka kata segala menteri itu, "Benarlah seperti kata tuan hamba itu." Maka segala menteri itu pun masing-masing pulang ke rumahnya menyuruh mencari orang yang bercakap pergi kepada Berma Sakti itu, seorang pun tiada orang yang bercakap pergi kepada Berma Sakti itu, katanya, "Siapa yang beroleh upah, siapa yang mati; angur jangan beroleh upah, supaya aku hidup lama dalam dunia." Sebermula setelah esok harinya maka perdana menteri dan segala menteri yang banyak semuanya masuk mengadap Raja Syahsyian, maka titah Raja Syahsyian, "Adakah kamu sekalian beroleh seperti maksudku itu atau tiada?" Maka sembah segala menteri itu, "Ya tuanku Syah Alam, empat puluh hari sudah lamanya patik sekalian menyuruh memalu bende berkeliling negeri, seorang pun tiada yang dapat memberi duli tuanku obat beranak atau hikmat beranak, tetapi patik mendengar ceritera daripada bapa patik dan bapa patik mendengar warta daripada nenek

patik ada seorang maharesyiresi bertapa pada Gunung Mali Kesna namanya; adapun nama baginda itu Berma Sakti. Jikalau ada raja-raja sakit atau hendak beranak maka menyuruh kepada Berma Sakti itu minta obat; tetapi tempat baginda itu terlalu amat sukar, beberapa melalui gunung yang tinggi-tinggi, dan beberapa melalui padang dan hutan yang besar-besar, dan beberapa bertemu dengan binatang yang buas-buas." Setelah baginda mendengar sembah perdana menteri demikian itu, maka titah baginda kepada perdana menteri, "Suruhlah orang ke sana, siapa ada yang bercakap, kita beri kain." Maka perdana menteri pun kembali ke rumahnya dengan percintaannya duduk seorangnya berdiam dirinya tiada berkata-kata. Setelah dilihat Indraputra kelakuan perdana menteri itu, maka kata Indraputra kepada perdana menteri, "Ya ayahanda, mengapakah maka ayahanda duduk berdiam diri tiada seperti sedekala, masygul rupanya hamba lihat." Maka ujar perdana menteri, "Hai anakku Indraputra, adapun yang kucintakan ini karena kusuruhkan raja mencari orang yang pergi kepada Berma Sakti mintakan baginda itu obat beranak, karena baginda itu sangat hendak beranak." Setelah didengar Indraputra kata perdana menteri itu demikian, maka kata Indraputra, "Ya ayahanda, biarlah hamba pergi kepada Berma Sakti itu. Apatah yang hamba balaskan kasih ayahanda, janganlah susah hati ayahanda." Maka kata perdana menteri, "Hai anakku, janganlah anakku pergi kepada Berma Sakti itu. Jikalau ayahanda dibunuh oleh raja sekalipun, apatah dayaku, sudah untung ayahanda." Maka sahut Indraputra, "Ya, jikalau tiada pun hamba diberi pergi, hamba pergi juga kepada Berma Sakti itu. Apatah yang hamba balaskan kasih ayahanda kepada hamba." Setelah demikian maka kata perdana menteri, "Hai anakku Indraputra, jika demikian baiklah anakku kubawa masuk mengadap raja, kupersembahkan seperti kata anakku itu." Maka kata Indraputra, "Baiklah, mana kata ayahanda hamba turut." Maka perdana menteri pun membawa masuk Indraputra mengadap Raja Syahsyian. Setelah perdana menteri datang ke hadapan raja, maka ia bertelut berdatang sembah, ujarnya, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku, beberapa patik tanyakan orang yang bercakap pergi kepada Berma Sakti itu tiada juga ada orang yang bercakap pergi ke sana, hanya anak patik ini juga seorang yang bercakap." Maka dilihat Raja Syahsyian rupa Indraputra itu terlalu baik rupanya, dalam hati baginda, "Indraputra ini anak raja besar juga rupanya, maka demikian rupanya dan kelakuannya." Maka titah baginda, "Siapa nama anak perdana menteri ini?" Maka sembah perdana menteri, "Indraputra tuanku namanya." Maka titah baginda, "Hai Indraputra, sungguhkah engkau bercakap pergi kepada Berma Sakti itu?" Maka sembah Indraputra, "Sungguh ya tuanku Syah Alam, jikalau dianugerahkan Allah subhanahu wa taala, patik sampai ke sana dengan berkat daulat tuanku." Maka titah baginda, "Hai Indraputra, jikalau engkau selamat

datang dari sana, maka ada engkau bawakan aku obat beranak, barang kehendakmu kuberi. Jikalau aku beranak perempuan, kuberikan akan istrimumu; dan jika aku beranak laki-laki, jadi saudaramu." Maka Indraputra pun menyembah Raja Syahsyian, maka baginda memberi karunia pakaian yang indah-indah akan Indraputra. Setelah segala menteri yang muda-muda melihat kelakuan Indraputra, maka segala menteri yang muda-muda itu semuanya dengki hatinya akan Indraputra maka segala menteri itu tertawakan Indraputra. Maka titah Raja Syahsyian, "Hai bedebah, apa mulanya maka engkau tertawa?" Maka sembah segala menteri itu, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Pada bicara patik di mana 'kan dapat kanak-kanak ini sampai kepada tempat Berma Sakti itu, karena tempat Berma Sakti itu terlalu sukar." Setelah Raja Syahsyian menengar kata menteri itu demikian, maka baginda pun amarah lalu titah baginda, "Hai bedebah celaka, sekian lama engkau duduk di bawahku dan makan hasilku dalam negeri ini, lagi engkau tiada dapat mengerjakan kerjaku! Akan kanak-kanak ini belum berapa lama duduk di sini dan belum ada makan hasil dalam negeri ini, ia sekarang dapat mengerjakan kerjaku." Maka Raja Syahsyian sangat murka akan segala menteri itu, disuruh raja ny(i)ahkankah dari hadapannya maka baginda pun berangkat masuk ke dalam istana. Maka perdana menteri pun kembali ke rumahnya dengan Indraputra. Setelah sudah ia sampai ke rumahnya maka perdana menteri pun makan sama-sama dengan Indraputra. Setelah sudah makan maka perdana menteri memberi Indraputra pakaian yang baik dan memeluk mencium Indraputra serta ditangisinya akan Indraputra, katanya, "Wah sayang sekali anakku Indraputra, sekian lama tiada bercerai dengan aku." Maka Indraputra pun bermohonlah kepada menteri seraya bertaruhkan nene[k] kebayan kepada perdana menteri. Maka perdana menteri pun berkata kepada Indraputra, "Hai anakku, baik-baik anakku berjalan. Ingat-ingat, jangan alpa barang kerja anakku." Maka ujar Indraputra, "Ya ayahanda, sekalian hamba Allah itu semuanya lupa dan lalai, hanya Allah taala juga yang tiada lupa dan lalai. Serahkanlah hambamu kepada Allah subhanahu wa taala, Ia juga memeliharakan segala hambaNyanya." Setelah sudah Indraputra bermohon kepada perdana menteri lalu ia berjalan mendapatkan nenek kebayan. Maka segala orang itu melihat Indraputra hendak pergi kepada Bermi Sakti itu sekalian belas hatinya, semuanya turut mengiringkan Indraputra berjalan ke rumah nenek kebayan daripada kasihnya dan sayang ia akan Indraputra itu. Bermula setelah Indraputra sampai ke rumah nenek kebayan maka dilihat oleh nenek kebayan pakaian Indraputra terlalu indah-indah rupanya, maka kata nenek kebayan, "Hai cucuku, siapa yang memberi tuan pakaian yang indah-indah ini?" Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, bahwa aku disuruhkan Raja Syahsyian kepada Berma Sakti minta obat beranak." Maka kata nenek kebayan, "Wah, sayang sekali cucuku hendak dibunuhnya maka disuruhnya ke sana, karena tempat Bermi Sakti itu terlalu jauh dan sukar jalannya."

Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, serahkan juga aku kepada Allah taala." Maka nenek kebayan pun memeluk mencium Indraputra dan menangis terlalu sangat. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada nenek kebayan lalu berjalan menuju jalan ke matahari mati, masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba. Maka hari pun malamlah maka Indraputra pun berhenti di bawah pohon kayu tidur, syahdan memuji-muji Allah taala. Setelah hari siang maka Indraputra pun bangun lalu berjalan, beberapa melalui padang yang luas-luas, dan masuk hutan terbit hutan, dan beberapa melalui bukit yang besar-besar dan gunung yang tinggi-tinggi, dan beberapa Indraputra bertemu dengan binatang yang buas-buas, maka kata segala binatang itu, "Mari kita pergi mendapatkan Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dapat kita berlindungkan diri kita kepadanya daripada seteru kita." Maka segala binatang dalam hutan itu semuanya datang berhimpun mengadap Indraputra serta mendapatkan kepadanya. Maka Indraputra pun berhenti di bawah sepohon kayu, maka ujar Indraputra, "Hai segala kamu sekalian binatang, apa kerja kamu sekalian berhimpun datang kepadaku ini?" Maka ujar segala binatang itu, "Ya tuanku Indraputra, adapun maka kami sekalian berhimpun datang kepada tuan hamba ini, karena kami sekalian ini datang hendak berlindungkan diri hamba sekalian daripada seteru hamba. Maka ujar Indraputra, "Sekarang ada di mana seteru kamu itu?" Maka ujar segala binatang itu, "Ya tuanku Indraputra, sekarang seteru kami ini di Gunung Indrakila namanya." Maka ujar Indraputra pada segala binatang itu, "Diamlah kamu sekalian di sini, biarlah aku sendiri pergi melawan seteru kamu itu." Maka segala binatang itu diamlah ia di sana minta doa akan Indraputra. Maka Indraputra pun berjalanlah ke Gunung Indrakila, beberapa melalui bukit yang besar-besar, maka Indraputra pun sampailah ke Gunung Indrakila. Maka dilihat Indraputra Gunung Indrakila itu terlalu besar dan tinggi, maka dilihat Indraputra di kaki gunung itu banyak tulang bertimbun-timbun, maka dalam hati Indraputra, "Gunung inilah gerangan yang bernama Gunung Indrakila dikatakan orang." Setelah demikian maka didengarnya oleh Indraputra suara, demikian bunyinya, "Hai Indraputra, jangan tuan hamba naik ke atas gunung itu!" Maka tiada juga didengarnya oleh Indraputra suara itu, berjalan juga ia. Maka berseru-seru juga suara itu didengar oleh Indraputra. Maka dicahari Indraputra suara itu ke kiri dan ke kanan, seorang manusyia pun tiada dilihatnya. Arkian, maka dilihat Indraputra suatu tengkorak manusyia terhantar. Maka ujar Indraputra kepada tengkorak itu, "Hai tengkorak, engkaukah yang memanggil aku tadi?" Maka ujar tengkorak itu, "Sungguhlah hamba yang memanggil tuan hamba tadi." Maka ujar Indraputra, "Apa sebabnya maka engkau berserukan aku?" Maka sahut tengkorak itu, "Adapun hamba ini daripada rakyat ayahanda. Hamba datang mengantarkankan upeti kepada ayahanda, maka

hamba kembali hendak pulang ke negeri hamba lalu hamba sesat, tiada tahu akan jalan lalu hamba datang ke gunung ini. Berapa hari hamba tiada makan di sini, maka tubuh hamba pun daiflah, maka hamba berhenti seketika di sini. Maka turun seorang raksyaksa dari atas gunung ini merupakan dirinya seperti seorang perempuan membawa serta pedang. Maka ia datang kepada hamba, maka ujar[nya], "Hai orang muda, ambil olehmu pedang ini!" Maka pada hati hamba, "Manusyia juga ia ini." Maka baharulah hendak hamba ambil pedang itu, maka diparangnya akan hamba maka hamba pun matilah, maka tubuh hamba dimakannya habis." Maka kata Indraputra, "Bahwa yang kasih tuan hamba itu telah hamba terima mengingatkan hamba, tetapi Tuhan kita juga yang kuasa memeliharakan hambaNyanya." Maka kata tengkorak itu, "Barang dipeliharakan Allah taala juga tuhanku daripada bala raksyaksa itu." Hatta maka Indraputra pun lalu berjalan naik ke atas gunung itu. Maka raksyaksa itu pun mencium bau manusyia, maka ia merupakan dirinya seperti rupa orang tuha. Maka pedang itu pun dipegangnya dengan tangannya kanan, maka raksyaksa itu pun datang mendapatkan Indraputra. Maka ujar raksyaksa itu, "Hai orang muda, ambil olehmu pedang ini pada tanganku." Maka Indraputra pun segerah berlompat seraya bertempik merampas pedang itu lalu diparangnya Indraputra kepada raksyaksa itu penggal dua. Maka raksyaksa itu merupakan dirinya seperti orang muda serta katanya, "Hai orang muda, pandang apalah rupaku ini olehmu." Maka tiada Indraputra mau memandang muka raksyaksa itu, ditolehnya pun dia tiada mau. Maka raksyaksa itu menjadikan dirinya seperti rupanya yang sedia, besarnya seperti suatu bukit yang besar. Maka ia mengempaskankan dirinya lalu mati terguling ke bawah bukit itu, besarnya seperti suatu gunung, bunyinya seperti petir. Maka pohon kayu yang di tempat raksyaksa itu semua habis patah dan roboh luluh lantak. Maka segala binatang yang mendengar bunyinya semuanya terkejut lari tiada berketahuan. Setelah itu maka Indraputra pun lalu berjalan ke atas puncak gunung itu. Maka dilihat oleh Indraputra di atas gunung itu ada suatu guha batu, maka Indraputra masuk ke dalam guha itu. Maka dilihatnya ada suatu perbendaharanan dalam guha itu, maka dibuka Indraputra pintu perbendaharanan itu lalu ia masuk ke dalam. Maka dilihatnya terlalu indah-indah dalamnya, beberapa emas dan perak dan ratna mutu manikam, dan beberapa pakaian yang indah-indah, dan dilihat Indraputra pada suatu tempat beberapa suf sahlat ainulbanat dan beledu dewangga. Maka Indraputra pun heran melihat segala perkakas yang indah-indah itu. Maka Indraputra keluar dari dalam guha itu lalu berjalan naik ke atas kemuncak gunung itu. Maka dilihat Indraputra di atas kemuncak gunung itu cuaca seperti disapu, sehelai sampir pun tiada di atas kemuncak gunung itu, maka Indraputra (tiada) memandang ke sebelah gunung itu kelihatan seperti laut berombak. Maka Indraputra pun turun ke sebelah gunung itu. Maka dilihatnya beberapa bagai pohon buah-buahan dan bagai-bagai rasanya dimakan

Indraputra. Maka Indraputra heran melihat segala kekayaan Allah subhanahu wa taala. Maka Indraputra pun lalu berjalan menuju matahari hidup, beberapa melalui bukit dan padang. Maka ada suatu padang rumputnya seperti zamrut warnanya. Maka Indraputra pun berjalan ke padang itu. Maka ada suatu bukit terlalu baik rupanya dan ada airnya mengalir daripada kaki bukit itu terlalu jernih dan sejuk. Maka di bawah bukit beberapa pohon kayu bagai-bagai rupanya dan warnanya. Maka didengar oleh Indraputra bunyi suara orang bernyanyi dan orang bersyair, dan suara orang bersyair, dan suara orang bermadah dan berpantun dan berseloka. Maka Indraputra pun heran seraya berhenti di sana melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Maka kenyang rasa hati Indraputra melihat yang indah-indah, terlalu suka hatinya melihat. Maka Indraputra mengucap syukur akan dirinya dan minta doa kepada Allah taala akan ayah bundanyanya. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan anak raja jin Islam yang bernama Nabat Rum Syah anak Raja Tahir Johan Syah, dan peri mengatakan Indraputra beristrikankan saudara Nabat Rum Syah, yang bernama tuan putri Jumjum Ratnadewi; dan peri mengatakan tatkala Indraputra membunuh jin yang bernama Tamar Jalis anak raja jin kafir, Tamar Boga nama bapanya, dan peri mengatakan tatkala Nabat Rum Syah perang dengan Tamar Jalis, dan peri mengatakan tatkala Indraputra menolong Nabat Rum Syah perang dengan jin kafir, dan peri mengatakan Indraputra berjanji dengan Nabat Rum Syah bersetia berteguh-teguhan janji. Demikian diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera: Bermula pada masa itu Nabat Rum Syah pergi bermain ke sisian bukit Belanta Ajab itu memberi makan kudanya dengan segala jin yang banyak, sama muda-muda seorang seekor kuda dan suatu panji-panji dengan suatu busur dibawanya, dengan sebilah pedang dan suatu pendahan, maka ia bermain pada tempat itu. Setelah sudah ia maka masing-masing memberi makan kudanya. Setelah itu maka ia pergi mandi pada air yang mengalir dari bawah bukit itu dan makan segala buah-buahan. Bermula anak raja jin kafir itu pun demikian juga datang bermain dengan segala kaumnya datang pada padang Darsal tempatnya bermain. Maka dilihat oleh Indraputra dari atas bukit Belanta Ajab itu pada fihak magrib hitam seperti awan rupanya datang menuju padang Darsal itu. Maka pada sangka Indraputra mega juga karena hujan. Maka dilihat pula oleh Indraputra dari fihak masyrik seperti awan merah rupanya. Maka pada sangka Indraputra awan merah juga, rupanya terlalu ajaib. Maka berbangkit duli terbang ke udara jadi kelam kabut. Maka diperamat-amati oleh Indraputra, dilihatnya daripada fihak magrib itu segala kaum jin kafir serba hitam pakaiannya terlalu indah-indah serba keemasan. Maka Indraputra memandang pula kepada fihak masyrik. Maka dilihat oleh Indraputra suatu kaum jin Islam berkuda, pakaiannya serba merah terlalu indah-indah serba keemasan serta dengan tempik soraknya ia bermain kuda dan berpanah-panahan sama temannya sendiri, bertangkis-tangkisan, masing-masing menunjukkan tahunya. Setelah itu maka ia bermain pedang pula sama di

atas kudanya, terlalu pantas lakunya. Syahdan ada seorang anak raja jin Islam, Nabat Rum Syah namanya, seperti merak mengigal rupanya bermainkan pedang di atas kuda, terlalu perkasa lakunya. Maka Indraputra pun heran melihat pantas anak raja itu. Setelah sudah ia bermain maka ditanggalkannya pelana kudanya. Maka kudanya [di]lepaskannyakannya makan rumput, maka ia turun mandi dan makan buah-buahan masing-masing pada kesukaannya makan. Sebermula segala jin kafir pun bermainkan tombak di atas kudanya, bertikam, bertangkis-tangkisan, masing-masing menunjukkan tahunya. Setelah sudah ia bermain senjata maka segala jin kafir itu turun dari atas kudanya, maka kudanya hendak diberinya makan rumput maka tiada banyak rumput pada tempatnya itu. Maka kata anak raja jin yang bernama Tamar Jalis, "Baik kita ke sebelah bukit pada tempat Nabat Rum Syah kita memberi makan kuda kita, karena padang ini rumput kering." Maka kata menterinya, "Jangan tuanku kita ke sana, takut jadi bencana karena tiada adat daripada dahulu demikian." Maka tiada juga didengarkan oleh Tamar Jalis kata menterinya, maka ia pun amarah serta memacu kudanya dan mengunus pedangnya. Ada yang menarik busurnya lalu ia ke sebelah bukit pada tempat Nabat Rum Syah. Maka segala kaumnya pun semuanya turut mengikut anak rajanya, masing-masing memacu kudanya ke sebelah bukit. Maka dilihat oleh Nabat Rum Syah berbangkit duli dari sebelah magrib, maka ujar Nabat Rum Syah, "Hai segala kamu kaumku, apa mulanya maka duli dari sebelah bukit ini berbangkit ke udara? Pergi kamu lihat ke atas bukit itu." Maka pergilah seorang daripada kaum Nabat Rum Syah naik ke atas bukit itu. Maka dilihatnya Tamar Jalis datang dengan segala rakyatnya, masing-masing mengendaraii kuda lengkap dengan senjatanya. Maka abantara Nabat Rum Syah itu pun segera kembali memacu kudanya, seperti kilat tangkasnya. Dengan seketika juga ia datang kepada Nabat Rum Syah seraya berdatang sembah, katanya, "Ya tuanku, adapun yang datang itu Tamar Jalis dengan segala rakyatnya." Hatta dengan seketika itu juga maka Tamar Jalis pun datanglah dengan segala kaumnya. Maka kata Nabat Rum Syah, "Hai Tamar Jalis, apa kerjamu datang kemari?" Maka sahut Tamar Jalis, "Aku hendak memberi makan kudaku pada tempat ini." Maka ujar Nabat Rum Syah, "Tiada penah adat daripada dahulu kala daripada nenek moyang kita pada tempatnya juga masing-masing memberi makan kudanya." Maka sahut Tamar Jalis, "Adapun aku kemari memberi makan kudaku, karena rumput kurang pada tempatku. Bahwa bumi ini sekalian Allah taala juga yang menjadikan, mengapa engkau larangkan?" Maka sahut Nabat Rum Syah, "Sungguhpun bumi ini semua dijadikan Allah, tetapi sudah masing-masing dengan bahagiannya dan dengan tempatnya." Maka kata Tamar Jalis, "Jangan banyak katamu, sahaja aku hendak memberi makan kudaku kemari." Setelah Nabat Rum Syah mendengarkan kata Tamar Jalis demikian itu maka Nabat Rum Syah pun amarah, seperti harimau hendak menerkam

rupanya. Maka kata Nabat Rum Syah, "Hai kafir (per)maluanan, mengapa maka engkau berkata demikian menunjukkan beranimu padaku!" Maka Tamar Jalis pun amarah seperti ular berbelit-belit lalu ia menikam Nabat Rum Syah dengan pendahannya. Maka ditangkiskan oleh Nabat Rum Syah dengan cemeti kudanya, maka dibalas oleh Nabat Rum Syah seraya menggertakkan kudanya. Maka kata Nabat Rum Syah, "Hai Tamar Jalis, ingat-ingat engkau!" Maka lalu diparangnya akan Tamar Jalis, maka Tamar Jalis pun segerah bertempik melompat ke udara lalu gaib. Dengan seketika itu maka kena tubuhnya Tamar Jalis, berasap keluar api memancar-mancar lalu ke udara. Maka Tamar Jalis pun turun dari udara memarang Nabat Rum Syah, maka ditangkiskan Nabat Rum Syah, maka kena kuda Nabat Rum Syah penggal dua lalu mati. Maka Nabat Rum Syah pun melompat ke tanah lalu berdiri di tanah. Maka kuda anak raja jin itu sama saktinya, maka Tamar Jalis pun gaib ke udara; maka dipanah oleh Nabat Rum Syah, kena tubuh Tamar Jalis serta keluar api berasap memancar-mancar. Maka Tamar Jalis pun amarah serta ia turun dari udara memarang Nabat Rum Syah, maka kena Nabat Rum Syah diparangnya. Maka keluar asap menjadi kelam kabut dipandang Tamar Jalis. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, maka Indraputra pun temasa melihat dari atas bukit itu kelakuan anak raja kedua itu perang, sama saktinya terlalu ajaib. Hatta maka Nabat Rum Syah pun gaib ke udara, maka dipanah oleh Tamar Jalis kena tubuh Nabat Rum Syah, keluar api bernyala-nyala, memancar-mancar, cemerlang apinya seperti kilat sabung-menyabung. Sama saktinya kedua anak raja itu berperang seperti burung wakab dan rajawali kedua anak raja itu sama pantasnya, gagah perkasa dan bijaksana, terlalu indah-indah dilihat Indraputra anak raja kedua itu. Sebermula setelah segala rakyat anak raja kedua itu melihat akan rajanya perang itu, maka kedua fihak rakyat itu sama menempuh berperang terlalu ramai, riuh bunyinya berperang itu, berpanah-panahan dan bertikamkan tombak, ada yang bertetakkan pedang terlalu gegak bunyinya, bertempik dan bertangkis-tangkisan berperang itu, campur-baur menjadi kelam kabut, karena duli daripada kaki kuda dan jin berbangkit terbang ke udara. Maka bunyi tempik soraknya gemuruh. Ada yang mati, ada yang luka, tetapi banyak mati dan luka daripada fihak kaum Tamar Jalis. Maka kedua fihak tentera jin itu sama terjun dari atas kudanya ke tanah bertikamkan handabar berpegang tangan dan ada yang bertetakkan pedang terlalu ramai. Maka segala jin kafir yang dari dalam rongga kayu dan lubang batu semuanya keluar datang membantu Tamar Jalis. Ada kepalanya seperti kepala gajah, ada seperti kepala harimau, seperti kepala rusa, ada yang seperti kepala babi, ada seperti kepala anjing, sekalian datang. Tempik soraknya seperti guruh di langit bunyinya. Maka bukit itu selaku-laku bergeraklah rupanya daripada kebanyakan jin kafir itu. Maka Indraputra terlalu kheran melihat kelakuan segala jin itu perang bagai-bagai rupanya. Ada yang membawa kayu, ada yang membawa batu, ada yang membawa tanah bergumpal-gumpal, tiada berputusan ia pergi datang, penuhlah padang Darsal itu. Dikepungnyalah kaum Nabat Rum Syah, maka segala tentera jin Islam pun semuanya mengamuk ke dalam tentera jin kafir itu. Maka dipukul oleh jin kafir dengan

kayu dan dilontarkannya dengan batu, syahdan berbagai-bagai bunyinya. Maka Nabat Rum Syah pun menyerbukan dirinya ke dalam tentera jin kafir itu maka segala jin kafir itu pun banyak mati dan luka. Ada yang patah karena pedang itu ramai, gegak gempita, kedua fihak sama tiada mau undur. Maka darah pun banyaklah tumpah ke bumi mengalir seperti air sungai, dan bangkai segala jin yang mati daripada kedua fihak tentera itu bertimbun-timbun seperti bukit. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, setelah dilihat oleh Indraputra anak raja jin Islam itu perang dengan anak raja jin kafir itu tiada berhenti, maka Indraputra pun turun dari atas bukit lalu mendapatkan Nabat Rum Syah. Maka ujar Indraputra kepada Nabat Rum Syah, "Hai orang muda, apa sebabnya maka tuan hamba berperang ini tiada berhenti dan siapa nama tuan hamba, syahdan daripada bangsa mana tuan hamba?" Maka sahut Nabat Rum Syah, "Adapun bangsa hamba daripada jin Islam, dan nama hamba Nabat Rum Syah, dan ayah hamba Raja Tahir Johan Syah namanya." Maka bertanya pulah Nabat Rum Syah kepada Indraputra, "Tuan hamba ini datang dari mana dan siapa nama tuan hamba, daripada bangsa mana tuan hamba?" Maka sahut Indraputra, "Adapun hamba ini daripada bangsa manusyia, dan nama hamba Indraputra, dan bapa hamba Maharaja Bikrama Bispa disebut orang." Hatta kalakian setelah dilihat oleh Tamar Jalis Nabat Rum Syah berkata-kata dengan seorang manusyia, maka Tamar Jalis pun amarah seraya katanya, "Hai Nabat Rum Syah, mengapa engkau berkata-kata dengan manusyia yang satu kepalanya itu! Tiada berguna! Marilah kita berperang!" Setelah didengar oleh Indraputra kata Tamar Jalis itu demikian, maka ia pun amarah seperti api bernyala-nyala lalu mengunus pedangnya, diparangkannya kepada Tamar Jalis kena tubuhnya. Maka keluar api memancar-mancar daripada tubuh Tamar Jalis, maka Tamar Jalis pun terbang ke udara dengan seribu dayanya. Maka kata Nabat Rum Syah, "Hai saudaraku Indraputra, ingat-ingat tuan hamba Tamar Jalis terbang ke udara!" Maka Nabat Rum Syah pun memanah Tamar Jalis, kena tubuhnya, keluar api memancar-mancar daripada tubuh Tamar Jalis. Maka Tamar Jalis pun turun ke bumi serta menikam Indraputra dengan pendahannya. Maka diparang Indraputra batang pendahan itu penggal tiga. Maka Tamar Jalis pun amarah serta menetakkan pedangnya kepada Indraputra, maka ditangkiskan Indraputra dengan hulu pedangnya, maka pedang Tamar Jalis pun patah. Maka Tamar Jalis pun amarah lalu memanah Indraputra, maka diparang Indraputra anak panah itu penggal dua. Bermula setelah dilihat Nabat Rum Syah pantas gagah perkasya Indraputra berperang dengan Tamar Jalis itu, maka Nabat Rum Syah pun terlalu heran. Maka Tamar Jalis pun terbang ke udara, maka dipanah oleh Nabat Rum Syah kena tubuh Tamar Jalis, maka keluar api bernyala-nyala memancar daripada tubuh Tamar Jalis. Maka Tamar Jalis pun gugur ke bumi lalu mengunus pedangnya, maka diparangkannya kepada Indraputra. Maka diisyaratkan oleh Nabat Rum Syah kepada Indraputra, maka Indraputra pun melompat lalu memarang Tamar Jalis serta menyambat, "Bismillah."

Maka kena tubuh Tamar Jalis, keluar api bernyala-nyala daripada tubuh Tamar Jalis. Maka keluar pula seperti awan hitam rupanya. Maka Tamar Jalis pun tahulah akan dirinya mati, maka terbit suatu cahaya dari kepalanya. Maka kata Indraputra kepada Tamar Jalis, "Ingat-ingat engkau!" Maka ujar Tamar Jalis, "Hai manusyia, tetak aku sekali lagi olehmu!" Maka sahut Indraputra, "Hai kafir, tiada adat memarang jin dua kali, melainkan dengan sekali tetak juga." Maka Tamar Jalis pun penggal dua lalu mati. Maka Nabat Rum Syah pun datang memeluk mencium Indraputra. Maka ujar Nabat Rum Syah, "Hai saudaraku Indraputra, bahwa dunia akhirah tuan hamba jadi saudara hamba, karena tuan hamba menolong hamba mengapuskankan malu hamba. Karena tiada adat daripada dahulu kala daripada nenek moyang hamba jin kafir kemari pada tempat hamba memberi makan kudanya. Sebab inilah maka hamba jadi berperang dengan Tamar Jalis. Maka sekarang saudara hamba yang mengapuskankan yang malu hamba." Maka kata Indraputra, "Hai saudaraku Nabat Rum Syah, adapun yang mengapuskankan malu saudaraku itu hanya Tuhan seru sekalian juga, hanya hamba jadi sebab juga." Maka ujar Nabat Rum Syah, "Hai saudaraku, marilah tuan hamba bermain ke negeri hamba." Maka kata Indraputra, "Baiklah!" Maka Nabat Rum Syah pun membawa Indraputra ke negerinya lalu masuk ke dalam kotanya. Maka dibawa Nabat Rum Syah Indraputra lalu ke istananya. Maka segala orang dalam negeri itu semuanya kheran melihat rupa Indraputra dan sikapnya terlalu baik. Setelah Nabat Rum Syah sampai ke balairung lalu naik duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Nabat Rum Syah dan Indraputra pun menyembah Raja Tahir Johan Syah. Maka titah baginda, "Hai anakku Nabat Rum Syah, siapa yang anakku bawa sama-sama itu? Maka sembah Nabat Rum Syah, "Ya tuanku, inilah yang membunuh Tamar Jalis, Indraputra namanya, anak Raja Bikrama Bispa." Maka diceriterakan oleh Nabat Rum Syah segala peri hal-ihwalnya semuanya dikatakannya kepada ayahanda baginda. Setelah didengar baginda kata anakanda baginda Nabat Rum Syah itu demikian, maka baginda pun heran mendengar sembah anakanda baginda itu. Maka Raja Tahir Johan Syah pun berbangkit memeluk mencium Indraputra. Maka hidangan nasi pun diangkat oranglah. Maka Raja Tahir Johan Syah pun santaplah. Maka Nabat Rum Syah pun santaplah dua orang sehidangan. Maka segala menteri dan hulubalang, abantara sekalian masing-masing maka[n] pada hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang, maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Setelah bunga-bunga selasihlah mabuknya maka segala biduan yang baik suaranya itu pun bernyanyilah bagai-bagai lagunya, masing[-masing]masing melagukan kesukaannya. Setelah hari malam maka Raja Tahir Johan Syah pun berangkat masuk ke istana, maka Nabat Rum Syah membawa Indraputra masuk ke istananya beradu. Maka segala menteri dan hulubalang abantara sekalian masing-masing kembali ke rumahnya. Sebermula maka Indraputra pun berceriterakan halnya kepada Nabat

Rum Syah tatkala ia diterbangkan merak emas, dan perinya disuruhkan Raja Syahsyian kepada Berma Sakti, semuanya diceriterakan oleh Indraputra. Maka Nabat Rum Syah pun kheran mendengar ceritera Indraputra itu. Setelah hari siang maka Indraputra dan Nabat Rum Syah pun pergi mengadap Raja Tahir Johan Syah. Maka dipandang Raja Tahir Johan Syah barang kelakuan Indraputra itu terlalu baik, maka baginda pun sangat kasih akan Indraputra dan Indraputra pun sangat berhambakan dirinya kepada Raja Tahir Johan Syah. Demikianlah sedekala kelakuan Indraputra selama duduk dalam negeri itu. Alkisah diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, setelah beberapa lama Indraputra duduk bersama-sama dengan Nabat Rum Syah, sekali peristiwa maka Nabat Rum Syah datang mengadap ayahanda bunda baginda. Maka sembah Nabat Rum Syah, "Ya tuanku Syah Alam, ada suatu bicara hendak hambamu katakan pada ayahanda bunda baginda." Maka titah ayahanda bunda baginda, "Hai anakku, katakanlah, kudengar." Maka sembah Nabat Rum Syah, "Ya tuanku, bahwa hambamu lihat Indraputra itu terlalu sekali baik budi pekertinya dan banyak kasihnya pada hambamu, tiada terbalas oleh hamba; dan kepada ayahanda pun sangat ia hormat, lakunya ia anak raja besar. Jikalau dapat, baik juga ayahanda bunda bicarakan." Setelah didengar oleh ayahanda bunda baginda maka tahulah baginda akan kehendak kata anakanda itu, maka titah baginda, "Hai anakku, tahulah aku akan kehendak katamu itu. Baiklah, mana bicaramu kuturut." Setelah itu maka baginda pun menyuruh mulai berjaga-jaga, makan minum, dan memalu bunyi-bunyian empat puluh hari empat puluh malam. Setelah genap harinya maka tuan putri Jumjum Ratnadewi pun dihias dengan selengkapnya pakaian ser(i)ba keemasan, bertatahkan ratna mutu manikam. Maka rupa tuan putri Jumjum Ratnadewi pun bercahaya-cahaya, gilang-gemilang seperti bulan purnama empat belas hari. Bermula maka Indraputra pun dihias oleh Nabat Rum Syah dengan pakaian selengkapnya serba keemasan, bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra pun diarak(lah)lah oranglah ke istana tuan putri Jumjum Ratnadewi, maka Indraputra pun duduklah dengan tuan putri Jumjum Ratnadewi berkasih-kasihan. Setelah beberapa lama ia dengan tuan putri Jumjum Ratnadewi pada suatu hari maka Indraputra pun datang mengadap Raja Tahir Johan Syah, maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Adapun sekarang hambamu bermohon ke bawah duli tuanku, patik hendak pergi kepada Berma Sakti. Petaruh patiklah paduka anakanda itu kepada tuanku." Maka titah baginda, "Hai anakku Indraputra, pada bicara ayahanda janganlah anakanda pergi kepada Berma Sakti itu, karena terlalu jauh tempatnya lagi sukar jalannya. Lagi pun belum puas hati ayahanda dan bunda melihat tuan." Maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, yang kasih tuanku itu sepenuhnyalah di atas batu kepala patik, tetapi patik sudah berjanji dengan Raja Syahsyian. Maka sekarang belum sampai seperti kehendak baginda itu. Adapun jika ada lagi hayat patik,

datang juga patik mendapatkan paduka anakanda dan mengadap duli tuanku." Setelah sudah Indraputra bermohon kepada Raja Tahir Johan Syah, maka Indraputra pun kembali mendapatkan istrinyanya putri Jumjum Ratnadewi seraya katanya, "Tinggallah tuan, kakanda mohon hendak pergi kepada Berma Sakti. Jikalau sudah kakanda bertemu dengan Berma Sakti, maka kakanda kembali mendapatkan tuan." Setelah tuan putri Jumjum Ratnadewi mendengar kata suaminya itu maka ia pun menangis. Maka disapu oleh Indraputra air mata tuan putri seraya berpantun, demikian bunyinya, "Selasih cerai pelita, kembita lalu berlembu; kekasih, cerailah kita, ada hayat kita bertemu." Maka tuan putri pun mangkin sangat menangis. Maka Indraputra pun membujuk tuan putri dengan kata yang lemah lembut dan beberapa pantun dan seloka, syahdan kata yang manis-manis dikatakan Indraputra, maka tuan putri Jumjum Ratnadewi pun tidurlah diulitkan Indraputra. Maka diletakkan Indraputra kepala istrinyanya di atas bantal. Maka Nabat Rum Syah pun datang mendapatkan Indraputra. Maka Nabat Rum Syah pun lalu keluar berjalan sama-sama dengan Indraputra berpegang tangan lalu keluar kota. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada Nabat Rum Syah seraya bertangis-tangisan dan berpeluk bercium. Maka kata Nabat Rum Syah kepada Indraputra, "Hai saudaraku, jikalau ada barang suatu kesukaran, hendaklah tuan hamba cita nama hamba, supaya hamba tahu segerah datang mendapatkan saudaraku barang di mana." Setelah itu maka Indraputra bermohonlah kepada Nabat Rum Syah lalu berjalan menuju matahari masuk, beberapa melalui hutan padang, dan berapa melalui bukit yang besar-besar dan bukit yang tinggi-tinggi dan beberapa yang bertemu dengan binatang yang buas-buas, dan beberapa ia melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari, dan peri mengatakan tatkala Indraputra beroleh kemala hikmat daripada tuan putri Kemala Ratnasari, dan peri mengatakan tatkala Indraputra mengadu kesaktian dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini demikian bunyinya: Bahwa Indraputra berjalan itu maka bertemu dengan suatu tasik, Samundra namanya. Hatta Indraputra berjalan itu maka bertemulah dengan suatu tasik mahaluas, kelihatan dari jauh seperti laut rupanya. Maka dalam hati Indraputra, "Laut manakah ini gerangan?" Maka lalu dihampirinya oleh Indraputra tasik itu, maka dilihatnya pasirnya daripada emas urai, dan batunya daripada permata, dan kersiknya daripada mutia, dan rumputnya daripada kumkuma, dan tanahnya daripada kesturi, dan airnya daripada air mawar; syahdan

di tepi tasik itu beberapa pohon khurma dan pohon anggur dan delima. Maka Indraputra pun kheran melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra pun makan buah-buahan. Setelah sudah ia makan maka Indraputra pun berjalan di tepi tasik itu, maka didengarnya suara, demikian ujarnya, "Hai Indraputra, ingat-ingat tuan hamba!" Maka didengar oleh Indraputra suara itu, maka ditolehnya ke kanan dan ke kiri, seora[ng] pun tiada manusyia, maka iapun berjalan pada tasik itu. Maka dilihat oleh Indraputra ada sepohon kayu, maka dihampirinya pohon kayu itu, maka dilihatnya banyak mayat orang mati terhantar di bawah pohon kayu itu. Maka kata Indraputra, "Hai mayat, engkaukah yang berserukan aku?" Maka seru mayat itu, "Ya tuanku, hambalah yang berserukan tuan hamba tadi." Maka ujar Indraputra, "Apa mulanya maka aku engkau panggil?" Maka sahut mayat itu, "Ya tuanku, hambalah yang berserukan tuanku tadi. Hendaklah tuanku ingat-ingat, apabila ada datang seorang raksyaksa, maka adalah tandanya berombak tasik ini. Apabila datang raksyaksa itu hampir ia kepada kita maka ditiupnya kepala kita, niscaya jadi kita mengantuk tiada dapat bangun lagi dan tiada dapat bergerak daripada tempat kita; hatta demikian lalu mati. Inilah yang hamba katakan kepada tuanku." Hatta kalakian seketika lagi maka tasik itu pun berombak dan angin pun bertiup, maka Indraputra pun mengantuk hendak tidur. Maka peri yang penunggu tasik itu pun datang lalu hampir kepada Indraputra, maka hendak ditiupnya kepala Indraputra, maka Indraputra pun ingat akan kata mayat itu. Maka baharu peri itu hendak meniup kepala Indraputra, maka Indraputra pun segerah berbangkit bangun lalu ditangkapnya rambut peri itu. Maka kata Indraputra, "Sekarang dapatlah engkau kutangkap, ke mana lagi engkau pergi." Maka kata peri itu, "Hai orang muda(h), dilepaskanlah rambutku; apa kehendakmu supaya kuberi." Maka kata Indraputra, "Sungguhkah bagai katamu engkau hendak memberi kehendak(mu)mu [-ku]?" Maka sahut peri itu, "Sungguhlah aku memberi apa kehendakmu." Maka kata Indraputra, "Katakanlah, kudengar apa yang hendak kauberikan kepadaku!" Maka kata peri itu, "Ada suatu guliga bedi namanya permainanku. Jika engkau hendak, biar kuberikan padamu. Akan gunanya, jika engkau hendak menurunkan angin, atau ujan, atau kilat, petir halilintar, atau hendak menjadikan ombak besar, maka cita namaku, serta kautambangkan bedi guliga ini, niscaya jadilah barang kehendakmu seperti yang kukatakan padamu itu." Maka dilepaskan Indraputra rambut peri itu, maka kata peri itu, "Hai orang muda, bahwa pada hari ini tuan hamba hamba ambil akan cucu hamba, inilah sebabnya maka guliga bedi ini hamba berikan kepada cucuku." Maka Indraputra pun sukacitalah hatinya, maka kata peri itu, "Hai cucuku, siapa namamu, dan dari mana cucuku datang, dan anak siapa cucuku, dan daripada bangsa mana cucuku? Apa kehendak cucuku datang kemari?" Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, adapun aku ini daripada bangsa

manusia dan namaku Indraputra Syahdan nama ayahku Maharaja Bikrama Bispa. Maka diceriterakan Indraputra segala hal-ihwalnya dan perinya disuruhkan oleh Raja Syahsyian kepada Berma Sakti minta obat beranak itu pun semuanya dikatakannya. Setelah peri itu mendengar ceritera Indraputra itu, maka peri itu pun kasih hatinya kepada Indraputra. Maka ujar peri itu, "Hai cucuku, di mana dapat engkau akan sampai kepada tempat Berma Sakti itu, karena terlalu sukar tempatnya." Maka sahut Indraputra, "Hai nenekku, jika dengan tolong Tuhan seru sekalian alam dapat juga hamba sampai ke sana." Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, raja mana empunya tempat ini?" Maka ujar peri itu, "Hai cucuku, adapun tempat ini Raja Mujtadar Syah yang empunya dia, tetapi ada seorang anaknya perempuan bernama tuan putri Kemala Ratnasari; ialah yang empunya tempat ini. Tujuh hari sekali ia datang kemari mandi dan bermain, bersuka-sukaan dengan tujuh orang bidadari pengasuhnya sama-sama datang kemari mandi dan bermain. Segala jambangan emas dan jambangan perak dan tembaga suasa yang bertatahkan ratna mutu manikam itu semuanya ia yang empunya dia, dan beberapa kolam yang diikat dengan batu akik dan kaca, dan beberapa puluh kolam yang diikat dengan pirus dan hablur sekaliannya tempat tuan putri itu bermain dengan segala pohon buah-buahan dan bunga ini semuanya ia yang empunya. Adapun nenek ini akan penunggunya ini. Maka kata Indraputra, "Hai nenekku, dapatkah nenekku tunjukkan aku tuan putri Kemala Ratnasari itu?" Maka kata peri itu, "Apa kehendak cucuku maka hendak melihat tuan putri itu; karena terlalu indah-indah rupanya baik paras tiada samanya, maka ditaruhkan ayahnya di atas maligai yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, berumbai-rumbaikan mutiara. Maka maligai itu tujuh lapis jala-jalanya dan tujuh ekor binatang yang buas menunggunya, pada selapis-lapis pagar jala-jala itu seekor binatang menunggunya. Adapun tuan putri Kemala Ratnasari itu sudah bertunangan dengan seorang anak raja jin, namanya Raja Dewa Lela Mengerna." Setelah Indraputra mendengar kata peri itu, maka iapun tersenyum seraya berkata, "Hai nenekku, sehingga aku hendak melihat rupa putri itu juga karena kata nenekku baik paras." Maka peri itu pun tersenyum, maka katanya, "Hai cucuku, ada suatu kemala hikmat kepada kemuncak maligai tuan putri itu baik cucuku pinta kepada tuan putri Kemala Ratnasari." Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, apa pergunaannya kemala hikmat itu?" Maka sahut peri itu, "Hai cucukkuku, adapun jikalau cucuku berkehendakkan sebuah negeri dengan kotanya dan maligainyanya dengan rakyatnya dan senjatanya sekalian lengkap, demikianlah pergunaan kemala hikmat itu. Dan ada empat orang jin penghulu dalam kemala hikmat itu, maka ditaruhkan kemala hikmat itu di atas kemuncak maligai tuan putri Kemala Ratnasari." Maka Indraputra pun heran mendengar kata peri itu, maka kata Indraputra, "Hai nenekku, tolonglah aku; betapa peri akalku maka aku dapat bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari?" Maka ujar peri itu, "Hai cucuku, jika cucuku hendak bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari itu ada suatu bicaraku. Apabila tuan

putri datang ke tasik ini mandi, maka hendaklah cucuku bersembunyi baik-baik jangan kelihatan, dan apabila tuan putri dengan segala bidadari itu menanggalkan baju antakusuma hendak turun mandi, maka hendaklah cucuku ambil dan sembunyikan baik-baik, jangan kelihatan. Apabila dimintanya baju itu jangan cucuku berikan, minta dahulu kemala hikmat itu. Jika mau tuan putri memberikan kemala hikmat itu, berjanji teguh-teguh dengan tuan putri, maka cucuku berikan baju antakusuma itu." Arkian maka kata peri itu, "Cucuku, marilah dahulu cucuku berhenti di rumahku." Maka sahut Indraputra, "Baiklah, hai nenekku." Maka Indraputra pun dibawa oleh peri itu masuk ke dalam laut air Tasik Samundra. Maka dilihat Indraputra dalam tasik itu ada suatu kota daripada batu hitam dan pintunya daripada emas sepuluh mutu, maka lalulah Indraputra masuk ke dalam kota itu. Maka dilihat Indraputra beberapa taman dan kolam, ada yang berikatkan perak, ada yang berikatkan tembaga suasa, syahdan beberapa pohon bagai-bagai daripada bunga yang harum baunya dan buah-buahan. Maka Indraputra pun heran melihat perbuatan kota. Maka Indraputra sampailah ke rumah peri itu, maka dilihat oleh Indraputra rumah peri itu daripada gading bersendi-sendi dengan emas. Maka Indraputra pun duduklah di rumah peri itu. Hatta kalakian maka tersebutlah perkataan tuan putri Kemala Ratnasari. Maka pada suatu hari tuan putri duduk diadap oleh bidadari dan segala dayang-dayang, maka tuan putri bermain dan bersenda bergurau dengan bidadari itu. Maka kata bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, pada hari ini patik lihat muka tuanku pucat, tiada berseri seperti sedekala. Apa gerangan sebabnya patik tiada tahu, karena sedekala muka tuanku seperti bunga delima kembang kena sinar matahari." Maka tuan putri pun tersenyum mendengar sembah bidadari itu, maka kata tuan putri, "Adapun malam tadi sudah kita bermain maka kami tidur. Setelah hampir dinihari maka kami bermimpi datang seekor naga, maka dicubitnya pinggangku tiada lekat pada tubuhku. Maka kami lihat rupanya naga itu terlalu indah-indah rupanya. Seketika lagi maka kami berselimut bunga, datang sekarang ini juga baunya kami cium belum hilang. Maka naga itu lalu meluncur ke puncak maligai, maka ditelannya kemala hikmat yang di atas kemuncak maligai itu. Inilah sebabnya maka muka kami pucat." Maka segala bidadari pun berkata seraya tersenyum, "Segerahlahlah rupanya tuan putri kahawin dengan paduka kakanda Raja Dewa Lela Mengerna." Maka tuan putri pun tersenyum seraya tunduk malu. Maka segala bidadari pun tertawa seraya berpantun, demikian bunyinya, "Burung bayan terbang tinggi, terbangnya berpangkat-pangkat; jika malam dimimpi-mimpi, jika siang dilihat-lihat." Maka tuan putri pun tersenyum mendengar pantun bidadari itu. Maka kata tuan putri pada inangda, "Hai emak inang, manakala kita pergi mandi ke Tasik Samundra?" Maka sembah inangda, "Ya tuanku tuan putri, esok harilah kita akan pergi mandi."

Maka segala bidadari itu pun berbuat langir berbagai-bagai rupanya. Maka segala dayang-dayang berbuat bedak dan wida berbagai-bagai warnanya. Maka segala langir dan bedak itu dan wida itu ditaruh pada sahan ratna, ada yang ditaruh pada mundam mutia dan sisir ditaruh pada batil emas, ada yang ditaruh pada batil tembaga suasa. Maka segala biti-biti dan perwara sekalian pun masing-masing berbuat makanan pelbagai rupanya dan rasanya. Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun mengeluarkan segala buah-buahan, maka ditaruh pada batil emas. Maka tuan putri mengeluarkan sisir emas bertatahkan ratna mutu manikam, maka ditaruh pada batil mutia. Maka diletakkan di atas tabak emas. Segala bedak dan wida dan langir dan segala makanan dan nikmat itu semuanya diletakkan di atas tabak emas itu. Setelah malam hari ketika dinihari bulan pun lagi terang dan bintang pun belum padam cahayanya, dan segala binatang pun belum mencari mangsanya, maka tuan putri pun memakai dan mengenakan baju antakusuma dan memakai pakaian yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Setelah sudah maka dibubuhnya akan tabak itu suatu hikmat oleh tuan putri, maka tabak itu pun berbangkitlah sendirinya melayang. Maka tuan putri Kemala Ratnasari dengan tujuh orang bidadari itu pun melayanglah, maka tabak itu pun melayanglah mengikut tuan putri dan segala bidadari itu seperti anak panah yang lepas daripada busurnya. Alkisah maka tersebutlah perkataan Indraputra diam di rumah peri itu, maka ujar Indraputra kepada peri itu, "Hai nenekku, esok harilah genap tiga hari hamba duduk di sini. Hampirkah datang putri Kemala Ratnasari bermain ke Tasik Samundra?" Maka ujar peri itu, "Hai cucuku, baiklah sekarang ini pada tengah malam ini cucuku pergi duduk bersembunyi pada tepi Tasik Samundra itu, jangan kelihatan orang. Adapun barang siapa yang dahulu menanggalkan bajunya, ditaruhnya di atas sahan dan berlangir berbedak, ialah itu tuan putri Kemala Ratnasari. Syahdan barang tipu daya upaya cucuku, ambil juga baju tuan putri itu." Setelah sudah peri itu berpesan demikian, maka Indraputra pun pergilah kepada tasik itu, maka ditambangkannya bedi guliga itu serta dicitanya peri yang menunggu tasik itu. Maka Indraputra pun berjalan di dalam air lalu ia keluar dari dalam tasik itu, maka Indraputra pun lalulah ke tepi Tasik Samundra itu. Maka dikeruknya pasir sekira-kira dapat ia berlindungkan dirinya, tiada dilihat orang. Maka diambilnya daun kayu, ditudungkannya di atas, maka Indraputra pun masuklah ke dalam lubang, maka ditudunginya dirinya dengan daun kayu itu. Hatta maka hari pun fajarlah maka tuan putri Kemala Ratnasari pun datanglah ke tepi tasik itu, berdiri dengan bidadari tujuh orang itu. Maka dilihat oleh Indraputra, maka Indraputra pun bersembunyi mengamati. Maka tabak itu pun datanglah terletak di tepi tasik itu Maka segala bidadari itu pun menanggalkan bajunya lalu turun mandi ke kolam. Kemudian maka tuan putri Kemala Ratnasari pun menanggalkan bajunya antakusuma itu. Maka Indraputra pun melihat rupa tuan putri Kemala Ratnasari itu terlalu elok rupanya, gilang-gemilang tiada dapat ditentangnya. Maka Indraputra pun heran melihat rupa tuan putri Kemala Ratnasari itu. Maka dalam hati Indraputra, "Sungguhlah seperti kata peri itu

tiada bersalahan." Maka bidadari itu pun naik dari kolam itu berjalan lalu tersandung kakinya, tersebut nama Indraputra. Maka ujar tuan putri, "Gilakah segala bidadari ini maka menyebut nama yang tiada diketahuinya?" Maka bidadari itu pun menyahut seraya berkata lalu tertawa, katanya, "Jahat sekali mulut celaka ini!" Maka segala bidadari itu pun berganti-ganti menggosok tuan putri, ada yang menggosok bedak, ada yang menggosok wida, ada yang melangiri tuan putri. Setelah sudah segala bidadari itu semuanya berganti-ganti bergosok bedak dan wida dan berlangir. Setelah sudah maka ia turun mandi ke kolam seraya bersembur-semburan dan menyelam di dalam kolam itu seraya bernyanyi dan berpantun dan berseloka. Maka segala kelakuan tuan putri Kemala Ratnasari dengan segala bidadari itu semuanya dilihat Indraputra. Maka Indraputra pun heran melihat rupa tuan putri dan mendengar suaranya terlalu amat merdu. Maka Indraputra pun berbangkit perlahan-lahan berjalan, mengambil baju antakusuma tuan putri dan segala bidadari itu, semuanya diambilnya bajunya lalu disembunyikan Indraputra dalam lubang. Maka [di]timbuninyainya dengan pasir dan ditutupnya dengan daun. Setelah sudah maka Indraputra pun berlindung di balik pohon kayu lalu ia turun mandi ke dalam kolam itu seraya ia menyelam. Maka ditujunya tuan putri lalu dicubitnya pinggang tuan putri Kemala Ratnasari. Maka tuan putri pun terkejut lalu naik daripada mandi itu, duduk di tepi kolam. Maka rambut tuan putri terhampar di tanah seperti mayang mekar di atas talam rupanya. Maka kata tuan putri pada segala bidadari itu, "Hai kakanda, dipagut ular gerangan pinggang beta tadi dalam air itu!" Maka segala bidadari itu segerah bangkit dari dalam kolam itu datang mendapatkan tuan putri Kemala Ratnasari, takut naik bisa ular itu. Maka segala bidadari itu ada yang meriba tuan putri, ada yang memangku tuan putri. Hatta maka Indraputra pun naik dari kolam itu lalu ia berjalan ke bawah pohon delima bertunjukkan dirinya seraya menggentas bunga delima dan makan buahnya. Maka Indraputra pun dilihat oleh segala bidadari itu. Maka kata segala bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, segeralah tuanku berbangkit. Manusyia dari mana gerangan datang kemari ini?" Maka tuan putri Kemala Ratnasari dengan segala bidadari itu semuanya terkejut, lari tiada berketahuan mengambil bajunya antakusuma itu hendak melayang kembali. Maka dilihatnya tiada bajunya itu pada tempatnya menaruh itu. Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun kemalu-maluan dengan segala bidadari itu, maka tuan putri berlindung di balik pohon khurma. Maka segala bidadari itu berkeliling mencari bajunya, tiada juga bertemu. Maka Indraputra pun datang kepada bidadari itu seraya bertanya, katanya, "Apa dicari terulang-ulang itu?" Maka bidadari itu pun tersenyum berdiam dirinya. Maka ujar Indraputra, "Katakan juga kepada beta, apa yang dicari pergi datang itu?" Maka bidadari itu pun diam seraya tersenyum sama sendirinya. Maka Indraputra pun berpantun, demikian bunyinya,

"Apa dicari bayan terbang, rajawali menyambar dia; apa dicari dayang berulang, orang bestari mendapat dia." Setelah bidadari itu mendengar pantun Indraputra maka segala bidadari itu pun tertawa seraya memandang kepada Indraputra. Maka dilihat oleh bidadari itu rupa Indraputra terlalu baik paras, syahdan manis barang lakunya seperti laut madu. Maka segala bidadari itu pun kembali mendapatkan tuan putri. Maka titah tuan putri Kemala Ratnasari kepada segala bidadari itu, "Adakah dapat baju kita?" Maka sembah bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, tiada dapat baju kita sekalian." Maka titah tuan putri, "Jika tiada dapat mengapatah maka diri datang tersenyum-senyum?" Maka sahut bidadari itu, "Ya tuanku, terlalu sekali hambalah malu melihat rupa orang muda itu, rupanya terlalu elok dan sikapnya terlalu pantas dan manis barang lakunya. Maka ia bertanya kepada patik, "Apa dicari?" seraya berpantun demikian, "Apa dicari bayan terbang, rajawali menyambar dia; apa dicari dayang berulang-ulang; orang bestari mendapat dia." Maka bidadari itu berkata-kata seraya tertawa. Setelah tuan putri menengar kata bidadari itu demikian, maka dalam hati tuan putri, "Jika demikian orang itulah yang mengambil baju kita sekalian ini; dilihatnyalah barang laku kita tadi. Orang manakah gerangan ia itu? Manusiakah atau jinkah gerangan ia? Dari mana ia datang kemari? Kalau jin atau dewa yang sakti gerangan ia." Maka kata segala bidadari itu, "Sungguhlah seperti kata tuanku itu." Maka titah tuan putri kepada bidadari yang tuha, "Pergilah kakanda kepada orang muda itu, minta baju kita!" Maka pergilah bidadari itu kepada Indraputra. Maka Indraputra duduk di sisi tabak seraya menulisi tanah bagai-bagai awan dan nakas, beberapa rupa bunga indah-indah rupanya ditulis oleh Indraputra pada tanah itu. Setelah datang bidadari itu maka ujar kepada Indraputra, "Hai orang muda, adakah tuan hamba melihat baju hamba sekalian tadi [di] sini?" Maka sahut Indraputra, "Tiada beta melihat baju tuan sekalian tadi, hanya yang ada beta lihat: Nyiur gading tumbuh sepohon, batangnya lemah gemulai; buahnya sedang lambu[ng]-lambunganlambungan Indraputra, anak Raja Bikrama Bispa. Itulah hanya yang beta lihat." Maka bidadari itu pun tersenyum menengar pantun Indraputra itu. Maka bidadari itu pun kembali kepada tuan putri, maka katanya, "Ya tuanku tuan putri, sudah hambamu tanya orang muda itu, maka katanya, "Tiada beta melihat baju tuan sekalian, hanya yang beta lihat:

Nyiur gading tumbuh sepohon, batangnya lemah gemulai; buahnya sedang lambung-lambungan Indraputra, anak Maharaja Bikrama Bispa." Maka tuan putri pun tersenyum seraya menggigit telunjuknya menengar pantun Indraputra itu seraya katanya, "Wah, dilihatnyalah susu kita tadi oleh anak mati dibunuh itu!" Maka segala bidadari itu pun tertawa seraya menampar-nampar dadanya, katanya, "Wah, dilihatnya gerangan barang laku kita tadi!" Maka ujar tuan putri kepada bidadari yang keenam, "Pergilah diri pula minta baju kita itu! Ia juga yang mengambilnya baju kita." Maka pergilah bidadari yang keenam itu kepada Indraputra, maka katanya, "Hai orang muda, [ada]kahkah tuan hamba melihat baju hamba sekalian tadi?" Maka sahut Indraputra, "Tiada beta melihat baju tuan sekalian tadi, hanya yang beta lihat tadi: Bunga melur kembang sekaki, daunnya gugur melayang; Indraputra, anak Maharaja Bikrama Bispa. Itulah yang beta lihat tadi." Maka bidadari itu pun tersenyum lalu kembali kepada tuan putri Kemala Ratnasari, maka disampaikan oleh bidadari itu seperti pantun Indraputra itu. Maka tuan putri pun tersenyum seraya berkata dan menepukkan tangannya, "Wah, dilihatnyalah gerangan pinggang kita tadi!" Maka segala bidadari itu pun tertawa seraya berkata, "Wah, dilihatnyalah gerangan barang laku kita tadi oleh anak mati dibunuh itu!" Maka kata tuan putri pada bidadari yang kelima, "Pergilah diri minta baju kita itu pada orang muda itu! Ia juga yang mengambil baju kita itu." Maka pergilah bidadari yang kelima itu kepada Indraputra, maka ujar, "Hai orang muda, adakah tuan hamba mengambil baju hamba sekalian tadi di sini?" Maka sahut Indraputra seraya tertawa, "Tiada beta melihat baju di sini tadi demi tunangan tuan putri Kemala Ratnasari yang bernama Raja Dewa Lela Mengerna. Yang beta lihat tadi: Anak gerda mudik sekawan, seekor siripnya dilanggar duduk; sisiknya lekat di tangan Indraputra, anak Maharaja Bikrama Bispa.'" Setelah bidadari itu menengar pantun Indraputra itu maka bidadari itu pun tersenyum menengar pantun Indraputra itu lalu ia kembali kepada tuan putri. Maka kata bidadari itu, "Sudah patik tanya orang muda itu, maka katanya, "Anak gerda mudik sekawan, siripnya dilanggar duduk; sisiknya lekat di tangan Indraputra, anak Maharaja Bikrama Bispa."

Setelah didengar tuan putri pantun Indraputra itu, maka kata tuan putri, "Wah, dilihatnyalah gerangan barang kelakuan kita tadi. Siapa gerangan yang dikatanya Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa itu? Bijaksana sekali anak mati dibunuh itu! Ialah gerangan tadi mencubit pinggang kita sedang dalam kolam tadi." Maka kata segala bidadari itu, "Jahat sekali anak mati disula itu; jangankan dipulangkannya bayu kita, tunangan tuan putri pula disebutnya! Jika kedapatan oleh Raja Dewa Lela Mengerna, apa jadinya! Jadi sebal pula hati beta." Maka kata bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, bijaksana sekali orang muda itu. Patik lihat ia melukisi tanah itu, bagai-bagai mega, awan, dan nakas, dan beberapa bunga yang indah-indah, bagai dapat digentas rupanya." Maka kata bidadari yang tuha, "Baik juga tuan putri bicarakan baju kita itu. Jikalau tiada dapat baju kita itu, betapa pergi kita dapat kembali! Baik juga tuan putri sendiri pergi berkata-kata dengan orang muda itu, karena patik sekalian dipermainnya. Mudah-mudahan dikembalikannya baju kita itu." Maka sahut tuan putri, "Betapa periku pergi kepada orang muda itu karena aku malu. Syahdan apa kataku kepadanya?" Maka kata segala bidadari itu seraya tertawa, "Mana kehendak hati tuanku berkata dengan orang muda itu." Maka kata tuan putri, "Kami ini serba salah. Hendak kami pergi pada orang muda itu, kami malu. Hendak kami tiada pergi, baju kita tiada dikembalikannya." Maka kata segala bidadari itu, "Baik juga tuan putri pergi sendiri kepada orang muda itu. Kalau lembut hatinya melihat tuanku, maka baju kita dikembalikannya. Jikalau tuan putri tiada mau pergi sendiri kepada orang muda itu, niscaya tinggallah kita di sini, tiada dapat kita kembali dari sini. Niscaya datanglah bencana akhirnya, jadi binasalah patik sekalian ini." Arkian daripada tiada berdaya, maka tuan putri Kemala Ratnasari pun berjalanlah mendapatkan Indraputra diiringkan oleh segala bidadari itu. Lakunya tuan putri berjalan itu lemah lembut seperti akan berjalan, seperti tidak rupanya dengan malunya. Setelah dilihat Indraputra tuan putri Kemala Ratnasari datang ke hadapannya itu, maka dilihat oleh Indraputra rupa tuan putri itu, diamat-amatinya, terlalu sekali elok rupanya, baik paras, syahdan manis barang lakunya lebih daripada laut madu. Maka tuan putri pun berkata, "Hai saudaraku, berbuat syafangat apalah kiranya akan hamba sekalian ini, tuan hamba pulangkan apalah baju hamba sekalian ini." Maka sahut Indraputra, "Hai saudaraku tuan putri, apatah salahnya jika sungguh tuan putri hendak mengambil hamba akan saudara, tetapi belum ada suatu tanda daripada tuan putri akan hamba." Maka ujar tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku, pulang juga baju hamba. Apa kehendak saudara hamba dapat hamba beri." Maka sahut Indraputra, "Sungguhkah tuan putri hendak memberi kehendak hamba?" Maka ujar tuan putri, "Sungguhlah hamba hendak memberi apa kehendak saudaraku itu. Jangan juga berubah setia kita bersaudara." Maka sahut Indraputra, "Baiklah hamba pulangkan baju tuan putri, tetapi janji tuan putri dengan hamba hendaklah sungguh, jangan

berubah. Bersumpahlah tuan putri meneguhkan janjinya dengan hamba; supaya tetap hati hamba, baju tuan putri pun hamba pulangkan." Setelah tuan putri menengar bajunya ada itu maka hati tuan putri pun sukacita, maka kata tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku orang muda, sungguhkah tuan hamba hendak bersaudarakan hamba, teguh setia tuan hamba tiada khilaf mengaku hamba saudara? Barang kehendak tuan hamba niscaya hamba beri. Demi dewata mulia raya, tiada hamba mengubahkan janji hamba dengan tuan hamba." Maka ujar Indraputra, "Hai tuan putri, demi dewata mulia raya, sungguhlah hamba hendak bersaudara dengan tuan hamba dunia akhirat, tiada syak lagi dalam hati hamba. Adapun jikalau ada kasih tuan putri sungguh hendak bersaudara akan hamba, berilah hamba kemala hikmat yang ada di atas kemuncak maligai tuan putri itu, supaya hamba kembalikan baju tuan." Demi didengar tuan putri Kemala Ratnasari kata Indraputra itu, maka tuan putri pun heran; dalam hatinya, "Siapa gerangan yang memberitahukan kemala hikmat ini pada orang muda itu, maka diketahuinya." Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun berdiam dirinya, fikir seketika dalam hatinya, "Jikalau tiada kuberikan kemala hikmat ini padanya, niscaya tiadalah aku kembali ke maligaikuku; dan lagi aku sudah berjanji bersumpah dengan dianya. Jika demikian, baiklah aku berikan kepadanya." Setelah sudah tuan putri fikir demikian itu maka kata tuan putri Kemala Ratnasari pada Indraputra, "Hai saudaraku, baiklah yang kehendak saudaraku itu hamba berilah, tetapi hendaklah saudaraku berkata benar. Anak siapa tuan hamba dan siapa nama ayah tuan hamba? Syahdan daripada bangsa mana tuan hamba, dan siapa memberi tahu tuan hamba akan kemala hikmat itu maka tuan hamba tahu, dan apa sebabnya tuan hamba datang kemari?" Maka ujar Indraputra, "Adapun hamba ini daripada bangsa manusia dan nama hamba Indraputra dan nama bapa hamba Maharaja Bikrama Bispa." Maka diceriterakan Indraputra segala hal-ihwalnya dan perinya disuruh Raja Syahsyian kepada Berma Sakti minta obat beranak itu, semuanya dikatakannya. Setelah tuan putri Kemala Ratnasari mendengar segala ceritera Indraputra itu maka tuan putri pun terlalu heran. Hatta kalakian maka peri yang menunggu tasik itu pun datang, maka kata bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, baiklah segerah minta baju itu, karena peri yang menunggu tasik itu datang; takut diberinya tahu paduka ayahanda." Maka ujar Indraputra kepada tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku, janganlah tuan hamba takut akan peri penunggu tasik ini, karena ia jadi nenek pada hamba." Maka peri itu pun datang dengan tersenyum, maka ujar peri itu, "Ya tuanku tuan putri, mengapa hamba nanti lambat datang?" Maka peri itu pun tertawa. Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun berceriterakan halnya baju antakusuma itu disembunyikan oleh Indraputra dan perinya berjanji dengan Indraputra, hendaklah memberikan kemala hikmat itu. Maka sahut peri itu, "Ya tuanku tuan putri, apatah salahnya tuanku bersaudara dengan Indraputra, karena tuanku sama anak raja besar."

Setelah tuan putri mendengar kata peri itu demikian, maka sukalah hati tuan putri akan Indraputra. Maka kata segala bidadari itu, "Ya tuanku tuan putri, baiklah kita segera kembali, karena maligai kita sunyi." Maka kata tuan putri Kemala Ratnasari kepada Indraputra, "Hai saudaraku, marilah baju hamba kembalikan, karena hamba hendak kembali ke maligai hamba. Adapun tuan hamba marilah beserta dengan hamba, supaya kemala hikmat itu hamba berikan kepada tuan hamba." Maka diambil oleh Indraputra baju antakusuma itu lalu diberikan kepada tuan putri Kemala Ratnasari, maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku tuan putri, betapa peri hamba mengikut tuan hamba, karena tuan hamba melayang di udara, akan hamba berjalan di tanah." Maka kata tuan putri, "Hai saudaraku, jikalau tuan hamba hendakkan mengikut hamba, naiklah saudaraku di atas tabak itu duduk supaya diterbangkannya; dan jangan saudaraku memandang ke bawah atau menoleh ke belakang, niscaya saudaraku jatuh ke bumi." Maka Indraputra naiklah duduk di atas tabak itu dan bermohon kepada peri yang menunggu tasik itu. Maka kata Indraputra kepada tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku, jangan tuan hamba lupa akan janji tuan hamba dengan hamba." Maka sahut tuan putri, "Tiada hamba mengubahkan janji hamba dengan tuan hamba, karena kemala hikmat itu sudah hamba berikan kepada saudaraku." Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun melayang ke udara dengan segala bidadari itu. Maka tabak yang dinaiki Indraputra itu pun melayanglah mengikut tuan putri Kemala Ratnasari. Maka dilihat oleh Indraputra dunia ini besarnya seperti sebuah bukit. Hatta maka Indraputra pun sampailah ke padang [Bel]anta Heran namanya. Maka dicita oleh tuan putri Kemala Ratnasari tabak itu, maka tabak itu pun terle(n)tak di padang Belanta Heran di hadapan maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka dilihat oleh Indraputra tuan putri Kemala Ratnasari dengan bidadari itu lalulah ke maligai. Maka Indraputra pun heran akan dirinya melihat tabak itu terletak, tiada lagi melayang. Maka Indraputra pun turun dari atas tabak itu berjalan di tanah, maka tabak itu pun melayang ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka dilihat Indraputra maligai tuan putri seperti sebuah gunung rupanya, bernyala-nyala memancar-mancar. Maka Indraputra fikir dalam hatinya, "Sekarang ini ke mana aku pergi? Jika kuketahui demikian, tiada aku mau memberikan bajunya putri Kemala Ratnasari." Maka Indraputra pun menyesali dirinya memberikan baju itu. Maka Indraputra pun berjalan menuju maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka Indraputra pun sampailah kepada pagar jala-jala maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka dilihat oleh Indraputra perbuatan pagar jala-jala itu perbuatannya daripada besi hursani dan pintunya ditatah dengan emas, diukir terlalu indah-indah perbuatannya. Maka dilihat oleh Indraputra ada seekor gajah tinggal berdiri di pintu pagar jala-jala itu terlalu hebat rupanya seperti hendak menikam Indraputra dengan gadingnya. Maka dilihat oleh Indraputra ada sepohon kayu beringin, batangnya daripada tembaga suasa dan daunnya daripada kaca yang hijau dan buahnya daripada pualam yang merah. Maka gajah itu tertambat dengan rantai tembaga suasa pada

pohon beringin itu. Maka Indraputra dahsyat melihat hebat gajah itu. Maka dilihat Indraputra gajah itu, diperamat-amatinya matanya tiada berkilau. Maka dalam hati Indraputra, "Gajah ini bukannya gajah sungguh, gajah ini hikmat juga rupanya maka demikian." Maka dilihat Indraputra tali pesawat gajah itu ada tertambat pada pohon beringin itu, maka dihunus Indraputra pedangnya lalu diparangnya tali pesawat gajah itu putus. Maka gajah itu pun rebah tersungkur tiada bergerak. Maka dilihat oleh segala bidadari itu dari atas maligai peri kelakuan Indraputra mencari jalan hendak naik ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari itu, maka segala bidadari itu pun suka tertawa melihat. Sebermula maka dilihat oleh Indraputra perbuatan gajah itu tubuhnya daripada besi khursani dan gadingnya gajah itu daripada hablur dan matanya daripada mutia dan kukunya daripada pirus. Maka segala perkakas gajah itu daripada emas dan perak terlalu indah-indah perbuatannya. Kemudian dari itu maka Indraputra berjalan dari sana datang pada kedua lapis pagar jala-jala daripada tembaga. Syahdan pintunya daripada emas sepuluh mutu terlalu indah-indah perbuatannya. Maka dilihat Indraputra ada seekor harimau di muka pintu itu lakunya seperti hendak menerkam, mengangakan mulutnya dan ekornya dicawatkannya. Maka Indraputra pun terkejut heran melihat harimau itu. Maka harimau itu tertambat pada sepohon delima. Setelah dilihat oleh Indraputra rupa harimau itu maka [di]amat-amatinyaamatinya, dilihatnya harimau itu tiada berkelip matanya. Maka dalam hati Indraputra, harimau itu pun hikmat juga. Maka dicaharinyanya tali pesawatnya lalu diparangnya putus, maka harimau itu pun rebah terguling ke tanah. Maka dilihat Indraputra tubuh harimau itu daripada tembaga suasa, dan kukunya daripada mutia, matanya daripada kaca merah, dan lidahnya daripada pirus, dan giginya daripada khablur. Maka Indraputra pun heran melihat perbuatan itu terlalu indah-indah. Dari sana maka lalu Indraputra berjalan masuk pada pagar jala-jala yang ketiga lapis daripada timah yang putih. Maka di hadapan pintu itu ada seekor singa dirantai pada pohon tanjung mengangakan mulutnya dan mengembangkan ekornya dan matanya terbeliak, rupanya seperti hendak menerkam rupanya dilihat Indraputra. Maka dalam hati Indraputra, "Kali singa ini perbuatan hikmat juga!" Maka dicahari Indraputra tali pesawat singa itu lalu diparangnya putus. Maka singa itu pun rebah terguling di tanah tiada bergerak. Maka dilihat Indraputra rantai singa itu daripada perak bertebu-tebu dengan tembaga suasa dursan. Maka Indraputra berjalan datang kepada pagar jala-jala yang keempat lapis daripada perak dan pintunya daripada emas sepuluh mutu, beberapa ukir dan keluk. Maka dilihat Indraputra ada seekor badak tertambat, rupanya terlalu hebat mengangakan mulutnya. Maka badak itu tertambat pada sepohon mempelam, rantainya daripada perak. Maka daun mempelam itu daripada tembaga suasa, ditiup angin bunyinya terlalu merdu. Maka dilihat Indraputra tali pesawat badak itu lalu diparang Indraputra. Maka badak itu lalu diparang Indraputra, maka badak itu pun rebah terguling di tanah. Maka segala bidadari itu pun tertawa melihat laku Indraputra hendak naik ke maligai itu. Bermula dilihat oleh Indraputra badak

itu tubuhnya daripada hablur dan lidahnya daripada besi hursani yang amat tajam. Setelah itu maka Indraputra lalu dari sana datang kepada kelima lapis pagar jala-jala daripada tembaga suasa dan pintunya daripada emas sepuluh mutu. Maka dilihat Indraputra di hadapan pintu itu ada seekor naga tujuh kepalanya mengangakan mulutnya, syahdan lidahnya terjulur menyala-nyala dan dagunya yang di atas sampai kepada pintu yang di atas dan dagunya yang di bawah terletak di tanah. Maka Indraputra pun terkejut melihat naga itu terlalu hebat, disangkanya naga sungguh. Bermula setelah dilihat oleh tuan putri Kemala Ratnasari dengan segala bidadari dari atas maligai itu, semuanya tertawa. Maka dalam hati Indraputra, "Dari mana sekarang ini jalanku masuk, karena naga ini mengangakan mulutnya. Jika aku masuk, niscaya ditelannya." Maka dilihat oleh Indraputra tali pesawat naga itu lalu ia melompat memarang tali pesawat itu putus. Maka naga itu pun terguling di tanah, tiada bergerak. Maka Indraputra lalu masuk kepada pintu yang keenam lapis pagar jala-jala daripada perak bersendi-sendikan emas dan pintunya daripada emas sepuluh mutu ditatah lazuardi. Maka di hadapan pintu itu seekor gerda, kakinya dirantai pada pohon cempaka terlalu hebat rupanya. Maka dalam hati Indraputra, gerda itu pun hikmat juga rupanya. Maka dilihat Indraputra tali pesawat gerda itu lalu ia melompat memarang tali pesawat. Gerda itu pun rebah terguling di tanah tiada bergerak. Maka dilihat Indraputra gerda itu daripada pirus tubuhnya, matanya daripada manikam yang merah, dan kukunya daripada nilam, dan paruhnya daripada besi melela. Maka heran Indraputra melihat perbuatan gerda itu. Maka Indraputra lalu kepada pagar jala-jala yang ketujuh lapis daripada emas yang merah dan pintunya daripada emas sepuluh mutu bertatah zamrut yang hijau. Maka di hadapan pintu itu ada seorang raksyaksa naik kuda hijau yang memegang dua bilah pedang kepada kedua belah tangannya serta dipusing-pusingnya pedang itu. Maka Indraputra heran melihat laku raksyaksa itu. Maka diambil Indraputra suatu kayu maka disorongkannya ke hadapan raksyaksa itu, maka kayu itu putus diparang oleh raksyaksa itu. Maka Indraputra pun heran melihat perkasa raksyaksa itu memarang kayu itu putus bagai digantang. Maka dalam hati Indraputra, "Raksyaksa ini pun hikmat juga rupanya!" Maka didengar oleh Indraputra dari dalam tanah berdengung bunyinya. Maka dicari Indraputra tali pesawat raksyaksa itu. Dilihatnya ada suatu lubang tanah dalam lubang itu ada jentera daripada emas dan rantainya daripada perak. Maka diparang Indraputra tali pesawat raksyaksa itu putus, maka raksyaksa itu pun rebah terguling di tanah. Maka habislah segala binatang penunggu pintu pagar jala-jala itu bergulingan. Setelah dilihat oleh tuan putri Kemala Ratnasari dengan segala bidadari itu, maka ia pun heran melihat gagah perkasa bijaksana Indraputra itu. Maka tuan putri menyuruh mengias maligai daripada tirai kelambu dewangga yang keemasan dan beberapa daripada hamparan suf sahlat ainulbanat. Syahdan beberapa dian tanglung terpasang pada malam dan beberapa kandil daripada mutia yang putih tergan[t]ung, maka Indraputra pun

lalulah masuk sekali ke dalam. Maka disuruh tuan putri Kemala Ratnasari empat orang bidadari turun dari maligai mendapatkan Indraputra membawa bedak dan wida dan langir pada batil emas dan seorang bidadari membawa kain persalin Indraputra. Maka kata bidadari itu pada Indraputra, "Ya tuanku, bahwa paduka adinda menyuruh silakan tuanku ke taman Gairat mandi." Maka Indraputra pun heran mendengar nama taman Gairat itu. Seraya tersenyum maka Indraputra pun lalulah berjalan ke taman Gairat diiringkan oleh bidadari itu. Maka dilihat oleh Indraputra taman Gairat itu pagar jala-jalanya daripada tembaga suasa dan pintunya daripada emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra pun lalulah masuk ke dalam taman itu. Maka dilihat Indraputra ada suatu balai terlalu indah-indah perbuatannya dan beberapa hamparan daripada sahlat ainulbanat dan bantal suraga yang keemasan. Syahdan pada hadapan balai itu ada sepohon kayu, batangnya daripada emas, dan daunnya daripada pirus, dan bunganya daripada zamrut, dan buahnya daripada manikam yang merah. Maka di atas hujung kayu itu ada seekor merak emas terlalu indah-indah rupanya. Maka angin pun bertiup, maka segala daun kayu itu pun berbunyi seperti bunyi-bunyian terlalu ramai. Maka ada pula bayan dan tiung tergantung di balai itu. Maka bayan itu bersyair dan tiung bermadah dan nuri berbait, bagai-bagai rupanya ragamnya. Maka segala ikan yang dalam kolam itu timbul, ada yang seperti orang bersorak, ada seperti orang bertepuk. Maka merak emas yang di atas pohon kayu itu pun mengigal terlalu indah-indah, turun ke bawah pohon kayu itu. Maka Indraputra pun heran melihat segala kelakuan itu. Maka Indraputra memuji Allah subhanahu wa taala, Tuhan Yang Kuasa, maka dalam hati Indraputra "Selang hambaNyanya lagi demikian, istimewa jika Tuhan Yang Menjadikan, beberapa lagi kuasaNyanya!" Maka bertambah sadiklah Indraputra dalam hatinya kepada Tuhan Yang Esa. Maka kata segala bidadari itu kepada Indraputra, "Ya tuanku Indraputra, baiklah tuanku mandi." Maka kata Indraputra kepada bidadari itu, "Lalulah kakanda dari beta, supaya beta mandi." Maka bidadari itu pun berpantun seraya tersenyum, "Jika sungguh bulan purnama, mengapa tidak dipagar bintang; jika sungguh tuan sempurna, mengapa tidak (di)dapat [di]tentang." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berpantun, "Kain Malaka sehasta, akan baju Raja Indragiri; malu dipandang, bertemu muka tuan putri." Maka bidadari itu pun tersenyum mendengar pantun Indraputra itu. Maka Indraputra pun berpantun pula, demikian bunyinya, "Ikan dipalu di pohon beraksa, dipalukan pari; bukan malu memandang muka, anak bidadari. Maka bidadari itu pun tertawa mendengar pantun Indraputra itu.

Maka Indraputra pun menanggalkan kain bajunya lalu berbedak dan berlangir. Setelah sudah lalu turun ke kolam mandi. Maka dicium Indraputra bau air itu seperti air mawar. Setelah Indraputra sudah mandi, maka diberi oleh bidadari itu memakai bau-bauan dan bersalin pakaian yang indah-indah. Maka dilihat oleh bidadari itu rupa Indraputra terlalu indah-indah. Maka kata bidadari itu sama sendirinya, "Layak sekali Indraputra ini akan suami tuan putri." Setelah sudah Indraputra memakai pakaian, maka dibawa oleh bidadari itu naik ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Setelah Indraputra datang ke atas maligai itu maka kata Indraputra kepada bidadari itu, "Beri tahukanlah tuan putri, katakan beta datang." Maka bidadari itu segera masuk memberi tahu tuan putri, maka titah tuan putri, "Bawalah kakanda ia masuk kemari." Maka Indraputra pun dibawa masuk oleh bidadari itu ke hadapan tuan putri Kemala Ratnasari. Maka kata tuan putri kepada Indraputra, "Datang saudaraku, marilah duduk." Maka Indraputra pun memberi hormat kepada tuan putri seraya duduk di atas peterana yang keemasan, diadap oleh segala bidadari dan segala dayang-dayang. Maka karas emas yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun disuruh tuan putri unjukkan kepada Indraputra. Maka sirih puan yang keemasan itu pun diunjukkan oleh bidadari itu kepada Indraputra seraya berkata, "Santaplah tuanku sirih. Maka disambut oleh Indraputra lalu dimakannya. Maka hidangan nasi pun diangkat oranglah ke hadapan Indraputra dan tuan putri Kemala Ratnasari. Maka kata bidadari itu, "Santaplah tuanku Indraputra, tiada dengan sepertinya jangan diaibkan." Maka Indraputra dan tuan putri Kemala Ratnasari pun santaplah. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang, maka Indraputra pun minumlah. Maka tuan putri Kemala Ratnasari pun fikir dalam hatinya, "Adakah setia hatinya Indraputra ini kepadaku atau teguhkah setianya? Pada ketika ia mabuk ini adalah ketahuan lakunya, jikalau ada kehendaknya." Maka tuan putri berbisik kepada seorang bidadari, suruh bubuh suatu hikmat dalam minuman itu. Maka dibubuh oleh bidadari itu ke dalam minuman, maka diberikannya diminum Indraputra. Maka Indraputra pun bunga-bunga selasihlah mabuknya. Maka di[i]syaratkankan oleh tuan putri kepada segala bidadari itu, maka segala bidadari itu pun tahulah akan kehendak tuan putri itu. Maka bidadari itu pun berpantun, demikian bunyinya, "Berkuda lagi berlembu, padi di rumah Dang Jenirat; sama muda telah bertemu hati di mana tidak 'kan gairat." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berpantun, "Berkuda lagi berlembu, perca diambil akan cemara; sungguhpun sama muda telah bertemu, sudah diambil akan saudara."

Maka segala bidadari itu pun tersenyum. Maka diisyaratkan pula oleh tuan putri kepada segala bidadari itu, maka bidadari itu pun berpantun pula demikian, "Tumbuh padi tanam halia, kalau halia tiada tumbuh; embuh kami mengelu dia, kalau setia tiada sungguh." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berpantun, "Jika halia tiada tumbuh, ganja dikarang akan destar; jika setia tiada teguh, bukanlah anak raja besar." Maka bidadari itu pun tersenyum seraya mengangkat segala makanan dan nikmat ke hadapan Indraputra. Setelah itu maka hari pun hampir malam. Maka kata Indraputra kepada tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku, sekarang hampirlah malam, hamba hendak bermohon." Maka disuruh hantarkan oleh tuan putri Indraputra kepada bidadari itu ke dalam taman. Di sana ada sebuah balai, namanya Rangga Puspa Berahi, tiangnya daripada khalambak dan gaharu, dindingnya daripada kaca merah, hatapnyanya daripada kaca putih. Maka dihampari dengan suf sahlat ainulbanat dan dibubuh tirai dewangga yang keemasan. Syahdan beberapa dian dan pelita terpasang dan tanglung kandil serba keemasan terpasang. Maka Indraputra bermohonlah kepada tuan putri lalu pergi ke balai Rangga Puspa Berahi itu beradu seraya tersenyum menengar nama balai itu. Setelah Indraputra datang ke balai itu, maka dilihat Indraputra rupa balai itu terlalu indah-indah. Maka disingkap Indraputra tirai dewangga itu lalu ia rebah di atas tilam beledu berbiraikan emas dipahat. Maka dilihat Indraputra ada suatu cermin hablur, dan di atas cermin itu ada sekuntum bunga, dan di atas bunga itu ada seekor burung pungguk terlalu indah-indah rupanya. Maka ada sepohon kayu, di atas kayu itu ada seekor burung nuri terlalu indah-indah berserdam lalu ke atas hamparan itu, maka ia hinggap di atas sahan. Maka dikiraikannya sayapnya dan ekornya di atas sahan itu, maka terperciklah narwastu itu kepada tubuh Indraputra, terlalu harum baunya. Maka heranlahlah Indraputra melihat segala yang indah-indah itu. Maka beberapa pula puji Indraputra kepada Allah subhanahu wa taala. Maka Indraputra pun tidurlah dengan berahinya mendengar bunyi burung itu. Hatta maka hari pun sianglah. Maka tuan putri Kemala Ratnasari menyuruhkan seorang bidadari kepada Indraputra membawa sugi dengan sapu tangan dalam serahi kaca. Setelah datang bidadari itu ke balai Rangga Puspa Berahi, maka dilihatnya Indraputra lagi juga tidur. Maka bidadari itu pun berpantun, demikian bunyinya, "Apa surat Dang Juita, s[y]ahbandar mudik melayang; apa sebab tuan tidur, sadar hari siang." Maka Indraputra pun terkejut mendengar pantun bidadari itu lalu bangun seraya berpantun, demikian bunyinya,

Laksmana pergi menuba, berpagarkan duri di dalam parit; di mana tidur tidak 'kan nyedar, lalai menentang dagang yang garib." Maka bidadari itu pun tersenyum. Maka Indraputra pun bersugi dan basuh muka. Setelah itu maka Indraputra pun pergilah ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka kata tuan putri Kemala Ratnasari kepada Indraputra, "Duduklah saudaraku." Maka Indraputra pun duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka hidangan nasi pun diangkat oranglah ke hadapan Indraputra. Maka Indraputra pun makanlah dengan tuan putri. Setelah sudah makan maka makan sirih dan memakai bau-bauan. Setelah itu maka kata Indraputra kepada tuan putri Kemala Ratnasari, "Hai saudaraku, manatah kemala hikmat itu, berilah akan hamba." Maka sahut tuan putri, "Hai saudaraku, baiklah ambillah oleh saudaraku kemala hikmat itu. Adapun gunanya kemala hikmat itu jika saudaraku hendakkan suatu negeri dengan maligainyanya dan kotanya dengan rakyatnya dan senjatanya dengan hulubalangnya, maka saudaraku cita nama nenek hamba Dewi Lakpurba dalam laut, niscaya datanglah penghulu jin kemala hikmat itu empat orang. Seorang namanya Digar Alam, dan seorang namanya Digar Kilat, dan seorang namanya Digar Seru, dan seorang namanya Digar Akas. Maka keempatnya itu memegang tentera jin dan peri, dewa. Bermula Digar Kilat itu jika saudaraku hendakkan segera menyuruh pada suatu negeri atau ke dalam laut, niscaya dengan sebentar juga ia datang. Adapun Digar Akas itu jika saudaraku hendakkan menurunkan hujan atau angin ribut, kilat, dan petir dapat diadakannya. Dan Digar Seru itu jika saudaraku hendak menurunkan api dan kilat, hasap kelam kabut dapat diadakannya. Adapun Digar Alam itu jika saudaraku hendak menurunkan hujan batu, dapat diturunkannya. Demikianlah pergunaan kemala hikmat ini. Jika lain daripada saudaraku, tiada kuberikan." Maka sahut Indraputra, "Hai saudaraku tuan putri, sepenuhnyalah kasih saudaraku itu akan hamba, tiada dapat hamba balas kasih saudaraku itu dalam dunia dan dalam akhirat." Maka kemala hikmat itu pun diberikan tuan putri Kemala Ratnasari kepada Indraputra. Maka disambut Indraputra dengan suka hatinya. Setelah itu maka diangkat oranglah hidangan makan-makanan dan buah-buahan daripada aneka bagai-bagai nikmat ke hadapan tuan putri dan Indraputra. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab. Alkisah maka tersebutlah perkataan tatkala tuan putri Kemala Ratnasari kahawin dengan Raja Dewa Lela Mengerna, dan peri mengatakan tatkala Indraputra perang dengan Raja Dewa Lela Mengerna, dan peri mengatakan tatkala datang Nabat Rum Syah bantu Indraputra, dan peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan Raja Mujtadar Syah. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini, demikian bunyinya: Sekali peristiwa Raja Dewa Lela Mengerna pergi berburu dengan

segala bala tenteranya, maka beroleh seekor kijang emas terlalu indah-indah rupanya. Maka disuruh Raja Dewa Lela Mengerna hantarkan kijang emas itu kepada tuan putri Kemala Ratnasari. Maka pergilah seorang abantaranya mengantarkankan kijang emas itu. Setelah datang abantara itu maka dilihatnya segala binatang penunggu pintu pagar jala-jala itu semuanya habis bergulingan di tanah. Maka abantara itu pun lalu naik ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka dilihatnya tuan putri duduk dengan seorang laki-laki muda dihadap oleh segala bidadari dan segala dayang-dayang. Setelah dilihat oleh abantara itu tuan putri duduk dengan seorang laki-laki itu lalu ia berjalan kembali. Maka disuruh tuan putri panggil kepada dayang-dayang tiada didengarkannya. Maka segerahlahlah ia kembali kepada Raja Dewa Lela Mengerna. Bermula maka dayang-dayang itu pun kembali kepada tuan putri Kemala Ratnasari, berdatang sembah, "Ya tuanku, tiada ia mau kembali patik panggil abantara itu." Maka kata tuan putri kepada Indraputra, "Hai saudaraku, sekarang datanglah fitnah akan kita." Maka sahut Indraputra, "Harap juga tuan putri kepada Allah taala, jangan takut. Seboleh-boleh hamba lawan juga karena kita tiada salah, masakan Tuhan seru sekalian tiada menolong kita dengan benar kita." Maka tuan putri pun tetaplah hatinya. Sebermula maka tersebutlah perkataan abantara suruhan Raja Dewa Lela Mengerna itu berlari-lari datang ke hadapan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka pada ketika itu Raja Dewa Lela Mengerna lagi duduk semayam diadap segala menteri dan hulubalang sekalian dengan segala rakyat. Maka abantara pun datang berlari-lari, maka Raja Dewa Lela Mengerna pun terkejut melihat abantara itu datang berlari-lari. Maka sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, adapun patik lihat paduka adinda tuan putri Kemala Ratnasari duduk dengan seorang laki-laki diadap segala bidadari dan segala dayang-dayang isi istana. Maka segala binatang penunggu pintu pagar jala-jala itu semuanya berhumbalangan di tanah." Demi didengar Raja Dewa Lela Mengerna sembah abantara itu, maka Raja Dewa Lela Mengerna pun terlalu amarah seperti api bernyala-nyala. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dengan sebentar itu juga menyuruh mengimpunkankan segala rakyat dan segala menteri hulubalang sekalian. Maka dengan seketika itu juga berhimpunlah segala tentera jin dan dewa sekalian hadir dengan segala senjatanya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun berangkatlah dengan segala menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian. Maka jadi kelam kabutlah dan matahari pun tiada kelihatan. Maka Tasik Samundra itu pun berombaklah seperti akan sampai ke langit rupanya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun lalulah dari tasik itu dengan segala menteri dan hulubalang rakyat sekalian. Maka terdengarlah kepada tuan putri Kemala Ratnasari dan kepada Indraputra Raja Dewa Lela Mengerna datang itu dengan segala bala tenteranya, maka kata tuan putri kepada Indraputra, "Hai saudaraku, sekarang apatah bicara tuan hamba, karena Raja Dewa Lela Mengerna sekarang (se)telah datang!"

Maka sahut Indraputra, "Hai saudaraku tuan putri pertetap juga hati tuan hamba. Allah subhanahu wa taala juga menolong kita." Maka kata tuan putri, "Hai saudaraku, baiklah tuan hamba cita kemala hikmat itu, niscaya dapat dilawannya oleh kemala hikmat itu segala rakyat Raja Dewa Lela Mengerna itu." Dengan berkat nenek Dewi Lakpurba maka dikeluarkan Indraputra kemala hikmat itu lalu dicitanya Dewi Lakpurba yang di dalam laut itu. Maka dengan seketika itu juga datanglah segala jin, dewa, beribu-ribu mustaid dengan segala senjata perang. Maka penghulu jin yang empat orang itu pun datanglah mengadap tuan putri dan Indraputra. Maka ujar penghulu jin yang empat orang itu, "Ya tuanku, janganlah tuanku susah, atas hambalah melawan tentera Raja Dewa Lela Mengerna itu. Karena tuanku tiada salah, niscaya menang juga perang kita." Maka Indraputra sukacita menengar cakap penghulu jin yang empat orang itu. Maka tuan putri Kemala Ratnasari berjamu segala jin itu makan minum terlalu ramai bercakap dengan tempik soraknya masing-masing. Alkisah maka tersebutlah perkataan Raja Dewa Lela Mengerna datanglah ke padang Belanta Heran dengan segala menterinya dan hulubalangnya dengan rakyat sekalian. Maka berserulah hulubalang daripada fihak Raja Dewa Lela Mengerna, ujarnya, "Hai laki-laki, marilah engkau ke medan!" Maka segala jin dan dewa yang daripada kemala hikmat itu pun keluarlah perang dengan rakyat Raja Dewa Lela Mengerna, terlalu ramai dengan tempik soraknya seperti guruh bunyinya berperang itu. Yang jin samanya jin dan dewa samanya dewa masing-masing mengadap lawannya, tiga hari tiga malam berperang itu tiada berhenti. Maka Raja Dewa Lela Mengerna menyuruh memalu bunyi-bunyian perang dan menyuruh mendirikan tunggul dan panji-panji cogan alamat kerajaan. Maka penuhlah padang Belanta Heran itu oleh rakyat Raja Lela Mengerna. Maka keluarlah segala hulubalang Raja Dewa Lela Mengerna perang berlompatan ke tengah medan dengan tempik soraknya serta mehelakan pendahannya dan menetakkan pedangnya dengan memanahkan panahnya, terlalu gempita bunyinya. Maka segala jin kemala hikmat itu sekalian keluar perang dengan rakyat Raja Dewa Lela Mengerna, ada yang memanahkan panahnya, ada yang menetakkan pedangnya, ada yang menikamkan tombaknya dengan tempik soraknya seperti guruh gegak gempita, maka jadi kelam kabutlah. Duli pun berbangkitlah ke udara, maka matahari pun tiada kelihatan cahayanya. Maka hari pun malamlah. Maka genderang kembali pun dipalu oranglah, maka kembalilah kedua fihak tentara itu masing-masing pada tempatnya. Bermula setelah hari siang, pagi-pagi hari maka berbunyilah genderang perang daripada kedua fihak tentera. Maka segala hulubalang Raja Dewa Lela Mengerna pun keluarlah ke medan berlompatan seraya bermainkan senjatanya menentu lawannya. Maka hulubalang Indraputra pun keluarlah ke medan, berlawan dengan hulubalang Raja Dewa Lela Mengerna, berpanah-panahan dan bertikamkan tombak. Syahdan bertetakkan pedang dengan tempik soraknya gemuruh bunyinya dan kilat segala senjata gemerlapan. Maka duli pun berbangkitlah ke udara menjadi kelam kabut.

Setelah petang hari maka kedua fihak tentera pun masing-masing kembali ke tempatnya berhenti. Maka titah Raja Dewa Lela Mengerna kepada menterinya, "Pada bicaraku sungguhlah rupanya putri Kemala Ratnasari ini berbuat jahat, maka jin kemala hikmat itu disuruhnya melawan kita perang. Jika demikian, esok hari baik aku sendiri keluar perang melawan laki-laki itu, perang sama seorang." Maka hari pun hampirlah siang, bintang pun belum padam cahayanya dan segala binatang pun belum lagi mencari mangsanya, maka medan tempat berperang itu pun diperbaiki oranglah. Maka genderang perang daripada kedua fihak tentera pun berbunyilah. Maka segala hulubalang pun keluarlah ke medan bersaf-saf. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun memakai senjatanya lalu naik ke atas kudanya berpelana emas bertatahkan ratna mutu manikam, maka digertakkan ke tengah medan kudanya, Maka berseru-seru seorang hulubalang daripada fihak Raja Dewa Lela Mengerna dengan nyaring suaranya, demikian katanya, "Hai laki-laki manusia yang kepala satu, mengapa engkau berlindungkan dirimu kepada jin kemala hikmat itu? Takutlah engkau akan pedang raja kami, maka engkau tiada mau keluar perang?" Kemudian demi didengar Indraputra suara hulubalang itu memanggil dia, maka Indraputra pun mengenakan senjatanya lalu ia ke tengah padang berhadapan dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun memanah Indraputra, maka ditangkiskan oleh Indraputra tiada kena. Maka sekali lagi dipanah Raja Dewa Lela Mengerna kena Indraputra, keluar api berasap memancar-mancar daripada tubuh Indraputra, tetapi suatu pun tiada mara bahayanya. Maka dibalas Indraputra, dipanahnya Raja Dewa Lela Mengerna kena tubuh Raja Dewa Lela Mengerna, keluar api berasap memancar-mancar daripada tubuh Raja Dewa Lela Mengerna. Maka segala rakyat daripada kedua fihak itu pun heran melihat sakti kedua anak raja itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun mengitarkan pedangnya lalu ditetakkannya kepada Indraputra. Maka diparang Indraputra pedang Raja Dewa Lela Mengerna itu patah penggal dua. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun melayang ke udara, kemudian maka ia turun ke bumi, mengambil pedang lain. Maka ditetakkan kepada Indraputra, maka ditangkiskan Indraputra, keluar api berasap memancar-mancar daripada tubuh Indraputra. Maka dibalas Indraputra, ditetaknya Raja Dewa Lela Mengerna kena pada tubuhnya, keluar api berasap memancar-mancar daripada tubuh Raja Dewa Lela Mengerna. Maka kedua anak raja itu sama keluar api memancar-mancar seperti kilat. Maka kedua anak raja itu sama menurunkan guruh dan petir kilat sabung-menyabung, kelam kabut di udara. Maka kedua anak raja itu sama saktinya dilihat oleh kedua fihak tentera sekalian melihat sakti anak raja kedua itu heran. Alkisah maka tersebutlah perkataan Nabat Rum Syah di negerinya, pada suatu malam ia tidur maka Nabat Rum Syah bermimpi Indraputra. Setelah hari siang maka Nabat Rum Syah bangun daripada tidurnya lalu ia datang kepada ayahanda baginda Raja Tahir Johan Syah seraya berkata, "Ya tuanku Syah Alam, patik hendak bermohon kepada tuanku pergi mencari saudara patik Indraputra. Pada bicara patik ada juga sesuatu kesukarannya." Maka titah Raja Tahir Johan Syah, "Hai anakku, pergilah engkau

cari saudaramu Bawa rakyat dan hulubalang serta anakku sama-sama pergi." Maka dengan seketika itu juga berhimpunlah segala menteri dan hulubalang dan rakyat sekalian. Maka Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada ayah bunda baginda. Setelah sudah lalu pergi mendapatkan adinda putri Jumjum Ratnadewi. Maka putri Jumjum Ratnadewi berkirim bau-bauan dalam cembul mutia kepada Indraputra, maka disambut Nabat Rum Syah lalu dikandungnya. Maka Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada adinda putri Jumjum Ratnadewi lalu berjalan dengan segala menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian, berapa melalui hutan, padang, dan gunung yang tinggi-tinggi. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini demikian: Bahwa pada suatu hari Indraputra dengan Raja Dewa Lela Mengerna berperang di tengah padang, maka dilihat oleh kedua fihak tentera duli berbangkit. Maka Indraputra pun tahulah akan Nabat Rum Syah yang datang itu. Setelah seketika maka Nabat Rum Syah hampirlah maka Indraputra pun pergi mendapat Nabat Rum Syah. Setelah bertemu maka kedua anak raja itu sama berpeluk dan bercium. Maka kiriman putri Jumjum Ratnadewi pun diberikan oleh Nabat Rum Syah kepada Indraputra, maka disambut Indraputra lalu dikandungnya. Maka Indraputra pun berceriterakan segala hal-ihwalnya perang dengan Raja Dewa Lela Mengerna itu dan perinya bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari semuanya diceriterakan kepada Nabat Rum Syah. Maka Nabat Rum Syah pun heran mendengar ceritera Indraputra itu. Bermula maka terdengarlah kepada Raja Dewa Lela Mengerna bahwa anak raja jin Islam yang bernama Nabat Rum Syah datang akan bantu Indraputra, maka Raja Dewa Lela Mengerna pun amarah seraya berkata, "Lihatlah Nabat Rum Syah, apa kerjanya ia datang bantu kepada manusia yang satu kepalanya! Syahdan tiada benar perbuatannya!" Maka genderang perang pun disuruh Raja Dewa Lela Mengerna palu. Maka segala hulubalang keluarlah kemudian berlompatan bermainkan senjatanya. Maka segala hulubalang Indraputra yang daripada kemala hikmat itu pun keluarlah ke tengah medan berhadapan hulubalang Raja Dewa Lela Mengerna lalu berperang terlalu raya, gegak gempita dengan tempik soraknya. Maka duli pun berbangkitlah ke udara jadi kelam kabut. Arkian maka hari pun malamlah, maka kedua fihak tentera pun masing-masing kembali ke tempatnya. Alkisah maka terdengarlah kepada segala raja-raja jin yang takluk kepada Raja Dewa Lela Mengerna, maka sekalian raja itu semuanya datang membantu Raja Dewa Lela Mengerna dengan segala bala tenteranya dengan panji-panjinya, syahdan dengan bunyi-bunyian terlalu ramai. Bermula maka bintang pun belum lagi padam cahayanya dan segala binatang pun belum keluar mencari mangsanya, maka berbunyilah genderang perang daripada kedua fihak tentera. Maka padang Belanta Heran pun diperbaiki orang. Maka segala hulubalang pun masing-masing memakai senjatanya, naik ke atas kudanya berdiri bersaf-saf, ada yang memakai zirah besi dan berketopong besi, memegang pedangnya dan memegang pendahannya, ada yang memegang busurnya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun memakai senjatanya lalu naik ke atas kudanya, digertakkannya ke tengah medan. Maka segala raja-raja yang takluk

kepada Raja Dewa Lela Mengerna pun semuanya ke tengah padang, masing-masing dengan panji-panjinya berbagai-bagai warnanya. Maka segala bunyi-bunyian pun terlalu azmat bunyinya. Maka berserulah seorang hulubalang daripada fihak Raja Dewa Lela Mengerna, katanya, "Hai manusia yang satu kepalamu, mengapa engkau tiada keluar perang, maka engkau berlindungkan dirimu kepada jin kemala hikmat itu dan berlindungkan dirimu kepada Nabat Rum Syah! Jika engkau laki-laki, marilah engkau ke medan berlawan dengan raja kami!" Setelah didengar Indraputra kata hulubalang itu, maka Indraputra pun keluar ke medan dengan amarahnya berhadapan dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka Indraputra dipanah oleh Raja Dewa Lela Mengerna kena tubuh Indraputra, keluar api memancar-mancar ke udara. Maka kedua anak raja itu bertetakkan pedang, maka kena tubuh Raja Dewa Lela Mengerna keluar api memancar-mancar ke udara seperti guruh bunyinya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna memanah ke udara, bunyinya seperti guruh. Maka anak panah itu menjadi mega datang hendak menangkap Indraputra. Maka dicita Indraputra kemala hikmat itu, maka datang jin yang bernama Digar Akas dengan seketika itu juga menurunkan angin ribut, kelam kabut taufan. Maka mega itu pun habis cerai-berai menjadi embun. Maka panji-panji segala raja-raja semuanya berhumbalangan, ada yang patah. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun amarah seraya melambungkan pedangnya ke udara, maka menjadi guruh dan petir kilat sabung-menyabung. Maka pedang itu menjadi api datang hendak menunukan Indraputra. Maka dicita Indraputra kemala hikmat itu. Maka datanglah angin ribut, taufan dengan hujan terlalu lebat, maka api itu pun padamlah. Alkisah maka tersebutlah perkataan Raja Mujtadar Syah duduk semayam diadap segala menteri dan segala hulubalang sekalian. Maka datang seorang bidadari daripada putri Kemala Ratnasari berdatang sembah, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Bahwa paduka anakanda tuan putri Kemala Ratnasari ada bertemu dengan seorang manusia di Tasik Samundra, maka dibawa paduka anakanda pulang ke maligai; karena itu sekarang maka Raja Dewa Lela Mengerna Syah perang dengan manusia itu." Setelah Raja Mujtadar Syah mendengar sembah bidadari itu, maka baginda pun terlalu amarah seraya menyuruh mengimpunkankan segala bala tenteranya sekalian. Maka Raja Mujtadar Syah pun berangkat seraya berkata kepada segala menterinya, "Lihatlah, anak celaka memberi aku malu!" Maka Raja Mujtadar Syah pun lalulah berjalan melalui Tasik Samundra itu, maka peri yang menunggu tasik itu pun datang kepada Raja Mujtadar Syah berdatang sembah, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Adapun paduka anakanda putri Kemala Ratnasari tiada ia berbuat jahat dengan manusia itu, tiada paduka anakanda memberi malu duli tuanku. Adapun manusia itu Indraputra namanya, anak Maharaja Bikrama Bispa, diambil saudara oleh paduka anakanda. Syahdan ialah yang termasyhur namanya pada tanah manusia." Maka diceriterakan oleh peri itu segala peri hal-ihwal Indraputra daripada mulanya datang kepada kesudahannya. Setelah Raja Mujtadar Syah mendengar kata peri itu maka baginda pun percaya mendengar kata peri itu, maka sukalah hati baginda

seraya baginda lalu mendapatkan Raja Dewa Lela Mengerna ke padang Belanta Heran. Maka didapat Raja Mujtadar Syah Raja Dewa Lela Mengerna lagi sedang perang dengan Indraputra. Maka Raja Mujtadar Syah pun datang memeluk Raja Dewa Lela Mengerna. Maka kata Raja Mujtadar Syah, "Hai anakku Raja Dewa Lela Mengerna, mengapa maka anakku berperang tiada dengan periksya dahulu, karena anak hamba putri Kemala Ratnasari tiada ia berbuat jahat, tiada ia memberi malu tuan hamba. Adapun manusia itu Indraputra namanya, anak Maharaja Bikrama Bispa, sesat ia kemari kepada tanah kita ini. Daripada kasihan anak hamba putri Kemala Ratnasari, maka diambilnya akan saudara. Hamba pun tiada tahu, peri yang menunggu tasik itu memberi hamba tahu, ialah jadi syaksi hamba," maka diceriterakan oleh Raja Mujtadar Syah segala peri hal-ihwalnya. Maka kata Raja Mujtadar Syah, "Hai anakku, baik juga anakku mufakat dengan Indraputri itu, supaya masyhurlah nama anakku pada tanah manusia disebut orang dan jika ia binasa oleh tuan hamba, jadi nama anakku disebut orang jahat." Setelah Raja Dewa Lela Mengerna mendengar kata Raja Mujtadar Syah itu, maka baiklah hati Raja Dewa Lela Mengerna lalu menyembah kepada Raja Mujtadar Syah. Setelah demikian maka Raja Mujtadar Syah menyuruhkan seorang biduanda memberi tahu Indraputra mengatakan, janganlah Indraputra perang dengan Raja Dewa Lela Mengerna, baik berdamai supaya jadi mufakat. Setelah didengar kata biduanda itu, maka Indraputra pun sukacita hatinya lalu berjalan dengan Nabat Rum Syah datang mendapatkan Raja Mujtadar Syah. Demi dilihat oleh Raja Mujtadar Syah Indraputra dan Nabat Rum Syah datang, maka disuruh Raja Mujtadar Syah Raja Dewa Lela Mengerna pergi mengelu-elukan Indraputra dan Nabat Rum Syah. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun pergi mengelu-ngelukan Indraputra dan Nabat Rum Syah. Setelah bertemu lalu berjabat tangan. Maka Indraputra dan Nabat Rum Syah pun lalulah datang kepada Raja Mujtadar Syah, maka Indraputra dan Nabat Rum Syah pun menyembah Raja Mujtadar Syah. Maka Raja Mujtadar Syah pun berdiri memberi hormat Indraputra dan Nabat Rum Syah, maka Raja Mujtadar Syah membawa Indraputra dan Nabat Rum Syah dengan Raja Dewa Lela Mengerna ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari, duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka hidangan nasi pun diangkat oranglah ke hadapan segala raja-raja itu, maka segala raja-raja itu pun makanlah, yang menteri samanya menteri dan hulubalang makan samanya hulubalang. Maka Indraputra dan Nabat Rum Syah dengan Raja Dewa Lela Mengerna makan tiga hari sehidangan dan Raja Mujtadar Syah makan sendirinya sehidangan. Setelah sudah makan maka minuman pula dibawa orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian daripada rebab dan kecapi, dandi, muri, bangsi. Maka segala biduan yang baik suaranya itu bernyanyilah masing-masing dengan lagunya. Demikianlah sehari-hari segala raja-raja itu makan minum dengan segala menteri dan hulubalang empat puluh hari empat puluh malam melakukan kesukaannya berjaga-jaga. Maka kata Raja Mujtadar Syah kepada Indraputra dan Nabat Rum Syah, "Kepada tuan kedua ayahanda serahkan memegang kerja Raja

Dewa Lela Mengerna." Maka sembah Indraputra dan Nabat Rum Syah, "Baiklah tuanku, atas patik kedualah yang mengerjakan dia." Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Indraputra dengan Nabat Rum Syah duduk di taman Gairat berjaga-jaga, makan minum dengan segala bunyi-bunyian terlalu ramai. Bermula pada selapis pagar jala-jala maligai tuan putri Kemala Ratnasari itu ada suatu balai diperbuat orang, tiangnya daripada cendana dilarak bersendi dengan kayu harang. Maka segala orang muda-muda duduk bermain pada balai itu makan minum memalu bunyi-bunyian seraya berpantun dan bernyanyi, ada yang menari masing-masing dengan pandainya. Bermula pada kedua lapis pagar jala-jala, suatu balai tiangnya daripada gaharu larak bersendi-sendi dengan gading dan hatapnyanya daripada kaca merah. Maka beberapa dian, tanglung, kandil daripada pirus digantung orang. Maka segala anak orang kaya-kaya duduk makan minum dan bermain memalu bunyi-bunyian di balai itu masing-masing dengan kesukaannya. Bermula pada yang ketiga lapis pagar jala-jala itu suatu balai gading hatapnyanya daripada kaca ungu, beberapa dian, tanglung, dan pelita kandil terpasang. Maka segala anak biduanda yang muda-muda makan minum memalu bunyi-bunyian masing-masing dengan kesukaannya. Maka pada keempat lapis pagar jala-jala itu suatu balai tiangnya daripada khalambak, hatapnyanya daripada kaca putih, maka beberapa dian pelita terpasang dan tanglung kandil yang tergantung. Maka segala anak abantara yang muda-muda makan minum, memalu bunyi-bunyian masing-masing dengan kesukaannya. Maka pada kelima lapis pagar jala-jala itu suatu tiangnya daripada kaca biru, hatapnyanya daripada kaca kuning. Maka beberapa segala anak hulubalang yang muda-muda dengan pakaiannya duduk di balai itu makan minum dengan segala bunyi-bunyian masing-masing melakukan kesukaannya, syahdan beberapa dian, pelita, kandil, tanglung tergantung. Bermula pada keenam lapis pagar jala-jala suatu balai tiangnya daripada perak, hatapnyanya daripada kaca hijau. Maka beberapa dian pelita terpasang dan beberapa tanglung kandil tergantung. Maka segala anak menteri duduk bermain catur dan pasung pada balai itu. Pada ketujuh lapis pagar jala-jala itu suatu balai tiangnya daripada tembaga suasa, hatapnyanya daripada pirus. Maka beberapa dian pelita terpasang dan beberapa tanglung kandil tergantung. Maka segala anak raja-raja pada balai itu duduk bermain dan memalu bunyi-bunyian. Maka segala anak raja-raja itu berjuangkan gaja[h] dan mengadu harimau. Maka segala anak hulubalang ada yang bermain pedang perisyai, ada yang bermain lembing, ada yang bermain panah, masing-masing dengan kepandaiannya. Bermula maka Indraputra dengan Nabat Rum Syah berjalan melihat segala orang bermain itu berpegang tangan dengan Nabat Rum Syah. Seketika Indraputra pergi kepada orang bermain pasung dan catur. Maka Indraputra dan Nabat Rum Syah turut bermain pasung dan catur. Setelah itu maka Indraputra pergi kepada segala hulubalang bermain senjata, ada yang bermain pedang, ada yang bermain lembing, ada yang bermain perisyai dengan pedang, ada yang bermain panah. Maka Indraputra dan Nabat Rum Syah pun turut bermain senjata, maka

jadi bertambah ramailah orang bermain itu. Kemudian maka Indraputra pergi kepada orang berjuangkan gajah dan orang mengadap harimau, maka orang bermain itu pun terlalu ramai. Maka Indraputra turut bermain sama-sama dengan Nabat Rum Syah. Sebermula maka Indraputra pun menyuruh orang berbuat perarakan daripada perak dan emas dan perarakan itu diperbuat tujuh pangkat. Maka dihampari dengan suf sahlat ainulbanat, dewangga yang keemasan. Pada pangkat yang pertama anak segala orang kaya duduk memangku puan yang keemasan dan menyelampai wali kuning dan pada pangkat yang kedua anak hulubalang memangku kendi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang ketiga segala anak biduanda memangku dian yang keemasan, bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang keempat anak segala [a]bantara memangku pedang kerajaan yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang kelima segala anak menteri menyelampai tetampan kain bersuji yang keemasan dan memangku kumba mayang yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang keenam segala anak raja-raja memegang kipas keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Sebermula maka Raja Mujtadar Syah pun menyuruh mengias maligai tuan putri daripada suf sahlat ainulbanat dan tirai kelambu yang keemasan tujuh lapis dan beberapa pula hamparan permadani yang keemasan. Bermula maka tuan putri Kemala Ratnasari pun dihias orang dengan pakaian serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Setelah sudah maka didudukkan di atas puspa pema(n)janganan diadap segala anak dara-dara, dan bini orang kaya-kaya, dan bini segala menteri, dan bini segala hulubalang, semua mengadap tuan putri. Maka di atas oranglah segala dian, pelita, tanglung, kandil yang keemasan. Maka segala bidadari itu duduk di sisi tuan putri dengan pakaiannya masing-masing dengan jawatannya, ada yang memangku puan yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, ada yang memangku kendi keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, ada yang memegang kipas keemasan berumbai-rumbaikan mutia, dan empat orang anak dara-dara menyelampai wali kuning yang keemasan duduk di belakang tuan putri; dan empat puluh anak dara-dara yang menyelampai wali kuning serba keemasan duduk di hadapan tuan putri memangku kumba mayang serba keemasan. Maka rupa tuan putri Kemala Ratnasari seperti bulan purnama dipagar bintang. Demikianlah setelah sudah lengkap maka Raja Dewa Lela Mengerna pun dihias orang dengan pakaian serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka terkembanglah payung kerajaan dan berdirilah segala panji-panji yang keemasan dan cogan alamat kerajaan pun terdirilah. Maka Indraputra dan Nabat Rum Syah memacu kudanya mengatur segala pawai itu. Seketika dipacunya kudanya mengatur segala gajah dan kuda, seketika dipacunya kudanya mengatur segala tunggul dan panji-panji. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, gendang, gong, serunai, nafiri terlalu ramai. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun naiklah ke atas perarakan itu maka diarak oranglah ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari. Maka perarakan itu pun berkisar sendirinya, maka terbunyilah segala rumbai-rumbainya daripada mutia dan manikam itu, gemerencing bunyinya. Maka perarakan Raja Dewa Lela Mengerna pun sampailah ke maligai tuan putri Kemala Ratnasari.

Maka Indraputra mimpin tangan Raja Dewa Lela Mengerna dari kanan dan Nabat Rum Syah mimpin tangan Raja Dewa Lela Mengerna dari kiri, maka dibawa naik ke maligai, maka didudukkan di atas puspa pemajangan di kanan tuan putri Kemala Ratnasari. Maka Raja Dewa Lela Mengerna mimpin tangan tuan putri Kemala Ratnasari masuk ke peraduan, maka tirai kelambu yang keemasan pun dilabuhkan oranglah. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dengan tuan putri Kemala Ratnasari pun duduklah bersuka-sukaan. Bermula maka Raja Mujtadar Syah menyuruh mengatur segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian dan orang kaya-kaya. Maka hidangan nasi pun diangkatlah oleh orang beriring-iring seperti dalam tulis rupanya. Maka segala raja-raja pun makanlah. Maka segala menteri dan hulubalang dan segala orang kaya-kaya sekaliannya pun makanlah. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun [diper]edarkankan oranglah. Maka segala bunyi-bunyian pun terlalu ramai dipalu orang. Maka biduan yang baik suaranya itu pun bernyanyilah. Maka bangkitlah menari segala orang muda-muda berungkap-ungkapan. Setelah sudah maka Raja Mujtadar Syah memberi persalin pakaian yang keemasan akan Indraputra, dan Nabat Rum Syah, dan segala raja-raja dengan segala menteri dan hulubalang, abantara sekalian semuanya di beri persalin. Setelah antaranya berapa hari, maka Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada Raja Mujtadar Syah hendak pulang ke negerinya. Maka kata Raja Mujtadar Syah, "Hai anakku, terlalu sekali banyak kasih anakku menolong kerja ayahanda. Jikalau tiada anakku kedua dengan Indraputra, tiada ramai kerja ayahanda." Maka sembah Nabat Rum Syah, "[Syah] Alam banyak pula karunia tuanku akan patik." Setelah itu maka Nabat Rum Syah pun bermohon kepada Raja Dewa Lela Mengerna, maka kata Raja Dewa Lela Mengerna, "Hai saudaraku, belum puas hati hamba bersama-sama dengan saudaraku. Adapun akan pekerjaanan Tamar Jalis itu belum sudah dengan tuan hamba, karena hendak diperbalaskan oleh Tamar Boga kematian anaknya itu. Jika ada barang saudaraku, hendaklah tuan hamba memberi tahu hamba." Setelah itu maka Nabat Rum Syah memohon kepada Indraputra, maka Indraputra pun berkirim kain bekas tubuhnya kepada istrinyanya, putri Jumjum Ratnadewi, dan berkirim sepah dalam cembul mutia dan berpesan empunya sembah kepada Raja Tahir Johan Syah laki istri. Maka ujar Nabat Rum Syah, "Hai saudaraku, jika ada barang suatu pekerjaanan tuan hamba, hendaklah tuan hamba cita nama hamba." Setelah sudah maka Nabat Rum Syah bermohon kepada Indraputra, maka Nabat Rum Syah pun berjalan kembali ke negerinya dengan segala bala tenteranya sekalian. Sebermula maka Raja Mujtadar Syah pun memohonlah hendaklah kembali ke negerinya, maka titah Raja Mujtadar Syah kepada Raja Dewa Lela Mengerna, "Hai anakku, baik-baik anakku laki istri memeliharakan Indraputra. Itu petaruh ayahandalah Indraputra itu kepada anakku laki istri dan sampaikan kehendaknya, karena banyak kasihnya kepada anakku kedua laki istri, supaya masyhur nama anakku pada tanah manusia." Setelah itu maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Indraputra dengan

tuan putri Kemala Ratnasari pun menyembah kepada Raja Mujtadar Syah. Maka Raja Mujtadar Syah pun berjalanlah ke negerinya diiringkan segala raja-raja dan bala tentera sekalian. Bermula maka segala raja-raja yang takluk kepada Raja Dewa Lela Mengerna semuanya bermohon kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan Indraputra masing-masing kembali ke negerinya. Bermula maka Indraputra duduklah di maligai putri Kemala Ratnasari berkasih-kasihan dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka segala hikmat Raja Dewa Lela Mengerna semuanya diperoleh Indraputra dan mangkin bertambah bijaksana Indraputra, syahdan pelbagai permainan senjata diketahuinya. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab. Alkisah maka tersebutlah perkataan tatkala Indraputra diterbangkan jin yang bernama Tamar Boga, dan peri mengatakan tatkala Indraputra jatuh di tanah jin dan dewa, dan peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan bukit besi dan bukit tembaga dan bukit perak dan bukit emas dan bukit permata, dan peri mengatakan tatkala Indraputra lalu ke Negeri Rainun dan nama rajanya Raja Gohar Hinis, dan peri mengatakan tatkala Indraputra dikepung Raja Gohar Hinis di maligai tuan putri Tulela Maduratna, dan peri mengatakan tatkala Indraputra beristrikankan tuan putri Tulela Maduratna. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera: pada suatu hari Indraputra dan Raja Dewa Lela Mengerna pergi berburu, maka seekor perburuan tiada diperolehnya. Maka Indraputra pun turun dari atas kudanya, berhenti di bawah sepohon kayu daunnya terlalu rampak. Maka kata Raja Dewa Lela Mengerna kepada Indraputra, "Tinggallah saudaraku dahulu di sini, hamba hendak pergi mandi." Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun berjalan mencari air. Arkian maka Indraputra pun mengantuk hendak tidur, maka kudanya ditambatkannya kepada sepohon kayu. Maka Indraputra pun tidurlah, berbantalkan alas pelana kudanya daripada sahlat ainulbanat dan pedangnya dipeluknya tidur. Alkisah maka tersebutlah perkataan jin yang bernama Tamar Boga, setelah anaknya mati dibunuh oleh Indraputra, maka ia pun terlalu amarah akan Indraputra. Maka dicaharinyanya Indraputra segenap negeri dan segenap hutan, padang dan bukit, tiada juga bertemu dengan Indraputra. Setelah berapa lama maka didengarnya Indraputra bersama-sama dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka pada suatu hari Tamar Boga datang mencari Indraputra, menyamarkan dirinya dengan jin banyak. Maka dilihatnya Indraputra tidur sendirinya di bawah pohon kayu dan Raja Dewa Lela Mengerna pergi mencari air. Maka Tamar Boga pun turun dari udara. Maka dipegangnya Indraputra lalu diterbangkannya ke udara. Pada kehendak Tamar Boga Indraputra hendak dibawanya ke Laut Kulzum dibuangkannya. Hatta maka dirasai Indraputra dirinya terlalu sejuk, maka Indraputra pun membuka matanya. Maka dilihatnya dirinya diterbangkan jin ke udara terlalu tinggi. Maka segerah dihunus Indraputra pedangnya, maka diparangkannya kepada Tamar Boga. Setelah Tamar Boga kena parang, maka Tamar Boga dan Indraputra keduanya pun jatuh

ke tanah dewa, sama berdiri di tanah. Maka ujar Tamar Boga, "Hai orang muda, siapa nama?" Maka sahut Indraputra, "Akulah yang bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa." Maka kata Indraputra, "Engkau siapa nama?" Maka sahut Tamar Boga, "Aku yang bernama Tamar Boga. Anakkulah yang bernama Tamar Jalis yang kaubunuh itu! Syahdan jika sungguh engkau laki-laki, paranglah aku sekali lagi olehmu!" Maka sahut Indraputra, "Hai dewa, aku telah tahu tiada adat memarang dewa dua kali, melainkan sekali juga!" Maka Tamar Boga pun bertempik lalu mati. Maka Indraputra memandang ke kanan dan ke kiri, maka dilihatnya ada suatu padang mahaluas. Maka padang itu beberapa bukit yang tinggi-tinggi, maka sepohon kayu tiada di atas bukit itu dan sehelai rumput pun tiada tumbuh di atasnya. Maka Indraputra pun kheran akan dirinya, dalam hatinya, "Tanah mana gerangan ini?" Maka Indraputra berjalan serta menyerahkan dirinya kepada Allah taala, berjalan masuk hutan keluar hutan, masuk padang terbit padang, naik bukit turun bukit, beberapa Indraputra melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra berjalan dari sana, maka bertemu dengan suatu sungai terlalu besar, tetapi airnya tiada dalam sehingga lutut juga. Bermula pada hulu sungai itu air manis, dan pada sama tengah sungai itu air masin, dan pada ekor sungai itu airnya tawar. Maka Indraputra berdiri di bawah sepohon kayu, daunnya terlalu rindang. Maka angin pun bertiup. Maka tasik itu pun berombak, bunyinya seperti bunyi-bunyian. Maka sinting pun bertambah tepuk dan kerang bersorak dan siput melompat-lompat, genggeng bernyanyi. Maka Indraputra pun kheran. Maka angin pun teduh. Maka kata segala kerang-kerangan itu, "Datang tuanku Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu kita bertemu." Maka Indraputra pun heran melihat segala kerang-kerangan itu berkata-kata. Maka diambil Indraputra kerang-kerangan itu dibakarnya. Setelah masak maka dimakannya, kulitnya dibuangkan Indraputra ke dalam sungai itu maka jadi pula kerang beribu-ribu. Maka Indraputra pun heran melihat kekayaan Tuhan seru sekalian alam. Maka ujar Indraputra, "Heran pula aku melihat kerang ini dan aku datang ditegurkannya." Maka Indraputra pun berjalan ke tengah sungai itu. Dirasai oleh Indraputra airnya manis, maka timbul bunga tunjung putih. Maka ujarnya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran lalu diambilnya bunga tunjung itu, ditajukkannya di kepalanya. Maka bunga tunjung itu menjadi air mawar, maka basahlah segala tubuh Indraputra. Maka timbul pula bunga tunjung merah; maka ujar, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka [diambil] Indraputra bunga tunjung merah itu dipersuntingnya. Maka bunga tunjung itu menjadi jejabatanan terlalu harum baunya. Maka timbul pula bunga tunjung biru, maka katanya, "Demdam [!] kami selama kian sekarang baharu bertemu."

Maka diambil Indraputra bunga tunjung itu, diciumnya menjadi narwastu terlalu harum baunya. Maka timbul pula bunga tunjung jingga, maka ujarnya, "Dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka diambil Indraputra bunga tunjung jingga itu, dikandungnya maka menjadi kesturi. Maka Indraputra lalu berjalan ke hilir sungai itu, airnya tawar. Maka angin pun bertiup, maka air sungai itu pun berombak perpalu-palu seperti bunyi-bunyian. Maka timbullah ikan seraya berpantun dan berseloka, dan ketam bersyair, maka ombak itu pun berhenti. Maka ujar ikan dan ketam itu, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra kheran akan isi sungai itu sekalian mendatangkan dia. Maka diambil Indraputra ketam dan ikan, dilihatnya sudah masak lalu dimakannya. Maka tulangnya dibuangkan Indraputra ke dalam sungai itu, maka jadi pula ikan beribu-ribu dan ketam. Maka tertawa ikan dan ketam itu. Maka Indraputra pun heran melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra lalu berjalan menyeberang sungai itu, beberapa Indraputra melalui hutan dan melalui padang dan bukit, dan beberapa Indraputra melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra pun bertemu dengan suatu padang mahaluas. Maka dilihat Indraputra beberapa pohon kayu dan bunga pada padang itu. Maka ujar bunga itu, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra heran menengar bunga itu mendatangkan dia. Maka diambil Indraputra bunga itu, ditaruhnya pada destarnya menjadi sedah dikarang gajah gemuling. Maka Indraputra pun heran. Maka Indraputra lalu dari sana, maka beberapa bertemu dengan pohon bunga. Maka semuanya mendatangkan Indraputra, maka Indraputra bertemu dengan bunga serigading, maka katanya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka berjalan pula Indraputra bertemu dengan bunga cempaka, maka ujarnya, "Dendam kami selama kian baharu sekarang kita bertemu. Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa." Maka diambil Indraputra bunga itu menjadi malai, maka dipakai Indraputra dari sana. Maka Indraputra lalu berjalan bertemu dengan bukit besi. Maka dilihat Indraputra suatu bukit besar terdinding rupanya hitam. Maka bukit itu berbunyi seperti halilintar. Maka Indraputra dahsyat mendengar bunyi bukit itu, dalam hati Indraputra, "Sekarang ke mana aku berjalan?" Maka Indraputra berjalan juga menuju bukit besi itu, dilihatnya terlalu tinggi dengan besarnya. Maka Indraputra lalu berjalan naik ke atas bukit itu berapa melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra lalu berjalan turun ke sebelah bukit itu. Maka dilihat Indraputra beribu-ribu burung suari berkawan-kawan maka ujarnya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran lalu ia berjalan. Maka bertemu dengan bukit timah, dilihat Indraputra dari jauh seperti kapur lagi dengan tingginya dan terlalu besar. Maka didengar Indraputra bunyi bukit timah itu seperti tagar. Maka Indraputra pun dahsyat menengar bunyi bukit itu. Maka Indraputra naik ke atas bukit timah itu beberapa

ia melihat kekayaan Allah taala. Maka lalu Indraputra berjalan ke sebelah bukit itu, beberapa burung kakatua katanya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran akan burung itu menegurkan dia. Dari sana beberapa Indraputra melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra bertemu pula dengan bukit tembaga, kelihatan dari jauh merah dengan tingginya dan besarnya, bunyinya seperti guruh. Maka Indraputra takut menengar bunyi bukit tembaga itu. Maka Indraputra naik ke atas bukit itu beberapa ia melihat kekayaan Allah taala. Maka dari sana Indraputra lalu berjalan ke sebelah bukit itu. Maka banyak Indraputra bertemu dengan burung wakab dan rajawali, maka katanya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran lalu berjalan dari sana beberapa melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Maka Indraputra pun datanglah kepada bukit perak, kelihatan dari jauh putih seperti kapas terdinding syahdan terlalu tinggi dengan besarnya. Maka bunyinya bukit itu gemuruh seperti petir. Maka Indraputra pun heran mendengar bunyi bukit itu lalu Indraputra naik ke atas bukit itu beberapa melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra turun ke sebelah bukit itu maka beberapa ia melihat merak dan hayam hutan. Maka merak itu pun mengigal dan hayam hutan ini berkokok bersahut-sahutan, terlalu indah-indah dilihat Indraputra. Maka ujar merak dan hayam hutan itu, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra pun berjalan dari sana. Maka bertemu dengan bukit tembaga suasa, kelihatan dari jauh merah memancar-mancar syahdan dengan tingginya dan besarnya, bunyinya gemuruh. Maka Indraputra dahsyat mendengar bunyi bukit itu, dalam hati Indraputra, "Bunyi apakah gerangan ini?" Setelah Indraputra datang ke gunung tembaga suasa itu, maka Indraputra pun naik ke atas bukit itu lalu ia turun ke sebelah bukit itu. Maka dilihat Indraputra beribu-ribu burung nuri, bunyinya seperti orang berbangsi, amat merdu bunyinya. Maka Indraputra berhenti seketika. Maka kata nuri itu, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra heran akan burung nuri itu mendatangkan dia. Maka dari sana Indraputra berjalan berapa melalui hutan rimba dan padang. Maka kelihatan dari jauh bukit emas menyala memancar-mancar berkilat, rupanya penuh padang itu. Maka Indraputra dahsyat melihat bukit itu, pada sangka Indraputra, "Gunung apakah gerangan ini?" Maka Indraputra pun hampirlah kepada bukit emas itu, bunyinya seperti orang memalu gendang, gong, dan serunai, terlalu ramai bunyinya. Maka Indraputra pun naiklah ke atas bukit emas itu lalu berjalan turun ke sebelah bukit itu, maka beberapa Indraputra melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Maka dilihat Indraputra beribu-ribu burung bayan dan burung tiung, bunyinya seperti orang bernyanyi dan berpantun, berseloka, bersyair, amat merdu

didengar Indraputra. Maka ia pun berhenti seketika. Maka ujar bayan dan tiung itu, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun heran melihat burung bayan dan tiung itu mendatangkan dia. Maka Indraputra berjalan dari sana berapa melalui hutan, padang, rimba. Maka dilihat Indraputra dari jauh gemerlapan seperti bintang rupanya bercahaya-cahaya penuh dengan padang itu. Maka Indraputra mendengar bunyi bukit permata itu seperti bunyi-bunyian. Maka Indraputra naik ke atas bukit permata itu berapa melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Maka heranlahlah Indraputra melihat bukit permata itu dan menengar bunyinya, maka ia pun lalai seketika. Bermula jika lain daripada Indraputra tinggallah ia di sana, karena heran menengar bunyi bukit permata itu dan melihat indah-indah itu. Setelah Indraputra ingat akan dirinya maka ia pun berjalan dari sana lalu ke sebelah bukit itu. Maka dilihat Indraputra beribu-ribu burung serindik dan cenderawasih, bunyinya seperti orang berserunai dan berkecapi terlalu indah-indah. Maka dihampiri Indraputra burung itu, maka katanya, "Datang Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, dendam kami selama kian sekarang baharu bertemu." Maka Indraputra pun ajaib melihat burung itu. Maka dari sana Indraputra berjalan berapa melalui hutan, padang. Maka Indraputra bertemu dengan binatang yang bagai-bagai rupanya. Maka dilihat Indraputra dari jauh gunung itu bernyala-nyala seperti akan sampai ke udara, bunyinya gemuruh seperti halilintar membelah dan kilatnya sabung-menyabung. Maka Indraputra terlalu dahsyat, dalam hati Indraputra, "Gunung apakah gerangan ini? Ke mana sekarang pergiku?" Maka Indraputra dukacita dalam hatinya. Maka ia ingat akan kemala hikmat itu, maka dicitanya peri Lakpurba, nenek tuan putri Kemala Ratnasari itu. Maka dalam seketika itu juga datang penghulu jin kemala hikmat itu empat orang. Maka jin itu pun menyembah Indraputra seraya katanya, "Ya tuanku, apa kehendak tuanku memanggil hamba ini?" Maka ujar Indraputra, "Adapun kehendakku, aku hendak minta diterbangkan kembali kepada maligai tuan putri Kemala Ratnasari." Maka kata jin itu, "Tahukah tuan hamba jauh maligai tuan putri Kemala Ratnasari tujuh tahun burung terbang dari sini." Setelah Indraputra mendengar kata jin itu demikian maka ia pun murca seketika. Setelah ia ingat akan dirinya, maka kata Indraputra pada jin itu, "Terbang juga aku lalu daripada gunung api ini." Maka kata jin itu, "Ya tuanku, jika hambamu terbangkan tuanku dari sini, jangan tuanku minta air minum. Jika tuanku minta air, niscaya tuanku jatuh ke Tasik Bahrul Asyik namanya." Maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku, tiadalah aku minta air minum, terbangkanlah aku dari sini." Maka Indraputra pun diterbangkan oleh jin itu ke udara. Maka dilihat oleh Indraputra dunia ini seperti sebuah negeri juga rupanya. Hatta maka lalulah daripada gunung api itu maka Indraputra pun sangatlah merasai dahaga, maka kata Indraputra, "Hai saudaraku, bahwa aku sangat dahaga, tiada dapat kutahan!"

Setelah Indraputra berkata demikian maka ia pun jatuhlah ke Tasik Bahrul Asyik dengan takdir Allah taala, maka Indraputra pun terdirilah di tepi tasik Bahrul Asyik. Maka dilihat Indraputra tasik itu rumputnya daripada kumkuma, dan pasirnya daripada emas urai, dan kersiknya daripada kapur barus, syahdan lumpurnya daripada kesturi. Maka dalam tasik itu beberapa perahu jin dan mambang daripada lancang dan pilang diperbuatnya daripada emas dan perak dan tembaga suasa bertatahkan ratna mutu manikam. Syahdan beberapa ukir dan keluk dan beberapa nakas dan awan dan bunga segala lancang dan pilang itu diperbuatnya terlalu indah-indah rupanya. Maka pada segala lancang itu berapa tunggul dan panji-panji terdiri dari berapa payung terkembang pada segala lancang dan pilang itu. Maka berkibaranlah jumbu-jumbu mutianya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya. Maka dilihat Indraputra di atas segala lancang dan pilang itu segala anak raja-raja jin dan candra dan dewa sekalian memakai pakaian yang keemasan dan berpantuk naga dan berkamrah pirus dan memakai makota yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka segala raja-raja bermain lancang dan pilang di tasik itu berlomba-lombalumba dan berlanggar-langgaran dengan tempik soraknya dengan bunyi-bunyian, ada yang bersyair, ada yang bernyanyi terlalu ramai. Setelah dilihat oleh Indraputra, maka dicitanya guliga itu bedi panja main daripada peri itu. Maka dengan seketika itu juga turun angin ribut, taufan kelam kabut, guruh, petir, halilintar, kilat sabung-menyabung. Maka Tasik Bahrul Asyik itu pun berombaklah. Maka segala lancang dan pilang itu semuanya habis karam. Hatta maka segala anak raja-raja jin dan dewa itu pun berenang dalam tasik itu. Maka segala anak raja-raja itu berenang datang ke tepi tasik itu bertemu dengan Indraputra. Maka kata Indraputra, "Apa sebabnya maka kain baju tuan sekalian ini semuanya basah?" Maka ujar segala anak raja-raja itu, "Bahwa kami sekalian bermain lancang dan pilang di tasik ini, maka datang angin ribut taufan. Maka segala lancang dan pilang kami sekalian habis karam dan teman kami pun banyak mati tenggelam dalam tasik ini." Maka Indraputra pun tersenyum mendengar kata anak raja-raja itu, maka kata Indraputra, "Jikalau timbul segala lancang dan pilang tuan-tuan sekalian dan segala teman tuan sekalian itu ada hidup, apa tuan hamba berikan hamba?" Maka segala anak raja-raja itu berpandangan sama sendirinya, maka kata segala anak raja-raja itu, "Jika sungguh seperti kata tuan hamba, barang apa kehendak tuan hamba, hamba beri." Setelah demikian maka dibubuh Indraputra suatu hikmat dalam tasik itu, maka dengan seketika itu juga angin ribut taufan itu pun berhentilah dan ombak pun teduhlah. Maka segala lancang dan pilang segala raja-raja itu semuanya timbul, maka segala temannya dan saudaranya itu pun timbul, hidup semuanya. Maka segala anak raja-raja jin itu semuanya heran melihat lancang dan pilang itu semuanya timbul dan segala saudaranya dan temannya semuanya ada hidup. Maka kata segala anak raja-raja jin yang tenggelam itu pada segala anak raja-raja yang tiada tenggelam itu, "Bahwa pada perasaan kami sekalian tatkala tenggelam itu seperti berlayar kepada sebuah negeri. Maka hamba sekalian semuanya sampai ke negeri itu lalu naik ke negeri itu. Maka hamba sekalian pergi mengadap raja dalam negeri

itu, rupanya terlalu baik. Maka raja itu duduk diadap segala menteri dan hulubalang. Demikianlah rasa hamba sekalian. Maka ia berkata-kata itu seraya memandang kepada (anak) Indraputra, katanya, "Demikianlah rupa raja itu hamba lihat." Maka ujar temannya, "Sungguhlah kata diri itu." Maka Indraputra pun tersenyum mendengar kata segala anak-anak raja itu. Maka kata segala anak raja-raja itu pada Indraputra, "Berkata benar apa tuan hamba, supaya sedap hati kami sekalian, dari mana tuan hamba datang kemari, dan daripada bangsa mana tuan hamba, dan anak siapa tuan hamba?" Maka ujar Indraputra, "Adapun nama hamba Indraputra dan bangsa hamba daripada manusia. Nama bapa hamba Maharaja Bikrama Bispa," maka diceriterakannya segala hal-ihwalnya daripada permulaannya datang kepada kesudahannya. Maka segala anak raja-raja itu semuanya heran akan gagah perkasa dan bijaksana Indraputra itu, maka kata segala anak raja-raja itu, "Sungguhlah seperti kata tuan hamba itu maka dapat tuan hamba sampai kemari, karena tiada penah manusia datang kemari pada tempat ini, hanyalah tuan hamba dan berbahagialah hamba sekalian oleh bertemu dengan tuan hamba." Maka kata segala anak raja-raja itu kepada Indraputra, "Baik juga tuan hamba singgah ke negeri hamba bercemar-cemar kaki, supaya puas rasa hati hamba sekalian." Maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku sekalian, yang kasih tuan hamba itu telah hamba terimalah. Sungguh belum merasa sudah karena hamba ini hendak berjalan melihat segala negeri." Maka ujar segala anak raja-raja itu, "Jika demikian, hamba pun serta sama-sama dengan tuan hamba pergi barang ke mana." Maka kata Indraputra, "Janganlah saudaraku sekalian mengikut hamba. Jika ada kasih segala saudaraku sekalian akan hamba, barang di mana tempat ada hamba, tuan hamba sekalian datang mendapatkan hamba. Akan sekarang, baiklah segala saudaraku kembali kepada ayah bunda saudara sekalian. Maka segala anak raja-raja jin itu semuanya bermain makan buah-buahan dengan Indraputra. Setelah sudah maka Indraputra pun bermohonlah kepada segala anak-anak raja itu lalu berjalan. Maka segala anak raja-raja jin itu semuanya pulang masing-masing ke negerinya kepada ayah bundanyanya. Sebermula maka Indraputra berjalan itu masuk hutan terbit hutan, masuk padang terbit padang, berapa melalui bukit yang tinggi-tinggi, dan berapa melalui gunung yang besar-besar, dan berapa melalui sungai yang luas-luas. Maka Indraputra pun sampailah ke Tasik Bahrul Asyik. Maka dilihat Indraputra tasik itu rumputnya daripada kumkuma, dan pasirnya daripada emas urai, dan kersiknya daripada kapur barus, dan lumpurnya daripada kesturi, dan batunya daripada permata. Syahdan di tengah tasik itu ada suatu pulau bernama Biram Dewa, karena pulau itu rupanya seperti gajah, sebab itu maka dinamai pulau Biram Dewa. Maka Indraputra pun bermain di tengah tasik itu melihat segala yang indah-indah itu. Seketika lagi maka angin pun bertiup, maka tasik itu pun berombak seperti awan rupanya. Maka harusnyanya pun berdengung seperti bangsi bunyinya, dan ombaknya mengalun

seperti naga rupanya, dan buihnya seperti permata bagai-bagai rupanya. Setelah demikian angin itu pun teduhlah. Maka dilihat Indraputra pada pulau Biram Dewa itu ada seorang perempuan terlalu amat baik rupanya. Maka datang dua orang laki-laki terlalu amat pantas lakunya dan sikapnya datang mengusir perempuan itu. Maka perempuan itu menjadikan dirinya bunga seganda terlalu sekali indah-indah rupanya. Maka orang dua orang itu menjadikan dirinya babi, tubuhnya daripada nilam, tangannya daripada pirus, dan matanya daripada mutia, dan kukunya daripada pualam terlalu indah-indah rupanya. Maka seekor babi itu menjadikan dirinya burung rajawali hendak mengambil bunga seganda itu. Maka babi yang seekor itu menjadikan dirinya burung wakab. Maka berkelahilah burung dua ekor itu sambar-menyambar di udara. Maka perempuan itu menjadikan dirinya suatu permata, maka diperebutkan oleh burung dua ekor itu. Maka Indraputra pun heran melihat seorang perempuan diperebutkan oleh dua orang laki-laki dan bagai-bagai kejadiannya. Maka seketika lagi permata itu disambar oleh rajawali, kemudian maka disambar pulah oleh burung wakab. Hatta dengan demikian maka didengar Indraputra suara orang berkata, "Wah, manakala gerangan datang kemari Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, supaya habis pekerjaankuanku ini." Maka Indraputra pun terkejut dan heran mendengar namanya disebut orang itu; dalam hatinya, "Siapa gerangan yang menyebut namaku ini." Setelah demikian maka permata itu pun jatuh ke dalam tasik itu menjadikan dirinya bunga tunjung biru, terlalu indah-indah rupanya dilihat Indraputra. Maka burung wakab dan rajawali keduanya menjadikan dirinya naga turun ke dalam tasik itu. Maka naga itu terlalu indah-indah rupanya, sayapnya daripada emas, culanya daripada zamrut, dan matanya daripada manikam. Maka naga itu pun bersabung dalam tasik itu, terlalu gemuruh bunyinya tasik itu berombak, jadi keruhlah air tasik itu seperti tapir rupanya dan pulau Biram Dewa itu pun selaku-laku akan bergeraklah rupanya dilihat oleh Indraputra. Maka naga dua ekor itu berebut hendak mengambil bunga tunjung itu. Hatta maka didengar oleh Indraputra suara orang berkata, "Manakala gerangan datang kemari Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa!" Setelah didengar Indraputra suara orang itu maka dalam hati Indraputra, "Siapa gerangan yang menyebut namaku ini?" Arkian maka angin ribut itu pun teduh dan naga keduanya itu pun gaib. Maka dilihat Indraputra ada perempuan empat orang berdiri pada tepi tasik itu terurai-urai rambutnya dan menampar-nampar dadanya, katanya, "Wah, hilanglah tuan putri sekali ini." Setelah didengar Indraputra kata perempuan itu maka dalam hati Indraputra, "Baik aku pergi pada perempuan itu bertanya, kalau ia yang menyebut namaku tadi." Maka Indraputra pun pergi mendapatkan perempuan itu lalu ke Pulau Biram Dewa. Setelah Indraputra ada datang kepada perempuan itu maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku, apa sebabnya maka perempuan seorang diperebut oleh laki-laki dua orang, diusirkannya dari sana-sini?" Maka sahut perempuan itu, "Hai saudaraku orang muda, adapun yang diusirkan oleh laki-laki dua orang itu tuan hamba namanya putri Seganda Caya Iram-Iram, dan nama ayahnya Raja Bungur Syah, dan nama bundanyanya tuan putri Maniram Dewi. Adapun laki-laki dua orang itu

anak raja mambang, seorang namanya Gurdan Kilat dan seorang namanya Gurdan Akas." Maka diceriterakannya kepada Indraputra daripada mulanya, "Adapun Raja Bungur Syah itu asalnya daripada candra, maka ia beranak seorang perempuan dengan istrinyanya yang bernama tuan putri Maniram Dewi, terlalu baik rupanya. Maka dinamainya anak baginda itu tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Maka tuan putri itu ditaruhkan ayahanda baginda dalam cembul mutia. Sekali peristiwa baginda duduk semayam diadap segala menteri dan hulubalang, maka datang seorang anak raja mambang yang bernama Gurdan Kilat itu berdatang sembah, "Ya tuanku Syah Alam, patik minta diperhamba ke bawah duli tuanku." Maka titah baginda, "Baiklah hai anakku, apa salahnya jika anakku sungguh hendak berkasih-kasihan dengan ayahanda." Maka anak raja mambang itu pun sukacitalah hatinya, pada fikirnya berolehlah ia beristrikankan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Maka anak raja itu pun sangatlah harap hatinya, maka ia berbuat khidmat kepada Raja Bungur Syah. Setelah berapa lamanya maka terdengar pula kepada seorang lagi anak raja mambang bernama Gurdan Akas bahwa anak Raja Bungur Syah itu terlalu amat baik rupanya tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Maka anak raja mambang itu pun datang mengadap Raja Bungur Syah, sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, patik minta diperhamba ke bawah duli tuanku." Maka titah raja itu, "Baiklah hai anakku, apatah salahnya, jika anakku hendak berkasih-kasihan dengan ayahanda." Maka kedua anak raja mambang itu pun duduk khidmat di bawah istana Raja Bungur Syah. Setelah berapa lamanya maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pun besarlah. Maka anak raja mambang kedua itu pun berdatang sembah minta tuan putri Seganda Caya Iram-Iram itu, sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, manatah janji yang diper[tuan] dengan patik, karena paduka anakanda telah besarlah." Maka Raja Bungur Syah pun tunduk berdiam dirinya mendengar kata anak raja mambang kedua itu, maka anak raja mambang kedua itu berdatang sembah pula, "Ya tuanku, dahulu tuanku telah berjanji dengan patik hendak memberikan paduka anakanda tuan putri. Akan sekarang mengapa tuanku berdiam diri, seolah-olah tiada mau rupanya tuanku berhambakan patik, tetapi tuanku raja besar lagi dermawan dan bijaksana lagi budiman, hendaklah tuanku meneguhkan janji dengan patik." Setelah Raja Bungur Syah mendengar sembah anak raja mambang kedua itu, maka baginda pun fikir dalam hatinya, "Betapa periku memberikan anakku kepada raja mambang ini, karena anakku hanya seorang dan anak raja ini dua orang." Maka titah Raja Bungur Syah, "Hai anakku raja mambang kedua(h), nantilah hamba bicarakan, karena tuan hamba ini dua orang itulah jadi sukar, tiada terbicara oleh hamba." Maka Raja Bungur Syah pun masuk ke dalam istana dengan masygulnyanya maka kata Baginda kepada istrinyanya yang bernama tuan putri Maniram Dewi, "Hai adinda, apa bicara kita sekarang, karena anakanda diminta oleh anak raja mambang kedua itu." Maka baginda pun menangis terlalu sangat. Hatta maka Raja Bungur Syah pun sakit payah empat puluh hari empat puluh malam. Maka

baginda pun menyuruh memanggil mangkubumi. Setelah datang mangkubumi maka baginda menyuruh mengambil luh lazuardi. Maka baginda berpesan kepada istri baginda dan kepada mangkubumi, maka disuratkan oleh mangkubumi kepada luh lazuardi dengan air emas, segala pesan raja itu. Maka kata baginda, "Jika aku mati, hendaklah kaubicarakan anakku ini baik-baik dan negeri ini perintahkan olehmu. Adapun luh ini barang ke mana anakku jangan diceraikan dengan luh ini." Setelah raja itu sudah berpesan demikian, maka raja itu pun matilah. Maka segala rakyat dalam negeri itu semuanya dukacita hatinya. Setelah antara berapa hari maka anak raja mambang kedua itu pun datanglah kepada mangkubumi itu, maka katanya, "Hai mangkubumi, hendaklah tuan hamba bicarakan seperti pesan raja itu." Maka mangkubumi pun mengimpunkankan segala menteri, dan hulubalang, orang kaya-kaya sekalian musyawarat akan pekerjaanan tuan putri diminta oleh anak raja mambang kedua itu. Maka ujar sekalian menteri itu begitu, "Panggil ahlunnujum, kita suruh lihat dalam nujumnya, betapa jadinya pekerjaanan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram ini." Maka mangkubumi pun menyuruh memanggil segala ahlunnujum. Maka segala ahlunnujum (maka segala ahlunnujum) itu pun datang, maka katanya, "Hai ahlunnujum, lihat apalah dalam nujum tuan hamba betapa peri kesudahannya tuan putri dengan anak raja mambang kedua itu." Maka segala ahlunnujum itu pun melihat dalam nujumnya. Setelah sudah dilihatnya dalam nujumnya, maka katanya, "Hai perdana menteri, jikalau tuan hamba hendakkan habis pekerjaanan tuan putri dengan anak raja mambang kedua itu, hendaklah luh lazuardi itu dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram tuan hamba taruhkan pada Pulau Biram Dewa itu. Niscaya datang seorang manusia ke sana bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, ialah yang dapat memutuskan pekerjaanan tuan putri dengan anak raja mambang kedua itu." Setelah mangkubumi dan bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram mendengar kata ahlunnujum itu, maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram ditaruhkan oleh bunda baginda dengan perdana menteri di Pulau Biram Dewa itu dengan inang pengasuhnya dan cembul mutia itu dengan luh lazuardi. Adapun perasahan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dalam cembul mutia itu seperti sebuah maligai luasnya. Apabila tuan putri Seganda Caya Iram-Iram keluar hendak mandi atau bermain pada pulau itu, maka dilihat oleh anak raja mambang kedua itu, maka diusirnya oleh anak raja mambang kedua itu. Inilah halnya hamba katakan kepada tuan hamba. Setelah didengar oleh Indraputra kata ceritera inang pengasuh tuan putri Seganda Caya Iram-Iram itu, maka kata Indraputra, "Hai dayang, dapatkah luh itu beta lihat?" Maka diambil oleh inang pengasuh tuan putri Seganda Caya Iram-Iram luh itu diunjukkannya kepada Indraputra, maka dibaca oleh Indraputra. Maka Indraputra pun tersenyum, karena surat dalam luh itu daripada bahasa candra. Maka kata Indraputra kepada inang itu, "Hai dayang, adakah telaga pada tempat ini?" Maka kata inang pengasuh tuan putri itu, "Ada telaga di atas pada

sama tengah pulau ini." Maka ujar Indraputra, "Hai dayang, jika ada orang yang dapat menyudahkan pekerjaanan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dengan anak raja mambang kedua itu, apa diberikan pada orang itu?" Maka ujar inang pengasuh tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, "Hai orang muda, berkata benar tuan hamba, siapa nama tuan hamba, dan anak siapa tuan hamba, dan dari mana tuan hamba datang kemari?" Maka ujar Indraputra, "Hai dayang, namakulah yang kausebut-sebut tadi, syahdan akulah yang kamu nanti sekian lama." Maka diceriterakan oleh Indraputra segala peri hal-ihwalnya dari mulanya datang kepada kesudahan, semuanya dikatakan oleh Indraputra kepada inang pengasuh itu. Maka ia pun heran mendengar ceritera Indraputra itu, maka inang pengasuh itu pun berseru-seru memanggil tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Setelah didengar tuan putri Seganda Caya Iram-Iram ia [di]panggil oleh inanganda itu, maka hari pun petanglah. Maka bunga tunjung biru itu pun menjadikan dirinya manusia seperti rupanya yang sedekala, terlalu baik parasynya. Maka Indraputra pun ajaib melihat baik paras tuan putri Seganda Caya Iram-Iram itu. Maka ujar tuan putri kepada inangnya, "Hai, inang pengasuh, dari mana datang manusia ini kemari?" Maka sahut inang pengasuh itu dikatakannya segala peri hal-ihwalnya Indraputra itu kepada tuan putri Seganda Caya Iram-Iram itu. Maka tuan putri pun terlalu sukacita hatinya, karena melihat Indraputra datang itu. Maka ujar tuan putri Seganda Caya Iram-Iram seraya menangis "Ya tuanku Indraputra, putuskanlah pekerjaanan hamba dengan anak raja mambang kedua itu. Syahdan menanti-nanti tuan hamba datang sekarang, baharu dipertemukan Allah taala hamba dengan tuan hamba." Maka ujar Indraputra kepada tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, "Hai saudaraku, sekarang janganlah tuan hamba bercinta lagi. Insya Allah taala hambalah yang menyudahkan pekerjaanan tuan hamba dengan anak raja mambang kedua itu." Maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pun sukacita mendengar kata Indraputra itu. Hatta setelah dilihat oleh anak raja mambang yang bernama Gurdan Kilat dari tepi tasik tuan putri Seganda Caya Iram-Iram berkata-kata dengan seorang laki-laki muda, maka Gurdan Kilat pun amarah seraya datang dengan senjatanya, berhadapan dengan Indraputra. Maka Gurdan Kilat memanah Indraputra, maka Indraputra tersenyum. Maka Gurdan Kilat pun mangkin amarah seraya mengunus pedangnya, maka diparangkannya kepada Indraputra akan tubuh Indraputra, cemerlang apinya memancar-mancar ke udara. Maka Indraputra setelah dilihat oleh anak raja mambang yang bernama Gurdan Akas, Gurdan Kilat berperang dengan seorang laki-laki, maka Gurdan Akas pun datang mengusir tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Maka tuan putri pun datang berlindung pada Indraputra. Maka kata Indraputra kepada anak raja mambang kedua itu, "Janganlah tuan hamba susah berebutkan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, hambalah yang menyudahkan pekerjaanan tuan hamba itu dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram itu." Setelah anak raja mambang kedua itu mendengar kata Indraputra itu, maka kata anak raja mambang itu, "Hai orang muda, siapa nama tuan hamba dan anak siapa tuan hamba? Dari mana tuan hamba

datang kemari? Syahdan bangsa mana tuan hamba?" Maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku anak raja mambang kedua, hambalah yang bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, bangsa hamba daripada manusia." Setelah anak raja mambang kedua itu mendengar nama Indraputra itu, maka ia pun datang minta ampun dan berjabat tangan. Maka Indraputra segerah menyambut tangan anak raja kedua itu dengan hormatnya. Maka Indraputra pun berkata. "Hai saudaraku kedua, hambalah yang menyudahkan pekerjaanan tuan hamba dengan putri Seganda Caya Iram-Iram. Marilah kita pergi kepada Telaga Nilai itu." Maka sahut anak raja kedua itu, "Baiklah tuanku." Maka Indraputra pun pergilah ke Telaga Nilai membawa tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dengan anak raja mambang kedua itu. Sebermula telaga itu ditemboknya daripada hablur dan airnya harum seperti bau air mawar, terlalu indah-indah rupanya kolam itu. Setelah Indraputra sampai ke telaga itu dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dan anak raja mambang kedua itu, maka ujar Indraputra kepada putri Seganda Caya Iram-Iram, "Hai saudaraku tuan putri, bercerminlah tuan hamba dalam telaga ini sepuas-puas mata tuan hamba menentang dalam telaga itu." Maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pun bercermin dalam telaga itu, maka dengan seketika itu juga bayang-bayang tuan putri Seganda Caya Iram-Iram jadi seorang perempuan, rupanya seperti tuan putri Seganda Caya Iram-Iram tiada lagi bersalahan. Maka ujar Indraputra kepada anak raja mambang yang bernama Gurdan Kilat, "Hai saudaraku, sambutlah putri yang dalam air itu." Maka Gurdan Kilat segerah melihat ke dalam telaga itu, maka dilihatnya ada seorang orang dalam telaga itu serupa dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, perempuan itu tiada lagi bersalahan. Maka Gurdan Kilat segerah turun ke dalam telaga itu, menyambut perempuan yang dalam telaga itu dinaikkannya ke atas, dibandingkannya dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram tiada lagi bersalahan, seperti pinang muda dibelah dua. Maka Gurdan Akas dan Gurdan Kilat pun heran akan sakti Indraputra dan terlalu sukacita, karena bayang-bayang itu menjadi manusia. Maka dinamai oleh Indraputra tuan putri Seganda Caya (Iram-Iram) [Bayang-Bayang]. Maka Gurdan Kilat dan Gurdan Akas pun datang menyembah Indraputra, syahdan beberapa pujinya akan Indraputra. Maka putri Seganda Caya Iram-Iram dan putri Seganda Caya Bayang-Bayang pun heran datang menyembah kepada Indraputra, syahdan beberapa pujinya akan Indraputra. Maka kata tuan putri Seganda Caya Iram-Iram kepada Indraputra, "Ya tuanku, baik juga tuan hamba singgah bermain ke negeri hamba, supaya puas rasa hati hamba dan bunda hamba pun bersuka hatinya." Maka kata Indraputra, "Baiklah!" Maka Indraputra pun berjalanlah dibawa oleh tuan putri Seganda Caya Iram-Iram ke negerinya diiringkan oleh Gurdan Kilat dan Gurdan Akas dengan segala inang pengasuh tuan putri. Hatta maka diwartakan orang kepada bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dan mangkubumi, mengatakan tuan putri telah bertemu dengan Indraputra, syahdan jadi seorang perempuan bayang-bayang

tuan putri Seganda Caya Iram-Iram serupa dengan tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, tiada lagi bersalahan. Setelah didengar oleh bunda tuan putri dan mangkubumi, maka bunda tuan putri pun terlalu sukacita dan menyuruh mengias istana daripada hamparan suf sahlat ainulbanat dan langit-langit tirai dewangga. Maka mangkubumi menyuruh membaiki segala jalan dan lebuh, pekan, dan mengimpunkankan segala menteri dan hulubalang, orang kaya-kaya sekalian pergi mengelu-ngelukan Indraputra dan tuan putri, membawa gajah dan kuda dengan segala bunyi-bunyian terlalu ramai. Maka Indraputra pun datanglah, maka mangkubumi turun memberi hormat Indraputra serta dipeluknya dan diciumnya. Maka segala orang banyak pun heran melihat rupa Indraputra terlalu elok rupanya. Maka Indraputra disuruh mangkubumi naik gajah dan anak raja mambang kedua itu naik kuda, maka terkembanglah payung kerajaan yang bagai-bagai rupanya. Maka tuan putri kedua naik usungan, maka berjalanlah masuk ke dalam negeri diiringkan oleh segala menteri dan segala orang kaya-kaya dengan segala bunyi-bunyian. Maka segala orang dalam negeri itu semuanya datang berlarian; ada yang berkain sambil berjalan, ada yang berbaju sambil berjalan, ada yang bersanggul sambil berjalan, berlari-lari datang melihat Indraputra. Maka segala orang banyak itu pun heran melihat rupa Indraputra terlalu elok rupanya. Maka pasar itu pun penuh sesak tempat orang melihat bertindih-tindih, setengah pagar jadi roboh. Ada yang berbantah tempat melihat. Maka kata seorang, "Jika Indraputra ini jadi lakiku, alangkah baiknya!" Ada yang berkata, "Jika Indraputra ini jadi menantuku, alangkah baiknya!" Demikianlah kata segala mereka itu masing-masing dengan berahinya. Maka Indraputra pun lalulah ke istana tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Maka bunda tuan putri keluar mendapatkan Indraputra, maka Indraputra pun menyembah bunda tuan putri. Maka segerah disambut bunda tuan putri tangan Indraputra, maka Indraputra pun disuruh duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, diadap segala menteri dan hulubalang. Maka bunda tuan putri pun heran melihat rupa Indraputra dan heran melihat rupa tuan putri Seganda Caya Bayang-Bayang itu serupa dengan anaknya tuan putri Seganda Caya Iram-Iram daripada saktinya Indraputra. Bermula maka hidangan nasi pun diangkat oranglah. Maka Indraputra dan anak raja mambang kedua makan syehidanganan dengan Indraputra. Maka segala menteri dan hulubalang masing-masing makan pada hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat, maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan orang. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, empat puluh hari empat puluh malam makan minum berjaga-jaga, bersuka-sukaan. Setelah genap empat puluh hari empat puluh malam makan minum memalu bunyi-bunyian, maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dan tuan putri Seganda Caya Bayang-Bayang pun dihias orang dengan pakaian yang indah-indah serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka tuan putri Seganda Caya Iram-Iram dikahwinkan dengan Gurdan Akas dan tuan putri Seganda Caya Bayang-Bayang dikahawinkankan

dengan Gurdan Kilat. Setelah sudah maka bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram memberi Indraputra sebuah cembul mutia dan beberapa pakaian yang indah-indah. Maka kata Indraputra, "Hai bundakuku, apa gunanya pakaian ini akan hamba?" Maka kata bunda tuan putri, "Karena banyak kasih anakda kepada bunda, tiada terbalas oleh bunda." Maka diambil Indraputra cembul mutia itu dengan sukacitanya, maka kata Indraputra, "Adapun segala pakaian ini ambillah kembali oleh bunda, pemberi hambalah kepada bunda." Maka bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pun sukacita melihat budi pekerti Indraputra itu. Maka kata Indraputra, "Hai bundakuku, apa pergunaannya cembul mutia ini?" Maka sahut bunda putri Seganda Caya Iram-Iram, "Hai anakku, adapun jikalau anakku hendakkan sebuah maligai dengan isinya dan perhiasannya, lengkap dengan segala pakaiannya, tambangkan oleh anakku, cita cembul mutia itu; niscaya adalah sebuah maligai dengan isinya sekalian lengkap dan dalam cembul itu perasaannya seperti sebuah maligai, demikianlah." Maka Indraputra pun sukacita menengar kata bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram. Hatta berapa lamanya Indraputra duduk dalam negeri itu maka Indraputra bersuka-sukaan dengan anak raja mambang kedua itu. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan perbendaharaan Raja Bahrum Tabut, dan peri mengatakan Indraputra membunuh ular mamdud, dan peri mengatakan tatkala Indraputra beroleh hikmat bedi zahra dalam otak ular mamdud itu, dan peri mengatakan tatkala Indraputra beroleh kuda yang bernama Janggi Gardan. Syahdan peri mengatakan tatkala Indraputra beroleh hikmat, dan peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan maligai tuan putri Candralela Nurlela anak Raja Puspa Pandai, dan peri mengatakan tatkala Indraputra menghidupkan segala anak raja-raja yang empat puluh orang dengan bedi zahra, dan peri mengatakan tatkala putri Candralela Nurlela membawa Indraputra ke negerinya. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, setelah berapa lamanya Indraputra duduk dalam negeri tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pada suatu hari maka Indraputra memohon kepada bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, demikian kata Indraputra, "Hai bundakuku, sekarang hamba bermohonlah kepada bunda, karena sudah lama hamba dalam negeri ini. Adapun yang kasih bunda itu sepenuhnyalah akan hamba." Maka kata bunda tuan putri, "Hai anakku, pada bicara bunda baik juga anakku diam di sini dahulu, karena belum puas hati bunda melihat tuan." Maka kata Indraputra, "Hai bunda, apatah daya hamba, karena hamba hendak pergi kepada Berma Sakti disuruhkan Raja Syahsyian." Maka bunda tuan putri Seganda Caya Iram-Iram pun menangis. Maka Indraputra pun menyembah pada bunda tuan putri, dan berjabat tangan dengan anak raja mambang kedua, dan bermohon kepada tuan putri Seganda Caya Iram-Iram, dan bermohon kepada tuan putri Seganda Caya

Bayang-Bayang. Maka anak raja mambang kedua pun bertangis-tangisan dengan Indraputra. Maka mangkubumi menyembah Indraputra dengan segala menteri yang banyak dan hulubalang semua menyembah Indraputra. Maka Indraputra pun berjalanlah, maka segala orang dalam negeri itu semuanya pilu rasa hatinya bercerai dengan Indraputra itu. Maka Indraputra berjalan itu menuju matahari mati, beberapa melalui gunung yang tinggi-tinggi. Syahdan berapa lamanya Indraputra berjalan itu maka sampailah kepada perbendaharanan Raja Bahrum Tabut. Maka dilihat Indraputra dicaharinyanya pintunya berkeliling, maka bertemu Indraputra dengan pintu perbendaharanan itu, pintunya daripada tembaga suasa. Maka perbendaharanan itu diikatnya dengan batu hijau dan pada pintu perbendaharanan itu seekor ular besar dan terlalu panjang dengan hebatnya. Setelah ular itu mencium bau manusyia, maka dibukakannya matanya dan diangkatnya kepalanya serta dingangakannya mulutnya dan dijulurkannya lidahnya bernyala-nyala datang mengusir Indraputra dan suaranya seperti guruh. Maka Indraputra segerah melompat memarang ular itu. Maka ular mamdud itu pun penggal dua lalu mati melingkarkan dirinya, bertimbun seperti suatu bukit kecil. Hatta maka Indraputra pun membuka pintu perbendaharanan itu lalu ia masuk ke dalam. Maka dilihat Indraputra dalam perbendaharanan itu luas kira-kira seyojana mata menentang jauhnya. Syahdan dalam perbendaharanan itu empat puluh bilik, maka dalam bilik itu beberapa emas dan perak dan permata ratna mutu manikam dan pusparagam. Maka Indraputra heran melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra masuk pada suatu bilik, dilihatnya beberapa pakaian yang indah-indah dan yang mulia-mulia. Maka masuk pula Indraputra kepada suatu bilik lagi, beberapa suf sahlat ainulbanat dan tirai dewangga. Maka masuk pula Indraputra kepada suatu bilik lagi, beberapa senjata pakaian perang daripada zirah, dan ketopong, dan pakaian gajah, dan kuda serba keemasan. Maka Indraputra keluar dari sana, maka dilihatnya ada seekor kuda hijau tertambat. Maka dingangakan mulutnya dan diangkatkan kakinya kuda hendak menggigit Indraputra. Maka kata Indraputra dengan bahasa jin pada kuda itu, artinyanya, "Hai kuda, jangan engkau hendak menunjukkan kerasmu padaku, baik kita bersahabat daripada kita berseteru." Maka beberapa pula kata yang lemah lembut dikatakan Indraputra kepada kuda itu, maka kuda itu pun menundukkan kepalanya seraya berkata dengan bahasa jin, demikian katanya, "Dari mana tuan hamba datang kemari, dan siapa nama tuan hamba, dan daripada bangsa mana tuan hamba?" Maka kata Indraputra, "Adapun aku daripada bangsa manusyia dan namaku Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa," maka diceriterakan segala hal-ihwalnya. Setelah kuda itu mendengar kata Indraputra itu demikian, maka kuda itu pun diam menundukkan kepalanya seraya mengangguk. Maka Indraputra pun masuk ke dalam bilik perbendaharanan itu mencari pelana kuda Janggi Gardan. Maka dilihat oleh Indraputra dalam pelana kuda yang banyak itu ada suatu pelana kuda daripada emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam terlalu indah-indah perbuatannya

dan ada nama Janggi Gardan tersurat pada pelana itu. Maka diambil Indraputra pelana itu, dikenakan di belakang Janggi Gardan. Setelah sudah maka Indraputra naik kuda Janggi Gardan, dibawanya berkeliling perbendaharanan itu. Maka Indraputra heran melihat kekayaan Allah subhanahu wa taala. Arkian maka kata kuda yang bernama Janggi Gardan itu berkata kepada Indraputra, "Ya tuanku, baik tuanku belah kepala ular mamdud itu, ada suatu cembul gading dalam kepala ular mamdud, bedi zahra namanya. Jika bedi zahra itu dibubuhkan pada orang mati, niscaya hidup pula. Jika manusyia atau binatang yang sudah lama mati, maka ada lagi tinggal tulangnya, maka dibubuhkan bedi zahra itu pada tulang orang mati itu, niscaya hidup pula." Setelah didengar Indraputra kata Janggi Gardan itu maka ia pun sukacita lalu segerah pergi kepada ular itu. Maka dibelahnya kepala ular itu, maka diambil Indraputra kemala yang pada otak ular itu. Maka dibelah pula oleh Indraputra pada pusat ular itu, maka diambilnya bedi zahra itu. Maka ular itu pun mengempaskankan dirinya. Setelah itu maka Indraputra kembali kepada Janggi Gardan dengan sukacitanya, maka berjalanlah Indraputra dibawa Janggi Gardan pada segala tempat dan guha dalam perbendaharanan itu berapa melihat yang indah-indah kekayaan Allah subhanahu wa taala. Alkisah maka tersebutlah perkataan raja di Negeri Rainun bernama Raja Puspa Pandai. Adapun bangsa raja itu daripada jin Islam dan istri baginda itu daripada manusyia. Syahdan raja itu beranak dua orang, laki-laki seorang, perempuan seorang. Yang laki-laki itu bernama Dinar Pandai terlalu elok rupanya dan yang perempuan itu terlalu baik paras rupanya bernama tuan putri Puspa Serigading dan timang-timangannya bernama tuan putri Candralela Nurlela; dan rakyatnya raja itu daripada kera dan lutung dan ganggang siamang. Bermula segala rakyat itu jika malam menjadi manusyia dan jika siang jadi binatang. Adapun adat Raja Puspa Pandai itu jika malam makan minum dengan segala menteri dan hulubalang terlalu ramai. Setelah hari siang segala rakyatnya menjadi kera dan beruk, lutung, ganggang siamang. Sebermula pada suatu hari Raja Puspa Pandai fikir dalam hatinya, "Adapun anakku yang perempuan ini sudah besar, siapa tahu kalau datang bencana, karena banyak raja-raja jin, dan peri, dewa. Karena segala rakyatku sekalian binatang kera, malam maka jadi manusia, baik anakku ini kuperbuatkan tempat suatu maligai di tengah padang, supaya terpeliharakan daripada fitnah orang." Setelah itu maka Raja Puspa Pandai pun menyuruh mengimpunkankan segala rakya[t]nyanya. Setelah berhimpunlah segala rakyat baginda, maka Raja Puspa Pandai pun pergilah ke padang Anta Berahi. Maka diperbuatnya suatu maligai sebelas pangkat, tiangnya daripada tembaga suasa, dan dindingnya lazuardi, hatapnyanya daripada pirus, kisi-kisinya daripada emas sepuluh mutu, dan empat biji kemala tergantung pada maligai itu empat penjuru. Syahdan maligai itu terlalu amat tinggi, jika orang memandang ke bawah dari atas maligai itu kelihatan seperti kumbang juga besarnya. Maka anak tangga maligai itu daripada pedang yang mahatajam dan di atas anak tangga pedang itu anak tangga emas. Syahdan berkeliling maligai itu diperbuatnya pagar jala-jala tujuh lapis daripada besi, dan tembaga,

dan akik, dan kaca, dan pirus, dan pualam. Syahdan tepi parit itu diikatnya dengan batu pancalogam, maka dibubuhnya jembatanan daripada kaca hijau, sama tiada kelihatan. Maka parit itu diisinya dengan air laut dan dibubuhnya segala karang-karangan yang dalam laut. Maka parit air tawar itu dibubuhnya segala ikan air tawar, ditanaminya telepok dan teratai, dan ditanaminya bunga tunjung bagai-bagai rupanya. Setelah sudah maligai itu maka tuan putri Ratna Serigading pun ditaruh oleh ayahanda baginda dalam maligai itu dan tirai kelambu dewangga tujuh lapis. Syahdan burung bayan dan tiung pun ada ditaruh Raja Puspa Pandai sama-sama dengan anakda dalam maligai itu. Setelah sudah maka Raja Puspa Pandai pun kembalilah ke istana dengan segala bala tenteranya diiringkan segala menteri dan hulubalang masing-masing kembali ke tempatnya. Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, adapun jikalau tuan putri Candralela Nurlela rindu akan ayah bundanyanya, maka burung tiung dan bayan itu bernyanyi dan berpantun, berseloka dan bersyair, maka tuan putri Candralela Nurlela pun sukalah hatinya. Maka burung tiung dan bayan itu berganti terbang pergi mengambilkan tuan putri buah-buahan. Hatta pada suatu hari maka tiung dan bayan berkata, "Sekarang apa bicara kita. Baik kita pergi kepada segala negeri pada anak raja-raja yang muda-muda yang baik rupanya, kita katakan baik paras tuan putri, karena tuan putri patutlah sudah bersuami." Maka kata tiung, "Baiklah diri pergi, biar aku tinggal menunggu tuan putri." Maka bayan itu pun terbanglah kepada suatu negeri; maka dilihat oleh bayan itu ada seorang anak raja duduk membaca hikayat pada tempat peranginan. Maka datang burung bayan itu ke hadapan anak raja itu, mengamparkankan sayapnya dan mengembangkan ekornya seraya berpantun dan berseloka, bersyair dan bermadah. Maka anak raja itu pun berhenti daripada membaca hikayat itu, heran melihat kelakuan bayan itu. Maka ujar anak raja itu, "Hai bayan, apa peristiwanya diri datang kemari?" Maka ujar bayan itu, "Tiadakah gairat hati tuanku mendengar khabar tuan putri Ratna Serigading, timang-timangannya tuan putri Candralela Nurlela di padang Anta Berahi di atas maligai yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, terlalu elok rupanya, rambutnya seperti cincin dituang, dahinya bagai sehari bulan, keningnya bagai (di)taji dibentuk, matanya bagai bintang timur, hidungnya bagai kuntum melur, telinganya bagai telepok layu, pipinya bagai pauh dilayang, bibirnya bagai pati dicarik, giginya bagai delima merekah, lidahnya bagai cerana diupam, dagunya bagai awan bergantung, lidahnya bagai kumba dilarik, bahunya bagai bahu wayang, lengannya bagai panah dibentar, jarinya bagai duri landak, susunya bagai telur burung, dadanya bagai antaranan hanyut, pinggangnya bagai tangkai bunga, pahanya bagai paha belalang, betisnya bagai bunting padi, tapaknya bagai dua jari hujung." Maka kata bayan itu, "Patut sekali dengan tuanku, seperti bunga kembang sekaki, kembangnya tidak nirmala lagi. Jika terpandang oleh tuanku, niscaya gairatlahlah hati tuanku." Maka bayan (maka bayan) itu pun terbanglah kembali ke maligai

tuan putri Candralela Nurlela. Perlahan-lahan maka anak raja itu pun sangatlah gairat hatinya menengar kata bayan itu lalu ia berjalan seorangnya mengikutkan bayan itu masuk hutan terbit hutan, masuk padang terbit padang, berapa melalui rimba belantara daripada ia sangat berahi hatinya menengar kata bayan itu. Hatta maka bayan itu pun sampailah ke maligai tuan putri, maka anak raja itu pun mengikut bayan itu dari jauh. Maka dilihat oleh anak raja itu dari jauh maligai tuan putri seperti pulau di tengah laut, berkeliling maligai itu parit. Maka dalam hati anak raja itu, "Inilah gerangan maligai tuan putri Candralela Nurlela." Maka anak raja itu pun sampailah ke tepi parit itu. Maka angin pun bertiup, maka ombak dalam parit itu pun berpalu-palu seperti bunyi-bunyian. Maka segala ikan dalam parit itu pun timbul seraya tertawa melihat laku anak raja itu berkeliling mencari jalan. Maka ikan itu pun berpantun, demikian bunyinya, "Penja[h]it di atas pintu, dulang di atas pirus; mari dirapat orang sulit saja begitu, orang arif maka mendapat." Maka anak raja itu pun heran mendengar ikan itu berpantun. Maka ujar anak raja itu, "Dari mana gerangan jalan ke maligai tuan putri ini?" Hatta maka timbul pula ikan seekor lagi terlalu indah rupanya seraya tertawa. Maka ikan itu berpantun demikian, "Sang parta mudaku ke tepian, palu gendang menanam padi; sedang warta lagi sekian, jika berpandang berapa lagi." Setelah anak raja itu mendengar pantun ikan itu mangkin bertambah berahinya. Maka ia berjalan berkeliling parit itu mencari jalan seraya menangis. Maka ujarnya, "Mana gerangan jalan ke maligai tuan putri?" Hatta maka anak raja itu bertemu dengan titian kaca itu lalu ia meniti. Setelah ia sampai pada tengah titian itu, maka angin pun bertiup. Maka ombak dalam parit itu pun berpalu-palu seperti bunyi-bunyian. Maka ikan itu pun timbul bagai-bagai rupanya seraya tertawa dan berpantun, demikian bunyinya, "Utar-Utar di atas pintu, sarung keris sudah dirapat; orang sukar saja begitu, orang arif maka mendapat." Maka timbul pula ikan seekor lagi seraya tertawa indah-indah rupanya, maka ia berpantun demikian, "Tetak empelas di dalam padi, menteri duduk bedagang gelang; tidaklah belas hati tuan putri, melihat dagang terulang-ulang." Maka anak raja itu pun mangkin bertambah gairat hatinya mendengar pantun ikan itu, maka kata anak raja itu, "Wah, mana gerangan jalan ke maligai tuan putri," seraya ia menangis.

Maka anak raja itu lalulah kepada parit yang kedua, daripada parit yang kedua lalu kepada parit yang ketiga, daripada parit yang ketiga datang kepada parit yang keempat, daripada parit yang keempat lalu kepada parit yang kelima, daripada parit yang kelima datang pada parit yang keenam, daripada parit yang keenam datang pada parit yang ketujuh. Setelah lalu daripada segala parit itu maka anak raja itu melihat maligai tuan putri Candralela Nurlela terlalu tinggi, tangganya daripada emas dan anak tangganya setingkat daripada pedang yang empat tajam, dan di atas anak tangga pedang itu anak tangga emas. Maka anak raja itu naiklah ke atas tangga emas itu dengan berahinya akan tuan putri Candralela Nurlela. Maka tuan putri pun memandang ke bawah, maka dilihatnya seorang laki-laki muda naik ke atas tangga itu. Maka tuan putri bertanya kepada bayan itu, katanya, "Siapa naik ke maligai ini?" Maka bayan pun berdatang sembah seraya mengampar sayapnya berdatang berpantun demikian bunyinya, "Sudah gaharu cendana pula(k), tetumbu di dalam puan; sudah tahu bertanya pula, hendak bercumbu gerangan tuan." Maka anak raja itu pun naiklah ke atas anak tangga pedang itu. Setelah lalu daripada anak (raja) tangga pedang itu, datanglah anak raja itu kepada anak tangga emas itu. Maka tuan putri Candralela Nurlela pun memandang ke bawah kepada anak raja itu. Maka anak raja itu memandang ke atas, maka sama bertemu mata anak raja itu dengan tuan putri Candralela Nurlela. Maka anak raja itu heran melihat rupa tuan putri Candralela Nurlela lalu anak raja itu lalai kendirinya, maka tersalah kakinya lalu jatuh daripada anak tangga emas itu ke bawah kena pada anak tangga pedang itu penggal dua. Maka anak raja itu pun matilah. Hatta dengan demikian diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera kurang esa empat puluh anak raja-raja yang mati berahikan tuan putri Candralela Nurlela jatuh daripada anak [tangga] [e]mas itu kepada anak tangga pedang itu, berpenggal-penggal lalu mati. Alkisah maka tersebutlah perkataan Indraputra diam pada [per]bendaharanan Raja Bahrum Tabut. Maka ujar kuda yang bernama Janggi Gardan, "Ya tuanku Indraputra, ada suatu tempat hambamu lihat seorang putri dengan suatu maligai terlalu indah-indah perbuatannya. Jika tuanku hendak ke sana, supaya hambamu bawa betul matahari mati." Maka kata Indraputra, "Baiklah, bawalah ke sana." Maka Indraputra pun naiklah ke atas Janggi Gardan. Maka Janggi Gardan pun menerbangkan Indraputra, berapa melalui bukit yang tinggi-tinggi dan berapa melalui hutan rimba, padang belantara. Maka Indraputra pun datanglah ke padang Anta Berahi. Maka kuda Janggi Gardan dilepaskan Indraputra makan rumput pada padang itu. Maka dilihat Indraputra maligai tuan putri itu terlalu tinggi dan berkeliling maligai itu tujuh lapis parit dan di dalam parit itu tujuh lapis pagar jala-jala. Maka angin pun bertiup, maka air dalam parit itu pun berombak. Maka dicari Indraputra jalan ke sebelah parit itu, maka dilihatnya Indraputra parit itu tiada berombak.

Maka berjalanlah Indraputra menuju titian itu. Maka dilihatnya titian itu daripada kaca hijau terlalu indah-indah perbuatannya, maka Indraputra lalu berjalan di atas titian itu. Maka ikan dalam parit itu pun timbul seraya berpantun dan berseloka terlalu ajaib, maka Indraputra pun heran. Maka timbul pula ikan yang lain lalu berpantun, demikian bunyinya, "Utar-Utar di atas pintu, pakaian Jawa main rakit; orang sukar saja begitu, membuang nyawa makanya dapat." Maka Indraputra pun heran mendengar pantun ikan itu, maka lalu Indraputra berjalan lalu kepada tujuh lapis itu lalu kepada segala pagar jala-jala itu. Maka dilihat Indraputra maligai itu terlalu indah-indah perbuatannya. Syahdan tatkala setingkat pedang dan setingkat emas maka Indraputra naik ke atas anak tangga emas itu seperti burung rajawali lakunya. Maka Indraputra melihat ke bawah maligai itu tulang-tulang bertimbun-timbun, maka Indraputra heran. Ia naik pada tangga pedang itu daripada tangga pedang itu naik pula ia pada tangga emas yang setingkat lagi. Hatta maka tuan putri Candralela Nurlela pun memandang ke bawah. Setelah dilihat Indraputra maka ia pun tiada mau memandang ke atas, segerah ia ingatkan dirinya lalu Indraputra segerah naik ke atas maligai itu. Setelah dilihat oleh tuan putri Candralela Nurlela ia pun bertanya kepada tiung dan bayan, "Adakah engkau pergi kepada negeri orang muda(h) ini?" Segerah pun putri masuk ke dalam kelambu, malu melihat Indraputra. Maka sembah bayan kepada tuan putri, "Tiada tuanku patik ke negeri orang muda ini." Maka tiung dan bayan pun mengamparkankan sayapnya di hadapan Indraputra seraya berkata, "Ya tuanku, orang muda dari mana tuanku datang kemari, dan siapa nama tuanku, dan daripada bangsa mana tuanku?" Maka sahut Indraputra, "Adapun bangsaku daripada manusyia dan namaku Indraputra. Nama ayahku Maharaja Bikrama Bispa." Maka dikatakan oleh Indraputra segala hal-ihwalnya kepada tiung dan bayan. Setelah didengar tuan putri Candralela Nurlela kata Indraputra itu, maka tuan putri Candralela Nurlela keluar dari dalam tirai. Setelah Indraputra melihat rupa tuan putri Candralela Nurlela itu, maka Indraputra pun heran melihat baik paras tuan putri Candralela Nurlela itu lalu Indraputra murca seketika. Maka diperci(k)kankan tuan putri dengan air mawar muka Indraputra. Maka dilihat tuan putri rupa Indraputra itu terlalu elok. Hatta maka Indraputra pun sadarlah akan dirinya, maka ia memuja-muja Allah subhanahu wa taala. Maka ujar Indraputra kepada tuan putri Candralela Nurlela, "Hai saudaraku tuan putri, anak siapa tuan putri, anak siapa tuan hamba, dan siapa nama tuan hamba, dan daripada bangsa mana tuan hamba, dan apa sebabnya maka tuan hamba duduk di sini?" Maka sahut tuan putri, "Hai saudaraku, adapun maka hamba duduk

di sini ditaruh oleh ayah hamba, karena takut akan fitnah orang. Adapun nama hamba putri Ratna Serigading dan nama ayah hamba Raja Puspa Pandai, daripada jin Islam bangsanya, dan bunda hamba daripada bangsa manusyia." Maka dikatakannya segala hal-ihwalnya kepada Indraputra. Maka kata Indraputra kepada tuan putri Candralela Nurlela, "Hai tuan putri, apa sebabnya maka banyak tulang bertimbun-timbun di bawah maligai ini?" Maka ujarnya tuan putri, "Hai saudaraku, adapun tulang yang banyak bertimbun-timbun itu segala anak raja-raja yang hendak naik ke maligai ini. Bahwa setengah anak tangga ia naik maka dilihatnya muka hamba lalu ia jatuh berpenggal-penggal lalu mati, kurang esa empat puluh banyaknya anak raja-raja yang mati dengan demikian." Maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku tuan putri, dapatkah tulang segala anak raja-raja yang mati itu hidup kembali?" Maka ujar tuan putri Candralela Nurlela, "Allah taala juga yang tahu." Setelah itu maka kata Indraputra kepada tuan putri, "Hai saudaraku, mari juga tuan turun ke bawah maligai ini, sebentar dilihat oleh tuan hamba kuasa Allah subhanahu wa taala, kalau dapat hidup segala anak raja-raja." Maka tuan putri dan Indraputra pun turunlah ke bawah maligai itu. Maka dikeluarkan Indraputra bedi zahra yang daripada pusat ular mamdud itu, direndamkan Indraputra pada air mawar dalam mundam kaca. Maka air mawar itu dipercikkan Indraputra kepada tulang segala anak raja-raja itu, maka segala tulang itu berasap dan berhimpun. Maka sekali lagi disiramkan Indraputra, maka segala tulang anak raja-raja tumbuh daging. Maka sekali lagi disiram oleh Indraputra dengan air mawar, maka tubuh segala anak raja-raja itu pun hidup dengan kodrat Allah taala. Maka kata Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Hai segala saudaraku sekalian, apa mulanya maka tuan hamba jadi demikian ini?" Maka segala anak raja-raja itu heran akan dirinya masing-masing. Maka dikatakannya segala hal-ihwalnya sekalian kepada Indraputra, Maka ujar Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Sekarang ini siapa menghidupkan saudaraku sekalian?" Maka sahut segala anak raja-raja itu, "Hamba sekalian tiada tahu." Maka ujar Indraputra, "Adapun sekarang ini Tuhan seru sekalian alam yang menghidupkan saudaraku sekalian, tetapi hamba jadi sebab juga." Maka ujar segala anak raja-raja itu kepada Indraputra, "Siapa nama tuan hamba dan dari mana tuan hamba datang kemari ini? Syahdan daripada bangsa mana tuan hamba?" Maka ujar Indraputra, "Hai saudaraku sekalian, adapun nama hamba Indraputra, dan nama ayah hamba Maharaja Bikrama Bispa, dan bangsa hamba daripada manusyia." Maka segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu semuanya menyembah Indraputra. Pada fikir segala anak raja-raja itu, "Indraputra inilah gerangan mintakan kita sekalian doa kepada Allah subhanahu wa taala, maka kita [di]hidupkankan Allah taala." Maka Indraputra pun memeluk mencium segala anak raja-raja itu. Maka tuan putri Candralela Nurlela pun heran melihat gagah dan

sakti Indraputra itu. Hatta maka tuan putri Candralela Nurlela membawa Indraputra ke negerinya dengan segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu semuanya mengiringkan Indraputra. Maka dikhabarkan oranglah kepada Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai mengatakan bahwa anakda tuan putri datang membawa Indraputra. Maka Raja Puspa Pandai dengan anaknya Dinar Pandai keluar mengelu-ngelukan Indraputra, diiringkan segala menteri kera dan hulubalang kera dengan segala rakyat kera sekalian. Setelah Indraputra melihat Raja Puspa Pandai datang dengan anaknya yang bernama Dinar Pandai itu, maka Indraputra bertanya kepada tuan putri Candralela Nurlela, "Siapa yang datang itu?" Maka kata tuan putri, "Itulah ayah hamba dan saudara hamba." Maka Indraputra pun segerah berjabat tangan dengan Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai. Maka Raja Puspa Pandai memeluk dan mencium Indraputra, syahdan heran ia melihat rupa Indraputra dengan gagah perkasa dan sakti. Maka Dinar Pandai menyembah Indraputra. Setelah [itu] maka dipeluk dan dicium oleh Indraputra. Maka Indraputra dibawa masuk oleh Raja Puspa Pandai ke istana. Setelah datang ke istana maka Indraputra didudukkan di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka hari pun malamlah. Maka segala rakyat Raja Puspa Pandai pun menjadi manusyia. Maka hidangan pun diangkat oranglah ke hadapan Raja Puspa Pandai dan Indraputra, dan ke hadapan segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu. Maka segala menteri dan hulubalang kera itu pun menjadi manusyia, masing-masing duduk di atas kursinya. Maka Indraputra pun heran melihat segala kera itu menjadi manusyia. Hatta maka Raja Puspa Pandai dan Indraputra dengan Dinar Pandai makan tiga orang syehidanganan. Maka segala anak raja-raja itu masing-masing makan pada hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang, maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan. Maka segala bunyi-bunyian pun berbunyilah daripada rebab, kecapi, dandi, muri, bangsi, serdam, kopak, ceracap terlalu ramai. Maka biduan yang baik suaranya itu pun berbunyilah terlalu baik suaranya didengar orang. Demikianlah sehari-hari pekerjaanan Indraputra selama dalam negeri itu duduk makan minum bersukaan. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra pergi ke Negeri Rainun, dan peri mengatakan tatkala Indraputra dikepung oleh Raja Gohar Hinis di maligai tuan putri Tulela Maduratna, dan peri mengatakan tatkala datang Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah mendapatkan Indraputra, dan segala raja-raja yang di Tasik Bahrul Asyik itu pun datang mendapatkan Indraputra ke negeri Raja Gohar Hinis, dan segala anak raja-raja yang di padang Anta Berahi kurang esa empat puluh itu pun datang mendapatkan Indraputra. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini demikian bunyinya: Ada seorang raja di negeri Rainun daripada bangsa dewa namanya Raja Gohar Hinis, terlalu besar kerajaannya. Syahdan empat puluh menterinya yang besar dan seribu empat ratus hulubalang yang gagah perkasya lagi berani hadir di bawah istana baginda itu, dan beberapa rakyat yang tiada tepermanaii, dan kotanya daripada batu

hitam. Bermula akan raja itu ada beranak seorang perempuan terlalu baik paras seperti bulan purnama empat belas hari, maka dinamai anakda baginda itu tuan putri Tulela Maduratna, mukanya gilang-gemilang, cahaya mukanya kilau-kilauan. Maka putri itu ditaruhkan ayahnya di atas maligai yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, berumbai-rumbaikan mutiara. Sebermula empat puluh pada malam menteri berkawal dan empat puluh hulubalang tiap-tiap malam demikian juga berkawal keliling maligai tuan putri Tulela Maduratna. Bermula tempat maligai tuan putri itu namanya padang Belanta Aja[i]b hampir juga dengan Negeri Rainun. Adapun akan tuan putri Tulela Maduratna itu berapa anak raja-raja hendak meminang tuan putri itu tiada juga diterima oleh Raja Gohar Hinis. Sebermula pada sekali waktu tuan putri Tulela Maduratna duduk di maligai bermain, maka datang merak emas yang menerbangkan Indraputra ke maligai tuan putri ia hinggap. Setelah dilihat tuan putri merak emas itu terlalu indah-indah rupanya maka ujar tuan putri kepada segala dayang-dayang, suruh tangkap merak emas itu. Maka ditangkap oleh segala dayang-dayang tiada dapat. Maka kata Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja, "Ya tuanku putri, tiada dapat patik sekalian menangkap merak emas ini, kalau tuanku gerangan menangkap dia maka dapat." Maka tuan putri pun berbangkit sendiri, maka merak emas itu pun datang hinggap ke tangan tuan putri, maka lalu ditangkap tuan putri. Maka terlalulah sukacita hati tuan putri oleh mendapat merak emas itu, maka disuruh tuan putri perbuatkan sangkarannya daripada emas bertatahkan ratna mutu manikam. Sekali peristiwa tuan putri duduk diadap segala dayang-dayang itu perwara sekalian bermain, maka merak emas itu disuruh tuan putri keluarkan daripada sangkarannya, maka ditaruh di atas talam emas. Maka merak itu pun mengigal terlalu indah-indah seraya berpantun, demikian bunyinya, "Gendang raya di kampung menteri, dipalu anak dara; pandang sahaya, sedang baik akan istri Indraputra." Maka tuan putri pun tersenyum mendengar pantun merak itu. Maka segala dayang-dayang suka tertawa seraya berkata, "Cura sekali merak ini, siapa gerangan yang dikatakannya Indraputra itu." Maka merak emas itu berpantun pula demikian, "Rebab Dang Juita dipalu anak dara, Dang Jenirat mandi di taman peri, sebab beta khabarkan Indraputra, supaya gairat hati tuan putri." Maka tuan putri pun tersenyum seraya berkata, "Hai merak, khabarkan apalah, supaya kami dengar." Maka segala dayang-dayang itu pun tertawa, maka kata merak emas itu, "Ya tuanku tuan putri, dengarlah ceritera patik. Ada sebuah negeri Samantapuri namanya, maka raja itu bernama Maharaja Bikrama Bispa. Maka raja itu beranak seorang laki-laki bernama Indraputra, bangsanya daripada manusyia, rupanya terlalu elok, lakunya sedap

manis, sikapnya terlalu pantas, jejaknya sederhana, warna tubuhnya bercahaya gilang-gemilang, selaku-laku dapat digambarkan rupanya." Maka titah tuan putri, "Hai merak emas, adakah samanya dalam negeri ini?" Maka sembah merak itu, "Ya tuanku tuan putri, jangankan dalam negeri ini, beberapa negeri yang lain pun patik lihat tiada samanya." Setelah tuan putri Tulela Maduratna mendengar warta merak itu maka tuan putri berahi hatinya hendak melihat rupa Indraputra. Maka ujar tuan putri, "Hai merak, dapatlah dituliskan rupanya Indraputra itu?" Maka ujar merak itu, "Ya tuanku, jikalau ada orang bijaksana dapat dituliskannya." Tuan putri menyuruh memanggil utas yang pandai menulis, maka datanglah utas itu ke hadapan tuan putri dengan takutnya. Maka titah tuan putri, "Hai utas, dapatkah engkau tuliskan rupa Indraputra?" Maka sembah utas itu, "Ya tuanku, betapa hambamu menuliskan rupa Indraputra itu, karena tiada hambamu lihat. Jika patik lihat, dapat patik tuliskan." Maka merak emas itu pun datang ke hadapan utas itu, maka disapunya dada utas itu dengan sayapnya. Maka terhembuslah rupa Indraputra itu pada hati utas itu, maka dituliskannya rupa Indraputra itu tiada lagi bersalahan. Setelah sudah maka diambil tuan putri, dilihatnya, maka kata tuan putri kepada merak emas itu, "Hai merak, benarkah ini rupa Indraputra?" Maka sembah merak emas itu, "Benarkah tuanku, rupa Indraputra demikian ini tiada lagi bersalahan." Maka tuan putri terlalu sukacita seraya memberi utas itu seribu dinar, maka ujar tuan putri, "Hai utas, jangan kaukatakan rahasia ini pada seorang!" Maka sembah utas itu, "Baiklah tuanku." Setelah demikian maka utas itu menyembah tuan putri lalu pulang ke rumahnya. Bermula maka peta itu ditaruh tuan putri hampirnya tidur, maka tiadalah hilang pada hati tuan putri akan Indraputri. Maka tuan putri Tulela Maduratna menyuruh memanggil ahlunnujum. Maka titah tuan putri kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja, "Pergi apalah diri, panggilkan kamu ahlunnujum." Maka dayang-dayang tiga orang itu pun pergilah memanggil ahlunnujum. Maka ahlunnujum itu pun segerah datang dengan takutnya mengadap tuan putri. Maka titah tuan putri, "Hai ahlunnujum, lihat apalah dalam nujummu, adakah Indraputra datang kemari atau tiadakah?" Maka ahlunnujum itu pun menyembah seraya membuka nujumnya dan membilang-bilang ra(wa)malnyanya. Maka ahlunnujum itu pun tersenyum seraya menyembah tuan putri, katanya, "Ya tuanku, patik mohonkan ampun. Adapun Indraputra itu tiada lagi datang kemari, karena sekarang ia telah ada di tanah dewa." Maka tuan putri Tulela Maduratna pun sukacita mendengar kata

ahlunnujum itu, karena Indraputra lagi akan datang ke negeri itu. Maka tuan putri memberi ahlunnujum itu seribu dinar. Maka titah tuan putri, "Hai ahlunnujum, jangan kaukatakan rahasia ini kepada seorang-orang!" Maka sembah ahlunnujum, "Baiklah tuanku, mana titah patik junjung." Maka ahlunnujum itu pun menyembah lalu kembali ke rumahnya. Sebermula sehari-hari tuan putri Tulela Maduratna duduk di atas mercu maligainyanya dengan peta rupa gambar Indraputra itu melihat orang berjalan lalu lalang, kalau ada yang serupa dengan peta itu. Alkisah maka tersebutlah perkataan Indraputra, setelah berapa lamanya ia di negeri Raja Puspa Pandai pada suatu hari maka kata Indraputra kepada Raja Puspa Pandai, "Adapun hamba telah lamalah duduk dalam negeri ini, sekarang hamba hendak bermohon kepada tuan hamba pergi ke sebelah tanah dewa. Hamba hendak melihat barang kekayaan Allah subhanahu wa taala." Maka kata Raja Puspa Pandai, "Hai anakku Indraputra, pada bicara ayahanda, janganlah anakku pergi dari sini karena negeri ini negeri tuan sendiri dan lagi belum puas hati ayahanda duduk bersama-sama dengan tuan." Maka ujar Indraputra, "Yang kasih ayahanda itu apatah salahnya tetap hamba mohon juga kepada ayahanda. Jika ada hayat hamba, masakan hamba tiada kembali. Adapun pada bicara hamba bahwa saudara hamba tuan putri Candralela Nurlela baik kita dudukkan dengan Nabat Rum Syah anak Raja Tahir Johan Syah, karena ia pun sama juga bangsanya dengan tuan hamba." Setelah Raja Puspa Pandai mendengar kata Indraputra itu demikian maka Raja Puspa Pandai pun terlalu sukacita seraya berkata, "Sebenarnyalah seperti kata anakku itu, karena Raja Tahir Johan Syah itu bukan orang lain, saudara juga pada hamba." Setelah itu maka Indraputra pun bermohonlah kepada Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai serta bertaruhkan tuan putri Candralela Nurlela dan berpeluk bercium dengan Dinar Pandai, maka Dinar Pandai menyembah kepada Indraputra. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada tuan putri Candralela Nurlela seraya berkata, "Tinggallah saudaraku baik-baik, jika ada hayat hamba segerah juga hamba datang." Maka segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu hendak turut sama-sama dengan Indraputra. Maka kata Indraputra, "Janganlah saudaraku sekalian mengikut hamba berlelah diri tuan hamba sekalian, baiklah saudaraku sekalian masing-masing kembali ke negeri saudaraku. Jikalau ada kasih segala saudaraku akan hamba, barang di mana tuan hamba dengar khabar hamba, maka segala saudaraku datang mendapatkan hamba barang di mana negeri." Maka segala anak raja-raja itu pun sujud menyembah kaki Indraputra seraya menangis. Maka dipeluk dan dicium oleh Indraputra segala anak raja-raja itu. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada segala anak raja-raja itu yang kurang esa empat puluh itu. Hatta maka Janggi Gardan pun datanglah ke hadapan Indraputra. Maka Raja Puspa Pandai dan segala anak raja-raja itu pun heran melihat seekor kuda hijau datang dari udara dengan lengkap pelananya serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam terlalu indah-indah rupanya. Maka kata Indraputra kepada Raja Puspa Pandai dan anak raja-raja

yang kurang esa empat puluh itu, "Tinggallah tuan-tuan sekalian, hamba mohonlah." Maka kata Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai dengan segala anak raja-raja itu semuanya menangis. Maka Indraputra pun naiklah ke atas Janggi Gardan. Maka Indraputra pun diterbangkan oleh Janggi Gardan ke udara seperti kilat lakunya. Maka Raja Puspa Pandai dengan segala anak raja-raja itu semuanya heran melihat. Setelah itu maka segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu bermohonlah kepada Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai masing-masing kembali ke negerinya kepada ayah bundanyanya. Hatta setelah Indraputra diterbangkan Janggi Gardan itu berapa melalui gunung yang tinggi-tinggi dan berapa melalui hutan dan padang maka dilihat Indraputra kelihatan dari jauh hitam terdinding, maka Indraputra bertanya kepada Janggi Gardan dengan bahasa jin, "Apa yang kelihatan hitam terdinding itu?" Maka kata Janggi Gardan, "Ya tuanku, inilah Negeri Rainun, nama rajanya Gohar Hinis." Setelah itu maka Indraputra pun turun pada suatu padang hampir negeri itu. Di luar kota Negeri Rainun itu ada seorang memelihara kambing dan lembu terlalu banyak, maka ia duduk pada padang itu memelihara kambing dan lembu, namanya Malik Adhab disebut orang. Maka ada suatu telaga kolam diperbuatnya pada sama tengah itu akan tempatnya memberi minum air kambing dan lembunya. Maka ada suatu batu besar dibuatnya akan penutup kolam itu. Hatta maka Indraputra pun datang pada tempat itu memberi minum air kudanya. Arkian maka hari pun petang. Maka Malik Adhab pun datang pada kolam itu hendak memberi kambingnya minum air. Maka dilihatnya ada seorang orang muda berdiri di tepi kolam itu dengan seekor kudanya. Maka Malik Adhab pun datang dengan amarahnya, berkain kembali dan berbaju kembali. Maka dihalaunya kambingnya pada kolam itu hendak diberinya minum air. Setelah dilihat Indraputra dewa itu datang dengan amarahnya, maka dalam hati Indraputra, "Dewa ini marahkan aku rupanya, karena aku memberi kudaku minum air pada tempat ini." Maka dibubuh Indraputra suatu hikmat ke dalam air kolam itu, maka air kolam itu pun kering. Hatta maka Malik Adhab pun datanglah pada kolam itu, maka dilihatnya rupa Indraputra terlalu amat elok rupanya dan kudanya terlalu indah-indah. Maka dalam hati Malik Adhab, "Anak raja dari mana gerangan ia ini atau dewa yang sakti-sakti maka demikian rupanya?" Maka air dalam kolam itu pun dilihatnya kering, maka ujar Malik Adhab kepada Indraputra, "Hai orang muda, apa sebabnya maka air kolam hamba ini kering, karena selamanya tiada penah demikian. Beberapa kambing dan lembu hamba beri minum air di sini tiada juga kering, maka sekarang ini kering airnya kolam ini, syahdan berapa belanja berbuat kolam ini!" Maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata, "Hai Malik, jika ada airnya kolam ini, apa kauberikan padaku?" Maka kata Malik Adhab, "Hai orang muda, jika kembali airnya kolam ini seperti selamanya, seboleh-boleh hamba membalas kasih tuan hamba. Adapun jika ada kasih tuan hamba akan hamba, berilah kolam hamba ini berair seperti dahulu."

Maka Indraputra pun mengambil hikmat dari dalam kolam itu, maka air kolam itu pun kembali seperti dahulu. Maka Malik Adhab pun terlalu heran melihat sakti Indraputra itu. Maka kata Malik Adhab, "Hai orang muda, siapa nama tuan hamba dan dari mana tuan hamba datang kemari, syahdan daripada bangsa mana tuan hamba" Maka ujar Indraputra, "Hai Malik, adapun namaku Indraputra, syahdan ayahku Maharaja Bikrama Bispa, bangsaku daripada manusyia." Maka diceriterakan Indraputra hal-ihwalnya dari mulanya datang pada kesudahannya. Maka Malik Adhab pun heran mendengar ceritera Indraputra itu. Maka dipegang Malik Adhab tangan Indraputra dibawanya pulang ke rumahnya serta ia sujud menyembah kaki Indraputra, maka katanya, "Sungguhlah tuan hamba anak Maharaja Bikrama Bispa, maka dapat tuan hamba sampai kemari, karena daripada zaman tiada penah manusyia datang ke sini." Maka Indraputra pun bertanya kepada Malik Adhab, "Negeri mana ini dan siapa nama rajanya, dan engkau siapa namamu?" Maka sahut Malik Adhab, "Adapun nama hamba Malik Adhab, dan nama negeri ini Rainun, dan nama rajanya Raja Gohar Hinis terlalu besar kerajaannya, syahdan negeri inilah kesudahan tanah dewa." Maka ujar Indraputra, "Hai Malik, maligai siapa di tengah padang ini?" Maka kata Malik Adhab, "Inilah maligai tuan putri Tulela Maduratna anak Raja Gohar Hinis, terlalu baik parasnya dan berapa anak raja-raja meminang tuan putri itu tiada juga diberi oleh ayahnya." Maka ujar Indraputra, "Hai Malik, jangan engkau katakan namaku ini kepada orang lain, karena aib pada segala raja-raja yang keluar dari negerinya pergi ke negeri orang, niscaya kuranglah hormat orang kepadanya." Maka diperkenankan Malik Adhab kata Indraputra itu. Sebermula maka tersebutlah perkataan tuan putri Tulela Maduratna pada tatkala itu ada duduk di atas mercu maligainyanya. Maka dilihatnya Indraputra tatkala berkata-kata dengan Malik Adhab di tepi kolam itu. Maka dilihat tuan putri rupa peta itu tiada bersalahan dengan rupa orang muda yang berdiri di tepi kolam itu sikapnya dan jejaknya. Maka tuan putri Tulela Maduratna pun bertitah kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja, "Pergi apalah diri kepada Malik Adhab, tanyakan oleh diri kepada Malik Adhab, siapa orang muda yang berkata-kata dengan dia tadi di tepi kolam itu." Maka ketiga dayang-dayang itu pun menyembah seraya tersenyum lalu berjalan ke rumah Malik Adhab. Pada tatkala itu Indraputra lagi keluar dari rumah Malik Adhab. Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja pun datang ke rumah Malik Adhab. Setelah Malik Adhab melihat dayang-dayang tuan putri datang itu, maka Malik Adhab pun terkejut seraya berkata, "Apa kerja dayang maka bu(h)ru-bu(h)ruanburuan datang kemari?" Maka sahut dayang-dayang itu, "Saja beta datang kemari bermain." Maka ujar Dang Lela Seganda, "Hai Malik Adhab, siapa orang muda yang berdiri di tepi kolam tadi berkata-kata dengan Malik itu?" Maka Malik Adhab pun tersenyum seraya berkata, "Mengapalah maka dayang bertanyakan anak beta?"

Maka ujar dayang-dayang itu seraya tertawa perlahan-lahan, "Heran pula beta melihat Malik ini tiada berbini, sekonyong-konyong ada beranak!" Maka sahut Malik Adhab, "Tiadakah dayang melihat beta bunting?" Maka dayang-dayang itu pun tertawa seraya berkata, "Cura sekali Malik ini, kita bertanya benar dipeguraukannya. Katakan apalah benar-benar." Maka Malik Ad[h]ab pun tersenyum. Maka ujar dayang-dayang itu, "Hai Malik Adhab, jika engkau tiada mau berkata benar demi kambingmu yang banyak itu, semuanya habis mati karena engkau tiada mau berkata benar." Setelah Malik Adhab mendengar kata dayang-dayang itu, maka Malik Adhab pun masam mukanya takutkan kambingnya mati, maka ujar Malik Adhab, "Hai dayang, adapun jika aku tiada berkata benar aku takut akan kambingku mati. Kusumpah, adapun orang muda itu namanya Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, bangsanya daripada manusyia." Maka dikatakan oleh Malik Adhab segala ceritera Indraputra itu kepada dayang-dayang. Setelah sudah dayang-dayang itu menengar kata Malik Adhab itu demikian maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja pun kembali kepada tuan putri seraya berdatang sembah, "Ya tuanku tuan putri, orang itulah yang bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa." Maka oleh dayang-dayang itu dikatakannya segala kata yang didengarnya daripada Malik Adhab itu. Setelah tuan putri Tulela Maduratna mendengar ceritera dayang-dayang itu maka tuan putri pun terlalu sukacita, sebab menengar Indraputra datang itu. Maka merak emas itu pun mengigal menengar Indraputra datang itu, maka kata merak emas itu kepada tuan putri, "Patik mohon hendak pergi melihat tuan patik Indraputra baharu datang." Maka tuan putri pun tersenyum seraya berkata kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja, "Pergi pula diri bawa merak emas itu ke rumah Malik Adhab pura-pura diri jualkan, katakan kami tiada berbelanja. Adakah dikenal Indraputra merak ini atau tiadakah." Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja ketiganya menyembah tuan putri lalu berjalan ke rumah Malik Adhab membawa merak emas itu. Setelah Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja datang ke rumah Malik Adhab, maka Indraputra pun duduk sama-sama dengan Malik Adhab. Maka ujar dayang-dayang itu, "Hai Malik, maukah membeli merak ini, karena tuan putri kurang belanja," maka dayang-dayang itu seraya memandang kepada Indraputra. Maka sahut Malik Adhab, "Saja dayang ini hendak bermainkan beta, masakan tuan putri kurang belanja maka merak emas permainannya disuruhnya jual." Maka kata Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Sungguh merak ini disuruhkan jual karena tuan putri tiada berbelanja," maka merak emas itu pun diletakkannya. Maka Indraputra pun memandang kepada merak emas itu seraya fikir dalam hatinya, "Demikianlah rupanya merak emas yang menerbangkan aku tiada lagi bersalahan." Maka Indraputra pun cucur air matanya terkenangkan ayah bundanyanya. Setelah dilihat oleh Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Indraputra

menangis melihat merak emas itu, maka ia pun tersenyum seraya berkata kepada Indraputra, "Inginkah tuan hamba melihat merak permainannya tuan putri maka menangis?" Maka sahut Indraputra, "Bukan karena beta inginkan merak ini maka beta menangis. Adapun yang beta tangiskan ini, selang tuan putri anak raja besar lagi kurang biaya, istimewa beta orang dagang garib berapa lagi." Setelah demikian maka merak emas itu pun berpantun, demikian bunyinya seraya mengigal, "Lebah dikarang di dalam hutan, dibakar lagi ditabung; adakah ingat baginda sultan, sedang disambar dibawa terbang." Maka Indraputra pun tersenyum mendengar pantun merak itu. Maka merak emas itu pun sujud di hadapan Indraputra seraya mengamparkankan sayapnya serta berkata, "Dendam hamba selama kian akan tuanku baharu sekarang hamba bertemu. Alangkah jauhnya tanah manusyia, daripada gagah perkasa bijaksana tuanku maka sampai kemari." Maka Indraputra pun menyapu-nyapu belakang merak itu. Setelah demikian maka ujar Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja, "Hai merak, marilah kita pulang, janganlah diri berbanyak cura, murka kelak tuan putri." Maka dayang-dayang ketiga itu pun bermohonlah kepada Indraputra dan kepada Malik Adhab. Maka kata Malik, "Hai dayang ketiga, katakan sembah beta ke bawah duli tuan putri." Maka Malik Adhab pun memandang kepada Indraputra, maka Indraputra pun berkata kepada dayang-dayang itu, "Katakan kepada tuan putri, beta minta dikenali kepada tuan putri, karena beta dagang yang garib hendak bertaruhkan diri beta kepada tuan putri." Maka sahut Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Apatah salahnya jika tuanku hendak berkasih-kasihan sama anak raja besar?" Maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata lalu berpantun, demikian bunyinya, "Mempelam tumbuh di parit, di pagar Dang Ratnawali; katakan salam doa dagang yang garib, minta dikenali." Maka dayang-dayang itu pun tersenyum lalu berjalan kembali. Setelah datang kepada tuan putri maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja ketiganya menyembah tuan putri Tulela Maduratna seraya berkata, "Benarlah tuanku seperti khabar merak emas itu, tiada lagi bersalahan rupanya Indraputra itu terlalu elok, syahdan manis barang lakunya lagi bijaksana, tahu akan kehendak kata orang, warna tubuhnya gilang-gemilang, demikian pantunnya, "Mempelam tumbuh di parit, di pagar Dang Ratnawali; katakan salam doa dagang yang garib, minta dikenali." Maka tuan putri pun tersenyum seraya berkata, "Bijaksana sekali Indraputra ini." Maka titah tuan putri kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya,

"Pergi pula diri kepada Indraputra katakan kepadanya, 'Tumbuh padi tanam halia, kalau halia tiada tumbuh; embuh kami mengenali dia, kalau setia tiada sungguh.'" Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun tersenyum seraya menyembah tuan putri lalu berjalan ke rumah Malik Adhab. Setelah datang ke rumah Malik Adhab maka Indraputra pun ada. Maka ujar Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Salam doa Indraputra kepada tuanku, demikian kata tuan putri. Apatah salahnya jika tuanku hendak berkasih-kasihan, tetapi kata tuan putri, 'Tumbuh padi tanam halia, kalau halia tiada tumbuh; embuh kami mengenali dia, kalau setia tiada sungguh.'" Maka Indraputra pun tersenyum seraya mengunus cincinnya dari jarinya, maka diunjukkannya kepada Dang Lela Seganda, maka kata Indraputra, "Ini cincin beta berikan tuan putri. Akan barang gunanya upama bunga setangkai yang tiada berbau, karena tiada dengan sepertinya. Demikian kata dayang kepada tuan putri, 'Jika halia tiada tumbuh, ganja dikarang akan destar; jika setia tiada sungguh, bukanlah beta anak raja besar.'" Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun menyembah Indraputra lalu kembali kepada tuan putri seraya berdatang sembah kepada tuan putri, menunjukkan cincin daripada Indraputra itu. Maka sembah Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Ya tuanku tuan putri, demikian kata Indraputra, 'Jika halia tiada tumbuh, ganja dikarang akan destar; jika setia tiada sungguh, bukanlah beta anak raja besar.'" Maka tuan putri pun seraya menyambut cincin itu, maka dilihat tuan putri terlalu indah-indah permatanya cincin itu, maka sukacita hati tuan putri melihat rupa cincin itu seraya fikir dalam hatinya, "Bijaksana sekali Indraputra ini!" Bermula setelah keesokan harinya maka tuan putri Tulela Maduratna menyuruhkan Dang Lela Seganda dan Dang Lela Caya kepada Indraputra membawa bau-bauan yang amat harum baunya dalam cembul emas bertatahkan ratna mutu manikam. Maka titah tuan putri kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Katakan kepada Indraputra demikian, 'Jika tumbuh pagar Dang Nata, tanam halia di bawa[h]nyanya; jika sungguh seperti kata, apatah lagi akan salahnya.'" Maka Dang Lela Seganda dan Dang Lela Caya pun menyambut cembul itu seraya menyembah lalu berjalan kepada Indraputra. Setelah Dang Lela Seganda dan Dang Lela Caya datang kepada Indraputra maka ia menyembah seraya menunjukkan cembul itu kepada Indraputra seraya menyampaikan pantun tuan putri,

"Belah buluh pagar Dang Nata, tanam keladi di bawa[h]nyanya; jika sungguh seperti kata, apatah lagi akan salahnya." Maka Indraputra pun tersenyum seraya menyambut cembul itu lalu dicium oleh Indraputra seraya dipakai, maka Indraputra pun berpantun demikian, "Buah-buahan di rumah peri, anak tiung di bawah lantai; bau-bauan dari tuan putri, dicium maka dipakai." Maka dayang-dayang itu pun tersenyum mendengar pantun Indraputra itu. Maka kata Indraputra kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Katakan hormat, pangku, belai beta kepada tuan putri. Tetumbu di atas balai raga Jawa, telah terpekan; cumbu kami datang sebagai nyawa, dan badan tiada kelihatan." Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun menyembah Indraputra lalu kembali kepada tuan putri. Setelah Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya datang kepada tuan putri maka ia pun menyembah seraya menyampaikan kata Indraputra kepada tuan putri, "Demikian tuanku kata Indraputra, 'Hormat, pangku, belai beta kepada tuan putri buah-buahan di rumah peri; bau-bauan daripada tuan putri, sudah dicium maka dipakai,' dan lagi pantun Indraputra, 'Tetumbu di atas balai raga Jawa telah terpekan; cumbu kami datang sebagai nyawa, dan badan tidak kelihatan.'" Maka tuan putri pun tersenyum seraya berkata, "Hai Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, pergi pula diri kepada Indraputra, katakan kepadanya demikian, 'Utar-utar di atas pintu, pakaian Jawa main rakit; orang sukar saja begitu, membuang nyawa makanya dapat.'" Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun menyembah tuan putri lalu pergi kepada Indraputra. Setelah datang kepada Indraputra maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun menyembah seraya menyampaikan pantun tuan putri, "Utar-utar di atas pintu, pakaian Jawa main rakit; orang sukar saja begitu, membuang diri makanya dapat." Maka Indraputra pun berpantun, demikian bunyinya, "Perisyai betali rambut, rambut dipintal akan cemara; adakah besyi tahu takut, adakah muda gentarkan marah."

Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya pun menyembah Indraputra lalu kembali kepada tuan putri Tulela Maduratna. Maka sembah Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Ya tuanku tuan putri, demikian pantun Indraputra, 'Perisyai betali rambut, rambut dipintal akan cemara; adakah besyi tahu takut, adakah muda gentarkan marah.'" Maka tuan putri pun tersenyum mendengar pantun Indraputra. Maka merak emas itu pun keluar seraya mengigal dan berpantun, demikian bunyinya, "Beras padi di dalam gendang, bungkus raja dari Kamboja; tidaklah belas hati memandang, anak raja Indraputra." Maka segala dayang-dayang pun tertawa melihat kelakuan merak emas itu, maka merak itu berpantun pula demikian, "Gelang pauh, santapan putri dinihari; alangkah jauh, tanah manusyia mendapatkan tuan putri kemari." Maka tuan putri pun tersenyum, maka segala dayang-dayang dan perwara sekalian pun tertawa. Setelah itu maka tuan putri pun fikir dalam hatinya, "Datang juga Indraputra pada malam ini, karena ia orang bijaksana lagi gagah perkasa." Maka tuan putri pun menyuruh mengias maligai daripada tirai kelambu dewangga yang keemasan dan hamparan daripada suf sahlat ainulbanat, syahdan beberapa dian, pelita, tanglung, kandil yang keemasan. Maka tuan putri pun mandi berlimau dan berkasai, setelah sudah mandi maka memakai bau-bauan yang harum baunya dan memakai pakaian serba keemasan yang indah-indah. Maka hari pun malamlah. Maka Indraputra pun naik ke atas kuda yang bernama Janggi Gardan. Maka ujar Indraputra, "Hai Janggi Gardan, terbangkan aku ke maligai tuan putri Tulela Maduratna." Maka Indraputra pun diterbangkan Janggi Gardan ke maligai tuan putri. Setelah sampai maka kata Indraputra kepada Janggi Gardan, "Apabila dinihari, datang engkau kemari dapatkan aku." Maka Indraputra pun melompat lalu masuk ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Maka tuan putri mencium bau harum semerbak. Maka ujar tuan putri, "Bau siapa gerangan semerbak ini?" Maka Indraputra pun masuk seraya menyingkap tirai dewangga lalu berpantun, "Sudah gaharu cendana pula, tetumbu di dalam puan; sudah tahu bertanya pula, hendak bercumbu gerangan tuan." Maka tuan putri pun tersenyum seraya berpantun demikian, "Sarung keris batang cendana, sibir kaca dalam serahi; datanglah arif bijaksana, datang mengibur rasa berahi." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berpantun demikian,

"Tuba-tuba sulasi dandi, kait-kait pagar Dang Jembun; coba-cobacuba kasihkan kami, jika baik ambilkan zaman." Maka Indraputra pun heran memandang rupa tuan putri lalu murca seketika. Setelah ia ingat akan dirinya maka Indraputra pun berpantun demikian, "Kain putih sujinya putih, belum sudah jarumnya hilang; demi terpandang deriji encik putih, tidak sadar jiwa akan hilang." Maka tuan putri pun tersenyum seraya menyuruh mengangkat kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra pun duduklah di atas kursi dan tuan putri duduk di atas peterana yang keemasan diadap oleh segala dayang-dayang. Maka heranlahlah segala dayang-dayang itu melihat rupa Indraputra, syahdan gagah perkasa dapat naik ke maligai itu. Maka tuan putri mengunjukkan sirih puan kepada Indraputra seraya berpantun "Kain suji di atas hatap, pakaian raja hari raya; jika sedia tuan santap, jika tidak apa 'kan daya." Maka Indraputra pun menyambut itu seraya berpantun demikian, "Batang nyirih di dalam puri, anak tiung di bawah papan; datang sirih daripada tuan putri, dicium maka dimakan." Maka tuan putri pun tersenyum. Maka Indraputra pun makan sirih. Setelah dimakan maka Indraputra pun berpantun pula, "Apa ketupat padi Dang Nilam, temu-temu parang langkuas; apa obat hati yang dendam, sukat bertemu makanya puas." Hatta maka merak emas itu pun keluar ke hadapan Indraputra dan tuan putri, mengigal seraya berpantun demikian, "Ke padang rimba raya, kumbang menyeri pakan sutera; kepada pemandangan sahaya, sedang akan istri Indraputra." Maka dayang-dayang itu pun riuh tertawa melihat laku merak emas itu. Maka ujar tuan putri Tulela Maduratna kepada Indraputra, "Gilakah tuan hamba datang kemari ini?" Maka sahut Indraputra, "Jika gila pun beta, karena tuan putri juga." Maka tuan putri pun berpantun seraya tersenyum, "Kain Bali sehasta panca, dibawa budak turun mandi; laki-laki ke pesta dusta, kalanya hendak mawa mati." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berpantun,

"Cogan dikarang di atas kota, gagak beraksa batang melengari; bukan orangnya yang berdusta, gagah perkasa datang kemari." Maka tuan putri pun tersenyum dan segala dayang-dayang semuanya ramai tertawa. Maka hidangan pun diangkat orang. Maka Indraputra dan tuan putri pun makan nikmat yang pelbagai rasanya. Maka merak emas itu pun mengigal dan berpantun, berseloka. Maka segala dayang-dayang pun ramai tertawa. Maka ujar tuan putri, "Jika kita tahu demikian ini merak emas ini sekian lama cura tahu bermain, niscaya sehari-hari kita suruh bermain, jadi ramailah maligai kita." Maka sembah segala dayang-dayang itu, "Benarlah seperti titah tuanku itu." Maka merak emas itu pun mengigal seraya berpantun, "Laksamana Sri Paduka, bintang dipagar bulan purnama; di mana putri tidak 'kan suka, menentang dagang bijaksana." Maka tuan putri dan Indraputra pun terlalu suka dengan segala dayang-dayang terlalu ramai. Maka berkata inang pengasuh tuan putri pada segala dayang-dayang biti-biti perwara, "Gilakah kamu sekalian, maka riuh amat ini. Jika tahu segala orang berkawal ini, apa jadinya kita sekalian, karena sudah jauh malam." Seketika lagi maka orang berkawal pun datang ke bawah maligai itu. Maka merak emas itu pun berpantun demikian, "Orang berkuda masuk ke pintu, angsa di rumah laksamana; orang muda saja begitu, perkasa lagi bijaksana." Maka merak itu pun melompat ke ribaan dayang-dayang itu, maka dayang-dayang itu pun terkejut seraya tertawa, "Mengapa merak ini naik ke ribaan kita!" Maka Indraputra pun tertawa dengan tuan putri. Maka segala dayang-dayang biti-biti perwara sekalian riuh tertawa. Maka segala menteri yang empat puluh berkawal itu semuanya memakai zirah besi dan berketopong besi. Hatta maka orang berkawal itu pun masuk ke bawah balai tuan putri maka didengar suara laki-laki tertawa. Maka ujar segala orang kawal itu sama sendirinya, "Dari mana suara laki-laki di atas maligai ini, karena kita berkawal siang datang malam. Dari mana jalannya laki-laki naik ke maligai tuan putri!" Hatta maka segala orang kawal itu gempar, mengatakan ada laki-laki di atas maligai tuan putri. Maka segala orang kawal itu masing-masing mengunus senjatanya, dan menarik busurnya, dan menghelakan pendahannya, ada yang memegang hulu pedangnya. Arkian maka segala dayang-dayang dan biti-biti perwara sekalian di atas maligai itu terkejut, takut berlarian bersembunyi. Arkian maka Indraputra pun dikepung oranglah di atas maligai tuan putri Tulela Maduratna. Maka kata Indraputra kepada tuan putri Tulela Maduratna, "Adinda tuanku, nyawa, mari abang pangku."

Maka tuan, putri pun dipangku oleh Indraputra seraya berkata, "Adinda, jangan tuan berusik hati. Remuklah abang, hilang seorang; remuklah abang, lenyap seorang. Jika kelak abang mati, jangan dikafani dengan kain lain, kafani dengan kain dalam pinggang tuan; dan jangan abang dibantali dengan bantal, bantali abang dengan rambut tuan; dan jangan abang dimandikan dengan air, mandikan dengan air mata tuan yang terbuang; dan jika abang syukurlah jika karena tuan; dan jika abang hilang pun, kafilah jika sebab tuan." Maka tuan putri Tulela Maduratna pun belas hatinya mendengar kata Indraputra itu seraya menangis seperti mutia yang terhambur. Maka Indraputra pun berpantun seraya menyapu air mata tuan putri, "Apa diteruskan biaperi, keremak di sarang helang; apa ditangkiskan tuan putri, remuklah beta seorang hilang." Maka tuan putri pun tersenyum seraya berpantun, "Rambutan manis di dalam padi, setelah masak jatuh ke air; bukan kutangiskan takut mati, oleh 'ku tidak puas bermain." Maka merak emas itu pun mengigal seraya berpantun, demikian bunyinya, "Anak Siam bermain burung, puan di rumah anak cetera; seperti dian di dalam tanglung, tuan diriba Indraputra." Maka Indraputra dan tuan putri tersenyum mendengar pantun merak emas itu. Maka inang pengasuh tuan putri pun takut seraya menangis, syahdan menampar-nampar dadanya, katanya, "Wah tuanku tuan putri, apatah jadi kita sekarang, karena orang mengepung sudah banyak. Jika tahu paduka ayahanda, niscaya binasalah kita sekalian." Maka merak emas itu pun berpantun seraya mengamparkankan sayapnya, "Dang Bestari mengangkat talam, seri bunga dalam cerana; adakah mata hari terbit malam, adakah sehari bulan purnama." Maka tuan putri dan Indraputra tersenyum mendengar pantun merak itu. Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, dan Dang Intan Didiraja ada hadir duduk mengadap tuan putri dan Indraputra. Hatta maka segala menteri dan hulubalang itu pun musyawarat, maka katanya, "Baik kita persembahkan ke bawah duli dipertuan." Maka pergilah seorang menteri berlari-lari masuk ke balairung. Maka ujar menteri itu kepada biduanda, "Segerah persembahkan ke bawah duli yang dipertuan, katakan sembah patik itu sekalian ke bawah duli yang dipertuan. Adapun dalam maligai paduka anakanda tuan putri ada suara laki-laki. Hendak pun patik sekalian sudahkan, karena belum kami persembahkan ke bawah duli yang dipertuan." Maka biduanda itu pun masuk ke istana berdatang sembah ke bawah duli Raja Gohar Hinis. Maka ujar biduanda itu kepada dayang-dayang, "Katakan sembah segala menteri dan hulubalang yang berkawal pada maligai tuan putri itu suara laki-laki."

Maka dayang-dayang itu pun segerah masuk berdatang sembah ke bawah duli Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, patik itu segala menteri dan hulubalang yang berkawal pada maligai paduka anakda tuan putri ada suara laki-laki. Hendak pun disudahkan oleh patik itu sekalian, karena belum memberi tahu duli tuanku; patik itu biduanda berdatang sembah ke bawah duli Syah Alam." Setelah Raja Gohar Hinis mendengar sembah dayang-dayang itu, maka baginda pun terlalu amarah seraya berangkat keluar ke balairung. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian ada hadir di balairung. Maka titah baginda, "Hai segala menteri dan hulubalang sekalian, pergilah kamu, tangkap laki-laki itu bawa kemari! Jikalau ia melawan, bunuh oleh kamu!" Maka segala hulubalang dan menteri itu pun menyembah lalu keluar. Maka gemparlah kepada malam itu. Hatta maka kata inang pengasuh tuan putri serta dengan menangis katanya kepada tuan putri, "Wah junjungan kami, wah makota kami, wah cahaya mata patik, di mana patik cari. Hilang budi, lenyap bicara, sekarang datang sudah orang mengepung kita!" Maka merak emas itu pun bangkit seraya mengigal lalu berpantun demikian, "Kuda beraksa di dalam kampung, anak angsa di bawah kedai; muda perkasa jangan dikepung, binasa nyawamu handai." Maka Indraputra pun tersenyum. Maka Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja pun tertawa mendengar pantun merak itu. Maka Indraputra pun mengulitkan tuan putri seraya bernyanyi dan berpantun, dan bermadah berseloka, syahdan beberapa cumbu yang melembutkan hati tuan putri. Maka orang mengepung pun mangkin banyak datang. Maka sembah Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya kepada tuan putri dan Indraputra, "Ya tuanku, setelah banyaklah sudah orang mengepung mangkin datang sekarang, apa bicara tuanku?" Maka merak emas itu pun berseloka demikian, "Adakah tepi bercampur pakan benang hitam, adakah nila akan putih, adakah kapur akan hitam." Maka tuan putri pun tersenyum. Maka merak emas itu pun mengigal pula. Maka kata Indraputra kepada Dang Lela Seganda, Dang Lela Caya, "Hai dayang, singkapkan tirai dewangga itu dan bukakan pintu maligai." Maka Indraputra pun mencita jin kemala hikmat itu, maka datanglah penghulu jin itu empat orang lalu sujud menyembah kepada Indraputra serta katanya, "Ya tuanku, apakah kerja tuanku memanggil patik ini?" Maka kata Indraputra, "Hai saudaraku, lawanlah berperang hulubalang Raja Gohar Hinis itu." Maka Digar Alam dan Digar Kilat dan Digar Akas dan Digar Seru itu pun menyembah kepada Indraputra lalu bertempik serta mengunus senjatanya turun dari maligai itu, menyerbukan dirinya kepada segala hulubalang Raja Gohar Hinis lalu mengamuk. Maka segala hulubalang itu pun gempar seraya terkejut bertetak sama sendirinya dan gempita,

syahdan berapa tombak yang patah dan berapa pedang yang tinggal hulunya karena berperang sama sendirinya. Bermula segala dewa yang berbaju zirah dan berbaju besi itu banyak mati dibunuh oleh hulubalang Indraputra. Maka terdengarlah kepada Indraputra segala peri hal-ihwal itu. Maka Raja Gohar Hinis menitahkan empat orang hulubalang dengan berapa beribu rakyat keluar bantu pada malam itu. Maka berapa suluh, dian dan tanglung dipasang orang, gemerlapan seperti bintang di langit rupanya akan suluh segala orang berperang itu. Maka Indraputra mecita segala rakyat jin yang pada kemala itu, maka keluarlah rakyat jin dan dewa beribu-ribu berperang dengan rakyat Raja Gohar Hinis. Maka Indraputra pun mengeluarkan kemala yang pada otak ular mamdud itu akan suluh segala orang berperang itu seperti bulan purnama terangnya. Bermula maka segala hulubalang dan rakyat. Raja Gohar Hinis semuanya undur mengadap Raja Gohar Hinis, tiada menderita diamuk oleh Indraputra. Maka hulubalang jin yang empat orang itu pun kembali kepada Indraputra dengan segala rakyatnya, berhimpun di bawah maligai tuan putri Tulela Maduratna duduk dengan segala rakyatnya. Maka tuan putri pun heran melihat sakti Indraputra, syahdan dengan gagah perkasyanyanya; dalam hati tuan putri, "Dari mana datangnya hulubalang dan rakyat beribu-ribu!" Hatta merak emas itu pun mengigal seraya berpantun dan berseloka. Maka tuan putri pun tersenyum. Sebermula maka Raja Gohar Hinis menyuruhkan hulubalang dan rakyat beberapa ribu akan bantu disuruhnya perang. Maka kembalilah pula segala hulubalang dan rakyat itu perang. Maka kata segala hulubalang itu, "Heran segala hamba akan hulubalang dan rakyat keluar daripada maligai tuan putri itu beribu-ribu itu, entah dari mana gerangan datangnya hulubalang dan rakyat beribu-ribu itu. Jadi kami berperang sama sendiri tiada berketahuan, campur-baur. Ada yang patah tombak, ada yang patah pedang. Sebab itulah jadi kami sekalian undur menanti hari siang." Hatta maka segala hulubalang dan rakyat itu pun semuanya kembali pula perang dengan tempik soraknya, syahdan mengunus senjatanya. Maka hulubalang Indraputra pun keluarlah dengan segala rakyatnya dengan tempik soraknya berperang. Maka kedua fihak tentera pun banyaklah matinya, segala jin dan dewa. Setelah kira-kira sejam lamanya berperang maka pecahlah perangnya, rakyat Raja Gohar Hinis lalu undur habis lari. Maka Raja Gohar Hinis menitahkan bantu dulapan orang hulubalang dan rakyat empat ribu pada seorang hulubalang sertanya. Maka keluarlah hulubalang itu lalu berperang dengan hulubalang Indraputra. Maka banyaklah matinya segala rakyat Raja Gohar Hinis dan luka, maka patahlah perangnya undur. Setelah terdengar kepada Raja Gohar Hinis segala rakyatnya patah perangnya undur itu maka Raja Gohar Hinis pun terlalu amarah serta menitahkan hulubalang dua laksa dan rakyat tiada tepermanaii banyaknya, maka berperanglah terlalu ramai, gegak gempita bunyi tempik soraknya, tiada tersangka bunyi lagi. Kalakian maka dipersembahkan orang kepada Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, adapun mulanya manusyia itu seorang juga. Maka sekarang keluar rakyat berlaksa-laksa manusyia." "Dari mana gerangan datangnya itu? Anak raja manakah gerangan

itu?" Maka sembah sekalian raja-raja dan menteri, "Ya tuanku Syah Alam, patik sekalian pun heran akan pekerjaanan ini." Hatta maka hari pun sianglah, maka segala rakyat hina dan dewa sekalian berdiri bersaf-saf di padang Belanta Ajaib dan di bawah maligai tuan putri, masing-masing mustaib dengan senjatanya. Maka Raja Gohar Hinis pun menitahkan seorang raja bernama Gurantai Syah. "Pergilah tuan hamba perang, tangkap oleh tuan hamba laki-laki itu bawa kemari!" Maka Raja Gurantai Syah pun keluarlah perang ke padang Belanta Ajaib. Maka gendang perang pun dipalu oranglah daripada kedua fihak tentera. Maka segala hulubalang pun bertempik berlompatan ke tengah medan. Maka berperanglah kedua fihak tentera berpanah-panahan dan bertikamkan tombak dan bertetakkan pedang. Maka jadi kelam kabutlah padang itu, karena berbangkit duli ke udara. Setelah kira-kira sejam lamanya perang, maka Raja Gurantai Syah pun bertemu dengan Digar Akas. Maka keduanya pun berperanglah. Setelah dilihat oleh Digar Akas dan Digar Kilat dan Digar Seru akan Digar Akas perang dengan Raja Gurantai Syah dibawanya kepada Indraputra. Maka segala Raja Gohar Hinis pun pecahlah perangnya lalu undur. Maka hari pun malamlah, maka kedua fihak tentera pun masing-masing kembali ke tempatnya. Setelah hari siang maka Raja Gohar Hinis pun keluar semayam, dihadap segala raja-raja dan segala menteri hulubalang sekalian dan segala bala tentera. Maka pada antara itu ada seorang raja terlalu gagah perkasya, namanya Raja Gurantar Syah. Syahdan berat pedangnya seratus misykal dan lebar mata pedangnya sejengkal empat jari, terlalu tajam berkilat-kilat rupanya. Maka Raja Gurantar Syah pun berdatang sembah kepada Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli, jikalau ada karunia tuanku, patiklah yang menangkap laki-laki." Setelah Raja Gohar Hinis mendengar sembah Raja Gurantar Syah itu maka titah baginda, "Baiklah tuan hamba kerjakanlah seperti kata tuan hamba itu." Maka Raja Gurantar Syah pun bermohonlah kepada Raja Gohar Hinis lalu keluar naik ke atas kudanya, digertakkannya ke medan serta mengunus pedangnya. Maka segala hulubalang semuanya mengiringkan Raja Gurantar Syah. Setelah datang ke padang Belanta Ajaib maka berserulah seorang hulubalang daripada fihak Raja Gurantar Syah, demikian katanya, "Hai laki-laki, mengapa engkau bersembunyi di maligai tuan putri. Takutkah akan pedang Raja Gurantar Syah, maka segala jin, dewa engkau suruh ke medan berperang dengan raja kami. Syahdan jika engkau laki-laki, marilah engkau ke medan supaya engkau rasai darab pedang Raja Gurantar Syah yang berat seratus miskal itu dan lebar matanya sejengkal empat jari!" Setelah Digar Alam mendengar kata orang itu demikian, maka Digar Alam pun sujud kepada Indraputra seraya katanya, "Ya tuanku, patik mohon hendak ke medan." Maka kata Indraputra, "Sabarlah saudaraku ke medan, sekarang ini pergantiankulah ke medan, karena aku diserunya, tetapi tiada hamba melawan Raja Gurantar Syah itu dengan senjatanya, karena bukan lawan hamba."

Setelah itu maka Indraputra masuk ke dalam tirai kepada tuan putri Tulela Maduratna seraya berkata, "Tinggallah dahulu tuan putri, kakanda hendak perang ke medan dengan Raja Gurantar Syah." Maka Indraputra pun naik ke atas kudanya yang bernama Janggi Gardan lalu ke tengah padang. Hatta maka didengar oleh Raja Gurantar Syah bunyi guruh dan petir, kelam kabut. Maka dilihat pula oleh Raja Gurantar Syah seperti kilat keluar daripada maligai tuan putri Kemala Maduratna. Maka Indraputra pun datang hampir Raja Gurantar Syah, dikepilkannya kudanya dengan kuda Raja Gurantar Syah, maka ditangkapnya Raja Gurantar Syah, dibawanya kepada Digar Akas, disuruhnya taruh pada rumah Malik Adhab. Hatta setelah dilihat oleh segala hulubalang dan rakyat Raja Gurantar Syah tatkala berbunyi guruh kilat dan petir halintar itu, maka Raja Gurantar Syah pun gaib. Ketika kelam kabut itu tinggal kudanya juga terdiri di tengah padang. Maka segala hulubalang dan rakyat sekalian lalu kembali mengadap Raja Gohar Hinis, maka dipersembahkannya perihal Raja Gurantar Syah itu. Maka Raja Gohar Hinis pun terlalu heran mendengar hal Raja Gurantar Syah itu seraya bertitah kepada segala raja-raja itu, "Heran sekali hamba dengar hal Raja Gurantar Syah itu gaib di atas kudanya, seorang pun tiada yang tahu ke mana perginya. Pada bicara hamba kalau anak raja dewa yang sakti-sakti juga, maka demikian." Maka segala raja-raja itu pun menyembah seraya berkata, "Sungguhlah seperti titah tuanku itu." Sebermula diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini: Maka Raja Gohar Hinis menyuruhkan beberapa orang raja-raja keluar perang dengan Indraputra; maka disuruh tangkap oleh Indraputra kepada Digar Alam dan Digar Kilat dan Digar Akas dan Digar Seru, ada kira-kira empat puluh orang raja-raja yang di bawah Raja Gohar Hinis tertangkap. Maka disuruh Indraputra taruhkan dalam suatu gedung Raja Gohar Hinis. Maka dipersembahkan orang kepada Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, sekarang empat puluh orang raja-raja yang keluar perang gaib di atas kudanya, tiada ketahuan perginya." Maka Raja Gohar Hinis pun heran tiada terkata-kata. Alkisah maka tersebutlah perkataan Raja Dewa Lela Mengerna tatkala ia pergi mandi ke sungai, maka Indraputra ada ditinggalkannya tidur di bawah pohon kayu. Setelah Raja Dewa Lela Mengerna kembali daripada mandi maka dilihatnya Indraputra tiada pada tempatnya tidur itu, syahdan kudanya ada juga tertambat, maka disuruh cari oleh Raja Dewa Lela Mengerna pada segala biduandanya berkeliling, tiada bertemu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun tahulah akan Indraputra itu dibawa oleh jin Tamar Boga, bapa Tamar Jalis. Maka Raja Dewa Lela Mengerna menyuruhkan biduanda pada Nabat Rum Syah memberitahukan Nabat Rum Syah akan hal Indraputra hilang itu. Maka Nabat Rum Syah pun menangis mendengar warta Indraputra hilang itu. Maka Nabat Rum Syah pun berlengkap dengan segala hulubalang dan rakyat sekalian, mustaib dengan segala senjatanya lalu berjalan mendapatkan Raja Dewa Lela Mengerna. Setelah Nabat Rum

Syah sampai kepada Raja Dewa Lela Mengerna maka Nabat Rum Syah dan Raja Dewa Lela Mengerna pun menyuruh mencari Indraputra kepada segala tempat dan pada segala negeri, tiada juga bertemu. Hatta maka diwartakan orang bahwa Indraputra berperang dengan Raja Gohar Hinis. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun berjalanlah ke Negeri Rainun. Maka masyhurlah warta Indraputra berperang dengan Raja Gohar Hinis itu. Setelah didengar oleh segala raja-raja sahabat Indraputra maka segala raja-raja itu pun berlengkaplah dengan segala hulubalang dan rakyat sekalian mustaib hadir dengan segala senjatanya, dengan tunggul, panji-panji, syahdan beberapa payung kerajaan yang keemasan terkembang. Maka segala raja-raja itu pun berjalanlah dari negerinya mendapatkan Indraputra ke Negeri Rainun dengan segala bunyi-bunyian terlalu ramai daripada suatu perhentian datang pada suatu perhentian. Alkisah maka tersebutlah perkataan Raja Gohar Hinis menyuruh memalu genderang perang. Pada masa itu bintang pun belum padam cahayanya dan segala margasatwa pun belum mencari makanannya dan segala burung pun belum keluar daripada sarangnya dan matahari pun belum terbit lagi bergendang di tepi langit, maka pada ketika itu berbunyilah genderang perang daripada kedua fihak tentera terlalu azmat bunyinya, karena Raja Gohar Hinis sendiri hendak berangkat keluar perang. Maka terdirilah segala panji-panji dan terkembanglah payung kerajaan, syahdan terdirilah cogan alamat kerajaan, gemerlapan rupa di awan bedinya dan gemerencing bunyi kemuncak gelentarnya dan berkibaran rumbai-rumbai mutianya. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, gong, gendang, serunai, nafiri, merangu terlalu ramai bunyinya. Maka padang itu pun diperbaiki oranglah. Maka Raja Gohar Hinis pun berangkatlah keluar diiringkan segala raja-raja dan segala menteri hulubalang dengan segala bala tentera yang tiada tepermanaii banyaknya. Setelah datang keluar, maka Raja Gohar Hinis pun duduk di atas kursyi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka segala raja-raja yang muda-muda duduk berhatur dari kanan dan dari kiri Raja Gohar Hidis. Maka segala abantara dan hulubalang sekalian berdiri bersaf-saf memegang pedang dan pelbagai senjata. Hatta maka kelihatanlah duli berbangkit ke udara, kelam kabut. Maka kelihatanlah dua ratus dua puluh panji-panji beremas berbagai-bagai rupanya, syahdan berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan kembanglah payung dua puluh dan empat buah payung kerajaan daripada mutia dikarang dan batangnya daripada emas. Syahdan gemerlapan rumbai-rumbai mutianya dan daun bedinya daripada emas ditatah lazuardi dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya dan beberapa hulubalang berjalan dahulu mengendaraii kuda sembra[ni]nyanya dan memakai zirah daripada besi huryasani bertatahkan emas sepuluh mutu. Syahdan di bawah payung itulah dua orang anak raja jin Islam, seorang namanya Raja Dewa Lela Mengerna dan seorang bernama Nabat Rum Syah, terlalu elok rupanya dan pakaiannya terlalu indah-indah bertatahkan ratna mutu manikam, diiringkan segala hulubalang dan rakyat sekalian. Maka Indraputra pun tahulah akan yang datang itu Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah. Maka Indraputra pun turunlah dari maligai tuan putri Tulela Maduratna datang mengelu-ngelukan

Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah. Setelah Raja Dewa Lela Mengerna (setelah Raja Dewa Lela Mengerna) dan Nabat Rum Syah dilihat Indraputra datang itu, maka kedua anak raja itu turun dari atas kudanya, berjabat tangan dan berpeluk bercium. Maka Indraputra pun membawa Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah naik ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Hatta kalakian maka kelihatan pula duli berbangkit ke udara kelam kabut. Maka kelihatan pula dua ratus dua puluh panji-panji berbagai-bagai warnanya dengan bunyi-bunyian terlalu azmat bunyinya. Maka terkembanglah dua puluh payung kerajaan yang indah-indah rupanya dan gemerlapan rumbai-rumbai mutianya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya. Di bawah payung itulah anak raja mambang kedua dengan pakaiannya serba keemasan terlalu indah-indah rupanya. Maka Raja Gohar Hinis heran melihat segala anak raja-raja yang datang itu. Hatta maka anak raja mambang kedua itu pun datanglah ke padang Belanta Ajaib. Maka Indraputra pun tahulah akan anak raja mambang kedua yang datang itu. Maka Indraputra dan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pergilah mengelu-ngelukan anak raja mambang kedua itu. Setelah anak raja mambang kedua itu melihat Indraputra datang itu maka anak raja mambang kedua itu pun lalu turun dari atas kudanya, menyembah Indraputra, dan berjabat tangan dengan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah. Maka Indraputra pun membawa anak raja mambang kedua itu ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Hatta seketika lagi maka dilihat Raja Gohar Hinis daripada fihak gunung rimba (kelihatan) rakyat kera berlompatan. Segala daun kayu semuanya berguncang seperti ribut. Segala tentera kera dan lutung, ganggang siamang datang ke tengah padang, gegak gempita bunyinya tiada berketahuan. Ada yang membawa kayu pemukul, ada yang membawa batu pelotar. Syahdan panji-panjinya daripada hatifah beremas dua puluh dua payung kerajaan terkembang. Di bawah payung itulah Raja Puspa Pandai dengan anaknya Dinar Pandai mengendaraii kuda sembrani, berpelana emas diukir bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Raja Gohar Hinis pun heran segala raja-raja yang datang itu dengan segala bala tenteranya. Maka Raja Puspa Pandai dan anaknya Dinar Pandai pun datanglah ke padang Belanta Ajaib. Maka Indraputra pun tahulah akan Raja Puspa Pandai dengan anaknya datang, maka Indraputra dengan segala raja-raja itu pergilah mengelu-ngelukan Raja Puspa Pandai. Setelah dilihat Raja Puspa Pandai Indraputra datang dengan segala raja-raja itu maka Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai pun segerah turun dari atas kudanya, berjabat tangan dengan Indraputra. Maka Dinar Pandai pun menyembah Indraputra. Maka segala raja-raja itu berjabat tangan dengan Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai. Maka Indraputra membawa Raja Puspa Pandai ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Hatta kalakian maka kelihatan pula duli berbangkit ke udara, kelam kabut. Maka kelihatanlah beberapa panji-panji dewangga beremas, ada yang panji-panji kemik beremas, ada yang panji-panji gelam beremas, ada yang panji-panji hatifah beremas, berbagai-bagai warnanya dan gemerlapan rumbai-rumbai mutianya dan gemerencing bunyi kemuncak gegentarnyanya. Maka terkembanglah payung kerajaan seratus enam puluh, masing-masing dengan rupanya. Di bawah

payung itulah segala anak raja-raja yang di padang Anta Berahi. Maka segala anak raja-raja itu pun datanglah ke padang Belanta Ajaib masing-masing mengendaraii kuda sembrani berpelana emas bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra pun datanglah mengelu-ngelukan segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu. Setelah segala anak raja-raja itu melihat Indraputra datang maka sekalian turun d[ar]i atas kudanya menyembah Indraputra dan berjabat tangan dengan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah dan berjabat tangan dengan segala anak raja-raja yang banyak. Setelah itu maka Indraputra pun membawa segala raja-raja itu ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Setelah dilihat Raja Gohar Hinis segala raja-raja yang datang itu maka mangkin bertambah heran Raja Gohar Hinis. "Hatta kalakian maka kelihatan pula debu berbangkit ke udara, kelam kabut. Maka kelihatanlah panji-panji berapa ratus berbagai rupanya dan warnanya, sekaliannya beremas dan berumbai-rumbaikan mutiara. Syahdan beberapa ratus payung terkembang banyaknya daripada emas sepuluh mutu dan kemuncaknya daripada manikam yang merah berumbai-rumbaikan zamrut, dan puadai manikam, terlalu indah-indah rupanya. Maka sekalian anak raja-raja itu mengendaraii kuda sembrani berpelana emas dipahat, ditatah dengan lazuardi, ada yang ditatah dengan permata pelbagai rupanya, terlalu indah-indah. Maka segala anak raja-raja itu datanglah ke padang Belanta Ajaib. Maka Indraputra pun tahulah akan yang datang itu segala anak raja-raja yang di Tasik Bahrul Asyik, datang berpasuk-pasukan, masing-masing dengan kenaikannya, syahdan dengan bunyi-bunyiannya terlalu gempita bunyinya dengan tempik soraknya segala hulubalang jin dan dewa dan mambang, dan candra, terlalu azmat bunyinya berlompatan di tengah padang, masing-masing datang dengan gembiranya menunjukkan beraninya dan gagah perkasyanyanya seperti harimau yang buas rupanya. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu pergilah mengelu-ngelukan segala anak raja-raja yang dari Tasik Bahrul Asyik itu. Setelah segala anak raja itu melihat Indraputra datang maka sekaliannya pun turun dari atas kudanya menyembah Indraputra. Maka disambut Indraputra tangan segala anak raja-raja itu seraya dipeluknya dan diciumnya. Maka segala anak raja-raja itu semuanya berjabat tangan dengan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah, syahdan dengan segala raja-raja. Maka Indraputra membawa segala raja-raja itu ke maligai tuan putri Tulela Maduratna. Setelah Raja Gohar Hinis melihat segala raja-raja itu datang dengan segala bala tenteranya akan bantu Indraputra itu maka Raja Gohar Hinis dan segala raja-raja itu yang dibawanya dan menteri hulubalang sekaliannya heran. Maka penuh sesaklah padang Belanta Ajaib itu oleh segala bala tentera segala raja-raja yang datang itu. Maka titah Raja Gohar Hinis kepada segala raja-raja dan menteri hulubalang yang dibawanya itu, "Terlalu sekali heran hati hamba akan segala raja-raja yang datang itu dengan segala bala tenteranya, karena laki-laki dalam maligai itu hanya seorang juga, maka sekarang jadi demikian." Maka sembah segala menteri dan hulubalang dan segala raja-raja, "Ya tuanku Syah Alam, patik sekalian mohon ampun ke bawah duli Syah Alam melainkan banyak-banyak bicara Syah Alam; akan pekerjaanan

ini tiada dapat tuanku mudahkan." Maka Raja Gohar Hinis pun terlalu masygul dalam hatinya lalu berangkat masuk ke dalam istana. Sebermula maka Indraputra pun menyuruh, mengangkat hidangan ke hadapan segala raja-raja dan segala menteri dan ke hadapan segala hulubalang. Setelah sudah lengkap maka kata Indraputra kepada segala raja-raja dan pada segala menteri dan hulubalang sekalian, "Hai segala saudaraku, santaplah tuan-tuan sekalian, jangan diaibkan karena tiada dengan sepertinya." Maka segala anak raja-raja itu pun tersenyum, maka kata Indraputra itu seraya makan masing-masing pada hidangannya. Setelah sudah makan maka hidangan minuman pula diangkat oranglah. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Maka segala bunyi-bunyian pun berbunyilah, gendang, gong, serunai, nafiri, rebab, kecapi, dandi, muri, bangsi, serdam, gopak, ceracap, terlalu ramai. Maka biduan yang baik suaranya pun berbunyilah terlalu ramai. Maka hari pun malamlah. Maka dikeluarkan Indraputra kemala yang daripada otak ular mamdud itu, ditambangkannya pada padang Belanta Ajaib itu, maka padang Belanta Ajaib itu pun teranglah seperti siang. Maka segala anak raja-raja dan segala menteri hulubalang sekalian pun heran melihat kemala ular itu. Maka Indraputra pun makan minum, bersuka-sukaan dengan segala anak raja-raja itu. Sebermula maka tuan putri Tulela Maduratna dengan segala inang pengasuhnya dengan Dang Lela Seganda dan Dang Lela Caya, Dang Intan Didiraja dengan segala dayang-dayang, biti-biti perwara sekalian heran melihat segala raja-raja dan segala menteri dan hulubalang sekalian dengan bala tenteranya itu. Maka tuan putri dengan segala dayang-dayang inang pengasuhnya berbuat segala makan-makanan yang bagai-bagai. Maka tuan putri Tulela Maduratna dengan segala dayang-dayang inang pengasuh sekalian suka hatinya, karena banyak segala raja-raja datang akan bantu Indraputra. Sebermula maka tersebutlah perkataan Raja Gohar Hinis, setelah ia masuk ke dalam istana dengan masygulnyanya maka baginda keluar diadap segala raja-raja dan segala menteri hulubalang. Maka sembah segala raja-raja, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun seribu kali ampun ke bawah duli tuanku. Adapun akan hal laki-laki yang dalam maligai paduka anakanda itu pada bicara patik sekalian baik juga tuanku mufakat, karena laki-laki itu pada bicara patik anak raja besar juga maka demikian beberapa raja-raja dan segala rakyatnya datang bantu kepadanya. Tiada dapat tuanku permudahkan pekerjaanan perang ini. Jika kurang-kurang bicara Syah Alam, niscaya binasalah negeri Syah Alam." Maka titah baginda, "Sebenarlah seperti kata kamu sekalian itu." Sebermula maka hari pun sianglah, maka kata Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah kepada Indraputra, "Hai saudaraku, baik juga kita mufakat dengan Raja Gohar Hinis, kita minta dengan baik anaknya, masakan tiada diberinya. Biar hamba dua orang pergi kepadanya berkata-kata." Maka kata Indraputra, "Baiklah, mana bicara saudaraku kedua, hamba turut. Pergilah saudara hamba kedua kepada Raja Gohar Hinis."

Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun pergilah kepada Raja Gohar Hinis, maka bertemu dengan Malik Adhab. Maka kata Malik Adhab kepada Raja Dewa Lela Mengerna, "Hendak ke mana tuanku ini?" Maka sahut Raja Dewa Lela Mengerna, "Kami hendak pergi kepada Raja Gohar Hinis." Maka sahut Malik Adhab, "Pun serta dengan tuan hamba pergi mengadap Raja Gohar Hinis." Hatta setelah datang pada pintu gerbang maka dipersembahkan orang kepada Raja Gohar Hinis, mengatakan bahwa dua orang anak raja daripada Indraputra datang. Setelah didengar Raja Gohar Hinis maka dititahkan baginda empat orang menteri yang besar pergi mengelu-ngelukan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah. Setelah menteri itu bertemu dengan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah maka kata menteri itu kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah serta dengan hormatnya, "Silakanlah tuanku kedua masuk, paduka ayahanda ada menanti di balairung." Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun masuklah dibawa oleh menteri itu. Setelah dilihat Raja Gohar Hinis dan Nabat Rum Syah dan Raja Dewa Lela Mengerna datang maka Raja Gohar Hinis dan segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian turun memberi hormat akan anak raja kedua itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun menyembah Raja Gohar Hinis. Maka disambut baginda seraya dipermuliakan dengan seribu kemuliaan kedua anak raja itu, maka didudukkannya di atas kursi yang keemasan. Maka sirih pada jorong emas pun dibawa oranglah ke hadapan anak raja kedua itu. Setelah demikian maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun berkata kepada Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohon ampun seribu kali ampun ke bawah duli tuanku. Pada bicara patik baik juga tuanku mufakat berkasih-kasihan dengan Indraputra, karena baginda itu pun anak raja besar. Adapun yang salah bebalnya itu melainkan ampun duli tuanku juga. Apa baiknya tuanku berbinasa juga rakyat," dan beberapa puluh kata yang lemah lembut dikatakan oleh Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah. Maka Raja Gohar Hinis pun tersenyum seraya berkata, "Hai anakku apatah salahnya jika anakku hendak mufakat berkasih-kasihan dengan ayahanda." Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun berceriterakan segala hal-ihwal Indraputra itu daripada permulaannya datang kepada kesudahannya. Setelah Raja Gohar Hinis mendengar kata Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah itu maka ia pun berkata, "Hai anakku, melainkan ayahanda minta maaf banyak kepada anakanda sekalian, karena ayahanda tiada periksya dari mulanya." Hatta maka hidangan nasi pun diangkat oranglah ke hadapan raja kedua itu. Maka segala raja-raja yang takluk kepada Raja Gohar Hinis itu pun semuanya turut makan masing-masing pada hidangannya. Setelah sudah makan maka Raja Gohar Hinis pun memberi persalin akan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pakaian yang indah-indah serba keemasan. Setelah sudah maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada Raja Gohar Hinis lalu berjalan keluar kembali kepada Indraputra.

Setelah datang kepada Indraputra maka dikatakan oleh Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah barang kata Raja Gohar Hinis itu kepada Indraputra dan perinya diberi persalin oleh Raja Gohar Hinis itu semuanya dikatakannya. Maka Indraputra pun sukacita hatinya mendengar kata Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah itu. Setelah keesokan harinya maka Indraputra menyuruhkan anak raja mambang kedua kepada Raja Gohar Hinis mengatakan, "Patik itu paduka anakanda Indraputra hendak datang mengadap duli tuanku." Maka anak raja mambang kedua pun pergilah, setelah datang ke pintu gerbang maka ujar anak raja mambang kedua kepada orang menunggu pintu itu, "Beri tahukan raja kamu, katakan dua orang anak raja pesuruh daripada Indraputra hendak datang mengadap duli yang dipertuan." Maka orang penunggu pintu itu pun berlari-lari; setelah datang ke hadapan Raja Gohar Hinis maka ia sujud menyembah serta berkata, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli Syah Alam, ada dua orang anak raja di luar pintu kota, pesuruh daripada Indraputra, hendak masuk mengadap duli Syah Alam." Maka dititahkan baginda dua orang menteri besar disuruh mendapatkan anak raja mambang kedua itu. Setelah bertemu dengan anak raja mambang kedua itu maka kata menteri itu, "Tuanku disuruh silakan masuk oleh paduka ayahanda." Maka anak raja mambang kedua itu pun masuklah. Setelah datang ke hadapan Raja Gohar Hinis maka anak raja kedua itu pun menyembah, Raja Gohar Hinis pun berdiri memberi hormat anak raja mambang kedua itu. Maka disuruh Raja Gohar Hinis duduk di atas kursi yang keemasan. Maka anak raja mambang kedua itu berdatang sembah kepada Raja Gohar Hinis, "Ya tuanku Syah Alam, patik disuruhkan paduka anakanda Indraputra, jikalau berkenan kepada Syah Alam, paduka anakanda hendak datang mengadap Syah Alam." Setelah Raja Gohar Hinis menengar kata anak raja mambang kedua itu demikian maka baginda pun tersenyum; fikir dalam hatinya, "Bijaksana sekali anak raja kedua ini berkata-kata. " Maka kata Raja Gohar Hinis, "Hai anakku kedua, apatah salahnya jikalau anak hamba hendak datang bertemu dengan hamba." Maka anak raja mambang kedua pun diberi persalin oleh Raja Gohar Hinis dengan pakaian yang indah-indah. Maka anak raja mambang kedua pun memuji-muji Raja Gohar Hinis. Maka dalam hati Raja Gohar Hinis, "Selang suru[h]annyaannya lagi sekian, istimewa Indraputra berapa lagi bijaksana." Maka kata Raja Gohar Hinis kepada anak raja mambang kedua itu, "Katakanlah salam doa hamba kepada anak hamba Indraputra. Jika sedia hendak bertemu dengan ayahanda, apatah lagi akan salahnya ayahanda menanti anak hamba Indraputra datang kemari." Maka anak raja mambang kedua pun mohonlah kepada Raja Gohar Hinis lalu kembali. Setelah datang kepada Indraputra, maka dilihat oleh Indraputra muka anak raja mambang kedua itu berseri-seri dan pakaiannya indah-indah dan berapa pula orang yang membawa benda yang membawa benda yang garib-garibgharib. Maka Indraputra pun segera menegur anak raja mambang kedua itu seraya berkata, "Datang saudaraku!" Maka anak raja mambang kedua itu pun duduk seraya menyembah

menyampaikan kata Raja Gohar Hinis. Maka Indraputra pun sukacita mendengar kata Raja Gohar Hinis itu, syahdan memuji-muji anak raja mambang kedua itu. Hatta setelah keesokan harinya maka Raja Gohar Hinis pun menitahkan empat orang menteri membaiki negeri, segala lorong, lebuh, pekan, semuanya disuruh perbaiki, dan segala balai pengadapanan pun semuanya disuruhnya baiki. Syahdan segala raja-raja dan segala menteri hulubalang, sida-sida, abantara, biduanda sekalian disuruh berhimpun. Maka balairung pun dihias dengan tirai dan langit-langit. Maka dihampari dengan suf sahlat ainulbanat. Setelah sudah lengkap maka Raja Gohar Hinis keluar duduk di atas sehinggasana yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Syahdan maka diatur oranglah segala pawai, cogan alamat kerajaan pun terdirilah. Maka terkembanglah payung yang bagai-bagai rupanya yang indah-indah. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, tabal, dan palu-paluan yang berbagai-bagai ragam bunyinya. Maka terdirilah panji-panji daripada gelam yang beremas, gemerlapan rumbai-rumbai mutianya. Sebermula tersebutlah Indraputra dengan segala raja-raja, segala anak raja-raja sekalian memakai pakaian yang indah-indah. Maka Indraputra dan segala raja-raja dan anak raja-raja pergi mengadap Raja Gohar Hinis, diiringkan segala menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian, maka dipersembahkan orang kepada Raja Gohar Hinis. Maka Raja Gohar Hinis menyuruhkan empat orang raja-raja dan delapan orang menteri dan segala biduanda pergi mengelu-ngelukan Indraputra dengan segala raja-raja itu. Maka riuhlah segala orang dalam Negeri Rainun berlarian hendak melihat rupa Indraputra. Bermula maka segala raja-raja dan menteri yang pergi mengelu-ngelukan Indraputra itu pun bertemulah dengan Indraputra. Maka raja-raja dan menteri itu pun menyembah Indraputra seraya berkata, "Tuanku disuruh disilakan paduka ayahanda segerah masuk ke dalam kota. Paduka ayahanda ada menanti di balairung." Maka Indraputra berjalanlah diiringkan oleh segala raja-raja dan segala bala tentera sekalian lalu masuk ke dalam kota. Maka segala orang dalam negeri itu pun berlarian hendak pergi melihat rupa Indraputra; ada yang terurai-urai rambutnya, ada yang sanggul sambil berjalan, ada yang berbaju sambil berjalan, ada yang berkain sambil berjalan. Maka penuh sesaklah segala jalan, lorong, dan pekan. Maka banyaklah pagar yang roboh dan kedai orang yang rusak daripada kebanyakan orang menantin[y]anya itu. Maka segala orang yang melihat itu pun sekalian heran melihat rupa Indraputra, terlalu elok, gilang-gemilang rupanya. Maka segala orang yang melihat itu ada yang berkata, "Jika (jika) boleh gerangan Indraputra ini akan suamiku, alangkah baiknya!" Dan ada yang berkata, "Jika boleh gerangan Indraputra ini akan menantuku, alangkah baiknya!" Ada yang berkata, "Jika boleh Indraputra ini akan iparku, alangkah baiknya!" Dan ada yang berkata, "Jika boleh Indraputra ini akan anakku, alangkah baiknya!" Dan ada yang berkata, "Jika boleh Indraputra ini akan taulanku, alangkah baiknya!" Hatta maka Indraputra pun sampailah ke balairung, maka Raja Gohar Hinis pun segerah turun mengelu-ngelukan Indraputra dengan

segala raja-raja itu. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu semuanya menyembah Raja Gohar Hinis. Maka Indraputra dengan segala raja-raja yang serta dengan Indraputra itu semuanya duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka sirih pada jorong emas dan jorong perak dan jorong tembaga suasa itu pun dibawa oranglah ke hadapan Indraputra dan ke hadapan segala raja-raja itu. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu pun makan sirih. Setelah itu maka hidangan pun diangkat oranglah ke hadapan Indraputra dan segala raja-raja itu. Maka kata Raja Gohar Hinis kepada Indraputra dengan segala raja-raja itu, "Santaplah tuan anakku sekalian barang sedapatnya, tiada dengan sepertinya jangan diaibkan." Maka segala raja-raja dan Indraputra itu pun makanlah masing-masing dengan hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah ke hadapan segala raja-raja itu. Setelah sudah minum maka makan pula beberapa makan-makanan yang nikmat rasanya. Adapun Raja Gohar Hinis berjamu segala raja-raja dan Indraputra itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya, makan minum bersuka-sukaan, berjaga-jaga dengan segala bunyi-bunyian. Bermula Indraputra dengan segala raja-raja itu pun bermohonlah kepada Raja Gohar Hinis lalu pulang ke maligai tuan putri Tulela Maduratna, berjaga-jaga, maka minum bersuka-sukaan dengan segala bunyi-bunyian, dengan pelbagai permainan empat puluh hari empat puluh malam. Setelah genaplah maka Indraputra pun dikahawinkankan dengan tuan putri Tulela Maduratna. Maka Indraputra pun duduklah dalam tirai kelambu dewangga yang keemasan, bersuka-sukaan dengan tuan putri Tulela Maduratna. Maka Raja Gohar Hinis pun menyuruh membuka gedung perbendaharanan, memberi derma pada segala fakir dan miskin dan memberi persalin kepada segala raja-raja dan anak raja-raja. Maka dilihat oleh bendahari itu dalam gedung ada raja-raja, dewa, dan jin empat puluh orang terhantar seperti orang tidur lakunya segala raja-raja itu yang gaib pada padang Belanta Ajaib tatkala perang dengan Indraputra. Maka bendahari itu pun segerah mengadap Raja Gohar Hinis, maka sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Adapun segala yang raja-raja yang gaib pada padang Belanta Ajaib itu semuanya ada dalam gedung perbendaharanan itu terhantar seperti orang tidur lakunya." Maka titah Raja Gohar Hinis, "Pergi kamu lihat segala raja-raja itu, sungguhkah seperti kata bendahari itu." Maka pergilah seorang menteri yang dipercayai oleh Raja Gohar Hinis masuk ke dalam gedung perbendaharanan itu. Maka dilihatnya sungguhlah ada seperti kata bendahari itu, maka digerakkan oleh menteri itu beberapa pun digerakkannya tiada juga bangun. Maka menteri itu pun heran lalu segerah ia mengadap Raja Gohar Hinis, maka sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, sungguhlah seperti kata bendahari itu, berapa pun patik gerakkan, tiada juga ia bangun. Maka titah Raja Gohar Hinis kepada menteri itu, "Pergilah engkau beri tahukan kepada anakku Indraputra akan hal segala raja-raja itu. Maka menteri itu pun menyembah lalu pergi kepada Indraputra.

Setelah datang kepada Indraputra maka menteri itu pun menyembah seraya berkata, "Ya tuanku, patik disuruhkan paduka ayahanda memberitahukan hal segala raja-raja yang empat puluh gaib tatkala perang itu sekarang ada ia dalam gedung perbendaharanan, terhantar tiada khabarkan dirinya." Setelah Indraputra mendengar kata menteri itu maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata kepada Digar Akas, "Pergi kamu, bangunkan segala raja-raja yang ada dalam gedung itu!" Maka Digar Akas pun menyembah Indraputra lalu berjalan masuk ke dalam gedung itu. Maka dikeluarkannya suatu hikmat dari dalam cembul, direndamkannya pada cuka dan minyak, maka disiramkannya pada segala raja-raja itu, maka segala raja-raja itu pun bangunlah. Maka dilihatnya dirinya di dalam gedung itu maka ia pun heran akan dirinya. Maka segala raja-raja itu [di]bawa oleh menteri itu mengadap Raja Gohar Hinis. Setelah datang ke hadapan Raja Gohar Hinis maka titah baginda, "Hai kamu sekalian, apa perasaan kamu sekalian tatkala dalam gedung kamu lupa akan diri kamu itu?" Maka sembah segala raja-raja itu, "Ya tuanku Syah Alam, adapun yang patik sekalian lihat tatkala dalam lupa patik itu Indraputra duduk pada sebuah negeri di atas sehinggasana diadap oleh segala menteri dan raja-raja hulubalang sekalian, dan pada rasa patik sekalian pun ada turut mengadap. Maka patik sekalian diberinya anugerah makan pelbagai nikmat. Maka datang pula burung dua ekor hinggap pada sahan emas berisi kesturi dan narwastu. Maka dipercikkannya oleh burung itu kesturi dan narwastu itu kepada patik sekalian, bauhnyanya terlalu harum. Daripada sebab patik sekalian mencium bau itulah, maka patik sekalian lupa akan diri patik." Maka Raja Gohar Hinis dengan segala raja-raja dan menteri semuanya heran mendengar. Maka segala raja-raja itu diberi persalin oleh Raja Gohar Hinis dengan pakaian yang indah-indah. Maka Raja Gohar Hinis dan segala raja-raja dan segala menteri dan hulubalang sekalian makan minum bersuka-sukaan. Bermula maka Indraputra dan Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah dengan segala raja-raja sekalian makan minum bersuka-sukaan dengan segala bunyi-bunyian siang malam. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra pergi ke Negeri Samantabranta dijemput oleh Raja Tulela Syah, dan peri mengatakan tatkala Indraputra membunuh bota yang bernama Gurdan Akas dan peri mengatakan tatkala Indraputra beristrikankan anak raja Tulela Syah yang bernama tuan putri Mengindra Seri Bulan, terlalu baik paras rupanya, gilang-gemilang, kilau-kilauan warna mukanya, tiada dapat ditentang nyata, dan peri mengatakan tatkala hebat Raja Tulela Syah oleh melihat kebesaran Indraputra diiringkan segala raja-raja itu. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera demikian bunyinya: Ada seorang raja di Negeri Samantabranta bernama Raja Tulela Syah terlalu besar kerajaannya; bermula raja itu bangsanya daripada indra. Syahdan raja itu beranak seorang perempuan, terlalu elok rupanya. Beberapa anak raja-raja hendak meminang tiada diterima oleh Raja Tulela Syah.

Bermula hampir negeri itu ada suatu guha terlalu gelap dalamnya syahdan dalam guha itu ada seorang bota terlalu besar, panjang, dan suaranya bota itu seperti guruh; namanya bota itu Gur Akas. Adapun apabila malam, maka bota itu keluar dari dalam guha itu makan orang. Maka beberapa orang dusun Negeri Samantabranta itu habis dimakannya. Maka dipersembahkan orang pada Raja Tulela Syah akan hal bota itu. Maka disuruh Raja Tulela Syah himpunkan segala menteri dan hulubalang dan segala rakyat sekalian. Maka titah Raja Tulela Syah kepada segala menteri dan hulubalang, "Apa bicara kamu sekalian akan Gur Akas itu?" Maka sembah segala menteri dan hulubalang, "Ya tuanku Syah Alam patik mohonkan ampun ke bawah duli tuanku. Adapun akan Gur Akas itu daripada zaman dahulu kala daripada paduka nenekanda dan paduka ayahanda, berapa daya upaya dan muslihat hendak membunuh Gur Akas itu tiada juga dapat terbunuh, karena guha itu terlalu gelap di dalam; sebab itulah maka Gur Akas itu tiada terbunuh." Maka titah Raja Tulela Syah, "Pada bicaraku baik kita nanti pada malam, apabila ia keluar maka kita bunuh dengan segala rakyat banyak." Maka hari pun malam, maka Raja Tulela Syah pun keluarlah dengan segala menteri dan hulubalang dengan segala rakyat, gajah, dan kuda, dengan segala senjata. Maka bulan pun teranglah seperti siang. Maka Gur Akas keluarlah dari dalam guha itu; maka diciumnya bau manusyia banyak. Maka datanglah Gur Akas itu mengusir orang banyak itu dengan hebatnya, suaranya gemuruh seperti halilintar. Maka segala gajah dan kuda dan manusyia sekalian terkejut, takut lalu lari lalu masuk ke dalam kota, barang yang tiada sempat lari dapat dimakan oleh Gur Akas itu. Setelah sudah ia makan orang maka Gur Akas pun kembali masuk ke dalam guha itu. Demikianlah sehari-hari Gur Akas itu keluar makan orang. Maka Raja Tulela Syah dengan segala menterinya dan hulubalang dengan rakyat sekalian pun dikecut hatinya. Hatta pada suatu hari Raja Tulela Syah duduk semayam diadap oleh segala menteri dan hulubalang sekalian, maka titah Raja Tulela Syah kepada segala menteri dan hulubalang sekalian, "Apa bicara kamu, supaya dapat kita membunuh Gur Akas itu?" Maka sembah segala menteri dan hulubalang, "Ya tuanku Syah Alam, mana bicara yang dipertuan patik sekalian turut." Maka titah baginda, "Adapun pada bicaraku, baik kita suruh garuk tanah. Maka kita tutup dari atas, jangan kelihatan, supaya jatuh Gur Akas itu ke dalam lubang tanah itu." Maka sembah segala menteri dan hulubalang itu, "Benarlah seperti bicara Syah Alam itu." Maka Raja Tulela Syah menyuruh segala menteri dan hulubalang sekalian mengimpunkankan segala rakyat menggaruk tanah itu. Maka digaruk oranglah tanah itu. Setelah dalam maka ditutupnya dari atas, diratakannya. Setelah itu maka hari pun malamlah. Maka Raja Tulela Syah dengan segala hulubalang dan menteri dengan rakyat duduk di seberang keleburan itu, mustaib dengan senjatanya. Hatta maka Gur Akas pun datanglah, maka diciumnya bau manusyia banyak, maka Gur Akas pun bersuara seperti halilintar bunyinya. Setelah diiriknya di tepi keleburan itu lalu roboh. Maka ia naik pula ke atas mengusir segala orang banyak itu.

Maka Raja Tulela Syah dengan segala menteri dan hulubalang dan rakyat sekalian habis lari, barang yang tiada sempat lari habis dimakan oleh Gur Akas itu. Maka Segala orang yang lari itu lalu masuk kota. Setelah hari siang maka Gur Akas pun kembali ke dalam guha. Hatta maka Raja Tulela Syah pun musyawarat dengan segala menteri dan hulubalang sekalian; maka titah Raja Tulela Syah, "Hai segala kamu sekalian, pada bicaraku baik kita tutup pintu guha itu." Maka sahut segala menteri dan hulubalang, "Baiklah tuanku." Maka [di]tutup oranglah pintu guha itu dengan tanah dan batu dan kayu yang besar-besar. Setelah sudah maka Raja Tulela Syah dengan segala menterinya dan hulubalang dengan segala bala tenteranya sekalian pun kembali masuk ke dalam kotanya. Hatta maka hari pun malamlah. Maka Gur Akas pun hendak keluar dari dalam guha itu maka dilihatnya pintu guha itu tertutup, maka Gur Akas pun amarah serta bertempik, maka ditendangnya pintu guha itu; maka segala tanah dan kayu, batu itu pun berhamburan, maka terbukalah pintu guha itu. Maka Gur Akas pun keluar dari dalam guha itu mencari orang hendak dimakannya. Maka habislah [di]makannyanya orang di luar kota, barang yang tiada sempat lari. Setelah hari siang maka Gur Akas pun kembali masuk ke dalam guha itu. Maka Raja Tulela Syah dengan segala bala tenteranya sekalian pun heran melihat kuat Gur Akas itu. Maka titah Raja Tulela Syah pada segala menteri dan hulubalang, "Sekarang apa bicara kamu sekalian, karena beberapa sudah tiap kita hendak membunuh Gur Akas itu tiada juga ia mati." Maka sembah segala menteri, "Ya tuanku Syah Alam, baik juga Syah Alam suruh lihatlah pada ahlunnujum." Setelah itu maka Raja Tulela Syah menyuruh mengambil ahlunnujum, maka ahlunnujum pun datang seraya menyembah. Maka titah baginda, "Hai ahlunnujum, lihat apalah dalam nujum kamu betapa peri kematian Gur Akas itu." Maka ahlunnujum itu pun melihat nujumnya seraya menggerakkan kepalanya; setelah itu maka sembah ahlunnujum itu, "Ya tuanku Syah Alam, adapun patik lihat dalam nujum patik ada seorang manusyia bernama Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa. Jika ia datang kemari, ialah yang dapat membunuh Gur Akas itu, syahdan ialah yang dapat menjalani segala tanah jin dan dewa sekalian dijalaninya, dan segala tanah candra semuanya dijalaninya." Setelah didengar oleh Raja Tulela Syah kata ahlunnujum itu demikian maka baginda memandang kepada perdana menteri. Maka sembah perdana menteri, "Ya tuanku Syah Alam, ada patik dengar khabarnya di Negeri Rainun ada seorang manusyia bernama Indraputra, terlalu baik parasnya syahdan dengan gagah perkasyanyanya." Maka titah baginda kepada perdana menteri, "Jika demikian, baiklah kita berkirim surat ke Negeri Rainun kepada baginda itu mengatakan peri Gur Akas itu, kalau mau ia menolong kita membunuh Gur Akas itu." Maka titah Raja Tulela Syah, "Siapa baik kita titahkan pergi ke Negeri Rainun membawa surat kepada Indraputra." "Maka ada anak raja dua orang, seorang bernama Indra Jailani dan seorang bernama Mihran Aradkas, ya tuanku Syah Alam, patutlah pergi

ke Negeri Rainun membawa surat itu." Maka Raja Tulela Syah menyuruh menyurat, demikian bunyinya. Pertama menyebut nama Allah taala, kemudian maka mengatakan, "Ini surat daripada paduka ayahanda Raja Tulela Syah datang kepada paduka anakanda Indraputra yang gagah lagi perkasya dan bijaksana. Adapun jikalau ada kasih paduka anakanda akan ayahanda, hendaklah kiranya anakanda datang bermain bercemar-cemar kaki ke negeri ayahanda karena ayahanda sangat hendak bertemu dengan anakanda." Setelah sudah surat itu disurat maka diberikan baginda surat itu kepada Indra Jailani dan Mihran Aradkas membawanya. Maka anak raja kedua itu menyembah Raja Tulela Syah lalu ia berjalan ke Negeri Rainun. Setelah berapa hari ia berjalan maka sampailah ke Negeri Rainun. Setelah didengar Raja Gohar Hinis dan Indraputra maka disuruh baginda anak raja mambang kedua pergi mengelu-ngelukan Indra Jailani dua bersaudara. Maka Raja Gohar Hinis dan Indraputra pun keluar diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian. Bermula maka anak raja mambang kedua pun bertemulah dengan Indra Jailani dan Mihran Aradkas. Maka kata mambang kedua itu, "Hai saudaraku, segerahlahlah masuk ke dalam karena baginda ada menanti di balairung." Maka keempat anak raja-raja itu pun berjalan masuk ke balairung. Setelah datang ke balairung maka anak raja kedua itu pun menyembah Indraputra dan Raja Gohar Hinis. Maka disuruh kedua baginda anak raja-raja itu duduk di atas kursi yang keemasan. Maka surat daripada Raja Tulela Syah itu pun diunjukkannya kepada Indraputra maka segera disambut Indraputra lalu dibukanya, dilihatnya surat itu daripada bahasa indra maka dibaca Indraputra seraya tersenyum. Setelah sudah dibacanya maka kata Indraputra kepada Indra Jailani dua bersaudara, "Hai saudaraku kedua, apalah kehendak baginda itu menyuruh memanggil hamba." Maka sahut Indra Jailani dan Mihran Aradkas seraya menyembah, maka dikatakannyalah peri hikayat Gur Akas itu berapa tipu daya Raja Tulela Syah hendak membunuh Gur Akas itu tiada juga dapat. Maka heranlahlah Indraputra dengan segala raja-raja itu mendengar ceritera Indra Jailani dan Mihran Aradkas itu. Maka Indraputra menyuruh berlengkap segala raja-raja itu dengan segala bala tenteranya akan berjalan ke Negeri Samantabranta. Maka Indra Jailani dan Mihran Aradkas disuruh Indraputra kembali dahulu ke Negeri Samantabranta. Maka kedua anak [raja] itu menyembah kepada Raja Gohar Hinis dan Indraputra lalu ia berjalan kembali ke Negeri Samantabranta. Sebermula maka Indraputra pun bermohonlah kepada Raja Gohar Hinis seraya berkata, "Ya tuanku Syah Alam, paduka anakanda patik bawa sama-sama, karena patik hendak lalu pergi kepada Berma Sakti, tiada lagi patik kembali ke negeri ini." Maka titah Raja Gohar Hinis kepada Indraputra, "Baiklah, mana kehendak anakanda ayahanda turutkan tiada ayahanda lalui, tetapi betapa peri anakanda membawa adinda itu berjalan jauh." Maka dikeluarkan Indraputra cembul mutia itu ditunjukkannya kepada Raja Gohar Hinis. Maka dilihat Raja Gohar Hinis dalam cembul mutia itu luasnya seperti sebuah maligai. Maka Raja Gohar Hinis pun heran melihat cembul itu. Maka tuan putri Tulela Maduratna pun bermohonlah

kepada ayahanda baginda dan kepada bunda lalu menyembah masuk ke dalam cembul mutia itu dengan segala dayang-dayang dan inang pengasuhnya. Maka Raja Gohar Hinis menyuruhkan empat puluh raja-raja dan seribu hulubalang, beberapa rakyat, gajah dan kuda, senjata, dan seorang raja besar bernama Raja Gurantar Syah mengiringkan Indraputra. Maka bermohonlah Indraputra kepada Raja Gohar Hinis seraya menyembah. Maka Raja Gohar Hinis memeluk mencium Indraputra seraya bertaruhkannya putri Tulela Maduratna kepada Indraputra. Setelah itu maka Indraputra pun berjalanlah ke Negeri Samantabranta diiringkan segala raja-raja, beberapa gajah dan kuda, syahdan beberapa bala tentera. Maka sampailah kepada suatu tempat antara tiga hari jauhnya daripada Negeri Samantabranta. Maka terkhabarlah kepada Raja Tulela Syah mengatakan bahwa Indraputra telah datanglah. Maka Raja Tulela Syah pun menyuruh mengias balairung dan menyuruh membaiki segala jalan dan lorong, lebuh, pekan, dan menyuruh mengimpunkankan segala menteri dan hulubalang dengan segala bala tenteranya sekalian dan menyuruh berbuat khaimah akan segala raja-raja dan Indraputra. Maka Raja Tulela Syah dan menterinya dan segala hulubalang dan rakyat sekalian keluar pada suatu padang mengelu-ngelukan Indraputra dengan segala raja-raja itu. Maka Raja Tulela Syah pun naik ke atas suatu bangun-bangunan yang tinggi dengan Indra Jailani. Maka perdana menteri dan Mihran Aradkas lalu berjalan mengelu-ngelukan Indraputra dengan segala raja-raja itu. Hatta maka kedengaranlah bunyi-bunyian Indraputra terlalu azmat sekali, bunyinya gemuruh. Hatta maka kelihatanlah panji-panji beledu emas empat puluh, syahdan berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya. Di bawah panji-panji itulah Raja Gurantar Syah mengendaraii kuda sembrani dan mengenakan tarkas daripada lazuardi, mengkaitkan busurnya dan menyandang pedangnya pada bahunya yang berat seribu miskal itu dan sejengkal lebar mata pedangnya dan suatu pendahan dipermain-mainnya. Maka ia pun datanglah diiringkan segala hulubalangnya dan rakyatnya sekalian dengan segala bunyi-bunyian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah yang bernama Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Ya tuanku, bukannya ini Indraputra, inilah yang bernama Gurantar Syah." Maka diceriterakan halnya tatkala ditangkap Indraputra berperang di padang Belanta Ajaib disuruhkannya Raja Gohar Hinis. Maka Raja Tulela Syah pun heran mendengarkan peri hikmat gagah perkasya Indraputra itu. Maka kelihatan pula seratus empat puluh panji-panji hatifah yang keemasan dan terkembanglah payung-payung keemasan yang indah-indah. Di bawah payung itulah anak raja mambang kedua mengendaraii kuda sembrani, syahdan mengenakan tarkas manikam yang indah-indah dan suatu busur disangkutkannya pada bahunya dan sebilah pedang yang amat tajam persandangnya dan suatu tombak, batangnya ditebu-tebu dengan emas dipegangnya. Maka anak raja mambang kedua pun datanglah diiringkan segala hulubalang dan rakyat sekalian dengan bunyi-bunyian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inilah Indraputra?"

Maka sembah Indra Jailani, "Inilah yang bernama anak raja mambang kedua yang di Tasik Bahrul Ajaib." Maka diceriterakannya segala peri hal-ihwal Indraputra dengan anak raja mambang kedua itu, maka Raja Tulela Syah pun heran mendengar peri sakti Indraputra itu. Hatta maka kelihatan pula dua ratus empat puluh panji-panji dewangga beremas dan terkembanglah dua puluh payung kerajaan yang beremas gemerlapan rumbai-rumbai mutianya dan gemerencing gegetarnya. Di bawah payung itulah (anak) Raja Puspa Pandai dengan anaknya Dinar Pandai naik gajah meta mengenakan tarkas daripada emas dan busurnya ditebu-tebu dengan emas ditatah dengan permata dan sebilah pedang yang mahatajam dipersandangnya dan suatu dipermain-mainnya dengan tangannya. Maka Raja Puspa Pandai dengan anaknya pun datanglah, maka kelihatan segala rakyat Raja Puspa Pandai, kera, beruk dan lutung, ga[ng]gang siamang, terlalu riuh bunyinya. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Bukan tuanku, inilah yang bernama Raja Puspa Pandai dua beranak." Maka diceriterakan oleh Indra Jailani segala hal-ihwal itu, tatkala Indraputra sampai ke padang Anta Berahi bertemu dengan putri Candralela Nurlela. Maka Raja Tulela Syah pun heran akan peri hikmat sakti Indraputra itu. Maka kelihatan pula dua ratus dua puluh panji-panji gelam beremas, syahdan berkibaran rumbai-rumbai mutianya dan terkembanglah dua puluh dua payung kerajaan yang keemasan berbagai-bagai warnanya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya. Di bawah payung itulah anak Raja Tahir Johan Syah yang bernama Nabat Rum Syah mengendaraii kuda sembrani, syahdan mengenakan tarkas daripada lazuardi dan suatu busur bertebu-tebukan emas disangkutkannya pada bahunya dan sebilah pedang dipersandangnya dan suatu pendahan yang indah-indah di pinggangnya. Maka Nabat Rum Syah pun datanglah diiringkan segala hulubalangnya dan rakyatnya sekalian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra(putra) [Jailani], inikah Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Bukan tuanku, inilah raja jin Islam yang bernama Nabat Rum Syah, ipar kepada Indraputra." Maka diceriterakan oleh Indra Jailani segala peri hal-ihwalnya tatkala Indraputra bertemu dengan dianya dan peri Indraputra membunuh jin yang bernama Tamar Boga itu, semuanya dihikayatkannya. Maka Raja Tulela Syah pun heran mendengar gagah perkasya Indraputra. Hatta maka kelihatan pula tiga ratus panji-panji, kemik beremas, syahdan berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan terkembanglah payung kerajaan seratus empat puluh bagai-bagai rupanya, syahdan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya. Di bawah payung itulah Raja Dewa Lela Mengerna mengendaraii satwa [a]nggara dan mengenakan tarkas daripada mutia dan suatu busur keemasan bertatahkan ratna mutu manikam disangkutkannya pada bahunya dan sebilah pedang yang mahatajam dipersandangnya dari kirinya dan suatu tombak, batangnya daripada emas bertebu-tebu tembaga suasa, dipegangnya dengan

tangannya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun datanglah diiringkan segala hulubalangnya dan bala tentera sekalian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Bukan tuanku, inilah Raja Dewa Lela Mengerna namanya, menantu Raja Mujtadar Syah, sahabat Indraputra." Maka diceriterakan segala peri hal-ihwalnya tatkala Indraputra bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari di Tasik Samundra itu, maka Raja Tulela Syah pun heran mendengar gagah perkasya bijaksana Indraputra itu. Hatta maka kelihatan pula beberapa panji-panji beremas dan berapa payung kerajaan terkembang, maka kata Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Bukan tuanku, inilah segala anak raja-raja jin dan mambang pada Tasik Bahrul Asyik yang datang itu, diiringkan oleh segala hulubalangnya dan rakyatnya sekalian dengan bunyi-bunyian, mengendaraii kuda sembrani, masing-masing datang dengan perhiasannya." Maka diceriterakan Indra Jailani segala hal-ihwalnya, maka Raja Tulela Syah pun heran mendengar sakti perkasa Indraputra itu. Hatta maka kelihatan pula panji-panji seratus enam puluh berbagai-bagai rupanya dan warnanya, sekalian keemasan berumbai-rumbaikan mutiara, berpasuk-pasukan dan dulapan puluh payung kerajaan beremas terkembang. Di bawah payung itulah segala anak raja-raja yang di padang Anta Berahi kurang esa empat puluh itu masing-masing mengendaraii kuda sembrani dan sekalian mengenakan tarkas daripada emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam, berumbai-rumbaikan mutiara dan mengikatkan busurnya pada pelana kudanya, syahdan pedangnya disandangnya pada bahunya dan tombaknya dipermain-mainnya, diiringkan oleh segala hulubalangnya dan segala bala tenteranya sekalian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah Indraputra?" Maka sembah Indra Jailani, "Ya tuanku, bukan ini Indraputra, inilah segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh di padang Anta Berahi itu, maka dihidupkan oleh Indraputra itu dengan kuasa Allah subhanahu wa taala." Maka diceriterakan oleh Indra Jailani segala peri hal-ihwal Indraputra itu tatkala menghidupkan segala anak raja-raja itu. Maka Raja Tulela Syah pun heran mendengar gagah perkasya dan sakti Indraputra itu. Hatta maka kelihatanlah berapa ratus panji-panji dewangga beremas dan terkembanglah payung seratus empat puluh bagai-bagai rupanya dan warnanya. Maka kelihatanlah Malik Adhab mengendaraii kuda sembrani hitam diiringkan oleh segala rakyat dewa. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, inikah Indraputra? Maka sembah Indra Jailani, "Bukan tuanku, inilah bernama Malik Adhab, diambil bapa oleh Indraputra." Hatta maka kelihatan pula seratus enam puluh tombak beremas, syahdan maka kelihatan cogan alamat kerajaan terdiri dan empat puluh anak raja-raja yang memakai kulah yang keemasan dan pedangnya serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka terkembanglah

payung keemasan empat puluh dan empat buah payung mutia dikarang, batangnya daripada emas dan kemuncaknya daripada kemala bercahaya-cahaya gilang-gemilang, syahdan gemerlapan rumbai-rumbai mutianya dan bunyinya terlalu amat merdu seperti bunyi-bunyian. Maka Indraputra naik kuda hijau yang bernama Janggi Gardan berpelana emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra menyandang pedang yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, syahdan dari kanan Indraputra Digar Alam dan Digar Kilat dan dari kiri Indraputra Digar Akas dan Digar Seru. Maka segala jin hulubalang kemala hikmat itu mengiringkan dari belakang Indraputra naik kuda sembrani dengan segala bala tentera sekalian masing-masing mustaib dengan alat senjata perang, memakai zirah besi khurasani dan memakai ketopong besi. Maka Indraputra pun datanglah dengan segala bunyi-bunyian terlalu azmat bunyinya, diiringkan oleh segala bala tentera sekalian. Maka titah Raja Tulela Syah, "Hai Indra Jailani, bunyi apakah ini yang kedengaran karena tiada penah aku mendengar bunyi yang demikian ini." Maka sembah Indra Jailani, "Inilah tuanku, bunyi-bunyian Indraputra." Maka kelihatanlah rupa Indraputra seperti bulan purnama, gilang-gemilang cahaya mukanya, maka Raja Tulela Syah pun heran melihat rupa Indraputra itu. Hatta maka segala raja-raja itu pun turun dari atas kudanya memberi hormat kepada Indraputra. Maka Raja Tulela Syah pun heran melihat kebesaran Indraputra itu, maka Raja Tulela Syah pun segerah turun dari atas bangun-bangunan datang mengelu-ngelukan Indraputra. Setelah berpandanganlah dengan Raja Tulela Syah maka ia pun turun di atas kudanya, datang menyembah Raja Tulela Syah. Maka Raja Tulela Syah memeluk mencium Indraputra, maka dibawanya masuk lalu ke balairung dengan segala raja-raja itu dengan menteri dan hulubalang sekalian. Maka Indraputra didudukkan Raja Tulela Syah di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam dan segala raja-raja itu didudukkannya satu seorang kursi yang keemasan. Setelah itu maka sirih pada jorong emas dan jorong perak dan jorong tembaga itu pun dibawa oranglah ke hadapan majelis. Setelah sudah makan sirih maka hidangan nasi pun diangkat oranglah. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang, maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Syahdan segala bunyi-bunyian berbunyilah daripada rebab, kecapi, dandi, muri, dan kopak, ceracap, medali, dan negara, bagai-bagai bunyinya. Setelah berhenti daripada makan minum maka sembah Indra Jailani dan Mihran Aradkas, "Ya tuanku Syah Alam, segala rakyat duli Syah Alam yang di luar kota itu betapa halnya jikalau datang Gur Akas pada malam ini, karena hari sudah hampir malam." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata, "Hai saudaraku, bahwa Tuhan kita juga yang memeliharakan segala hambaNyanya." Setelah hari malam maka Indraputra menyuruh Digar Akas mem[bu]buh suatu hikmat pada padang itu. Maka dengan seketika itu juga menjadi sebuah negeri dengan suatu kota daripada tembaga yang merah, maka segala rakyatnya semuanya dimasukkannya ke dalam kotanya. Hatta maka kata Raja Tulela Syah kepada Indraputra, "Hai anakku, bahwa hamba sangat harap akan tuan hamba yang menolong hamba membuangkan

Gur Akas itu. Maka kata Indraputra, "Hai ayahanda, jika dengan tolongan Tuhan Allah taala, hambalah yang membuangkan Gur Akas itu." Hatta setelah keesokan harinya maka Raja Tulela Syah membawa Indraputra dengan segala raja-raja itu pada pintu guha itu. Maka Indraputra dengan segala raja-raja itu heran melihat guha itu, syahdan terlalu gelap dalamnya. Maka kata Indraputra, "Ya tuanku, hamba hendak masuk ke dalam guha ini." Maka kata Raja Tulela Syah, "Hai anakku, betapa peri tuan hamba masuk ke dalam guha ini karena terlalu amat gelap dalamnya." Maka kata Indraputra, "Lihat kuasa Allah taala." Maka dibuka oleh Indraputra cembul tempat komar kemala yang daripada ular mamdud itu dikeluarkannya, maka jadi teranglah guha itu daripada cahaya kemala ular itu. Maka Indraputra pun mengunus pedangnya lalu berjalan masuk ke dalam guha itu diiringkan segala raja-raja, Raja Tulela Syah pun berjalan dari belakang diiringkan segala hulubalangnya perlahan-lahan. Maka Indraputra pun datanglah pada tempat Gur Akas itu, maka dilihat Indraputra Gur Akas itu lagi tidur, bunyi nafasnya berkeruh seperti guruh bunyinya. Maka kata Indraputra itu kepada segala raja-raja itu, "Hai saudaraku sekalian, berhentilah kamu sekalian di sini, karena Gur Akas itu lagi tidur." Maka kata segala raja-raja, "Berhenti!" Maka Indraputra pun hampirlah kepada Gur Akas itu serta menyebut nama Allah taala maka Indraputra berseru-seru, demikian katanya, "Hai Gur Akas, bangunlah engkau supaya kutanggalkan kepalamu dari badanmu!" Maka Gur Akas pun berbalik, maka segala anak raja-raja itu terkejut undur dahsyat, masing-masing memegang senjatanya. Maka tiga kali Indraputra bersuara memanggil Gur Akas itu, maka Gur Akas pun jaga daripada tidurnya. Maka dilihatnya ada manusyia berdiri dari sisinya. Maka Gur Akas pun hendak bangun, maka segerah diparang Indraputra batang leher Gur Akas terpelanting. Maka Indraputra pun bertempik, maka Gur Akas pun mati lalu terguling di tanah. Maka Indraputra berseru-seru ini memanggil segala anak raja-raja itu, katanya, "Hai saudaraku sekalian, marilah tuan hamba sekalian kembali karena bota Gur Akas itu sudah mati!" Maka segala raja-raja yang muda-muda dan Raja Tulela Syah pun datang melihat bangkai Gur Akas itu bertimbun seperti suatu bukit yang kecil rupanya, maka segala raja-raja itu heran melihat berani, gagah perkasya Indraputra. Maka Raja Tulela Syah pun memeluk mencium Indraputra dengan suka hatinya, maka dikecupinya tangan Indraputra, syahdan beberapa pula dipuji Raja Tulela Syah akan Indraputra. Setelah itu maka Raja Tulela Syah menyuruhkan segala menteri dan hulubalang mengeluarkan bangkai Gur Akas itu dari dalam guha itu. Maka Raja Tulela Syah dan Indraputra dengan segala raja-raja itu berjalan dalam guha itu, maka dilihat Indraputra dalam guha itu bagai-bagai. Maka Indraputra bertemu dengan suatu perbendaharanan Raja Bahrum Tabut. Maka dilihat oleh Indraputra pintunya daripada tembaga suasa dan perak terlalu indah-indah perbuatannya, syahdan maka pada segala pintu tersurat nama raksyasya [ne]nek pada Raja Bahrum Tabut. Maka Raja Tulela Syah dan segala raja-raja itu

pun heran melihat perbendaharanan itu. Maka kata segala raja-raja itu, "Betapa peri kita sekalian dapat masuk, karena pintunya terkunci." Maka Indraputra pun tersenyum lalu dipatahkannya kunci itu. Maka Indraputra pun masuk ke dalam perbendaharanan itu dengan segala anak raja-raja itu, daripada suatu bilik pada suatu bilik, dibukanya beberapa perkakas kerajaan daripada emas dan perak dan tembaga suasa, lain daripada itu beberapa permata dan ratna mutu manikam dan beberapa pakaian yang indah-indah dan permata benda yang garib-garibgharib. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu pun heran melihat kekayaan Allah taala. Maka Indraputra pun masuk kepada suatu bilik, maka dilihatnya beberapa hamparan daripada suf sahlat ainulbanat dan beledu dewangga, khatifah bagai-bagai yang indah-indah; maka Indraputra pun memuji-muji Allah taala. Maka masuk pula Indraputra pada suatu bilik, maka dilihat Indraputra beberapa senjata perang daripada zirah dan ketopong daripada besi khurasani, syahdan khalkahnyanya daripada emas dan perak dan tembaga suasa, dan lain daripada itu beberapa perkakas pakaian gajah dan kuda daripada emas dan perak bertatahkan ratna mutu manikam yang indah-indah. Maka berjalanlah Indraputra dari sana dengan Raja Tulela Syah dengan segala anak raja-raja itu sebulan lamanya berkeliling dalam guha itu melihat kekayaan Allah taala yang indah-indah. Adapun banyaknya bilik itu empat puluh. Hatta dari sana maka Indraputra dan segala raja-raja itu datanglah kepada antara sebelah bukit maka bertemu dengan pagar jala-jala daripada tembaga suasa dan pintunya daripada emas dan butul pintu itu seekor gajah ditaruhnya dan di atas pintu itu dua biji kemala ditaruhnya. Maka Indraputra dengan segala raja-raja itu semuanya heran melihat segala perbuatan itu. Maka Indraputra lalu masuk dalam suatu taman; adapun luasnya taman itu seyojana mata menentang, syahdan dalam taman itu beberapa jambangan daripada emas dan perak dan kaca. Syahdan beberapa kolam yang ditembok dengan kaca putih dan kaca kuning, ada yang ditembok dengan kaca hijau; syahdan pada tepi kolam itu beberapa pohon kayu yang indah-indah, ada batangnya daripada emas, ada daripada perak, dan ada daripada tembaga suasa terlalu indah-indah dan berapa puluh pohon anggur dan khurma dan pohon delima. Sekalian pohon kayu itu ditembok dengan permata nilam pualam. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu turun mandi ke dalam kolam itu bermain dan bersembur-semburan, setelah sudah mandi maka makan segala buah-buahan. Maka Indraputra pun naik ke atas maligai emas tujuh pangkat bertatahkan ratna mutu manikam, berumbai-rumbaikan mutiara. Maka dilihat Indraputra ada suatu luh emas, maka disurat dengan lazuardi. Maka dibaca oleh Indraputra surat itu daripada bahasa jin akan peri kematian Raja Bahrum Tabut. Setelah sudah dibacanya maka ditaruhnya pada tempatnya, maka Indraputra pun turun dari atas maligai itu lalu berjalan ke sebelah maligai itu, maka bertemu dengan suatu kolam. Maka Indraputra pun turun mandi pada kolam itu. Maka dilihat oleh Indraputra kolam itu terus lalu ke laut. Maka diikut oleh Indraputra lalu ke laut, maka ia bertemu dengan seorang orang laki-laki. Maka ujar Indraputra akan orang itu, "Siapa engkau?" Maka sahutnya, "Akulah yang bernama Darma Gangga yang mengawali

laut ini." Maka ujar Darma Gangga, "Hai anakku, orang muda dari mana anakku datang kemari? Maka sahut Indraputra, "Hai bapaku, hambalah yang bernama Indraputra [anak] Maharaja Bikrama Bispa. Maka ujar Darma Gangga, "Hai anakku Indraputra, sesungguh anakku anak Maharaja Bikrama Bispa maka sampai kemari. Jika lain daripada anakku, tiada dapat datang kemari." Maka ujar Indraputra, "Seribu syukurlah hamba bertemu dengan tuan hamba. Adapun jika ada kasih tuan hamba akan hamba, hendaklah barang suatu tanda daripada kesaktian tuan hamba akan hamba tanda hamba bertemu dengan tuanku." Arkian maka Darma Gangga pun memberi Indraputra suatu panah kesaktian. Maka ujar Darma Gangga, "Hai anakku Indraputra, adapun barang kehendak anakku citalah pada panah itu." Maka diambil oleh Indraputra panah itu dengan sukacitanya. Setelah itu maka Indraputra bermohonlah kepada Darma Gangga. Bermula maka tersebutlah perkataan segala anak raja-raja yang bersama-sama dengan Indraputra itu, maka dilihatnya Indraputra tiada kelihatan, maka segala raja-raja itu semuanya mencari Indraputra berkeliling dengan dukacitanya. Maka seketika lagi Indraputra pun bertemu dengan segala raja-raja itu, maka ditunjukkan Indraputra panah yang daripada Darma Gangga itu kepada segala raja-raja itu. Maka diceriterakan oleh Indraputra perihal ia bertemu dengan Darma Gangga itu, maka Raja Tulela Syah dengan segala raja-raja itu sekaliannya heran. Setelah demikian maka Indraputra dengan segala raja-raja itu semuanya keluar dari dalam guha itu lalu masuk ke dalam kota lalu ke balairung. Maka diangkat oranglah hidangan nasi, maka Indraputra pun makanlah dengan segala raja-raja itu. Setelah sudah makan, maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian terlalu ramai tiga hari tiga malam bersuka-sukaan. Maka Raja Tulela Syah pun memberi persalin akan Indraputra dengan segala raja-raja itu dengan pakaian kerajaan serba keemasan yang indah-indah itu. Maka kata Raja Tulela Syah kepada Indraputra, "Hai anakku Indraputra, adapun kasih anakku kepada ayahanda terlalu banyak, tiada terbayar oleh ayahanda. Sepenuhnyalah kasih anakanda itu kepada ayahanda dan ada suatu hajat hamba hendak hamba katakan kepada anakanda. Jikalau anakanda mengasih ayahanda, ada seorang anak hamba perempuan bernama putri Mengindra Seri Bulan itu ayahanda hendak serahkan kepada anakanda, karena tiada lain pembalas ayahanda akan kasih anakanda itu." Maka Indraputra pun menyahut, "Dengan sukacitaku, apatah lagi salahnya jika tuanku sedia berhambakan patik orang hina ini, seribu kali patik junjung di atas batu kepala patik." Maka Raja Tulela Syah pun sukacita mendengar kata Indraputra itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun tersenyum seraya memandang kepada Nabat Rum Syah. Maka Nabat Rum Syah tersenyum seraya memandang kepada anak raja mambang kedua. Maka anak raja mambang kedua pun menyembah lalu bangkit menari. Maka Indra Jailani pun

turut bangkit menari. Maka jadi ramailah orang-orang menari berungkap-ungkapan di balairung itu. Setelah demikian maka Raja Tulela Syah pun menyuruh mengias istana dan pengadapanan daripada suf sahlat ainulbanat, tirai dewangga, dan langit-langit, syahdan beberapa pula pawai yang indah-indah. Maka segala bunyi-bunyian pun berbunyilah, gendang, gong, serunai, nafiri, rebab, kecapi, dandi, muri, bangsi, medali, negara, terlalu azmat bunyinya. Maka Indraputra pun mecita kemala hikmat itu daripada Dewi Lakpurba. Maka jadilah sebuah negeri, kotanya, dan maligainyanya, lengkap dengan segala perhiasan, syahdan dengan segala bunyi-bunyian. Adapun dalam negeri itu ada tujuh buah balai daripada khalambak, dan ada balai gaharu, dan ada balai gading, ada balai daripada kayu cendana, dan ada balai daripada cendana janggi, syahdan ada balai daripada pualam dan balai kaca, terlalu indah-indah perbuatan balai itu. Syahdan ada balai itu tempat orang main catur dan ada balai tempat orang bermain pasung, ada tempat orang bermain jogar, ada tempat orang bernyanyi, dan ada tempat orang memalu bunyi-bunyian dan ada tempat orang menari berungkap-ungkapan, ada balai tempat orang bermain lembing dan pedang. Adapun pada balai yang pertama tempat segala anak raja-raja yang muda-muda bermain, dan pada balai yang kedua segala anak menteri bermain, dan pada balai yang ketiga segala anak hulubalang bermain senjata, dan pada balai yang keempat segala anak orang kaya-kaya menari dan bertepuk, pada balai yang kelima segala anak abantara bermain memalu bunyi-bunyian, dan pada balai yang keenam segala anak biduanda bermain dan pelbagai permainan, pada balai yang ketujuh orang berbuat perarakan Indraputra dua belas pangkat. Adapun rupanya perarakan itu seperti rupa satwa anggara, tubuhnya daripada lazuardi, matanya daripada kemala, dan lidahnya daripada besi khurasani, kukunya daripada nilam, dan makotanyanya daripada manikam yang merah memancar-mancar cahayanya, syahdan ekornya daripada mutia. Setelah sudah perarakan itu maka diperbuatnya pula empat puluh perarakan yang kecil-kecil akan mengiringkan perarakan yang besar itu, terlalu indah-indah perbuatannya. Setelah genaplah segala perarakan itu maka orang yang makan minum itu pun berhentilah. Maka tuan putri Mengindra Seri Bulan dihias oranglah dengan pakaian yang keemasan, bergelang dan bercincin berponto[h] naga ditatah dengan permata, dan bermalai intan dikarang, gemerlapan seperti bintang. Setelah sudah tuan putri Mengindra Seri Bulan dihias orang maka didudukkan di atas puspa pemajangan, maka rupa tuan putri Mengindra Seri Bulan gilang-gemilang, kilau-kilauan, tiada dapat ditentang nyata. Syahdan empat puluh orang anak dara-dara memegang kipas yang keemasan duduk di kiri kanan tuan putri dan empat puluh anak raja-raja duduk mengadap tuan putri dan empat puluh anak petuanan duduk di belakang tuan putri memakai serba yang keemasan. Setelah sudah tuan putri Mengindra Seri Bulan dihias, maka Indraputra berhiaslah memakai pakaian serba keemasan, syahdan berponto[h] naga, m.m.n.r y.m.t dan berikat pinggang dewangga yang keemasan berumbai-rumbaikan manikam, bersawit sandang dan malikan intan diselang-selang dengan manikam dikarang, syahdan bersunting emas

bepermata puadai. Setelah sudah lengkap maka Indraputra pun dinai[k]kankan orang ke atas perarakan itu. Pada pangkat yang kedua anak raja-raja duduk memegang kipas, dan pada pangkat yang ketiga anak menteri duduk memangku puan yang keemasan, dan pada pangkat yang keempat segala anak petuanan memangku kendi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang kelima anak hulubalang memangku kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang keenam anak abantara memangku pedang yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang ketujuh anak orang kaya-kaya menyelampai wali kuning yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang kedulapan segala anak ceteria memangku dian yang keemasan. Pada pangkat yang kesembilan segala orang muda-muda memegang perisyai yang keemasan bertatahkan ratna, dan pada pangkat yang kesepuluh segala anak orang besar-besar memangku kumba mayang yang keemasan berumbai-rumbaikan mutia. Pada pangkat yang kesebelas segala orang muda-muda masing-masing dengan jawatannya dan perhiasannya. Bermula maka segala raja-raja itu masing-masing mengendaraii kuda sembrani seekor seorang dan berpelana emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam. Maka terkembanglah payung kerajaan segala raja-raja itu berbagai-bagai rupanya. Syahdan maka terdirilah panji-panji yang keemasan berumbai-rumbaikan mutia. Maka terdirilah cogan alamat kerajaan. Syahdan maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, gendang, gong, serunai, nafiri, negara, dandi, muri, rebab, kecapi, bangsi, serdam, kopak, ceracap, terlalu ramai bunyinya. Maka Indraputra pun naiklah ke atas perarakan itu, maka perarakan itu berkisar sendirinya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah memacu kudanya, mengatur segala pawai. Seketika dipacunya kudanya mengatur segala tunggul dan panji-panji, seketika dipancunyanya kudanya mengatur segala raja-raja. Maka Indraputra pun diarak oleh oranglah ke maligai tuan putri Mengindra Seri Bulan, diiringkan oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang. Ada yang naik kuda sembrani, ada yang naik singa terbang, ada yang naik naga melayang, ada yang naik burak melayang, ada yang naik gerda, masing-masing dengan kenaikannya. Maka Raja Dewa Lela Mengerna mengeluarkan hikmatnya memanah ke udara, maka turunlah hujan air mawar. Maka Nabat Rum Syah memanah ke udara, maka turunlah bunga rampai di udara berhamburan seperti hujan. Maka segala orang yang mengiringkan Indraputra itu berebut memungut itu. Maka segala orang yang mengiringkan Indraputra itu semuanya basah pakaiannya oleh hujan air mawar. Maka anak raja mambang kedua memanah ke udara, maka turun angin yang lemah lembut mengeringkan segala pakaian raja-raja dan pakaian orang banyak itu. Maka Indraputra pun sampailah ke maligai tuan putri Mengindra Seri Bulan. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun mengepilkan kudanya naik ke atas perarakan seraya memimpin tangan Indraputra, Raja Dewa Lela Mengerna dari kanan dan Nabat Rum Syah dari kiri. Maka dipimpinnya tangan Indraputra naik ke maligai tuan putri Mengindra Seri Bulan. Maka Indraputra didudukkan di atas puspa pemajangan di sisi tuan putri Mengindra Seri Bulan. Maka disiram dengan air mawar dan diperciki dengan narwastu. Maka terlalulah amat baik rupanya, bercahaya-cahaya, gilang-gemilang,

kilau-kilauan seperti bulan purnama empat belas hari rupa putri Mengindra Seri Bulan dan rupa Indraputra seperti matahari. Maka tiadalah lepas daripada mata orang banyak. Maka Indraputra pun memimpin tangan tuan putri Mengindra Seri Bulan masuk ke dalam peraduan. Maka tirai kelambu dewangga yang keemasan pun dilabuhkan oranglah. Maka tuan putri Mengindra Seri Bulan dan Indraputra bersukaan dalam tirai kelambu yang keemasan tujuh lapis. Maka hidangan pun diangkat oranglah ke hadapan majelis. Maka Raja Tulela Syah pun berjamu segala raja-raja itu makan, masing-masing dengan hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diperedarkan oranglah. Maka segala bunyi-bunyian pun berbunyilah terlalu ramai. Maka biduan yang baik suaranya pun bernyanyilah. Maka segala anak raja-raja dan anak menteri hulubalang sekalian bangkit menari, masing-masing dengan lakunya tujuh hari tujuh malam makan minum bersuka-sukaan. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah dengan segala anak raja-raja itu berbuat pancapersada tujuh belas pangkat, tempat Indraputra dengan tuan putri Mengindra Seri Bulan mandi. Adapun pancapersada itu diperbuatnya daripada khalambak dan gaharu bersendi-sendi dengan gading dan kaca dan beberapa ukir dan keluk dan selimpat. Di atas kemuncak pancapersada itu dibubuhnya suatu kemala yang merah bercahaya-cahaya. Syahdan pancapersada itu diperbuatnya dulapan belas buah kemala digantungnya pada segala penjuru itu. Maka dihamparinya dengan suf sahlat ainulbanat. Syahdan maka terkembanglah payung kerajaan iram-iram yang keemasan berumbai-rumbaikan mutia. Maka segala pawai pun diatur oranglah di atas segala pangkat pancapersada itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pun mengatur segala pawai dan air mandi. Beberapa kumba mayang daripada kaca putih dan kaca biru dan kaca hijau dan kaca kuning; syahdan berbagai-bagai perbuatannya kumba mayang itu terlalu indah-indah. Maka segala langir itu ditaruhnya pada batil manikam dan bedak ditaruhnya pada batil emas. Syahdan maka terkembanglah payung mutia dikarang dulapan buah dan beberapa pawai. Setelah sudah maka diarak oranglah segala pawai itu dengan air mandi dan langir bedak itu dengan bunyi-bunyian terlalu azmat bunyinya. Maka tuan putri Mengindra Seri Bulan dengan Indraputra pun dihias oranglah dengan pakaian yang indah-indah, maka diarak oranglah di atas pancapersada itu. Maka dilabuhkan oranglah tirai kelambu yang keemasan. Raja Tulela Syah dua laki istri pun datang melangiri tuan putri Mengindra Seri Bulan dan Indraputra. Setelah sudah maka Indraputra dan tuan putri Mengindra Seri Bulan dimandikan oleh ayahanda bunda baginda. Maka segala raja-raja dan anak raja-raja dengan segala menteri dan hulubalang dengan segala orang kaya-kaya sekalian mandi bersembur-semburan dengan segala anak dewa-dewa dan mambang terlalu ramai dan riuh seraya bersorak di atas pancapersada itu, terlalu azmat bunyinya. Setelah sudah mandi maka segala raja-raja dan anak raja semuanya bersalin kain yang indah-indah. Setelah sudah maka hidangan pun diangkat oranglah. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian makanlah masing-masing pada hidangannya. Setelah sudah makan minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diperedarkan oranglah. Maka segala biduan

yang baik suaranya pun bernyanyilah. Maka segala anak raja-raja yang muda-muda dan mambang pun bangkitlah menari masing-masing dengan ragamnya tiga hari tiga malam makan minum bersuka-sukaan. Setelah berhentilah daripada makan minum maka masing-masing kembali pada tempatnya. Wa 'llahu a'lam bi 's-sawab. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra pergi ke negeri Raja Bahrum Tabut, dan peri mengatakan tatkala Indraputra mengawinkankan Nabat Rum Syah dengan tuan putri Candralela Nurlela, dan peri mengatakan tatkala Indraputra pergi kepada Berma Sakti. Sebermula maka tersebutlah perkataan Raja Bahrum Tabut, nama negerinya Daharadamusyir. Syahdan akan raja itu terlalu amat besar kerajaannya, beberapa banyak negeri, raja-raja yang takluk kepadanya; dan kota negerinya daripada batu hitam tujuh lapis dan luas paritnya empat puluh depa, diikatnya dengan batu mirah dan seratus enam puluh banyak bangun-bangunannya, syahdan kotanya terlalu tinggi. Sekali peristiwa Raja Bahrum Tabut duduk di atas sehinggasana kerajaan dihadap oleh segala raja-raja dan segala menteri hulubalang, sida-sida, abantara sekalian, maka datang seorang jin kafir lalu duduk menyembah Raja Bahrum Tabut. Maka dikhabarkannya segala peri hal-ihwal Indraputra itu dan peri Indraputra membunuh bota yang bernama Gur Akas itu semuanya dikatakannya; dan peri Indraputra membuka segala perbendaharanan itu semuanya dikatakannya kepada Raja Bahrum Tabut. Bermula setelah Raja Bahrum Tabut mendengar Gur Akas mati itu maka Raja Bahrum Tabut pun amarah seperti api bernyala-nyala; maka titah Raja Bahrum Tabut kepada segala raja-raja dan pada segala menteri dan hulubalang, "Lihatlah oleh kamu sekalian, Indraputra itu menunjukkan laki-lakinya kepada kita maka ia membunuh Gur Akas dan membuka segala perbendaharanan." Maka segala menteri dan hulubalang, raja-raja sekalian pun menyembah dengan takutnya kepada Raja Bahrum Tabut. Arkian maka Raja Bahrum Tabut pun menyuruh menyurat hendak dikirimkan kepada Indraputra, demikian bunyinya, pertama memuji-muji Raja Bahrum Tabut mengatakan, "Bahwa ini surat daripada Raja Bahrum Tabut, raja segala laki-laki yang kepadamu, hai Indraputra! Betapakah besar hatimu maka engkau membunuh Gur Akas dan membuka segala perbendaharanan dan menjala segala tenanamkan. Syahdan jika sungguh engkau laki-laki lagi-lagi berani, nantilah aku di Negeri Samantabranta, aku hendak datang ke sana!" Setelah sudah surat itu disuratkan (itu disurat) maka diberikan kepada seorang jin membawa(h)nyanya surat itu, katanya demikian, "Pergi engkau ke Negeri Samantabranta, bawa suratku ini berikan kepada Indraputra!" Maka jin itu pun menyembah lalu berjalan ke Negeri Samantabranta. Sebermula maka Raja Tulela Syah dan Indraputra pun duduk semayam diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian, musyawarat hendak kembali ke negerinya masing-masing. Hatta maka jin yang membawa surat itu pun datang lalu ia mengunjukkan surat itu kepada Raja Tulela Syah. Setelah dilihat Indraputra

maka ia pun amarah oleh melihat jin itu tiada membilangkan Raja Tulela Syah dan Indraputra itu. Maka disambut oleh Raja Tulela Syah surat itu, maka dilihatnya surat itu daripada bahasa jin. Maka diunjukkan Raja Tulela Syah surat itu kepada Indraputra, maka disambut Indraputra lalu dibacanya. Setelah sudah dibacanya maka Indraputra pun tersenyum seraya memandang kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah seraya berkata, "Hai saudaraku, lihatlah Raja Bahrum Tabut ini. Ia berkirim surat kepada kita dengan kata yang kasar, jadi memberi mudarat kepada dirinya." Maka sahut Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah, "Apatah kita takut melawan Raja Bahrum Tabut itu!" Setelah demikian maka kata Indraputra kepada jin yang membawa surat itu, "Kembalilah engkau kepada rajamu! Katakan, janganlah ia susah datang kemari, nantilah aku datang ke negerinya! Hadir juga ia segala senjata, aku datang dari belakang!" Hatta maka Indraputra pun bangkit dari tempatnya duduk, tiada dilihat orang banyak maka [di]putarkannyakannya kepala jin membawa surat itu jadi ke belakang mukanya jin itu terpaling. Maka segala orang yang melihat semuanya tertawa, maka jadi kemaluanlah jin itu lalu ia kembali ke negerinya mengadap Raja Bahrum Tabut. Maka Raja Bahrum Tabut pun heran melihat muka jin itu ke belakang. Maka jin itu pun menyembah kepada Raja Bahrum Tabut serta menyampaikan kata Indraputra dan kata Raja Tulela Syah. Setelah didengar Raja Bahrum Tabut kata Indraputra itu maka Raja Bahrum Tabut pun amarah lalu menyuruh mengimpunkankan raja-raja dan menteri hulubalang dengan rakyat sekalian dan gajah, kuda, syahdan menyuruh membaiki kota dan parit pun disuruh penuhi dengan air, mustaib dengan pelbagai senjata. Sebermula maka tersebutlah perkataan Indraputra menyuruh Digar Kilat mengambil luh lazuardi yang tersurat dalamnya kematian Raja Bahrum Tabut. Maka Digar Kilat pun pergilah dengan seketika itu juga masuk ke dalam guha itu maka ia lalu ke taman itu naik ke atas maligai itu. Maka diambilnya luh lazuardi itu lalu dibawanya kepada Indraputra, maka disambut Indraputra dengan sukacitanya. Segala raja-raja dan menteri hulubalang dan rakyat sekalian disuruhnya berlengkap segala senjatanya. Setelah sudah lengkap maka Indraputra pun datang kepada Raja Tulela Syah seraya berkata, "Ya tuanku Syah Alam, jikalau ada karunia tuhankuku akan patik, paduka anakda putri Mengindra Seri Bulan hendak patik bawa sama-sama pergi ke negeri Raja Bahrum Tabut." Maka ujar Raja Tulela Syah, "Hai anakku, yang putri Mengindra Seri Bulan itu telah ayahanda serahkan kepada anakda, mana bicara anakda akan adinda itu tiada ayahanda salah lagi." Maka Indraputra pun mohonlah kepada Raja Tulela Syah, maka baginda pun memeluk mencium Indraputra. Hatta maka tuan putri Mengindra Seri Bulan pun datang menyembah ayahanda bunda baginda. Maka baginda laki istri pun memeluk mencium anakda putri Mengindra Seri Bulan. Setelah sudah maka tuan putri Mengindra Seri Bulan bermohonlah kepada ayahanda bunda baginda seraya bertangis-tangisan. Maka tuan putri Mengindra Seri Bulan pun datang mendapatkan

Indraputra lalu berjalan. Maka tuan putri Mengindra Seri Bulan dimasukkan Indraputra ke dalam cembul mutia itu. Maka terlalu ramai segala bunyi-bunyian, syahdan tunggul dan panji-panji terlalu banyak dan payung segala raja-raja itu, beratus gajah dan kuda beberapa laksa, dan rakyat tiada tepermanaii banyaknya. Arkian setelah tiga hari berjalan maka rakyat Raja Gurantar Syah pun bertemulah dengan rakyat Raja Bahrum Tabut lalu berperang. Setelah seketika perang maka patahlah Perang Raja Gurantar Syah karena terlalu banyak rakyat Raja Bahrum Tabut datang menempuh. Setelah dilihat Raja Gurantar Syah rakyatnya undur itu maka Raja Gurantar Syah mengunus pedangnya lalu masuk perang, menyerbukan dalam tentera Raja (itu) Bahrum Tabut. Maka segala rakyat Raja Bahrum Tabut pun patahlah perangnya lalu undur. Maka segala hulubalang-hulubalang Raja Bahrum Tabut mengunus pedangnya lalu masuk perang menempuh Raja Gurantar Syah. Hatta maka anak raja mambang kedua pun datang lalu masuk perang dengan segala rakyatnya. Seketika lagi maka Raja Puspa Pandai dengan anaknya Dinar Pandai pun datang lalu masuk perang dengan segala rakyatnya. Setelah itu maka Indra Jailani dua bersaudara pun datanglah lalu masuk perang. Seketika maka segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu pun datang lalu masuk perang. Setelah itu maka datang pula segala raja-raja jin dan mambang yang di Tasik Bahrul Asyik dengan segala rakyatnya lalu masuk perang. Setelah itu maka datang pula Nabat Rum Syah lalu masuk perang dengan segala rakyatnya. Setelah itu maka Raja Dewa Lela Mengerna pun datang lalu masuk perang dengan segala bala tenteranya, maka jadi perang besarlah. Maka patahlah perang hulubalang Raja Bahrum Tabut. Maka Raja Bahrum Tabut pun masuk ke dalam kotanya lalu ke balairung. Maka Indraputra dan segala raja-raja itu duduk di luar kota negeri Raja Bahrum Tabut berbuat khaimah dengan segala bala tentera sekalian. Maka Indraputra pun mengambil panah yang daripada Darma Gangga itu, maka (maka) katanya, "Hai anak panah, bahwa engkau kupanahkan kepada Raja Bahrum Tabut, bawa olehmu luh ini ke hadapan Raja Bahrum Tabut!" Maka dipanahkan Indraputra anak panah itu lalu memancar jatuh ke hadapan Raja Bahrum Tabut. Hatta tatkala itu Raja Bahrum Tabut sedang lagi semayam diadap oleh segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian. Maka luh dan anak panah itu pun datang terhunjam ke hadapan Raja Bahrum Tabut. Hatta maka Digar Kilat pun datang maka Digar Kilat berseru-seru, ujarnya, "Hai Raja Bahrum Tabut, berapa besar hatimu, maka engkau berkirim surat pada Raja Indraputra, mengatakan kata yang jahat kaukatakan kepada Raja Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, kata yang memberi mudarat pada dirimu sendiri dan atas batang lehermu! Lihatlah olehmu gagah perkasa Indraputra dan saktinya! Anak panah itu datang terhunjam ke hadapanmu!" Maka Raja Bahrum Tabut pun terkejut gemetar segala tubuhnya melihat luh itu terhantar di hadapannya, karena ada tersurat kematian Raja Bahrum Tabut dalam luh itu. Maka kata Raja Bahrum Tabut kepada Digar Kilat, "Siapa namamu?" Maka sahut Digar Kilat, "Akulah yang bernama Digar Kilat yang disuruhkan oleh Dewi Lakpurba menunggu kemala hikmat. Maka

sekarang aku disuruhkan tuan putri Kemala Ratnasari kepada Indraputra." Setelah Raja Bahrum Tabut mendengar kata Digar Kilat itu maka ia pun terkejut dan dahsyat melihat oleh luh itu ada tersurat kematiannya dalam luh itu. Maka Raja Bahrum Tabut pun lemahlah segala anggautanyanya. Maka kata Raja Bahrum Tabut, "Hai Digar Kilat, hamba pun sertalah dengan tuan hamba pergi mengadap Maharaja Indraputra." Maka ujar Digar Kilat dengan sukacitanya, "Baiklah tuan hamba pergi mengadap baginda itu minta ampun barang salah bebal tuan hamba kepada baginda itu, hamba bawa tuan hamba kepada baginda itu." Maka Raja Bahrum Tabut dengan empat orang menterinya pergilah kepada Indraputra dibawa oleh Digar Kilat. Hatta maka diwartakan orang kepada Indraputra mengatakan, bahwa Raja Bahrum Tabut datang dibawa oleh Digar Kilat. Setelah Indraputra mendengar kata itu maka Indraputra dengan segala raja-raja itu musyawarat. Maka disuruhkan Indraputra anak raja mambang kedua itu pergi mengelu-ngelukan Raja Bahrum Tabut serta membawa seekor kuda dengan pelananya akan kenaikan Raja Bahrum Tabut. Maka anak raja mambang kedua pun pergilah mengelu-ngelukan Raja Bahrum Tabut. Setelah anak raja mambang kedua bertemu dengan Raja Bahrum Tabut lalu berjabat tangan. Maka kata Raja Bahrum Tabut memberi hormat kepada anak raja mambang kedua itu. Maka ujar anak mambang kedua itu kepada Raja Bahrum Tabut, "Tuan hamba disuruh silakan masuk oleh Maharaja Indraputra naik ke atas kuda ini." Maka Raja Bahrum Tabut pun naiklah ke atas kuda lalu berjalan sama-sama dengan anak raja mambang kedua. Setelah hampir kepada Indraputra maka Raja Bahrum Tabut dan anak mambang kedua pun turun dari atas kudanya lalu berjalan masuk. Setelah Indraputra melihat Raja Bahrum Tabut datang maka baginda dan segala raja-raja itu berdiri memberi hormat akan Raja Bahrum Tabut, maka Raja Bahrum Tabut pun menyembah Indraputra seraya minta ampun. Maka disambut Indraputra (putra) tangan Raja Bahrum Tabut serta dipermulianya dengan seribu kemuliaan, didudukkannya di atas kursi yang keemasan. Maka kata Raja Bahrum Tabut kepada Indraputra, "Ya tuhankuku, hambamu mohonkan ampun akan barang salah bebal hambamu." Maka ujar Indraputra, "Hai Raja Bahrum Tabut, tiada mengapa, karena sudah adat manusyia itu demikian, ada salah dan bebalnya itu. Jadi suka hati hamba, jikalau tuan hamba tulus hendak bersaudara dengan hamba." Setelah itu maka kata Raja Bahrum Tabut kepada Indraputra, "Ya tuhankuku, baiklah masuk ke negeri hamba bercemar-cemar kaki." Maka Indraputra pun berjalanlah masuk ke negeri Raja Bahrum Tabut dengan segala raja-raja itu. Setelah datang ke negeri Raja Bahrum Tabut lalu ke istananya, didudukkannya di atas kursi yang keemasan. Maka diperjamunya makan minum dan bersuka-sukaan. Maka Raja Bahrum Tabut pun memberi persalin kepada Indraputra dan segala raja-raja itu dengan pakaian kerajaan serba keemasan. Maka kata Raja Bahrum Tabut kepada Indraputra, "Ya tuhankuku, apa yang tuhankuku kehendakkan dalam negeri hamba ini, tiada hamba salah." Maka ujar Indraputra, "Hai Raja Bahrum Tabut, suatu pun tiada

yang hamba kehendaki kepada tuan hamba, hanya yang hamba kehendaki itu kasih tuan hamba juga." Maka kata Raja Bahrum Tabut, "Ya tuhankuku, sebenarnyalah seperti titah tuanku itu." Hatta maka Indraputra dengan segala raja-raja itu pun bermohonlah kepada Raja Bahrum Tabut lalu keluar dari negeri Raja Bahrum Tabut, syahdan berjabat dengan Raja Bahrum Tabut. Setelah itu maka Raja Bahrum Tabut pun mengelu-ngelukan Indraputra berjalan itu. Setelah jauhlah maka Indraputra pun bermohonlah kepada Raja Bahrum Tabut lalu berjalan menuju negeri Raja Puspa Pandai. Maka Raja Puspa Pandai dengan anaknya berjalan dahulu masuk ke negerinya berlengkap akan tempat duduk segala raja-raja itu. Hatta maka Indraputra pun sampailah ke negeri Raja Puspa Pandai dengan segala raja-raja itu. Maka Raja Puspa Pandai pun berjamu Indraputra makan minum dengan segala bunyi-bunyian tujuh hari tujuh malam. Setelah itu maka Indraputra pun memulai berjaga-jaga makan minum empat puluh hari empat puluh malam. Maka Indraputra pun menyuruhkan segala orang bermain pelbagai permainan. Setelah genap empat puluh hari dan empat puluh malam maka Indraputra pun menyuruh Raja Dewa Lela Mengerna mengias Nabat Rum Syah dengan pakaian yang indah-indah serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam dan berbulang mutia dikarang dengan emas sepuluh mutu. Setelah sudah dihias maka Nabat Rum Syah pun dinai[k]kankan ke atas perarakan yang berjentera. Maka diarak oranglah ke maligai tuan putri Candralela Nurlela. Syahdan maka tuan putri Candralela Nurlela pun dihias oranglah dengan pakaian yang indah-indah serba keemasan bertatahkan ratna mutu manikam dan di atas sanggul tuan putri Candralela Nurlela dibubuh intan dikarang. Maka terlalulah baik paras rupa tuan putri seperti matahari barulahlah terbit, kilau-kilauan tiada dapat ditentang nyata. Maka didudukkan di atas puspa pemajangan, diadap oleh segala bini raja-raja dan bini menteri dan bini orang kaya-kaya sekalian. Hatta maka Nabat Rum Syah pun sampailah ke maligai tuan putri Candralela Nurlela. Maka Indraputra dan Raja Dewa Lela Mengerna datang mimpin tangan Nabat Rum Syah lalu dibawanya naik ke maligai tuan putri. Maka datang Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai menyambut tangan Nabat Rum Syah. Raja Puspa Pandai dari kanan dan Dinar Pandai dari kiri. Maka didudukkannya di atas puspa pemajangan di sisi tuan putri Candralela Nurlela dari kanan. Maka dipercikkannya narwastu dan disiram dengan air mawar pada tuan putri Candralela Nurlela dan Nabat Rum Syah. Maka Nabat Rum Syah pun sukacita oleh melihat baik paras rupa tuan putri Candralela Nurlela, heran ia melihat seperti bidadari dalam kayangan. Maka Nabat Rum Syah pun mimpin tangan istrinyanya masuk ke dalam peraduan, maka dilabuhkan oranglah tirai kelambu dewangga yang keemasan itu. Setelah genap tujuh hari tujuh malam maka Indraputra mengarak air mandi dengan segala bunyi-bunyian dan tunggul panji-panji pawai yang bagai-bagai rupanya. Maka Nabat Rum Syah dan putri Candralela Nurlela dimandikan oleh Raja Puspa Pandai laki istri. Setelah sudah mandi maka bersalin kain dan pakaian. Setelah sudah maka diangkat oranglah hidangan. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang sekalian pun makanlah. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat oranglah, maka piala yang bertatahkan ratna mutu

manikam pun diperedarkan oranglah. Sebermula setelah selesailah daripada mengawinkankan Nabat Rum Syah dengan tuan putri Candralela Nurlela maka Indraputra pun berbicara hendak pergi kepada Berma Sakti, maka kata Indraputra kepada Raja Dewa Lela Mengerna, "Apa bicara saudaraku sekarang akan pekerjaanan pergi kepada Berma Sakti itu." Maka sahut Raja Dewa Lela Mengerna, "Hai saudaraku, adapun Berma Sakti itu tiada (di)tentu tempatnya dan tiada ketahuan jalannya. Betapa peri kita akan bertemu dengan baginda itu?" Setelah Indraputra mendengar kata Raja Dewa Lela Mengerna demikian maka Indraputra pun cucur air matanya seraya berkata, "Lamalah hamba dinanti oleh Raja Syahsyian, maka belum juga sampai seperti hasyratnyanya." Maka Raja Dewa Lela Mengerna pun tersenyum seraya berkata, "Hai saudaraku, janganlah tuan hamba dukacita, hambalah yang menyampaikan saudaraku kepada Berma Sakti itu." Maka Indraputra pun baiklah hatinya. Maka kata Raja Dewa Lela Mengerna kepada segala raja-raja itu, "Hai saudaraku sekalian, baiklah tuan sekalian masing-masing kembali ke negeri sendiri, karena hamba hendak pergi kepada Berma Sakti." Maka segala anak raja-raja itu pun pilu hatinya oleh bercerai dengan Indraputra itu. Maka segala anak raja-raja itu semuanya menangis seraya menyembah Indraputra dan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka dipeluk dicium oleh Indraputra seraya bertangis-tangisan. Setelah itu maka segala raja-raja itu pun bermohonlah kepada Indraputra masing-masing berjalan pulang ke negerinya. Bermula maka Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada Raja Puspa Pandai laki istri seraya menyembah. Maka tuan putri Candralela Nurlela pun menyembah ayahanda bunda baginda seraya bertangis-tangisan. Maka dipeluk dan dicium oleh ayahanda bunda baginda dan tuan putri Candralela Nurlela pun menyembah kepada kakanda baginda Dinar Pandai. Setelah itu maka Nabat Rum Syah pun bermohonlah kepada Dinar Pandai dan kepada Raja Dewa Lela Mengerna dan bermohon kepada Indraputra. Maka kata Indraputra kepada Nabat Rum Syah, "Hai saudaraku, katakan sembah hamba kepada ayahanda bunda. Jikalau ada kasih ayahanda bunda akan hamba, bahwa tuan putri Jumjum Ratnadewi hamba pohonkankan hendak hamba bawa." Maka disuruhkan Indraputra Digar Kilat sama-sama dengan Nabat Rum Syah menjemput tuan putri Jumjum Ratnadewi dengan membawa cembul mutia akan tempat tuan putri Jumjum Ratnadewi. Maka Nabat Rum Syah dan Digar Kilat pun berjalan pulang ke negerinya. Setelah sampai lalu masuk mengadap ayahanda bunda baginda. Maka Nabat Rum Syah dan tuan putri Candralela Nurlela pun menyembah ayahanda bunda baginda. Maka Raja Tahir Johan Syah pun terlalu sukacita oleh melihat rupa menantu baginda itu terlalu baik paras seraya dipeluk dicium oleh baginda. Maka Nabat Rum Syah pun menyampaikan sembah Indraputra kepada ayahanda bunda baginda seraya mengatakan anakanda Indraputra menyuruh menjemput adinda putri Jumjum Ratnadewi hendak dibawanya berjalan. Maka titah Raja Tahir Johan Syah, "Baiklah, mana kehendak hatinya membawa istrinyanya."

Setelah itu maka tuan putri Jumjum Ratnadewi pun menyembah kepada ayahanda bunda baginda dan Nabat Rum Syah laki istri seraya bertangis-tangisan. Setelah sudah maka tuan Putri Jumjum Ratnadewi pun masuk ke dalam cembul mutia itu, maka diambil oleh Digar Kilat. Maka ia menyembah kepada Raja Tahir Johan Syah dan Nabat Rum Syah lalu berjalan kembali kepada Indraputra. Setelah datang kepada Indraputra maka diunjukkannya cembul mutia itu kepada Indraputra seraya menyampaikan salam doa Raja Tahir Johan Syah dan Nabat Rum Syah kepada Indraputra. Maka cembul mutia tempat tuan putri Jumjum Ratnadewi itu pun disambut oleh Indraputra. Maka Indraputra bermohonlah kepada Raja Puspa Pandai dan Dinar Pandai pun datang menyembah Indraputra dan berjabat tangan dengan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada Raja Dewa Lela Mengerna seraya berpeluk dan bercium, syahdan bertangis-tangisan. Maka kata Raja Dewa Lela Mengerna kepada Indraputra, "Hai saudaraku, jikalau saudaraku hendak bertemu dengan Berma Sakti itu, pejamkan mata tuan hamba sekuat-kuat tuan hamba dan tahan nafas tuan hamba. Maka cita oleh saudaraku Berma Sakti itu. Adapun jika ada saudaraku bertemu dengan pohon kayu di tengah padang mahaluas, jangan tuan hamba berhenti di sana dan jangan saudaraku tidur. Apabila saudaraku tidur, niscaya datanglah bencana akan saudaraku. Adapun jika ada saudaraku bertemu dengan suatu cahaya di tengah padang itu, cahaya itulah tempat Berma Sakti itu. Jika tuan hamba lapar dan dahaga pun tahan juga, maka ikutkan cahaya itu." Setelah sudah Raja Dewa Lela Mengerna berpesan demikian kepada Indraputra, maka Indraputra pun memejamkan kedua matanya dan menahan nafasnya, maka dicitanya Berma Sakti dalam hatinya. Maka dibukanya matanya, maka dilihat Indraputra dirinya ada pada suatu padang mahaluas; pada tengah padang itu ada sepohon kayu terlalu besar pohonnya. Maka dalam hati Indraputra, "Kayu inilah gerangan yang dikatakan Raja Dewa Lela Mengerna." Maka dihampiri Indraputra pohon kayu itu, banyak tulang orang mati bertimbun-timbun. Maka Indraputra pun berdiri di bawah pohon kayu itu. Maka angin pun bertiup lemah lembut, maka mata Indraputra pun mengantuk hendak tidur. Maka Indraputra teringatkan pesan Raja Dewa Lela Mengerna, maka ditahaninya dirinya tiada ia tidur. Maka keluar seorang raksyasya dari dalam pohon kayu itu hendak makan Indraputra. Maka kata raksyasya itu, "Hai orang muda, jangan aku engkau bunuh, apa kehendakmu supaya kuberi!" Maka dihunus Indraputra pedangnya seraya memarang raksyasya itu, maka kata Indraputra, "Hai raksyasya, apatah yang ada padamu?" Maka sahut raksyasya itu, "Ada pada hamba suatu hikmat guliga. Jikalau hendak masuk ke dalam kayu atau ke dalam batu dapat masuk." Maka kata Indraputra, "Marilah guliga itu berikan kepadaku, supaya engkau kulepaskan tiada kubunuh." Maka raksyasya itu pun memberikan guliga hikmat itu kepada Indraputra. Maka diambilnya dengan sukacitanya, setelah itu maka Indraputra pun berjalanlah dari sana lalu ke tengah padang. Hatta maka berbunyilah guruh, petir, halilintar, kilat. Maka kelihatanlah suatu cahaya di tengah padang itu gilang-gemilang. Maka dihampiri oleh Indraputra cahaya itu mangkin jauh. Maka diusir

oleh Indraputra mangkin jauh cahaya itu, maka diusir juga oleh Indraputra. Berapa ia merasai lapar dan dahaga ditahannya juga lapar dahaganya itu. Maka ujar Indraputra, "Ya tuanku Berma Sakti, demi pertapaan tuan sangatlah lapar dan dahaga hamba hendak bertemu dengan tuanku." Hatta maka cahaya itu pun berkilat-kilat menjadi awan putih dan seorang orang tuha, maka awan putih itu menjadi hujan air mawar. Seketika lagi maka berkilat pula cahaya itu kelihatan seperti awan merah. Maka bertiup angin, maka awan itu pun menjadi belah-belah jadi kesturi. Seketika lagi maka berkilat pula kelihatan seperti awan hijau. Maka awan itu belah menjadi hujan narwastu. Maka Indraputra pun heran akan kesaktian Berma Sakti itu, maka ujar Indraputra, "Ya tuanku Berma Sakti, sempurnalah [ker]jamumu akan hambamu." Maka cahaya itu membesarkan dirinya seraya berbunyi seperti petir bunyinya terlalu hebat. Maka cahaya itu pun menjadi besar seperti memenuhi padang itu, rupanya gilang-gemilang. Maka seketika lagi dilihat Indraputra hilanglah cahaya itu maka menjadi sebuah taman yang indah-indah rupanya. Pagar jala-jalanya taman itu daripada perak dan pintunya daripada tembaga suasa. Maka Indraputra pun masuklah ke dalam taman itu. Maka dilihatnya taman itu terlalu luas, pasirnya daripada emas urai, kayu-kayuannya daripada khalambak dan gaharu. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera, bahwa pada masa itu Berma Sakti diadap oleh segala muridnya. Maka ujar Berma Sakti kepada segala muridnya, "Hai segala kamu sekalian, pergi kamu mengelu-ngelukan Indraputra itu dan beri hormat oleh kamu karena ia anak raja besar, syahdan bukan barang-barang orang." Maka segala anak raja-raja murid Berma Sakti itu pergi mengelu-ngelukan Indraputra, maka kata segala anak raja-raja itu sama sendirinya, "Anak raja manakah yang bernama Indraputra itu maka kita sekalian disuruh baginda pergi mengelu-ngelukan dia, karena berapa anak raja-raja datang berguru kepada baginda itu tiada penah kita sekalian disuruh baginda pergi mengelu-ngelukan dia." Setelah itu maka segala anak raja-raja itu bertemulah dengan Indraputra. Maka dilihatnya rupa Indraputra itu terlalu elok bercahaya, gilang-gemilang mukanya. Maka segala anak raja-raja itu semuanya memberi hormat kepada Indraputra dan berjabat tangan dengan Indraputra. Maka ujar segala anak raja-raja itu kepada Indraputra, "Segeralah tuan hamba masuk, dipersilakan oleh baginda ke balai." Maka ujar Indraputra, "Seribu kali syukurlah hamba bertemu dengan segala tuan-tuan sekalian itu." Maka Indraputra pun dibawa segala anak raja-raja itu masuk kepada Berma Sakti. Hatta maka Berma Sakti pun menyingkap tirai dewangga yang keemasan, maka kelihatanlah rupa Berma Sakti itu bercahaya. Maka ujar Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku Indraputra, duduklah anakku." Maka Indraputra pun duduk seraya menyembah Berma Sakti. Maka Indraputra didudukkan di atas segala anak raja-raja yang banyak itu. Maka tempat Berma Sakti makan sirih itu diberikan kepada

Indraputra maka segerah disambut oleh Indraputra karas tempat sirih lalu dijunjung Indraputra maka ia makan sirih. Setelah itu maka ujar Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, duduklah beratur." Maka segala anak raja-raja itu pun duduk beratur. Maka hidangan nasi pun datanglah beratur di hadapan Indraputra dan hadapan segala anak raja-raja itu. Maka Indraputra pun heran melihat. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, santaplah tuan barang sedapatnya." Maka Indraputra dan segala anak raja-raja itu menyembah Berma Sakti lalu makan. Maka dirasai oleh Indraputra dalam suatu sahan itu bagai-bagai cita rasanya. Maka Indraputra pun heran melihat hikmat Berma Sakti itu. Setelah sudah makan maka segala hidangan itu pun gaib tiada kelihatan. Maka datanglah sirih pada karas emas dan karas perak terhantar di hadapan segala anak raja-raja dan Indraputra itu. Maka Indraputra dan segala anak raja-raja itu semuanya makan sirih. Maka ada suatu batil emas di atas kerikal berisi narwastu. Maka datanglah seekor burung terlalu indah-indah rupanya keluar dari dalam tirai itu maka ia hinggap pada batil emas itu, seraya mengiraikan sayapnya. Maka terperciklah narwastu itu kepada tubuh Indraputra dan kepada segala anak raja-raja itu. Hatta maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku Indraputra, apakah kehendak anakku datang kemari ini?" Maka Indraputra pun menyembah seraya berkata, "Ya tuanku, adapun hambamu datang kemari menghadap tuhankuku, karena hambamu disuruhkan Raja Syahsyian mohonkan obat beranak kepada tuhankuku." Maka Berma Sakti pun tersenyum seraya berkata, "Hai anakku, terlalu sekali aku kasihan akan anakku Raja Syahsyian itu. Jikalau lain daripada anakku disuruhkannya datang kemari, niscaya tiada akan bertemu dengan aku. Adapun anakku berhampir dengan Raja Syahsyian itu, berapa fitnah bencana datang kepada anakku." Maka kata Indraputra, "Sebenarnyalah seperti kata tuhankuku itu. Apatah daya hambamu, karena hambamu sudah berjanji dengan perdana menteri." Maka Berma Sakti pun tersenyum mendengar kata Indraputra itu maka kata Berma Sakti, "Sungguhlah anakku orang bijaksana maka anakku meneguhkan janji anakku itu." Arkian maka hari pun malamlah. Maka beberapa dian, pelita, tanglung, kandil terpasang bagai-bagai rupanya. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, berhentilah dahulu anakku malam ini." Setelah itu maka Berma Sakti pun gaib tiada kelihatan. Maka dilihat Indraputra teraturlah segala geta tempat tidur dan tirai pun terlabuhkan. Maka Indraputra pun heranlahlah melihat kesaktian Berma Sakti itu. Sebermula adat Berma Sakti itu, apabila bulan purnama, sekali ia pergi mandi ke Tasik Bahrul Laka namanya dengan segala muridnya anak raja-raja itu bermain pada suatu pulau. Hatta setelah hari siang maka kelihatanlah Berma Sakti itu datang dihadap orang oleh segala muridnya. Maka ujar Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, maukah anakku kelak malam kita pergi bermain ke Tasik Bahrul Laka itu lalu ke pulau Makam Heran."

Maka sembah Indraputra "Baiklah tuhankuku, hambamu iringkan." Maka segala anak raja-raja itu tersenyum mendengar kata Indraputra, dalam hatinya, "Mana 'kan dapat Indraputra ini sampai ke sana pada tempat itu, karena tiada berjalan di tanah." Maka dilihat Indraputra dengan ekor matanya laku segala anak raja-raja itu, maka ia pun berdiam dirinya. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, yang kehendak anakku obat beranak itu pun di sanalah kelak kuberikan." Setelah itu maka hari pun malamlah. Bulan pun terang sedang purnama, maka Berma Sakti pun gaiblahlah. Maka segala anak raja-raja itu memakai hikmatnya, maka katanya kepada Indraputra, "Marilah kita pergi mengikut baginda itu." Maka segala anak raja-raja itu melayanglah ia. Maka Indraputra pun memanahkan panah kesaktian ke udara. Maka turunlah angin ribut, kelam kabut, guruh, kilat, petir, halilintar, dan taufan. Maka segala anak raja-raja itu pun susahlah 'kan dirinya, taufan dan gelap gulita itu, maka tiadalah ketahuan perginya segala anak raja-raja itu seperti akan matilah rasanya. Maka Indraputra pun mencita Janggi Gardan, maka dengan seketika itu juga Janggi Gardan datang. Maka Indraputra pun naiklah ke atas Janggi Gardan. Maka kata Indraputra, "Hai Janggi Gardan, bawa aku ke pulau Makam Heran." Maka Indraputra pun diterbang Janggi Gardan ke pulau Makam Heran diturunkan. Maka Indraputra turun dari atas Janggi Gardan lalu berjalan, maka bertemu dengan Berma Sakti. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku, mana segala anak raja-raja itu?" Maka kata Indraputra, "Ya tuhankuku, ia dahulu kemari daripada hambamu." Maka Berma Sakti pun tahulah akan segala anak raja-raja itu kena susah oleh ia ada suka hati akan Indraputra itu. Maka dinanti-nanti oleh Berma Sakti ada kira-kira dua jam lamanya, maka tiada juga datang segala anak raja-raja itu. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, tinggallah anakku dahulu di sini, aku hendak pergi naik ke pulau itu." Maka sembah Indraputra, "Baiklah tuhankuku, hambamu pun hendak mendapatkan segala saudara hambamu itu." Maka kata Berma Sakti, "Baiklah anakku pergi mendapatkan segala anak raja-raja itu." Maka Indraputra pun berjalan ke hujung pulau itu. Maka dilihat Indraputra pasirnya pulau itu daripada permata pancawarna. Maka berjalan pula Indraputra, seketika lagi maka dilihatnya segala anak raja-raja itu datang. Maka Indraputra pun turun ke dalam tasik itu menjadikan dirinya seekor naga. Maka tasik itu pun berombak. Maka segala anak raja-raja itu semuanya dahsyat melihat naga itu timbul mengangakan mulutnya. Maka muka segala anak raja-raja itu pun pucat. Maka segala anak raja itu lari ke hujung Tasik Bahrul Laka itu. Maka Indraputra itu pun naik dari tasik itu. Maka kata Indraputra, "Hai Janggi Gardan, usir olehmu segala anak raja-raja itu!" Maka Janggi Gardan pun mengusir segala anak raja-raja itu. Maka segala anak raja-raja itu pun larilah seraya berkata sama

sendirinya, "Dari mana gerangan datangnya kuda dan naga ini, selamanya tiada penah kita melihat yang demikian ini." Maka Janggi Gardan pun kembali kepada Indraputra. Maka Indraputra pun naik ke atas Janggi Gardan. Maka digertakkannya lalu dari hadapan segala anak raja-raja itu. Maka Indraputra pun turun dari atas kudanya datang mendapatkan Berma Sakti. Maka Indraputra pun naiklah ke atas kemuncak pulau itu datang ke hadapan Berma Sakti. Maka Indraputra pun menyembah Berma Sakti seraya berkata, "Ya tuhankuku, datanglah sudah segala anak raja-raja itu." Setelah seketika lagi maka segala anak raja-raja itu pun datanglah ke hadapan Berma Sakti. Maka dilihat oleh segala anak raja-raja itu Indraputra sudah ada mengadap Berma Sakti. Maka segala anak raja-raja itu pun heran melihat sakti Indraputra. Maka kata Berma Sakti kepada segala anak raja-raja itu, "Apa sebabnya maka anakku sekalian lambat datang?" Maka segala anak raja-raja itu menyembah seraya berkata akan segala hal-ihwalnya itu kepada Berma Sakti, maka Berma Sakti pun tersenyum. Maka Indraputra pun tunduk. Hatta maka datanglah tabak berisi langir Berma Sakti terhantar di hadapan Berma Sakti. Maka langir segala anak raja-raja itu masing-masing terhantar di hadapannya. Setelah itu maka Berma Sakti pun berlangir dan berkasai. Maka hujan air mawar pun turunlah, maka Berma Sakti pun mandilah. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra dan kepada segala anak raja-raja itu, "Mandilah anakku sekalian." Setelah itu maka Berma Sakti pun gaiblahlah. Maka kata Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Adakah saudaraku sekalian tadi melihat orang berkuda?" Maka sahut segala anak raja-raja itu seraya berpandang-pandangan sama sendirinya, maka katanya, "Ada hamba tadi bertemu dengan orang berkuda." Maka Indraputra pun tersenyum seraya mandi hujan air mawar. Maka kata segala anak raja-raja itu sama sendirinya, "Pada hati hamba yang berkuda tadi itu Indraputra juga rupanya." Hatta maka Indraputra pun memanah ke udara. Maka turunlah hujan air masin terlalu lebat. Maka segala anak raja-raja itu pun kedinginan. Maka dilihat oleh segala anak raja-raja itu Indraputra tiada kena hujan air masin itu. Maka segala anak raja-raja itu pun heran seraya berkata kepada Indraputra, "Ya tuhankuku, apatah hal hamba sekalian ini kedinginan?" Maka Indraputra pun tersenyum. Maka hujan air masin itu pun teduh. Maka hari pun panaslah, maka keringlah kain baju segala anak raja-raja itu. Maka kata Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Hai segala saudaraku, mandilah pula air tawar." Maka turunlah hujan air tawar. Maka segala anak raja itu mandi air tawar. Setelah sudah maka kata Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Ke mana perginya baginda itu tadi?" Maka segala anak raja-raja itu, "Ada baginda naik ke tasik mercu gunung itu." Maka ujar segala anak raja-raja itu kepada Indraputra, "Jika mau tuan hamba, mari kita naik ke atas mercu gunung itu."

Maka berjalanlah Indraputra naik ke atas kemuncak gunung itu diiringkan oleh segala anak raja-raja itu. Maka oleh Indraputra dihempaskannya anak panahnya ke bumi, maka menjadi tabu[h]anan. Maka disengatnya segala anak raja-raja itu berlarian tiada ketahuan jalan. Maka Indraputra pun sampailah kepada mercu gunung pulau Makam Heran. Maka dilihatnya ada suatu maligai dan di atas maligai itu ada suatu sehinggasana. Maka dilihatnya ada Berma Sakti di sana bersalin kain dan ada empat orang perempuan berdiri memegang kain baju dua orang dan dua orang perempuan memegang kerikal berisi bau-bauan dan narwastu. Maka Indraputra pun heran melihat kesaktian Berma Sakti itu. Hatta maka segala anak raja-raja itu pun berserukan Indraputra. Maka terdengarlah kepada Berma Sakti suara segala anak raja-raja itu. Maka segala anak raja-raja itu pun datanglah. Maka Berma Sakti dan Indraputra naik ke atas mercu maligai itu. Maka dilihat Indraputra terlalu sekali indah-indah di atas mercu maligai itu dan kelihatan segala yang ada di kemuncak gunung itu. Syahdan maka Berma Sakti pun turun dari atas kemuncak maligai itu lalu pergi kepada suatu kolam. Maka di tepi kolam itu ditanaminya segala bunga dan buah-buahan. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, turunlah anakku ke dalam kolam itu, ambil bunga tunjung putih itu." Maka Indraputra pun menyembah Berma Sakti lalu turun ke dalam kolam itu. Maka dilihatnya bunga tunjung putih itu tumbuh betul mata air. Maka hendak diambil Indraputra bunga tunjung putih itu maka bunga tunjung putih itu lari. Maka diikut Indraputra lalu diambilnya bunga tunjung putih itu, dibawanya kepada Berma Sakti. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku, taruhlah bunga tunjung itu oleh anakku." Maka Berma Sakti pun kembali dari pulau itu dengan Indraputra dan segala anak raja-raja itu. Bermula lama Indraputra duduk pada Berma Sakti empat puluh hari maka beberapa bagai hikmat Berma Sakti diperolehnya. Hatta pada suatu malam maka Indraputra cinta akan istrinyanya. Maka dicaharinyanya suatu tempat, maka ditambangkannya kemala hikmat itu dan dibukanya cembul mutia itu. Maka keluarlah maligai sebuah dengan selengkapnya. Maka Indraputra naik ke atas maligai itu dengan istrinyanya tiga orang duduk bersenda bergurau itu bersuka-sukaan. Hatta dalam antara segala anak raja-raja yang banyak itu ada juga dua orang. Maka dilihatnya Indraputra setelah pergi itu lama tiada datang; lebih daripada antara sejam tiada juga datang. Maka kata anak raja itu kepada temannya, "Mari kita pergi melihat Indraputra itu ke mana ia pergi, sekarang lebih sudah sejam ia tiada kembali. Entah apa halnya, siapa tahu." Maka pergilah keduanya anak raja itu, maka dilihatnya sebuah maligai terlalu indah-indah perbuatannya. Maka dilihatnya Indraputra duduk di atas maligai itu dengan perempuan baik paras tiga orang bersenda bergurau. Maka kedua anak raja itu pun heran melihat sakti Indraputra, maka katanya, "Berapa lama kita khidmat kepada baginda itu, tiada kita peroleh seperti Indraputra ini." Hatta maka malam pun hampir siang. Maka raja kedua itu pun kembali ke tempatnya. Maka Indraputra pun mengembalikan hikmat itu

maka putri ketiga itu pun dimasukkannya ke dalam cembul mutia itu. kembali perlahan-lahan ke tempatnya tidur. Maka hari pun sianglah. Maka segala anak raja-raja itu mengadap Berma Sakti dan Indraputra pun ada duduk mengadap. Maka kata Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, maukah anakku kita pergi bermain ke padang puspa Ratna Caya?" Maka kata Indraputra, "Baiklah tuanku, hambamu iringkan." Maka Berma Sakti dan Indraputra dengan segala raja-raja itu pergilah ke padang puspa Ratna Caya. Setelah sampai ke sana maka dilihat Indraputra padang itu terlalu luas dan indah-indah. Seketika lagi maka kelihatan suatu sehinggasana datang dari udara terletak pada padang itu. Maka terhamparlah suf sahlat ainulbanat. Maka Berma Sakti duduk di atas sehinggasana itu. Maka datanglah hidangan makan-makan. Maka Indraputra dan segala anak raja-raja itu makan nikmat. Setelah sudah makan maka ujar Berma Sakti, "Hai anakku Indraputra, maukah anakku melihat suatu permainan?" Maka kata Indraputra, "Mau tuanku." Hatta maka datanglah sebilah pedang dari dalam tirai, maka pedang itu pun memarang kendirinya. Maka diparangnya anak raja-raja empat puluh orang habis mati berpenggal. Maka pedang itu pun gaiblahlah tiada kelihatan. Maka disuruh Berma Sakti Indraputra pertemukan segala tubuh anak raja-raja itu yang berpenggal-penggal. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, hidupkanlah segala anak raja-raja itu, karena ada pada anakku suatu hikmat dapat menghidupkan orang mati." Maka Indraputra pun menyembah seraya mengeluarkan bedi zahra itu, maka dibubuhkannya kepada tubuh segala anak raja-raja itu. Maka segala anak raja yang mati itu pun hidup. Maka segala anak raja-raja murid Berma Sakti itu semuanya heran melihat hikmat Indraputra itu. Hatta maka keluar pula pedang itu sekali lagi. Maka dicincangnyanya tubuh segala anak raja-raja itu luluh lantak. Maka pedang itu pun gaiblahlah tiada kelihatan. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, hidupkanlah pula segala anak raja-raja yang mati itu!" Maka bedi zahra itu direndamkan Indraputra dalam air mawar. Maka disiramkan Indraputra pada tubuh segala anak raja-raja itu, maka segala anak raja-raja yang mati itu semuanya hidup pula. Hatta maka datang pula pedang itu sekali lagi, maka ditetaknya tubuh segala anak raja-raja itu jadi seperti tepung. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, hidupkanlah segala anak raja-raja itu!" Maka kata Indraputra, "Ya tuanku, yang demikian ini tiada dapat hambamu hidupkan." Maka diambil Berma Sakti suatu guliga hikmat, maka dibubuhkannya pada segala tubuh anak raja-raja itu, ditambangkannya. Maka berhimpunlah tubuh segala anak raja itu bergerak, seketika lagi lalu bangun, hidup kembali seperti dahulu. Maka Berma Sakti pun kembali dengan Indraputra dengan segala anak raja-raja itu. Maka kata Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, sekarang apa lagi kehendakmu?" Maka kata Indraputra, "Ya tuhankuku, perintah tuhankuku hambamu junjung, mana anugerah tuhankuku."

Hatta maka Indraputra pun diajar Berma Sakti pelbagai hikmat kesaktian. Maka habislah segala hikmat Berma Sakti itu diketahui oleh Indraputra. Hatta pada suatu hari maka kata Indraputra kepada Berma Sakti, "Ya tuhankuku, betapa perbuatan bunga tunjung ini?" Maka ujar Berma Sakti, "Hai anakku, adapun bunga tunjung putih itu berikan kepada Raja Syahsyian, suruh masak perbuat sayur. Maka apabila akan dimakan Raja Syahsyian, hendaklah anakku sendiri mengadap Raja Syahsyian makan sayur bunga tunjung putih itu. Adapun apabila layu bunga tunjung putih itu, niscaya adalah dibubuh orang racun dalamnya." Maka diberi Berma Sakti suatu guliga penawar racun, maka diambil Indraputra guliga itu seraya menyembah Berma Sakti. Maka Indraputra pun bermohonlah kepada Berma Sakti. Maka dipeluk dicium oleh Berma Sakti akan Indraputra. Maka Indraputra pun berjabat tangan dengan segala anak raja-raja itu. Maka ujar Berma Sakti kepada Indraputra, "Hai anakku, pejamkan kedua matamu dan citalah barang negeri yang anakku kehendaki." Maka Indraputra pun menyembah Berma Sakti seraya berdiri menurut seperti kata Berma Sakti itu. Maka dipejamkannya kedua matanya, maka dicitanya dalam hatinya kebun nenek kebayan. Setelah dibukanya matanya maka dilihatnyalah dirinya dalam kebun nenek kebayan itu, semuanya jadi semak dengan rumput. Maka dilihat Indraputra nenek kebayan ada duduk seorangnya menangis. Maka Indraputra pun datang serta berkata, "Nenekku, bukai aku pintu!" Maka ujar nenek kebayan, "Siapa engkau itu memanggil aku, karena aku tiada bercucu. Adapun cucuku Indraputra setelah berapa tahun sudah lamanya ia pergi disuruh Raja Syahsyian mencari obat beranak kepada Berma Sakti, sekarang tiada khabarnya." Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, nenek kebayan, akulah Indraputra ada datang daripada Berma Sakti!" Setelah didengar nenek kebayan kata Indraputra itu demikian, maka nenek kebayan pun segera membuka pintu dengan sukacitanya seraya memeluk mencium seluru[h] tubuh Indraputra. Maka dimandikannya Indraputra dan dilangirinya dan dibedakinya. Maka kata nenek kebayan, "Hai cucuku, tiada kembali lagi." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata, "Hai nenekku, adakah lagi perdana menteri?" Maka kata nenek kebayan, "Ada juga perdana menteri." Setelah Indraputra sudah mandi maka ia bersalin kain lalu pergi ke rumah perdana menteri. Maka segala orang yang melihat rupa Indraputra itu semuanya heran. Setelah Indraputra datang ke rumah perdana menteri maka dilihatnya dari jauh rupa Indraputra itu, maka perdana menteri segera berbangkit mendapatkan Indraputra seraya memeluk mencium Indraputra, maka dibawanya naik duduk sama-sama ke atas balai. Maka kata perdana menteri, "Hai anakku, adakah beroleh yang seperti hasrat raja itu?" Maka ujar Indraputra, "Oleh ada beroleh, maka hambamu datang." Maka Indraputra pun dibawa perdana menteri masuk ke rumahnya, disuruhnya mandikan dan disuruhnya langiri. Setelah sudah maka Indraputra makan dengan perdana menteri. Setelah sudah makan maka

datang biduanda suruanan raja memanggil Indraputra, karena sudah terdengar khabar Indraputra datang itu. Maka baginda pun keluar semayam diadap orang di balairung. Maka Indraputra pun dibawa oleh perdana menteri masuk mengadap Raja Syahsyian. Setelah Raja Syahsyian melihat Indraputra datang maka segera ditegur baginda seraya berkata, "Hai anakku Indraputra, adakah beroleh yang seperti hasyrat ayahanda itu?" Maka sembah Indraputra, "Ya tuhankuku, adalah patik beroleh yang seperti hasyrat Syah Alam itu." Maka dipersembahkannya bunga tunjung putih itu kepada Raja Syahsyian, maka disambut oleh Raja Syahsyian. Maka sembah Indraputra, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun bunga tunjung putih itu disayur, maka santap duli Syah Alam. Tetapi jikalau tuanku hendak santap, di hadapan patik maka tuanku santap." Maka titah Raja Syahsyian kepada segala menterinya, "Sungguhlah seperti kata orang tuha-tuhatua dahulu kala, bunga tunjung putih itu tiada layu." Maka Indraputra bersembahkan pedang sebilah kepada Raja Syahsyian. Maka dilihat baginda pedang itu terlalu ajaib rupanya. Maka titah baginda, "Dari mana Indraputra beroleh pedang ini?" Maka diceriterakan oleh Indraputra, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun pedang ini patik peroleh daripada raksyasya." Maka baginda pun sukacita seraya berkata, "Adapun pada hari ini anakku Indraputra kujadikan penghulu segala abantara. Peganglah pedang ini oleh Indraputra." Maka Indraputra pun menyembah kepada Raja Syahsyian dan berapa puji Indraputra akan Raja Syahsyian. Hatta maka hidangan nasi pun diangkat oranglah ke hadapan majelis. Maka makanlah masing-masing dengan hidangannya. Setelah sudah makan maka hari pun malamlah. Maka baginda pun berangkat masuk ke dalam istana. Hatta setelah keesokan harinya maka segala menteri yang dengki hatinya kepada Indraputra itu musyawarat hendak berbicara, maka katanya, "Sekarang apa bicara kita, karena Indraputra ini mangkin lama ia mangkin menjadi besar." Maka kata seorang, "Ada suatu bicara hamba, baik kita upah juru betak raja itu, disuruh bubuh racun pada sayur bunga tunjung putih yang dibawa oleh Indraputra itu. Apabila hendak disantap yang dipertuan, kita suruh coba dahulu." Setelah sudah ia musyawarat maka diambilnya seribu dinar dengan racun, disuruhnya bawa pada hambanya, ujarnya, "Bawa olehmu racun ini dengan dinar seribu ini berikan kepada juru betak raja, suruh bubuh racun ini pada sayur yang dibawa Indraputra bunga tunjung putih itu." Maka pergilah seorang hamba menteri itu membawa racun dengan dinar seribu itu dibawanya, diberikannya kepada juru betak raja itu. Maka dikatakannya seperti kata menteri itu kepada juru betak itu, maka juru betak itu pun berkatakan kata menteri itu, maka diambilnya racun dengan dinar seribu itu. Bermula bunga tunjung putih itu disuruh pising pada seorang dayang-dayang. Setelah sudah dipisingnyanya, maka rajanya dibuangkannya kepada tempat raja mandi. Maka bunga tunjung putih itu diberikan oleh dayang itu kepada juru betak raja disuruhnya masak, maka dimasaklah oleh juru betak itu. Setelah sudah masak maka dibubuhnya

racun. Setelah itu maka diisinya sayur bunga tunjung itu kepada tempat persantapan raja, maka ditudungnya baik-baik. Maka Raja Syahsyian pun keluar semayam diadap segala menteri dan hulubalang. Maka Indraputra pun disuruh baginda panggil. Maka Indraputra dan perdana menteri pun datang mengadap Raja Syahsyian. Maka sayur bunga tunjung itu pun dibawa orang ke hadapan Raja Syahsyian. Maka sembah segala menteri yang dengki hatinya kepada Indraputra, "Ya tuhankuku Syah Alam, jangan dahulu sayur itu disantap Syah Alam, kalau ada alat dalamnya. Baik Syah Alam suruh coba dahulu, maka baharu disantap Syah Alam." Setelah demikian maka Indraputra pun tahu akan sayur itu dibubuh racun. Maka dilihat Indraputra sayur bunga tunjung itu layu. Maka segera dibubuh Indraputra guliga penawar daripada Berma Sakti itu ke dalam sayur bunga tunjung itu, maka sayur bunga tunjung itu pun kembali jadi keras segar. Maka Indraputra pun tahulah perbuatan segala menteri yang dengki itu. Maka Indraputra pun tersenyum seraya memandang kepada segala menteri itu. Maka sayur itu pun disuruh raja coba makan kepada seorang-seorang. Maka berapa dimakannya sayur itu suatu pun tiada mara bahayanya. Maka segala menteri dengki itu pun pucat mukanya. Maka Indraputra tersenyum memandang muka segala menteri itu. Raja Syahsyian pun makanlah sayur itu setengah dan setengah diberikan dimakan permaisuri. Setelah itu maka Raja Syahsyian memberi persalin akan Indraputra dengan pakaian yang indah-indah. Maka mangkin bertambah dengkilah hatinya segala menteri itu akan Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun masuk ke dalam istana. Hatta setelah berapa lamanya maka permaisuri pun hamillah. Maka Raja Syahsyian pun terlalu sukacita melihat permaisuri hamil itu. Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Bahwa pada hari ini engkau kujadikan penghulu segala bendahari." Maka segala anak kunci pun semuanya diserahkan kepada Indraputra. Maka Indraputra pun keluar masuk sehari-hari dalam istana raja. Maka segala menteri itu pun mangkin bertambah sakit hatinya kepada Indraputra. Daripada sehari kepada sehari segala menteri itu semuanya mencarikan jalan kesalahan Indraputra juga. Alkisah peri mengatakan tatkala bunting dua orang dayang-dayang dalam istana raja, dan peri mengatakan tatkala Indraputra dibuangkan ke laut, dan peri mengatakan tatkala Indraputra berjalan dalam laut, dan peri mengatakan tatkala Indraputra bertemu dengan Dewi Lakpurba, dan peri mengatakan tatkala Indraputra beroleh kain sutra puri diberi oleh Dewi Lakpurba. Sebermula pada suatu hari dua orang dayang-dayang pergi kepada tempat permandian raja, maka dilihatnya ada bayam berja tumbuh terlalu indah-indah rupanya, karena tatkala dayang-dayang disuruh raja memesing bunga tunjung putih itu, maka rajanya dibuangkannya kepada hampir permandian raja itu, maka tumbuh menjadi bayam berja, terlalu subur dan indah-indah rupanya. Maka dilihat oleh dayang-dayang itu lalu diambilnya bayam berja itu, maka dimasaknya dibuatnya sayur. Setelah masak maka dimakannya. Setelah berapa hari antaranya, maka dayang-dayang dua orang itu pun buntinglah.

Hatta pada suatu hari maka dayang-dayang dua orang itu pun berkata-kata mengatakan dirinya bunting itu. Maka kata seorang, "Beta pun bunting, apa gerangan mulanya?" Maka ujar seorang lagi, "Selama kita makan sayur bayam itu maka kita kedua jadi hamil ini." Hatta maka tatkala itu ada seorang menteri yang dengkikan Indraputra itu mendengar dayang-dayang itu berkata dirinya bunting, maka menteri itu pun sukacita; dalam hatinya, "Sekarang ini bolehlah aku jalan membinasakan Indraputra, karena ia terlalu sekali ia diberi karunia oleh yang dipertuan." Maka menteri itu pun kembali musyawarat dengan segala temannya yang dengki akan Indraputra, maka katanya, "Ada hamba mendengar dua orang dayang-dayang mengatakan dirinya bunting di dalam istana yang dipertuan, tiada ketahuan lakinya." Maka ujar segala menteri itu, "Mari kita persembahkan kepada yang dipertuan akan hal perempuan bunting itu tiada lakinya." Setelah demikian maka segala menteri itu pun pergilah mengadap Raja Syahsyian. Setelah datang lalu sujud menyembah Raja Syahsyian, maka sembahnya, "Ya tuhankuku Syah Alam, patik mohonkan ampun ke bawah duli Syah Alam. Ada suatu yang hendak patik katakan ke bawah duli tuhankuku." Maka titah Raja Syahsyian, "Katakanlah, kudengar apa yang hendak kaukatakan itu." Maka sembah segala menteri itu, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun Indraputra ada berbuat jahat dalam istana Syah Alam. Dua orang perempuan bunting dayang-dayang dalam istana, karena orang yang hina diberi martabat oleh yang dipertuan, maka demikian perbuatannya. Setelah baginda mendengar [k]habar segala menteri itu demikian, maka baginda pun amarah, menyuruh mengimpunkankan segala menteri yang tahu akan pekerjaanan Indraputra itu. Maka disuruh periksyaii oleh baginda segala dayang-dayang dalam istana, siapa ada yang bunting. Maka dilihat orang, diperiksyaii dalam istana itu, sungguhlah ada dua orang dayang-dayang hamil. Maka titah Raja Syahsyian kepada segala menteri itu, "Apa hukumnya orang yang demikian itu?" Maka sembah segala menteri itu, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun hukumnya orang yang demikian dibuangkan ke laut keduanya." Maka titah Raja Syahsyian, "Jika demikian, hendaklah segerah kamu kerjakan!" Maka segala menteri itu pun menyembah lalu keluar musyawarat, menyuruh memanggil Indraputra, mengatakan yang dipertuan menyuruh memanggil. Maka Indraputra pun datang lalu hendak masuk ke dalam maka ditahan oleh segala menteri itu, maka Indraputra pun berhenti. Maka kata segala menteri itu, "Hai Indraputra, demi Allah taala, bahwa titah yang mahamulia menyuruh membuangkan Indraputra ke laut. Apa entah salah Indraputra, kami sekalian tiada tahu." Setelah Indraputra mendengar kata segala menteri itu maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata, "Apatah salahnya yang kehendak segala menteri itu telah berlakulah atas hamba." Maka kata segala menteri itu, "Marilah Indraputra kita bawa ke laut, kita buangkan!" Maka rakit pun dibuat oranglah. Maka Indraputra dan dayang-dayang

dua orang itu pun dinai[k]kankan orang ke atas rakit itu, maka dihanyutkan ke tengah laut. Sebermula maka terdengarlah kepada perdana menteri akan hal Indraputra dibuangkan ke laut itu. Maka perdana menteri pun segara masuk kepada Raja Syahsyian hendak berdatang sembah, maka bertemu dengan segala menteri yang dengki akan Indraputra itu, di jalan. Maka kata segala menteri itu kepada perdana menteri itu, "Hendak ke mana tuan hamba berjalan gopoh-gopoh ini?" Maka sahut perdana menteri, "Hamba hendak mengadap duli yang dipertuan. Apa salahnya Indraputra, maka disuruh yang dipertuan dibuangkan ke laut?" Maka ujar segala menteri yang dengki itu, "Betapa perinya tiada disuruh yang dipertuan buangkan ke laut, karena besar salahnya. Ia berbuat jahat dalam istana yang dipertuan. Dua orang dayang-dayang bunting dengan Indraputra. Jika tuan hamba berdatang sembah, niscaya tuan hamba dimurkai yang dipertuan." Setelah perdana menteri mendengar segala menteri yang dengki itu maka ia pun kembali ke rumahnya dengan tangisnya, masygul akan Indraputra. Bermula setelah berapa lamanya Indraputra sudah dibuang ke laut itu, maka istri Raja Syahsyian pun menyakit hendak beranak. Setelah genap bulannya, pada ketika dinihari maka permaisuri pun beranak seorang perempuan terlalu amat baik paras rupanya, seperti bulan empat belas hari bulan, demikianlah rupanya. Maka Raja Syahsyian pun terlalu sukacita dan menyuruh memalu bunyi-bunyian, betapa adat segala raja-raja beranak. Demikianlah maka Raja Syahsyian menyuruh mengeluarkan emas dan perak memberi sedekah pada segala fakir dan miskin. Maka anakda baginda itu dinamai tuan putri Mengindra Sari Bunga. Setelah berapa lamanya maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun besarlah. Maka terdengarlah kepada segala raja-raja bahwa Raja Syahsyian beranak seorang perempuan terlalu amat baik paras rupanya. Maka segala anak raja-raja itu pun datanglah dengan rakyatnya mengadap Raja Syahsyian. Maka segala anak raja-raja itu masing-masing berdatang sembah kepada Raja Syahsyian hendak minta diambil akan menantu, minta diperhamba kepada Raja Syahsyian. Maka titah Raja Syahsyian, "Adapun anak hamba lagi kecil, barang siapa yang beruntung dikehendaki anak hamba, ialah jadi suami anak hamba dan yang tiada dikehendaki oleh anak hamba itu, jangan jadi hati segala tuan-tuan suka akan hamba." Maka ujar segala anak raja-raja itu, "Baiklah tuanku, sebenarnyalah seperti titah tuanku itu." Adapun banyak segala anak raja-raja itu kurang esa empat puluh, maka seorang pun belum yang diterima oleh Raja Syahsyian, hanya segala anak raja-raja itu menantikan besar tuan putri Mengindra Sari Bunga. Barang siapa yang dikehendaki oleh tuan putri Mengindra Sari Bunga, ialah akan jadi suami tuan putri. Alkisah maka tersebutlah perkataan Indraputra dibuangkan ke laut dengan rakit itu dihanyutkan. Setelah berapa lama dalam laut maka rakit itu pun putuslah pengikatnya cerai-berai. Maka dayang-dayang dua orang itu pun matilah.

Maka Indraputra turun ke dalam laut itu berjalan. Maka Indraputra pun bertemu dengan sebuah negeri jin dan dewa, kotanya daripada batu hitam dan batu hijau. Maka Indraputra pun masuklah ke dalam negeri itu. Maka dilihatnya beberapa rumah daripada batu bagai-bagai rupanya. Maka Indraputra pun masuklah ke dalam rumah itu, maka dilihatnya segala rumah itu sunyi, seorang pun tiada orangnya, tetapi segala isi rumah dan perkakas rumah semuanya ada lengkap. Hanya orangnya juga yang tiada. Maka Indraputra pun berjalan. Maka dilihatnya ada sebuah maligai, maka Indraputra naik ke atas maligai itu. Maka dilihatnya ada seorang perempuan tuha rambutnya seperti kapas dibusur, tubuhnya berlipat tiga. Jika ia tidur kelopak matanya menutup matanya. Jika ia duduk, ditongkatnya kelopak matanya, maka ia melihat. Maka kata Indraputra, "Hai nenekku, siapa namamu dan negeri mana ini?" Setelah orang tuha itu mendengar kata Indraputra itu demikian, maka ditongkatnya kelopak matanya, maka dilihatnya seorang orang laki-laki muda baik rupanya. Maka ujarnya, "Hai cucuku, akulah yang bernama Dewi Lakpurba, raja dalam negeri ini dan akulah nenek tuan putri Kemala Ratnasari; dan cucuku itu siapa namamu dan dari mana cucuku datang kemari?" Setelah Indraputra mendengar kata Dewi Lakpurba itu demikian maka Indraputra pun menyembah seraya katanya, "Hai nenekku, akulah anak Maharaja Bikrama Bispa, syahdan namaku Indraputra. Bermula hambalah yang bersaudara dengan tuan putri Kemala Ratnasari." Maka diceriterakan Indraputra segala peri hal-ihwalnya tatkala bertemu dengan tuan putri Kemala Ratnasari itu, semuanya dikatakannya. Setelah didengar Dewi Lakpurba kata Indraputra itu demikian, maka kata Dewi Lakpurba, "Syukurlah aku bertemu dengan cucuku." Maka sukalah hati Dewi Lakpurba oleh ia mendengar ceritera Indraputra itu. Hatta maka hari pun malamlah. Maka segala jin dewa itu pun datanglah masing-masing pulang ke rumahnya, maka ramailah negeri itu. Maka Indraputra mengeluarkan cembul kemala hikmat itu dicitanya. Maka keluarlah sebuah maligai dengan isinya selengkapnya. Maka penghulu jin kemala hikmat itu pun datang menyembah Dewi Lakpurba. Maka ujar Dewi Lakpurba kepada penghulu jin itu, "Dari mana engkau datang kemari?" Maka sembah penghulu jin itu, "Ya tuhankuku, adapun hambamu sudah diberikan oleh cucunda tuan putri Kemala Ratnasari kepada cucunda ini." Maka ujar Dewi Lakpurba, "Baiklah engkau duduk pada cucuku Indraputra ini, karena cucuku putri Kemala Ratnasari sudah bersuami." Hatta maka segala jin dan dewa itu datang mengadap Dewi Lakpurba serta membawa persembah berbagai-bagai segala kerang-kerangan. Maka kata Dewi Lakpurba kepada segala jin dan dewa itu, "Hendaklah kamu sekalian khidmat kepada cucuku Indraputra seperti kamu khidmat kepada putri Kemala Ratnasari." Bermula setelah beberapa lamanya Indraputra duduk dalam negeri itu maka pada suatu hari Indraputra datang bermohon kepada Dewi Lakpurba. Maka diberi sehelai kain sutra puri namanya kepada Indraputra, halus seperti embun rupanya.

Maka kata Dewi Lakpurba kepada Indraputra, "Hai cucuku, suatu pun tiada pemberiku kepada cucuku, hanyalah kain sutra ini juga. Adapun pergunaannya kain ini, jikalau ada orang sakit payah, jikalau hancur sekalipun tubuhnya, maka kain ini ditudungkan kepada tubuh orang sakit itu. Maka disiram dengan air mawar, niscaya sembuh sakitnya orang itu." Maka kain sutra itu pun diambil oleh Indraputra dengan sukacitanya. Maka Indraputra pun menyembah Dewi Lakpurba lalu berjalan keluar dari negeri itu berapa lamanya berjalan dalam laut melihat kekayaan Allah taala dalam laut itu, berbagai-bagai yang indah-indah. Setelah itu maka Indraputra pun naiklah ke darat keluar dari dalam laut itu lalu bertemu dengan suatu negeri hampir negeri Raja Syahsyian. Alkisah maka tersebutlah perkataan tuan putri Mengindra Sari Bunga setelah genaplah usianya tujuh tahun, maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun sakit terlalu sangat, seperti akan hancurlah segala tubuhnya. Daripada belum lagi ajalnya maka ia belum mati. Maka Raja Syahsyian laki istri terlalu amat dukacita dengan segala orang isi istana semuanya dukacita. Maka Raja Syahsyian pun menyuruh orang mencari obat pada segala negeri dan segala anak raja-raja itu semuanya menyuruh mencarikan obat tuan putri, karena titah Raja Syahsyian, "Barang siapa yang dapat mengobat anakku atau mencarikan orang yang tahu mengobatii maka sembuh anakku daripada penyakitnya, kuberikan anakku putri Mengindra Sari Bunga akan istrinyanya." Maka Raja Syahsyian pun menyuruh memalu mong-mongan berkeliling negeri, katanya, "Barang siapa yang dapat mengobatii tuan putri sembuh daripada sakitnya, diambil yang dipertuan akan menantu jikalau orang hina sekalipun!" Maka berkeliling orang itu memalu mong-mongan dalam negeri itu. Sehari-hari seorang pun tiada yang bercakap mengobatii tuan putri Mengindra Sari Bunga itu. Hatta maka Indraputra pun datanglah ke rumah nenek kebayan. Maka Indraputra pun minta bukai pintu pada nenek kebayan, ujarnya, "Hai nenekku, bukai aku pintu!" Maka ujar nenek kebayan, "Siapa di luar pintu itu memanggil aku? Sekarang tiada aku empunya cucu karena cucuku sudah dibuangkan ke laut." Maka kata Indraputra, "Hai nenekku, akulah cucumu yang bernama Indraputra!" Setelah nenek kebayan mendengar kata nama Indraputra itu, maka segerah dibukainya pintu seraya berkata, "Hai cucuku, dari mana cucuku datang karena cucuku sudah dibuangkan ke laut!" Maka ujar Indraputra, "Hai nenekku, karena Tuhan seru sekalian lagi memeliharakan aku dengan berkat kebenaranku." Maka Indraputra pun dimandikan dan dibedaki dan dilangiri oleh nenek kebayan dan diberinya bersalin kain. Maka Indraputra pun diberi makan oleh nenek kebayan. Setelah sudah makan maka kata nenek kebayan pada Indraputra, "Hai cucuku, bahwa istri Raja Syahsyian sudah beranak seorang perempuan terlalu baik paras rupanya. Berapa anak raja-raja hendak meminang tuan putri itu sekarang ada ia duduk bertunggu tuan putri

dalam negeri ini. Adapun sekarang ini tuan putri sangat sakit." Maka ujar nenek kebayan kepada Indraputra. Janganlah sekarang (janganlah) tuan keluar dari rumah ini. Duduklah tuan dalam rumah ini karena banyak orang sakit hati kepada tuan." Maka Indraputra pun tersenyum mendengar kata nenek kebayan itu. Hatta seketika lagi maka datanglah orang yang memalu mong-mongan itu berseru-seru, katanya, "Barang siapa yang dapat mengobatii sakit tuan putri, jikalau sembuh [di]ambil raja akan menantu." Setelah Indraputra mendengar kata orang memalu mong-mongan itu maka Indraputra pun segerah keluar mendapatkan orang memalu mong-mongan itu, maka ujar Indraputra, "Apakah yang diri kata itu?" Maka ujar yang memalu mong-mongan itu, "Tiadakah tuan tahu, selamanya anak raja sakit, tuan putri Mengindra Sari Bunga namanya. Beberapa sudah orang mengobatii, tiada juga sembuh. Akan sekarang titah duli yang dipertuan, barang siapa menyembuhkan penyakit anakda baginda itu diambil baginda menantu." Maka kata Indraputra, "Katakanlah kepada perdana menteri, ada seorang orang baharu datang, ia bercakap hendak mengobatii penyakit tuan putri itu." Maka orang memalu mong-mongan itu pun segerah datang kepada perdana menteri. Maka dikatakannya kepada perdana menteri seperti kata Indraputra itu. Setelah didengar perdana menteri kata orang memalu mong-mongan itu, maka segerah disuruh panggil oleh perdana menteri kepada hambanya, empat orang pergi sama-sama dengan orang memalu mong-mongan itu. Setelah datang kepada Indraputra maka ujar orang memalu mong-mongan itu kepada Indraputra, "Tuan hamba disuruh panggil oleh perdana menteri." Maka Indraputra pun berjalanlah ke rumah perdana menteri. Maka segala orang yang melihat rupa Indraputra itu semuanya heran. Setelah Indraputra datang ke hadapan perdana menteri, maka dilihat oleh perdana menteri Indraputra ada datang itu maka perdana menteri pun heran terlalu sukacita melihat Indraputra itu seraya turun mendapatkan Indraputra, memeluk mencium. Indraputra pun menyembah perdana menteri. Maka ujarnya, "Wah anakku, dari mana tuan datang? Betapa hal tuan tatkala dibuangkan orang ke laut?" Maka ujar Indraputra, "Melainkan Allah subhanahu wa taala juga yang memeliharakan hambaNyanya," maka diceriterakannya segala halnya tatkala dibuang itu. Maka kata perdana menteri kepada Indraputra, "Sungguhlah anakku bercakap mengobatii sakit tuan putri itu?" Maka kata Indraputra, "Sungguhlah hamba bercakap mengobatii sakit tuan putri itu." Setelah demikian maka Indraputra pun dibawa perdana menteri masuk mengadap Raja Syahsyian. Setelah dilihat Raja Syahsyian Indraputra datang dibawa oleh perdana menteri maka baginda pun heran seraya menegur Indraputra dan perdana menteri. Maka Indraputra pun sujud menyembah Raja Syahsyian. Maka sembah perdana menteri, "Ya tuanku Syah Alam patik, itu Indraputra bercakap mengobatii sakit paduka anakda tuan putri." Maka titah Raja Syahsyian, "Hai anakku Indraputra, tatkala anakku

dibuangkan oleh menteri itu ke laut tiada dengan setahuku." Maka sembah Indraputra, "Sungguhlah tuanku, tetapi daripada tiada salah patik maka patik selamat kembali mengadap duli tuanku." Maka titah Raja Syahsyian, "Hai anakku Indraputra, obatilahilah oleh anakku penyakit putri Mengindra Sari Bunga ini. Jikalau ia sembuh, halal akan istri tuan. Dari dahulu pun sudah ayahanda berjanji dengan anakku, jika ayahanda beranak seorang perempuan ayahanda berikan akan istri anakku. Sekarang ini pula ayahanda berjanji, jika sembuh anakku obatii, ambillah akan istri anakku." Maka sembah Indraputra, "Baiklah tuhankuku Syah Alam, atas patiklah mengobatii paduka anakda itu." Maka Raja Syahsyian pun bangkit memegang tangan Indraputra, dibawa baginda masuk ke dalam istana lalu kepada tempat peraduan tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka disingkapkanlah orang tirai peraduan tuan putri tujuh lapis itu. Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Hai anakku, masuklah lihat penyakit saudara tuan itu. Jangan lagi anakku menaruh syak dalam hati." Maka Indraputra pun masuklah ke dalam tirai peraduan tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun membuka matanya. Maka Raja Syahsyian laki istri pun suka hatinya melihat tuan putri Mengindra Sari Bunga membuka matanya itu. Maka Indraputra pun cucur air matanya melihat sakit tuan putri itu. Syahdan segala inang pengasuh tuan putri semuanya suka hatinya melihat tuan putri membuka matanya. Maka Indraputra pun mengeluarkan kain sutra puri. Maka dilihat oleh Raja Syahsian kain sutra puri itu terlalu halus rupanya seperti air embun. Maka titah Raja Syahsian, "Hai anakku Indraputra, dari mana anak beroleh kain ini?" Maka diceriterakan Indraputra segala hal-ihwalnya tatkala dibuang itu semuanya dikatakan. Maka Raja Syahsyian pun heran mendengar ceritera Indraputra itu. Maka kain sutra puri itu diselimutkan pada tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka disiram dengan air mawar maka tubuh tuan putri adalah segar sedikit. Maka kata Indraputra, "Ya tuhankuku Syah Alam, kain ini jangan dilalukan daripada tubuh patik anakda, biar semalam ini diselimutkan juga." Maka titah baginda, "Baiklah." Maka Raja Syahsyian pun memberi persalin akan Indraputra dengan pakaian yang indah-indah. Maka disuruh baginda hantarkan Indraputra pulang ke rumah perdana menteri pada empat orang biduanda. Maka segala menteri yang dengki hatinya heran melihat Indraputra tiada mati itu. Maka sekalian duduk dengan percintaannya. Bermula setelah keesokan harinya maka Raja Syahsyian menyuruhkan dayang-dayang empat orang memanggil Indraputra pun masuklah mengadap Raja Syahsian lalu masuk ke dalam peraduan tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka diambil Indraputra kain sutra puri daripada tubuh tuan putri Mengindra Sari Bunga, maka tuan putri pun afiatlah seraya bangun duduk. Maka tubuh tuan putri pun kembali seperti dahulu afiat daripada penyakit. Maka tuan putri pun senanglah bergurau bersenda dengan segala dayang-dayang. Maka Raja(-raja) Syahsyian laki istri terlalu amat sukacita oleh melihat anakda baginda itu sudah sembuh daripada

sakitnya. Maka baginda menyuruh memalu bunyi-bunyian. Maka baginda menyuruh memanggil perdana menteri dan segala raja-raja, menteri, dan hulubalang sekalian dengan orang kaya-kaya makan minum tiga hari tiga malam. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun (dimandi) dimandikan baginda. Setelah sudah mandi maka hidangan pun diangkat oranglah ke hadapan majelis, maka makanlah masing-masing dengan hidangannya. Maka segala anak raja-raja itu semuanya matanya memandang kepada Indraputra juga, maka ia berkata sama sendirinya, "Inilah yang mengobatii tuan putri daripada sakitnya." Maka Raja Syahsyian pun memberi sedekah pada fakir dan miskin. Maka titah Raja Syahsyian kepada perdana menteri, "Peliharakan baik-baik anakmu Indraputra ini. Lagi empat puluh hari kita kahwinkan dengan anak kita putri Mengindra Sari Bunga." Setelah didengar segala anak raja-raja yang hendakkan tuan putri Mengindra Sari Bunga itu dengan segala menteri yang dengki akan Indraputra itu, maka dukacitalah hatinya pulang ke rumahnya. Maka ujar segala menteri yang dengki itu musyawarat, "Baik kita pergi kepada segala anak-anak raja-raja itu yang hendakkan tuan putri itu. Kita katakan padanya, "Baik tuanku persembahkan kepada raja. Adapun yang mengobatii tuan putri itu biar patik bayar upahnya, karena patik sudah lama bertunggu tuan putri di sini." Setelah sudah segala menteri itu musyawarat maka pergilah ia kepada segala anak raja-raja itu. Setelah ia datang kepada segala anak raja-raja itu maka kata segala menteri itu, "Adapun hamba sekalian datang kepada tuan hamba ini, oleh kasihan hamba akan tuan hamba sekalian. Sudah berapa lama tuan hamba duduk menunggu tuan putri di sini, maka sekarang diberikan raja pada orang lain. Maka baik tuan hamba beri upahnya Indraputra mengobatii tuan putri itu, demikianlah tuan hamba katakan kepada raja." Setelah segala anak raja-raja itu mendengar kata segala menteri itu, maka sukacitalah hatinya lalu ia mengeluarkan emas penuh satu tabak pada seorang anak raja itu. Maka segala tabak emas itu dibawa(h) dihantarkan kepada Raja Syahsyian oleh segala menteri itu seraya berdatang sembah, katanya, "Ya tuhankuku Syah, patik mohonkan ampun ke bawah duli tuhankuku. Bukan karena sakit hati patik sekalian akan Indraputra, tetapi daripada sebab tuhankuku mengambil menantu orang hina, cucu orang menjual bunga. Adapun emas ini daripada patik itu segala anak raja-raja menyuruh berikan upah Indraputra mengobatii paduka anakda tuan putri." Setelah Raja Syahsyian mendengar sembah segala menteri itu, maka titah baginda, "Sekarang apatah bicara kita, karena aku sudah berjanji memberikan anakku kepada Indraputra." Maka sembah segala menteri itu, "Ya tuhankuku Syah Alam, ada suatu muslihat patik. Tuanku katakan, Syah Alam bernazar tatkala paduka anakda sakit itu, berkaul hendak pergi beramai-ramaian ke Pulau Pelinggam. Setelah datang ke pulau itu maka suruh lepaskan burung bayan permainan tuan putri, maka tuanku katakan, "Barang siapa yang boleh menangkap burung bayan permainan tuan putri itu, ialah akan suami tuan putri Mengindra Sari Bunga." Maka titah Raja Syahsyian, "Benarlah seperti bicaramu itu."

Setelah demikian maka segala menteri itu kembali ke rumahnya dengan sukacitanya. Maka pada suatu hari Raja Syahsyian duduk semayam diadap segala raja-raja dan menteri hulubalang, segala abantara sekalian, maka Raja Syahsyian pun memberi titah, "Adapun kita berkaul tatkala anak kita sakit putri Mengindra Sari Bunga, kita hendak beramai-ramaian pergi ke Pulau Pelinggam membawa anak kita tuan putri. Pada timbul bulan ini hendaklah segala raja-raja menteri dan hulubalang sekalian berlengkap perahu masing-masing." Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang masing-masing pulang ke rumahnya berlengkap perahu. Maka segala anak raja-raja itu berbuat lancang sebuah seorang, ada yang berbuat pilang, masing-masing dengan kehendaknya. Maka sehari-hari orang pergi melihat segala anak raja-raja itu berbuat perahu. Maka kata orang banyak itu, "Indraputra tiada kita (di)lihat membuat perahu!" Maka kata seorang, "Betapa perinya itu membuat perahu karena ia seorang dirinya." Hatta datanglah kepada dua puluh hari segala anak raja-raja itu membuat perahu lancang dan pilang maka hampirlah sudah. Maka ujar perdana menteri kepada Indraputra, "Hai anakku, tiadakah tuan membuat lancang atau pilang, karena segala anak raja-raja itu semua masing-masing sudah membuat lancang dan pilang satu seorang." Maka ujar Indraputra, "Ya ayahanda, adakah tempat yang sunyi akan tempat hamba membuat lancang?" Maka kata perdana menteri, "Hai anakku, ada tempat sunyi di sisi kampung kita ini." Maka Indraputra pun pergilah kepada tempat itu. Maka dicitanya jin kemala hikmat itu oleh Indraputra. Maka keluarlah jin dewa, maka disuruh Indraputra membuat perahu lancang sebuah terlalu besar dan panjangnya. Setelah diperbuatnya lancang itu diperbuatnya suatu tempat indah-indah dulapan persegi, dindingnya daripada kaca putih, dan ada daripada kaca hijau, ada daripada kaca biru, ada daripada kaca ungu, ada daripada kaca merah, (ada daripada kaca merah,) ada daripada kaca paru-paru, ada daripada kaca jingga. Maka pada segala persegi itu diperbuatnya kisi-kisi daripada emas sepuluh mutu bertatahkan ratna mutu manikam, dan pada kemuncaknya dibubuhnya suatu kemala, dan di bawah pada kemala tempatnya duduk daripada tembaga suasa, dan pada segala penjuru persegi itu digantunginya mutia yang besar dan diberinya berputaran, supaya dapat ia berkeliling. Adapun tempat itu dibuatnya tiga pangkat. Sepangkat daripada perak, kedua pangkat daripada tembaga suasa, ketiga pangkat daripada emas dan dibubuhnya dinding jala-jala daripada mutia dikarang. Setelah itu maka diperbuatnya suatu geta peraduan daripada pualam, dan din(g)dingnyanya daripada pirus, dan segala kisi-kisi daripada emas. Maka dibubuhnya rumbai-rumbai mutia dikarang dan manikam dikarang. Maka pada sama tengah lancang itu diperbuatnya suatu taman dan kolam, diikat dengan yakkub yang merah dan pasirnya daripada emas urai dan batunya daripada permata dan tanahnya daripada kesturi dan rumputnya daripada kumkuma, dan di hulu air itu airnya manis dan kerang-kerangannya daripada mutia dan permata.

Syahdan di hilir air itu airnya manis, kerang-kerangannya tiram dan sinting siput dan ganggang dan kerang dan ketam. Lain daripada itu beberapa bagai pula kerang-kerangan. Maka taman itu dibubuhnya pagar jala-jala daripada perak dan pintunya daripada emas terlalu indah-indah perbuatannya. Syahdan pada tepi kolam itu diaturnya jambangan, ada jambangan emas, ada jambangan perak, ada jambangan tembaga suasa. Maka pada jambangan emas itu ditanaminya cempaka hijau, dan pada jambangan perak itu ditanaminya bunga air mawar, dan pada jambangan tembaga suasa itu ditanaminya bunga melur susun dan bunga seroja dan bunga seganda. Syahdan bagai-bagai bunga yang pada tanamnya ada bunga pekan, ada bunga gambir, ada bunga anggrek, sekalian dengan jambangan bagai-bagai dan beberapa pula kolam dalam taman itu. Ada yang dengan kaca merah, ada yang diikat dengan kaca ungu, ada yang diikat dengan kaca hijau. Syahdan bau airnya seperti air mawar. Maka pada sama tengah kolam itu diperbuatnya suatu balai gading bersendi-sendi dengan emas, terlalu indah-indah perbuatannya balai itu. Syahdan di hadapan balai itu ditanamnya sepohon kayu, batangnya daripada emas, daunnya daripada zamrut dan buahnya daripada manikam yang merah, dan di atas pucuk kayu itu ditaruhnya seekor burung pungguk, dan di bawah kayu itu ada seekor merak terlalu indah-indah rupanya. Maka tiang lancang itu diperbuatnya daripada emas bersendi-sendi dengan perak, dan di atas tiang itu dibubuhnya suatu cermin daripada kaca putih diikat dengan emas, dan di atas cermin itu dibubuhnya suatu gegetar emas berumbai-rumbaikan intan dikarang dan manikam dikarang, dan di atas kemuncak gegetar itu dibubuhnya suatu kemala. Syahdan pada sumbu layang tiang itu dibubuhnya suatu sahan berisi narwastu dan suatu sahan berisi kesturi, dan segala tali tiang lancang itu diperbuatnya daripada rantai emas, dan di buritan lancang itu dibuatnya sepohon kayu daripada pualam dan daunnya daripada kaca kuning. Maka di atas kayu itu ada burung nuri dua ekor terlalu indah-indah rupanya. Maka di haluan lancang itu dibubuhnya suatu jentera dan di buritan lancang itu diperbuatnya suatu jentera, talinya daripada rantai emas dan perak. Maka segala pegawai lancang itu diberinya berpesawat pada jentera itu. Apabila berkisar jentera itu, maka berkisarlah segala pegawai lancang itu sendirinya. Maka pada haluan lancang itu dibuatnya suatu balai, tiangnya daripada khalambak. Maka di atas balai itu suatu kursi daripada yakkub, maka di bawah balai itu dihamparinya beledu dan permadani yang keemasan. Di sanalah tempat Indraputra duduk. Setelah sudah lengkap perbuatan lancang itu maka Indraputra pun mengembalikan segala jin dan dewa kemala hikmat itu. Setelah berapa hari maka Indraputra sudahlah berbuat lancang itu dalam sepuluh hari juga. Sebermula maka Raja Syahsyian memberi titah pada segala menteri dan hulubalang, "Sudahkah lengkap segala kelengkapan perahu, lancang dan pilang, karena kita hendak berangkat." Maka sembah segala menteri, "Sudahlah tuanku lengkap segala perahu kelengkapan tuanku akan berangkat dan segala anak raja-raja itu pun berbuat sebuah seorang lancang dan pilang." Maka titah Raja Syahsyian, "Suruh bawalah segala lancang dan pilang itu sekalian kemari berhimpun." Hatta setelah esok harinya maka segala anak raja-raja itu semuanya

masing-masing membawa perahunya, lancang dan pilang kepada pangkalan Raja Syahsyian. Maka segala orang dalam negeri itu ramai melihat-lihat segala kelengkapan anak raja-raja lancang dan pilang itu. Maka kata segala orang banyak itu sama sendirinya, "Segala lancang anak raja-raja itu sudahlah kita lihat, hanya lancang Indraputra juga belum kita lihat." Maka kata seorang, "Berapa perinya Indraputra akan berbuat lancang, karena ia seorang dirinya." Hatta maka dalam seketika itu juga lancang Indraputra pun datanglah kendirinya dengan segala bunyi-bunyian, syahdan rupanya lancang itu bercahaya-cahaya seperti matahari. Maka titah Raja Syahsyian, "Apa yang bercahaya seperti matahari itu?" Maka biduanda pun berlari-lari berdatang sembah, "Ya tuhankuku Syah Alam, yang kelihatan seperti matahari itulah lancang Indraputra, hilir sendirinya, tiada kelihatan orangnya dengan segala bunyi-bunyian." Maka lancang itu pun datanglah ke hadapan Raja Syahsyian. Maka baginda pun heranlahlah melihat lancang itu terlalu indah-indah perbuatannya. Maka segala orang dalam negeri itu berlarian melihat lancang Indraputra itu. Maka segala orang dalam negeri itu pun heran sekalian melihat rupa lancang itu. Maka kata orang banyak itu, "Dari mana gerangan datangnya lancang ini, turun dari udara gerangan, maka terlalu sekali indah-indah rupanya, tiada penah kita melihat perbuatan lancang yang demikian ini!" Hatta maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun turunlah dari istana diiringkan oleh segala bini raja-raja, dan bini segala menteri, dan bini hulubalang, dan bini segala orang kaya-kaya sekalian mengiringkan tuan putri Mengindra Sari Bunga turun dari istana. Maka dilihat tuan putri Mengindra Sari Bunga rupa lancang Indraputra terlalu indah-indah bercahaya-cahaya. Maka kata tuan putri Mengindra Sari Bunga kepada inangda, "Lancang siapa yang indah-indah ini?" Maka sembah inangda, "Inilah tuanku, lancang Indraputra." Maka kata tuan putri, "Pada lancang inilah baik kita naik." Maka tuan putri pun dinai[k]kankan orang pada lancang Indraputra itu. Maka tuan putri duduk di atas peterana yang keemasan. Maka pada suatu pangkat tempat bini segala raja-raja, dan pada kedua pangkat tempat bini segala menteri, dan pada ketiga pangkat tempat bini segala hulubalang dan orang kaya-kaya sekalian. Maka terkembanglah payung mutia dikarang empat buah di atas peterana itu. Maka segala anak raja-raja, dan anak dara-dara, dan segala biti-biti perwara, dayang-dayang sekalian beratur mengadap tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka di haluan lancang itu terkembanglah payung ratna dikarang dan berumbai-rumbaikan mutia dan pualam. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian terlalu ramai. Maka lancang segala anak raja-raja itu pun hilirlah dahulu. Maka segala anak raja-raja itu sakit hatinya akan Indraputra. Setelah itu maka kenaikan Indraputra itu tiada bergerak dari tempatnya. Maka heranlahlah orang sekalian, karena melihat lancang itu tiada bergerak dari tempatnya.

Maka sembah perdana menteri, "Ya tuhankuku Syah Alam, jikalau tiada Indraputra naik pada lancang kenaikan paduka anakda itu, tida[k] akan bergerak lancang itu dari tempatnya." Maka titah Raja Syahsyian, "Suruhlah Indraputra naik pada lancang itu." Maka Indraputra pun naiklah ke atas lancang itu, maka berkisarlah jentera lancang itu sendirinya. Maka segala pegawai lancang itu pun bergerak sendirinya. Maka segala dayung dan pengayuh lancang itu semuanya berdayung dan berkayuh sendirinya, maka lancang itu pun lajulah. Maka segala rumbai-rumbai emas dan perak itu pun berpalulah sendirinya seperti bunyi-bunyian. Maka giginya di atas kemuncak tiang itu berantuk, bunyinya seperti buluh perindu. Maka payung ratna dikarang itu pun berpusing sendirinya. Maka segala gegetarnya pun berbunyi ditiup angin. Maka burung nuri pun terbanglah meniti-niti pada rantai emas itu lalu hinggap pada sahan berisi narwastu dan seekor hinggap pada sahan berisi kesturi. Maka kedua burung nuri itu mengirai-ngiraikan sayapnya. Maka terperciklah narwastu dan kesturi itu kepada tubuh segala orang yang mengadap tuan putri Mengindra Sari Bunga, terlalu amat harum baunya. Syahdan apabila tuan putri berpaling pada kaca merah, maka rupa tuan putri Mengindra Sari Bunga dengan segala pakaiannya semuanya menjadi merah kelihatan. Maka tuan putri berpaling kepada kaca putih, maka warna segala tubuh tuan putri dengan pakaiannya menjadi serba putih. Jika tuan putri berpaling kepada kaca kuning berkata-kata dengan bini segala raja-raja, maka warna tubuh tuan putri serba kuning. Jika tuan putri berpaling pada kaca ungu berkata-kata dengan bini segala menteri, maka warna tubuh tuan putri dengan segala pakaiannya kelihatan ungu, dan jika tuan putri berpaling pada kaca hijau berkata dengan inang pengasuh, maka warna tubuh tuan putri dengan pakaiannya serba hijau. Jika tuan putri berpaling pada kaca biru berkata-kata dengan dayang-dayang, maka warna tubuh tuan putri dengan pakaiannya jadi serba biru, dan jika tuan putri berkata-kata dengan bini orang kaya-kaya berpaling pada kaca paru-paru, maka warna tubuh tuan putri dengan pakaiannya serba paru-paru. Dan jika tuan putri berpaling pada kaca jingga berkata-kata dengan biti-biti dan perwara, maka (maka) warna tubuh tuan putri dengan pakaiannya jadi serba jingga. Maka segala orang yang mengadap tuan putri Mengindra Sari Bunga itu semuanya heran melihat perbuatan lancang itu terlalu indah-indah. Maka burung nuri dua ekor itu berpantun dan bernyanyi, dan bersyair berseloka terlalu indah-indah bunyinya. Maka nuri itu pun berpantun demikian, "Sungguhpun banyak bintang timur, sederhana timbul bulan; sungguhpun banyak lancang beratur, masakan sama dengan lancang tuan." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun tersenyum mendengar pantun nuri itu seraya berkata, "Heran sekali aku melihat nuri ini." Maka segala dayang semuanya tertawa. Bermula maka segala lancang itu hampirlah sampai ke Pulau Pelinggam, maka Indraputra menurunkan angin ribut, taufan, guruh, dan petir kilat sabung-menyabung. Maka segala lancang dan pilang anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu rusak, ada yang patah

tiang, ada yang patah kemudi, ada yang carak-larak berharu-birulah segala perahu anak raja-raja itu. Syahdan perahu orang lain suatu pun tiada mara bahayanya, jangankan kena ribut taufan, kena angin keras pun tidak. Maka angin ribut taufan itu pun berhentilah. Maka bertiuplah angin yang selesai. Maka berbaulah narwastu dan kesturi ditiup angin itu dan segala bunga yang harum baunya itu pun berbaulah dicium orang. Maka segala orang dalam lancang itu semuanya heran melihat perbuatan Indraputra itu. Hatta maka segala lancang dan pilang itu pun sampailah ke Pulau Pelinggam. Maka Indraputra pun naiklah ke pulau itu. Maka sembah inang pengasuh tuan putri Mengindra Sari Bunga, "Ya tuanku tuan putri, mari kita melihat perbuatan yang indah-indah dalam lancang ini." Maka tuan putri pun melihat perbuatan dalam lancang itu terlalu indah-indah. Maka tuan putri bermain ke taman dalam lancang itu, melihat segala bunga dan jambangan. Maka tuan putri lalu berjalan ke hulu tasik itu. Maka dilihat tuan putri airnya manis, maka segala kerang-kerangan daripada ratna dan mutia. Maka timbul bunga tunjung merah terlalu indah-indah rupanya. Maka diambil tuan putri bunga tunjung itu dipersuntingnya. Maka menjadi jejabatanan terlalu harum baunya, maka tuan putri pun heran. Maka timbul pula bunga tunjung putih, maka diambil tuan putri bunga tunjung putih itu, disisikkannya pada sanggulnya. Maka bunga tunjung putih itu pun menjadi air mawar. Setelah itu maka timbul pulah bunga telepok merah, maka diambil tuan putri, dimasukkannya ke dalam bajunya, menjadi kesturi. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun heran melihat kejadian segala bunga itu. Maka ujar tuan putri, "Pada fikir beta Indraputra ini anak raja besar juga, maka barang pekerjaannyaannya terlalu bijaksana." Maka sahut segala dayang-dayang itu, "Sungguhlah seperti kata tuan putri itu." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga berjalan ke tengah tasik itu mengambil kerang-kerangan, mutia, dan permata. Maka ikan pun timbul seraya berpantun, demikian bunyinya, "Sungguhpun banyak bintang timur, gerhana bulan di udara; sungguhpun banyak lancang beratur, lancang tuan tidak sama tara." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun tersenyum mendengar pantun ikan itu, maka segala dayang-dayang semuanya tertawa. Maka timbul pula ikan seraya berpantun demikian, "Sungguhpun banyak bertentangan, bidadari di udara; sungguhpun banyak tunangan tuan putri, tidak sama Indraputra." Setelah sudah ikan itu berpantun, maka ikan itu tenggelam pula. Maka timbul pula seekor ikan, terlalu indah-indah rupanya ikan itu, maka ia berpantun demikian, "Dang Sejuk pergi merampai sungguh, menanak di belukar jangan; suka hati tuan putri, Indraputra anak raja besar." Maka ikan itu pun tenggelam. Maka tuan putri pun suka hatinya mendengar

pantun ikan itu seraya berkata, "Hai mak inang, sungguhkah Indraputra itu anak raja besar gerangan seperti pantun ikan itu?" Maka segala perwara itu suka tertawa. Maka tuan putri dan segala dayang-dayang pun berjalan ke hilir air tasik itu. Maka dirasai tuan putri air itu masin. Kersiknya daripada emas urai, batunya daripada mutiara; dalamnya itu sehingga pinggang, lagi jernih seperti air embun. Maka angin pun bertiup, tasik itu pun berombak. Maka segala sinting pun bertepuk dan ganggang bersorak dan siput bernyanyi, terlalu indah-indah didengar tuan putri Mengindra Sari Bunga dengan segala dayang-dayang itu. Maka titah Raja Syahsyian pada dayang-dayang, "Apa sebabnya maka anakku putri Mengindra Sari Bunga tiada turun bermain ke pulau pelinggam ini?" Maka sembah dayang-dayang itu, "Ya tuhankuku, paduka anakda tuan putri lagi bermain dalam lancang itu melihat perbuatan lancang itu terlalu indah-indah, sebab itulah maka paduka anakda lambat turun ke pulau ini." Setelah tuan putri sudah bermain pada tasik itu maka pergi pula ia bermain ke taman itu terlalu indah-indah rupanya. Berapa jambangan dan kolam dan balai bersendi-sendikan emas. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga dan segala dayang-dayang itu pun naik ke balai itu duduk. Maka angin pun bertiup, maka segala daun kayu yang di sisi balai itu pun berpalu-palu seperti bunyi-bunyian. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga dengan segala bini raja-raja dan dayang-dayang inang pengasuh sekalian heran melihat hikmat perbuatan Indraputra dalam lancang itu dan berapa puji orang itu akan Indraputra. Setelah sudah tuan putri melihat perbuatan dalam lancang itu, hatta maka Raja Syahsyian pun turun ke lancang Indraputra itu melihat segala perbuatan dalam lancang itu. Maka Raja Syahsyian dan segala menteri itu pun semuanya heran ia melihat perbuatan dalam lancang itu. Maka titah Raja Syahsyian, "Di mana gerangan Indraputra ini beroleh lancang ini dan di mana ia melihat perbuatan yang demikian ini?" Maka sembah perdana menteri, "Ya tuanku Syah Alam, pada penglihatan patik Indraputra ini bukan barang-barang orang." Maka titah baginda, "Benarlah seperti kata perdana menteri itu." Maka Raja Syahsyian pun naiklah ke darat. Syahdan anakda baginda tuan putri Mengindra Sari Bunga pun dinaikkan ke darat. Hatta maka segala menteri yang dengki itu pun memandang kepada Raja Syahsyian. Maka baginda pun tahulah akan kehendak segala menteri itu. Maka titah Raja Syahsyian kepada seorang dayang-dayang berkata perlahan-lahan, "Lepaskan olehmu burung bayan permainan anakku itu. Demikian katamu, "Barang siapa anak raja-raja yang beroleh menangkap burung bayan permainan tuan putri itu, ialah akan suami tuan putri." Maka dayang-dayang itu pun melepaskan burung permainan tuan putri itu seraya berkata, "Barang siapa anak raja-raja yang dapat menangkap burung bayan permainan tuan putri itu, ialah diambil tuan putri akan suaminya, karena tuan putri sangat sayang akan burung bayan itu." Maka Indraputra pun mendengar dayang-dayang itu berseru-seru. Hatta setelah segala anak raja-raja itu mendengar kata dayang-dayang itu, maka segala anak raja-raja itu pun berlarian,

berlomba-lombalumba hendak menangkap burung bayan itu. Maka burung bayan itu pun hinggap pada pohon beraksa pada sama tengah pulau pelinggam itu, maka segala anak raja-raja itu berebut hendak menangkap burung bayan, memanjat pohon beraksa itu. Ada yang carik kainnya, ada carik bajunya, ada yang jatuh destar dari kepalanya, ada yang berlompat-lompat di tanah, tiada tempat memanjat pohon beraksa itu tiada juga dapat, ada yang luka dadanya. Maka burung bayan itu pun terbang daripada suatu dahan pada suatu dahan. Maka segala orang yang melihat laku segala anak raja-raja itu semuanya tertawa. Maka Indraputra pun turut tertawa lalu Indraputra memanahkan [panah] kesaktian ke udara, maka jadi tabuhan, maka disengatnyalah segala anak raja-raja itu, maka masing-masing turun dari atas pohon beraksa itu. Ada yang bengkak mukanya, ada yang bengkak matanya, ada yang bengkak kepalanya, ada yang bengkak dadanya, ada yang bengkak tangannya, sekalian turun dari atas pohon beraksa itu menggosok-gosok dirinya. Maka segala orang yang melihat kelakuan segala anak raja-raja itu semuanya heran tertawa gelak-gelak. Maka Indraputra pun tersenyum. Maka segala dayang-dayang tuan putri tertawa mengili-ngili seraya menampar-nampar dadanya oleh melihat kelakuan segala anak raja-raja itu. Maka sekaliannya turun ke lancangnya masing-masing beroleh malu. Maka Indraputra perlahan-lahan pergi kepada pohon beraksa itu, maka diunjukkannya tangannya kepada burung bayan itu. Maka burung bayan itu datang terbang hinggap pada tangan Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun heran melihat dengan segala rakyat sekalian oleh burung bayan itu jinak kepada Indraputra. Maka diberikan oleh Indraputra burung bayan itu kepada dayang-dayang tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka dayang-dayang itu bersembahkan burung bayan itu kepada tuan putri. Maka disambut tuan putri dengan sukacitanya. Maka burung bayan itu pun mengirai-ngiraikan sayapnya seraya berpantun, "Sungguh banyak ganja digait, tidak sama bidara jentera; sungguh banyak raja yang lain, tidak sama Indraputra." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun tersenyum seraya berkata, "Kepada selamanya bayan ini tiada tahu berpantun, baharu sekarang ia tahu berpantun." Maka segala dayang-dayang menyembah seraya berkata, "Sungguhlah seperti kata tuan putri itu." Hatta maka bayan itu hinggap pada ribaan dayang-dayang itu seraya berpantun, "Dang Jebat bertenun kain, dilentuk sama dengan panca; jika kita pertuan lain, tidak sama Raja Indraputra." Maka kata dayang-dayang itu, "Baharu sekarang bayan ini tahu cura." Maka bayan itu pun berpantun pula, "Khoja Darma Sang Sura, pergi mengadap laksamana; bagaimana kami tidak 'kan cura, mendapat raja bijaksana."

Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun tersenyum dan segala dayang-dayang semuanya tertawa seraya katanya, "Indah sekali bayan ini!" Maka ia fikir dalam hatinya, "Sungguhlah seperti pantun bayan ini!" Maka beberapa bagai pula pantun bayan itu. Hatta maka Raja Syahsyian pun bertitah pada perdana menteri, "Kerahkanlah segala raja-raja dan menteri itu, kita kembali karena negeri kita sunyi dan putri Mengindra Sari Bunga pun suruhlah turun ke lancang." Maka datanglah dayang-dayang memberi tahu tuan putri Mengindra Sari Bunga, "Titah paduka ayahanda menyuruh tuanku turun ke lancang." Maka kata tuan putri, "Angkatlah dahulu hidangan itu." Maka diangkat oranglah hidangan itu, maka segala menteri dan hulubalang pun semuanya makanlah masing-masing pada hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Setelah sudah minum maka masing-masing turun ke lancangnya. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun diturunkan perdana menteri ke lancang. Syahdan Raja Syahsyian pun turunlah ke lancang lalu berlayar kembali ke negeri masing-masing pulang. Raja Syahsyian dan tuan putri Mengindra Sari Bunga pun berangkat pulang ke istananya. Bermula segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu dengan segala menteri yang dengki akan Indraputra itu semuanya berdendam hatinya akan Indraputra. Alkisah peri mengatakan tatkala Indraputra dibunuh oleh segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu maka dihidupkan oleh bininya, dan peri mengatakan tatkala Indraputra kahawin dengan tuan putri Mengindra Sari Bunga, dan peri mengatakan tatkala datang Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah mendapatkan Indraputra dengan segala raja-raja sekalian datang mendapatkan Indraputra. Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini demikian bunyinya: Pada suatu hari segala menteri yang dengki akan Indraputra itu duduk musyawarat, maka kata segala anak raja-raja itu kepada segala menteri, "Sekarang apa bicara kita akan Indraputra itu." Maka sahut segala menteri itu, "Baik tuan hamba ajak Indraputra itu bermain senjata, maka tuan hamba bunuh sekali." Maka ujar segala anak raja-raja itu, "Baiklah esok hari hamba sekalian ajak bermain pedang." Hatta setelah keesokan harinya, maka anak raja-raja itu menyuruh empat orang biduanda kepada Indraputra. Tatkala itu Indraputra lagi duduk dengan perdana menteri. Maka biduanda empat orang itu pun datang seraya menyembah seraya berkata, "Ya tuhankuku Indraputra, esok hari tuanku dipersilakan oleh segala anak raja-raja itu bermain pedang." Maka Indraputra pun tersenyum seraya berkata, "Adapun beta tiada tahu bermain pedang. Jika segala anak raja-raja itu hendak mengaja[k] beta bermain pedang, apatah salahnya." Maka biduanda itu pun kembalilah menyampaikan kata Indraputra itu kepada segala anak raja-raja. Hatta maka terdengarlah kepada Raja Syahsyian Indraputra diajak

oleh segala anak raja[-raja] itu bermain pedang. Maka Raja Syahsyian pun diiringkan oleh segala menteri dan hulubalang abantara berangkat keluar hendak melihat Indraputra bermain pedang dengan segala anak raja-raja itu. Maka medan pun diperbaiki oranglah dan dihampari per[ma]dani pada tempat raja melihat itu. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian terlalu azmat bunyinya. Maka Indraputra pun datanglah dengan perdana menteri ke hadapan Raja Syahsyian. Maka segala anak raja-raja itu pun masing-masing bermain pedang di hadapan Raja Syahsyian. Maka titah baginda, "Hai anakku Indraputra, keluarlah tuan bermain pedang." Maka Indraputra pun menyembah seraya mengunus pedangnya, dikitar-kitarkannya seraya melompat lalu bermain terlalu indah-indah lakunya seperti merak mengigal di atas talam rupanya. Hatta maka segala anak raja-raja itu berlawanlah main pedang dengan Indraputra. Adapun pada hati segala anak raja-raja itu hendak membunuh Indraputra. Maka Indraputra bermain pedang itu seraya [di]kisar-kisarkannyakisarkannya. Maka keluar asap memancar daripada pedang Indraputra. Maka mata segala anak raja-raja itu pun mamang. Maka berapa dituju oleh segala anak raja-raja itu akan Indraputra, tiada juga kena. Maka oleh Indraputra ditambangkannya hulu pedangnya kepada pedang segala anak raja-raja itu. Maka segala pedang anak raja-raja itu semuanya patah, maka segala anak raja-raja itu pening kepalanya dan berair matanya. Maka segala anak raja-raja itu pun tewaslah ia oleh Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun kembalilah dengan segala menteri dan hulubalang, rakyat sekalian pun kembalilah masing-masing ke rumahnya. Sekalian orang itu memuji-muji Indraputra. Maka segala anak raja-raja itu semuanya kembalilah ke rumahnya dengan kemaluannya. Maka segala anak raja-raja itu musyawarat hendak membunuh Indraputra, katanya, "Baik Indraputra ini kita adang di jalan, kita bunuh!" Maka ujar segala anak raja-raja itu, "Baiklah esok hari kita nanti di jalan pada ketika sunyi." Bermula setelah Indraputra kembali dengan perdana menteri daripada bermain pedang itu, setelah esok harinya maka Indraputra pun berjalan seorangnya hendak pergi ke rumah nenek kebayan, maka bertemu dengan anak raja-raja itu, maka dibunuhnya. Maka Indraputra pun matilah; sepuluh orang anak raja-raja itu yang membunuhnya. Setelah Indraputra sudah mati maka diambil oleh anak raja-raja itu cembul yang berisi kemala hikmat itu, maka ia kembali ke rumahnya. Bermula maka istri Indraputra keluar dari dalam cembul itu memakai cara laki-laki. Maka dikeluarkannya bedi zahra itu, disapukannya kepada tubuh Indraputra, maka Indraputra pun hiduplah. Maka dilihatnya istrinyanya ketiganya ada hadir di sisinya, ada yang meriba kepalanya. Maka ujar Indraputra kepada istrinyanya ketiganya, "Hai tuan putri ketiga, mengapakah hamba demikian ini dan mengapah tuan hamba memakai pakaian laki-laki?" Maka ujar tuan putri ketiga itu, "Hai kakanda, tiadakah tuan hamba tahu dibunuh oleh anak raja-raja yang sepuluh orang itu dan

kemala hikmat itu pun diambilnya?" Setelah Indraputra mendengar kata istrinyanya ketiga itu maka ia pun heran akan dirinya mati dibunuh oleh segala anak raja-raja itu. Setelah hari siang maka Indraputra pun pergi mengadap Raja Syahsyian dengan istrinyanya ketiga itu. Setelah datang ke hadapan Raja Syahsyian maka Indraputra pun menyembah seraya berkata, "Ya tuhankuku Syah [Alam], patik mohonkan ampun ke bawah duli Syah Alam. Adapun patik dianiaya oleh anak raja-raja sepuluh orang, dibunuhnya. Orang (empat) orang inilah syaksyi patik." Maka dilihat oleh Raja Syahsyian rupa orang muda itu ketiganya terlalu amat elok. Maka Raja Syahsyian pun bertanya kepada orang muda itu tiga orang, "Sungguhkah Indraputra ini mati dibunuh oleh anak raja-raja sepuluh orang?" Maka sembah orang muda itu, "Sungguhlah, ya tuhankuku Syah Alam, karena ada tandanya pada ikat pinggang Indraputra itu diambilnya." Maka anak raja yang sepuluh orang itu pun disuruh raja panggil. Maka anak raja sepuluh orang itu pun datang. Maka titah Raja Syahsyian kepada anak raja-raja yang sepuluh itu, "Sungguhkah membunuh Indraputra?" Maka sahut anak raja yang sepuluh itu, "Jika patik membunuh Indraputra, masakan ia hidup lagi!" Maka sahut orang muda tiga itu, "Sungguhlah anak raja ini membunuh Indraputra, hambalah yang melihat dia. Habiskah sudah ilmu Allah taala? Adapun tanda tuan hamba membunuh Indraputra itu, cembul hikmat itu di dalam ikat pinggang tuan hamba itu." Maka anak raja yang sepuluh orang itu pun tiada lagi dapat bersangkal. Maka titah Raja Syahsyian kepada anak raja yang sepuluh itu, "Kembalikanlah cembul hikmat itu!" Maka dikembalikannya cembul hikmat itu kepada Indraputra. Maka anak raja sepuluh itu pun kemalu-maluan. Maka sembah perdana menteri, "Ya tuhankuku Syah Alam, apa hukumnya orang yang demikian ini?" Maka titah baginda, "Hukumlah oleh perdana menteri." Maka kata perdana menteri, "Jika demikian, hargakanlah kemala ini." Maka ujar Indraputra, "Janganlah dihargakan kemala ini, timbang sama beratnya pun baiklah." Maka kata anak raja yang sepuluh itu, "Baiklah!" Maka ditimbanglah kemala hikmat itu dengan dinar, maka belum juga sama timbang. Maka ditimbang pula dengan pakaian anak raja-raja yang sepuluh itu pun berat juga kemala itu. Maka habislah emas dan perak dan pakaian segala anak raja-raja itu ditimbangkan kemala itu, maka tiada juga sama timbang. Maka kata Indraputra, "Sudahlah." Karena sudah habis segala artanyanya tiada lagi, maka anak raja yang sepuluh orang itu pun kembalilah dengan masygulnyanya. Maka Raja Syahsyian pun berangkat masuk ke istana. Maka perdana menteri dan Indraputra pun kembali ke rumahnya. Hatta setelah hari malam maka Indraputra mencita kemala hikmat itu. Maka keluarlah sebuah maligai dan suatu taman, dalam taman itu ada sebuah balai. Pada balai itulah

tempat segala jin dan dewa bermain. Maka Indraputra pun duduk di atas maligai itu bermain, bersenda, dan bergurau dengan istrinyanya tiga orang itu, makan minum pelbagai nikmat, dan memalu bunyi-bunyian. Maka terdengarlah kepada tuan putri Mengindra Sari Bunga bunyi-bunyian Indraputra itu terlalu ramai. Maka kata tuan putri Mengindra Sari Bunga kepada inangda, "Hai mak inang, di mana bunyi-bunyian terlalu ramai itu?" Maka kata emak inang itu, "Ya tuanku, tiada patik tahu di mana gerangan bunyi-bunyian itu." Maka titah tuan putri kepada dayang-dayang, "Pergi engkau lihat di mana tempat bunyi-bunyian itu." Maka pergilah dayang-dayang itu lalu ke kampung perdana menteri. Maka dilihat oleh dayang-dayang itu ada suatu taman dan sebuah maligai terlalu indah-indah perbuatannya dan suatu balai terlalu panjang. Di atas balai itu orang memalu bunyi-bunyian, rebab, kecapi, muri, bangsi, serunai, dandi. Segala orang muda-muda bermain; ada yang berpantun, ada yang bernyanyi, ada yang bersyair, ada yang bermadah, masing-masing dengan tahunya. Maka dilihat oleh dayang-dayang itu Indraputra duduk di atas maligai itu dengan tiga orang perempuan bersenda bergurau. Maka dayang-dayang itu pun heran melihat. Maka dayang-dayang itu pun lena ia melihat dan asyik ia mendengar bunyi-bunyian itu, maka tiadalah ia segerah kembali. Setelah tuan putri Mengindra Sari Bunga menanti dayang-dayang itu lambat datang, maka disuruh pula oleh tuan putri seorang lagi dayang-dayang. Maka pergilah dayang-dayang itu, maka dilihatnyalah barang kelakuan Indraputra itu bermain duduk di atas maligai itu. Maka ujar dayang-dayang itu, "Mengapa maka engkau disuruhkan tuan putri, maka tiada engkau segerah kembali memberi tahu tuan putri?" Maka dayang-dayang itu pun segeralah kembali memberi tahu tuan putri, ujarnya, "Ya tuanku tuan putri, terlalu sekali indah-indah maligai, taman, dan balai. Istrinyanya Indraputra tiga orang, terlalu baik paras rupanya. Sebab itulah maka patik lena di sana melihat-lihat." Setelah tuan [putri] mendengar kata dayang-dayang itu maka sangatlah hati tuan putri hendak pergi melihat. Maka kata tuan putri pada dayang-dayang itu, "Mari kita pergi melihat bini Indraputra itu, betapa gerangan rupanya!" Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun memakai pakaian cara laki-laki. Maka tuan putri pergilah dengan dayang-dayang itu dua orang. Setelah sampai kepada tempat Indraputra itu maka dilihat tuan putri sungguhlah seperti kata dayang itu. Maka tuan putri pun lalu hampir ke sisi maligai itu. Maka dilihat oleh tuan putri Mengindra Sari Bunga Indraputra duduk dengan perempuan tiga orang bersenda bergurau, maka dalam hati tuan putri Mengindra Sari Bunga, "Inilah gerangan bini Indraputra!" Maka ujar tuan putri Mengindra Sari Bunga, "Pada fikir beta Indraputra ini anak raja besar juga, maka ia sangat sakti dan bijaksana." Maka kata dayang-dayang itu, "Sungguhlah seperti kata tuan putri itu, karena selamanya nenek kebayan itu tiada beranak. Dari mana

ia beroleh cucu!" Maka tuan putri pun kembali ke istananya. Maka hari pun sianglah. Maka Indraputra pun mengembalikan kemala hikmat itu. Setelah hari siang maka datang biduan empat orang disuruh oleh anak raja-raja itu memanggil Indraputra bermain kuda. Maka kata biduanda itu, "Ya tuanku Indraputra, petang hari sekarang tuanku dipersilakan bermain kuda dan tombak." Maka kata Indraputra, "Beta tiada tahu bermain kuda dan tombak. Jika segala anak raja-raja itu hendak mengajar beta, apatah salahnya!" Maka biduanda itu pun kembalilah kepada anak raja-raja itu menyampaikan kata Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun berangkat melihat-lihat Indraputra bermain kuda dan tombak dengan anak raja-raja itu diiringkan segala menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian. Maka medan pun diperbaiki oranglah, maka segala anak raja-raja itu pun hadirlah di tengah padang seorang seekor kuda. Maka bunyi-bunyian pun dipalu oranglah terlalu azmat bunyinya. Maka Indraputra pun mencita Janggi Gardan. Maka Janggi Gardan pun datanglah dengan selengkap pakaiannya. Maka Indraputra pun naiklah ke atas kuda Janggi Gardan lalu digertakkannya ke medan. Setelah Raja Syahsyian dan segala orang banyak melihat rupa kuda Indraputra dan pelananya itu, maka sekaliannya heran. Maka Indraputra turun dari atas kudanya, datang mengadap Raja Syahsyian. Maka segala anak raja-raja itu melarikan kudanya dan bermain tombaknya. Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Hai anakku Indraputra, keluarlah anakku bermain!" Maka Indraputra pun menyembah lalu naik ke atas kudanya, maka digertakkannya ke medan, bermain seperti merak mengigal di atas talam rupanya. Maka Raja Syahsyian dan segala orang banyak itu semuanya heran melihat laku Indraputra dan melihat rupa kudanya dan pelananya bertatahkan ratna mutu manikam. Maka Indraputra pun melarikan kudanya seraya dilambatkannya. Maka dalam hati segala anak raja-raja itu jikalau dapat Indraputra hendak dibunuhnya. Maka Janggi Gardan pun terbang. Maka diciritinya segala anak raja-raja itu kena kain bajunya dan destarnya. Maka Indraputra turun pulah ke tanah seraya melarikan kudanya, bermain tombak. Maka mata segala anak raja-raja itu pun berpusing dan berair. Maka segala orang banyak pun tertawa gelak-gelak melihat kain baju segala anak raja-raja itu kena cirit kuda itu. Maka orang banyak itu pun bersorak gemuruh bunyinya. Maka kuda Indraputra dilarikannya terlalu pantas. Maka tinggallah kuda segala anak raja-raja itu di belakang. Maka sorak orang pun gemuruh tiada berputusan. Setelah itu maka Raja Syahsyian dengan segala menteri dan hulubalang, abantara, dan segala rakyat sekalian pun pulanglah masing-masing ke rumahnya. Maka segala anak raja-raja itu pun kembali ke tempatnya dengan malunya dengan segala rakyatnya. Maka Indraputra dengan perdana menteri mengiringkan Raja Syahsyian lalu masuk ke istana. Maka Indraputra kembali ke rumahnya dengan perdana menteri. Sebermula maka segala anak raja-raja itu pun musyawarat hendak membunuh Indraputra, maka dinantinya pada jalan yang sunyi. Maka

Indraputra pun lalu dari sana berjalan, maka diparang oleh anak raja itu Indraputra lalu mati diparangnya dari belakang. Maka tubuh Indraputra pun dipenggal-penggal oleh anak raja-raja itu. Maka komar kemala pada ikat pinggang Indraputra itu pun diambilnya. Kemala hikmat dan bedi zahra dan cembul mutia itu ditinggalkannya oleh Indraputra di rumah, tiada dibawanya berjalan. Bermula maka istri Indraputra ketiganya pun tahulah akan Indraputra itu mati, maka putri ketiga itu pun keluarlah memakai pakaian cara laki-laki, berjalan mencari mayat Indraputra. Maka putri ketiga itu pun bertemulah dengan mayat Indraputra berpenggal-penggal itu. Maka putri ketiga itu pun pergi mengadap Raja Syahsyian serta membawa mayat Indraputra, dihantarkannya di hadapan Raja Syahsyian, maka sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, inilah sahabat patik mati dibunuh oleh segala anak raja-raja itu, tiada dengan dosanya." Maka Raja Syahsyian pun terkejut seraya menampar pahanya, maka kata baginda, "Wah, sayang sekali kami akan Indraputra mati!" Maka Raja Syahsyian menitahkan abantara pergi memanggil segala anak raja-raja itu. Maka segala anak raja-raja itu pun datang mengadap Raja Syahsyian seraya sujud menyembah, katanya, "Ya tuanku Syah Alam, sungguhlah patik membunuh Indraputra ini, karena ia sangat memberi patik malu. Mana kutuk Syah Alam patik junjung," seraya memandang kepada orang muda tiga orang itu. Maka orang muda tiga orang itu pun amarah seraya berkata, "Ya tuhankuku Syah Alam, jikalau tiada tuanku hukumkan orang membunuh sahabat patik ini, apatah daya patik! Mana kuasa patik akan membalaskan kematian sahabat patik!" Maka titah Raja Syahsyian, "Hai orang muda, nantilah esok kita bicarakan." Maka baginda pun berangkat masuk ke dalam istana seraya memandang kepada orang muda tiga orang itu tiada lepas daripada matanya. Maka orang muda tiga orang itu pun kembalilah dengan perdana menteri membawa mayat Indraputra. Hatta maka kata anak raja-raja itu sama sendirinya, "Orang muda tiga orang itu rupanya seperti perempuan." Maka ujar seorang lagi, "Gilakah tuan hamba, laki-laki tuan hamba katakan perempuan!" Maka anak raja-raja itu pun berjalan dari belakang beriring-iring. Maka ujar orang muda tiga orang itu kepada perdana menteri, "Tuan hamba bawalah mayat ini dahulu masuk." Maka perdana menteri lalu masuk ke dalam membawa mayat Indraputra itu, ditaruhnya dalam tirai kelambu. Maka putri ketiga itu pun menguraikan rambutnya, maka dikeluarkannya pakaian cara laki-laki itu maka ia memakai cara perempuan. Setelah dilihat oleh segala anak raja-raja itu maka ujar sama sendirinya, "Apakah kata beta tadi, nyatalah perempuan orang muda itu." Maka putri ketiga itu pun lalu masuk ke dalam kampung perdana menteri. Maka segala anak raja-raja itu pun masing-masing kembali ke tempatnya dengan masygulnyanya. Maka putri ketiga itu pun lalu ke rumah perdana menteri. Syahdan perdana menteri pun sudah tahu akan hikmat itu. Maka putri ketiga itu lalu masuk ke dalam tirai kelambu

itu. Maka dikeluarkannya bedi zahra itu, dibubuhkannya pada tubuh Indraputra, maka Indraputra pun hiduplah dengan takdir Allah taala. Maka hari pun malamlah. Maka Indraputra pun mecita kemala hikmat itu, maka jadilah sebuah maligai dengan balainya terlalu indah-indah. Syahdan orang bermain terlalu ramai pelbagai permaian dan segala bunyi-bunyian. Hatta maka terdengarlah bunyi-bunyian itu kepada tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka ujar tuan putri kepada inangda, "Hai mak inang, bunyi-bunyian apa ini seperti bunyi-bunyian Indraputra." Maka ujar inangda, "Ya tuhankuku tuan putri, di mana lagi Indraputra, karena sudah mati dibunuh oleh segala anak raja-raja itu berpenggal-penggal tubuhnya." Maka tuan putri pun menangis dengan berahinya. Maka sembah dayang itu, "Ya tuanku, janganlah tuanku menangis dahulu, nanti patik melihat, karena dahulu sudah sekali Indraputra dibunuh oleh segala anak raja-raja itu maka hidup pula." Maka dayang-dayang itu pun segera pergi melihat Indraputra ke rumah perdana menteri. Maka dilihatnya Indraputra duduk dengan perempuan tiga orang bersenda bergurau. Maka dayang-dayang itu pun segera pulang berlari-lari berdatang sembah kepada tuan putri, katanya, "Ya tuanku, Indraputra [a]da hidup, patik lihat bersenda bergurau dengan perempuan tiga orang! Jikalau tuanku tiada percaya, tuanku lihat sendiri." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun memakai pakaian cara laki-laki maka ia berjalan ke tempat Indraputra. Maka Digar Akas ketika itu ia keluar, maka dilihatnya tuan putri Mengindra Sari Bunga datang. Maka segera diberitahukannya kepada Indraputra. Maka Indraputra pun segera keluar mendapatkan tuan putri, maka dipegangnya tangan tuan putri Mengindra Sari Bunga seraya tersenyum. Maka ujar Indraputra, "Baharulah sekarang beta bertemu dengan orang mencuri!" Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun berseloka demikian, "Yang manikam dan mutia itu jauhari juga yang tahu akan harganya. Oleh beta tahu 'kan jauhari, maka beta tunjukkan, hendaklah tahu-tahu menaruh diri." Maka Indraputra pun mimpin tangan tuan putri Mengindra Sari Bunga, dibawanya naik ke maligai. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun memberi isarat kepada dayang-dayang dua orang itu lalu ia naik ke maligai. Maka dayang-dayang itu pun tahu akan arti isyarat tuan putri Mengindra Sari Bunga itu lalu ia mengiringkan tuan putri naik ke maligai itu. Maka kata Indraputra kepada tuan putri Mengindra Sari Bunga, "Baik tuan bersalin pakaian." Maka diberi oleh Indraputra kain persalin tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun bersalin pakaian. Setelah sudah maka duduk sama-sama beratur empat orang. Maka dilihat oleh Indraputra keempat putri itu sama seperti bunga kembang sekuntum, terlalu indah-indah rupanya, tetapi tuan putri Mengindra Sari Bunga pantas manis barang lakunya. Hatta maka dibawa oranglah makan-makanan ke hadapan putri keempat itu. Maka ujar tuan putri Jumjum Ratnadewi kepada tuan putri Mengindra

Sari Bunga, "Santaplah tuan putri, barang dapatnya jangan diaibkan, karena tiada dengan sepertinya. Maka putri keempat itu pun makanlah seraya berceriterakan segala hal-ihwal Indraputra itu daripada permulaannya datang kepada kesudahannya dan peri tatkala Indraputra itu diterbangkan merak emas itu semuanya diceriterakannya. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun baharulah tahu akan Indraputra itu anak raja besar. Maka ia pun sukacitalah hatinya. Setelah sudah putri keempat itu makan maka memakai bau-bauan. Hatta maka hari pun hampirlah siang. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun memohonlah kepada Indraputra dan kepada putri ketiga itu. Maka ujar putri Jumjum Ratna[dewi] kepada putri Mengindra Sari Bunga, "Jangan tuan kecil hati akan paduka kakanda. Indraputra ini anak raja besar lagi dengan saktinya, syahdan bertambah pula bijaksana. Di mana akan diperoleh pada zaman ini orang seperti paduka kakanda ini." Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun tersenyum lalu kembali ke istananya. Maka dihantarkan oleh Indraputra tuan putri Mengindra Sari Bunga kembali ke istananya. Maka Indraputra pun kembali. Maka kemala hikmat itu pun diambil oleh Indraputra, maka putri ketiga itu pun masuklah ke dalam cembul mutia itu. Hatta maka Raja Syahsyian pun semayam diadap oleh segala menteri dan hulubalang semuanya ada hadir mengadap. Maka Indraputra pun datang mengadap Raja Syahsyian seraya menyembah. Maka Raja Syahsyian pun heran melihat Indraputra ada datang itu, karena hidup pula. Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Hai anakku, apa bicara anakku sekarang akan segala anak raja-raja yang membunuh anakku itu?" Maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, sekarang patik telah hidup selamat. Adapun komar kemala yang diambilnya itu jika dikembalikannya pun, baiklah pada patik." Maka Raja Syahsyian pun menyuruhkan biduanda itu memanggil segala anak raja-raja itu. Maka segala anak raja-raja itu datang mengadap Raja Syahsyian seraya duduk menyembah. Maka dilihatnya Indraputra ada hidup pula, maka pucatlah muka segala anak raja-raja itu. Maka Indraputra pun tersenyum memandang muka segala anak raja-raja itu. Maka Raja Syahsyian pun memberi titah kepada segala anak raja-raja itu, "Kembalikan komar kemala Indraputra itu oleh segala anakku sekalian." Maka segala anak raja-raja itu pun menyembah lalu mengembalikan komar kemala itu. Maka perdana menteri pun menyembah seraya berkata, "Ya tuanku Syah Alam, apa hukumnya orang membunuh orang tiada dengan dosyanyanya dan artanyanya diambilnya." Maka titah Raja Syahsyian, "Hukumkanlah seperti dahulu." Maka Raja Syahsyian menurut seperti kata Indraputra lalu baginda berangkat masuk ke dalam istana. Maka Indraputra pun kembali bersama-sama dengan perdana menteri ke rumahnya. Syahdan segala anak raja itu pulang ke rumahnya dengan masygulnyanya dan lagi dengan malunya, maka ia musyawarat, katanya, "Mari kita ajak Indraputra bermain panah."

Maka segala anak raja-raja itu menyuruhkan biduanda kepada Indraputra. Setelah datang kepada Indraputra maka ujar biduanda itu, "Tuanku diajak oleh segala anak raja-raja itu bermain panah." Maka ujar Indraputra, "Baiklah, tetapi beta tiada tahu bermain panah. Jika segala anak raja-raja itu hendak mengajar beta, baiklah!" Hatta maka Raja Syahsyian pun berangkatlah keluar diiringkan segala menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian lalu ke medan tempat bermain panah itu. Maka medan pun diperbaiki oranglah. Maka segala anak raja-raja itu pun datanglah ke medan bermainkan panahnya. Maka (maka) Indraputra pun memanah. Syahdan maka digunakan Indraputra suatu hikmat kepada anak raja-raja itu, maka tiada dapat dilepaskannya anak panahnya, berapa pun dikuatinya oleh segala anak raja-raja itu hendak dilepaskannya anak panahnya, tiada juga dapat. Ada yang putus tali panahnya, ada yang terjerat pada lehernya segala anak raja-raja itu, ada yang memuntahkan darah. Maka segala orang yang melihat semuanya tertawa gelak-gelak. Maka Indraputra pun memanah ke udara. Maka anak panah Indraputra itu menjadi awan hitam datang mengelubungi segala anak raja-raja itu, maka segala anak raja-raja itu pun terikat. Maka Raja Syahsyian pun heran lalu berangkat kembali diiringkan oleh segala menteri dan hulubalang, rakyat sekalian. Lalu baginda masuk ke istana. Maka Indraputra dan perdana menteri pun kembali ke rumahnya. Maka anak raja-raja itu semuanya kembali ke rumahnya masing-masing. Hatta maka segala menteri yang dengki akan Indraputra itu pun datang kepada anak raja-raja itu, maka katanya, "Baik tuanku bunuh sekali lagi Indraputra itu, cencang tubuhnya, jadikan hancur!" Maka ujar anak raja-raja itu, "Baiklah!" Maka anak raja-raja itu pun pergilah mengadang Indraputra. Hatta pada suatu hari maka Indraputra pun berjalan seorangnya, lalu dibunuh oleh anak raja-raja itu lalu dicincangnyanya, hancur tubuh Indraputra. Setelah itu maka ia pun kembali ke rumahnya. Hatta maka putri yang ketiga orang istri Indraputra itu menanti-nanti Indraputra datang, maka tiada juga ia datang. Maka putri ketiga itu pun tahulah akan Indraputra itu mati dibunuh oleh anak raja-raja itu. Maka putri ketiga itu memakai cara laki-laki lalu ia segera pergi mencari mayat Indraputra itu, maka tiada ia bertemu karena hancur, maka dicerai-ceraikan oleh anak raja itu, tiada sempat jadi tiada kelihatan. Maka tuan putri Jumjum Ratnadewi pun ingat akan pesan Indraputra, "Jika kelak adinda cari mayat kakanda maka tiada bertemu, ambil panah kesaktian daripada Darma Gangga itu. Hempaskan ke bumi, niscaya anak panah itu jadi seperti semut, ia dapat mencari tubuh kakanda dihimpunkannya. Apabila sudah berhimpun, maka guliga bedi zahra itu bubuhkan pada tubuh kakanda. Setelah itu maka guliga daripada Bermi Sakti itu dibubuhkan pada tubuh kakanda." Maka putri itu pun kembali ke rumah mengambil anak panah itu, maka kata putri itu kepada anak panah itu, "Hai anak panah kesaktian, pergilah engkau cari tubuh Indraputra itu, himpunkan olehmu!" Maka anak panah itu pun memanahkan dirinya, maka diikut oleh tuan putri ketiga itu. Maka anak panah itu mengunjamkankan dirinya

pada tempat tubuh Indraputra itu. Maka dilihat oleh putri ketiga itu tubuh Indraputra itu hancur luluh, cerai-berai. Maka dicabut oleh putri Jumjum Ratnadewi anak panah itu dari bumi, maka dihempaskannya ke tanah. Maka anak panah itu jadi seperti semut terlalu banyak. Maka dihimpunkannya segala daging dan kulit Indraputra yang hancur luluh lantak itu dihimpunkannya. Setelah sudah berhimpun maka dibawa oleh putri ketiga itu kepada Raja Syahsyian, maka sembahnya, "Ya tuanku Syah Alam, inilah sahabat patik Indraputra, mati dibunuh oleh segala anak raja-raja itu, inilah tubuhnya." Maka Raja Syahsyian pun heran melihat tubuh Indraputra itu. Hatta maka dikeluarkan oleh putri itu guliga yang daripada Berma Sakti, maka dibubuhkannya pada tubuh Indraputra yang luluh lantak itu di hadapan Raja Syahsyian. Maka dengan takdir Allah taala, Tuhan Yang Amat Kuasa maka Indraputra pun hidup pula kembali seperti dahulu di hadapan Raja Syahsyian. Maka Raja Syahsyian dengan segala orang banyak pun semuanya heran melihat Indraputra itu hidup pula. Maka Raja Syahsyian menyuruh memanggil segala anak raja-raja yang membunuh Indraputra itu. Maka segala anak raja-raja itu datanglah ke hadapan Raja Syahsyian seraya menyembah. Setelah dilihatnya Indraputra hidup pula itu, maka muka segala anak raja-raja itu pun pucatlah. Maka titah Raja Syahsyian kepada perdana menteri, "Hukumkanlah segala anak raja-raja itu seperti dahulu, rampas segala artanyanya dan hambanya semuanya ambil!" Maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, mohonlah patik mengambil arta segala anak raja-raja itu dan patik tiada mau mengambil segala hamba sahayanya. Segala artanyanya yang dahulu itu pun hendak patik pulangkan." Maka disuruh perdana menteri, "Ambil pada sahayanya arta segala anak raja-raja itu, maka dikembalikan di hadapan Raja Syahsyian." Maka segala anak raja-raja itu sukacita hatinya, syahdan memuji-muji Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun sukacita oleh melihat budi pekerti Indraputra itu, melainkan segala menteri itu juga yang sakit hatinya akan Indraputra. Maka kata Indraputra kepada segala anak raja-raja itu, "Hai saudaraku sekalian, jangan tuan hamba dengar-dengaran akan kata fitnah orang itu." Maka segala menteri itu pun tunduk, pucat mukanya. Hatta maka Raja Syahsyian pun fikir dalam hatinya akan budi pekerti Indraputra; syahdan barang lakunya dan sikapnya lebih juga daripada segala anak raja itu. Maka titah Raja Syahsyian kepada perdana menteri, "Hai perdana menteri, berhadirlah, karena kita hendak memulai pekerjaanan berjaga-jaga akan mengawinkankan Indraputra dengan anak kita putri Mengindra Sari Bunga." Maka perdana menteri dan Indraputra pun menyembah Raja Syahsyian dengan sukacitanya lalu pulang ke rumahnya, berlengkap berjaga-jaga, makan minum dengan segala bunyi-bunyian. Maka Raja Syahsyian pun memulai berjaga-jaga makan minum dengan segala menteri dan hulubalang dengan segala raja-raja. Maka dipalu oranglah segala bunyi-bunyian, terlalu azmat bunyinya. Sebermula maka Indraputra menyuruhkan segala penghulu jin kemala

hikmat itu pergi memanggil Raja Dewa Lela Mengerna, dan Nabat Rum Syah, dan Raja Puspa Pandai, dengan segala anak raja-raja sekalian disuruh Indraputra panggil. Maka pergilah Digar Kilat dengan segala orangnya memanggil segala raja-raja itu. Sebermula maka tersebutlah perkataan segala menteri celaka itu, ia musyawarat dengan segala temannya empat puluh orang segala menteri, katanya, "Jika Indraputra telah jadi menantu raja, niscaya kita sekalian dibunuhnya dan barang sembah kita pun tiada diturut oleh raja. Baik kita membawa diri kita pada segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu, kita lawan raja ini perang." Setelah sudah ia musyawarat demikian itu maka segala menteri itu pun pergilah kepada segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu. Maka dikatakannya kepada segala anak raja-raja itu seperti yang telah dimusyawaratkannyakannya itu. Maka kata segala anak raja-raja itu, "Baiklah hamba pun sertalah, karena sangat hamba malu oleh Indraputra dan bini pun tiada hamba peroleh. Daripada hidup menaruh malu, baiklah mati. Muka hamba yang mana hamba tunjukkan kepada ayah bunda hamba!" Setelah sudah ia musyawarat kepada segala anak raja-raja itu maka pada malam itu juga segala menteri itu membawa segala anak bininya dan artanyanya dengan segala senjata raja semuanya dibawanya pergi bersama-sama dengan segala anak raja-raja itu, dan gajah kuda pun semuanya dibawanya segala alat peperangan pada malam itu juga. Hatta maka terdengarlah pada Raja Syahsyian segala menteri itu sudah lari berkampung dengan segala anak raja-raja itu, membawa anak bininya dan artanyanya, segala senjata raja semuanya dibawanya. Maka Raja Syahsyian pun tiadalah berbicara lagi. Maka baginda pun menyuruh memanggil perdana menteri dan Indraputra. Maka perdana menteri dan Indraputra pun segerah datang menghadap baginda. Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra dan perdana menteri, "Sekarang bagaimana bicara anakku, karena segala menteri itu sudah menyebelah dengan segala anak raja-raja itu ia mufakat esok hari kita akan diserangnya." Maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, pertetap juga hati yang dipertuan. Atas patiklah melawan segala menteri itu dengan anak raja-raja sekalian itu dengan tolong Tuhan Yang Kuasa." Setelah itu maka Indraputra keluar ke padang, maka dicitanya Dewi Lakpurba. Hatta maka dengan seketika itu juga menjadi sebuah negeri dengan kotanya selengkapnya dengan paritnya dan senjatanya, dengan rakyat sekalian, dengan istananya, dengan gajah, kuda, dengan segala bunyi-bunyian. Maka terdengarlah segala bunyi-bunyian kepada Raja Syahsyian, maka kata Raja Syahsyian, "Datanglah gerangan kita diserangnya." Hatta maka Indraputra pun datang mengadap Raja Syahsyian, maka sembah Indraputra, "Ya tuhankuku Syah Alam, baik tuhankuku pindah dari sini. Ada suatu negeri patik buat di sana. Baik tuanku duduk, dapat kita melawan musuh itu, karena teguh tempat itu." Maka Raja Syahsyian dan tuan putri Mengindra Sari Bunga dengan segala isi istana semuanya pindah pada tempat yang baharu dibuat Indraputra itu dengan segala arta dan perkakas semuanya dibawanya. Maka Raja Syahsyian pun heran melihat sakti Indraputra itu dan heran melihat jin dan dewa itu. Maka segala orang banyak itu pun

heran melihat negeri Indraputra itu dengan istananya. Hatta maka hari pun sianglah. Maka segala menteri dan segala raja-raja itu pun heran melihat negeri dengan kotanya, syahdan dengan paritnya. Alkisah maka tersebutlah perkataan Digar Kilat disuruhkan menjemput Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah dengan segala raja-raja itu. Maka segala raja-raja itu semuanya datang dengan segala bala tenteranya dengan bunyi-bunyian terlalu azmat, dengan tunggul dan panji-panji. Maka pada sangka orang itu musuh yang datang itu, maka berlari-larian d[ia] memberi tahu Indraputra. Maka segera Indraputra naik ke atas kota, maka dilihat oleh Indraputra yang datang itu Raja Dewa Lela Mengerna. Maka segera Indraputra memberi [tahu] Raja Syahsyian, "Ya tuhankuku Syah Alam, yang datang itu bukannya musuh; sahabat patik yang bernama Raja Dewa Lela Mengerna, ialah yang datang itu." Maka Raja Syahsyian pun berangkat naik ke atas kota melihat segala raja-raja yang datang itu. Maka Indraputra pun keluar mengelu-ngelukan Raja Dewa Lela Mengerna. Maka Indraputra pun berjabat tangan Raja Dewa Lela Mengerna lalu dibawanya masuk ke dalam kota, maka Raja Dewa Lela Mengerna menyembah Raja Syahsyian. Hatta seketika lagi maka Nabat Rum Syah pun datang dengan segala bunyi-bunyian dengan tunggul dan panji. Maka Indraputra pun pergi mengelu-ngelukan Nabat Rum Syah lalu dibawanya masuk ke dalam kota. Setelah itu maka datang pula anak raja mambang kedua, setelah itu maka datang pula segala anak raja-raja yang di Tasik Bahrul Asyik. Setelah itu maka datang pula Raja Puspa Pandai dua beranak, kemudian maka datang pula segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh. Setelah itu maka datang pula Raja Gurantar Syah, setelah itu maka datang Indra Jailani dua bersaudara. Maka segala raja-raja itu datang menyembah Raja Syahsyian dan Indraputra, maka dipeluk dicium oleh Indraputra dan didudukkan di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka diberi persalin oleh Raja Syahsyian dengan pakaian yang mulia-mulia. Maka hidangan pun diangkat oranglah. Maka segala raja-raja itu pun makanlah. Setelah makan maka segala raja-raja itu berceriterakan segala hal-ihwal Indraputra kepada Raja Syahsyian. Maka baharulah Raja Syahsyian tahu akan Indraputra itu anak raja besar, Maharaja Bikrama Bispa nama ayahnya. Maka sukacitalah Raja Syahsyian oleh mendengar Indraputra itu anak raja besar. Setelah sudah makan maka minum pula. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu oranglah. Sebermula setelah dilihat oleh segala menteri dan segala anak raja-raja yang hendak melawan Indraputra dengan Raja Syahsyian itu, segala raja-raja yang datang itu bantu Indraputra dan sekaliannya khidmat kepada Indraputra, maka segala menteri dan segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh itu takutlah ia melawan Indraputra dan Raja Syahsyian. Maka ia berbicara, katanya, "Jika kita melawan sekalipun, tiada akan kita menang melawan Indraputra. Baiklah kita berlepasan diri kita pergi dari sini." Setelah demikian maka segala anak raja-raja dan segala menteri itu turun ke kapal lalu berlarian.

Maka dipersembahkan orang kepada Raja Syahsyian, "Ya tuanku Syah Alam, bahwa segala menteri dan segala anak raja itu sudah berlari, ia lari pada malam tadi." Maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Hai anakku, apa bicara tuan akan segala menteri dan segala anak raja-raja itu sudah lari." Maka sembah Indraputra, "Ya tuanku Syah Alam, atas patik tiada akan ke mana perginya." Maka Indraputra pun menurunkan angin ribut, taufan, guruh, kilat, petir sabung-menyabung. Maka Digar Kilat dan Digar Akas memberi tahu segala anak raja-raja itu. Hatta maka kapal segala anak raja-raja itu terpusing-pusing di laut. Maka Digar Akas dan Digar Kilat pun berseru-seru dari udara, katanya, "Hai segala anak raja-raja dan segala menteri, segeralah kamu sekalian kembali! Tiadakah kamu lihat perkasa Raja Indraputra; selang segala jin dan dewa, mambang, candra lagi datang takluk kepadanya dan menurut barang katanya. Akan kamu sekalian ini indah apa kepadanya. Sekali juga kapal kamu sekalian ini dipanahnya, niscaya semuanya kapal kamu habis tenggelam. Hendaklah kamu sekalian segera kembali minta ampun menyembah kepada baginda itu, seupaya kamu sekalian selamat!" Setelah segala anak raja-raja itu mendengar suara itu maka segala menteri dan anak raja-raja itu kembali, mengikut dirinya sendiri pergi kepada perdana menteri, membawa dirinya. Maka dibawa oleh perdana menteri kepada Indraputra dan kepada Raja Syahsyian. Setelah datang ke hadapan Raja Syahsyian dan Indraputra maka diuraikan Indraputra segala ikat anak raja-raja itu dan perdana menteri menguraikan ikat segala menteri itu. Maka diduduk[kan]kan masing-masing pada tempatnya yang dahulu dan mohonkan nyawanya kepada Indraputra dan kepada Raja Syahsyian. Maka diberi persalin dengan pakaian yang mulia-mulia. Maka segala anak raja-raja dan segala menteri itu heran melihat budi pekerti Indraputra itu, maka dalam hatinya, "Berbahagia sekali raja kita ini beroleh menantu Indraputra, anak raja besar." Hatta setelah selesailah daripada pekerjaanan segala raja-raja dan menteri itu maka Raja Syahsyian pun memulai pekerjaanan berjaga-jaga akan mengawinkankan tuan putri Mengindra Sari Bunga dengan Indraputra. Maka Raja Syahsyian pun berangkat kembali ke negeri sendiri. Maka Indraputra pun duduklah pada negeri itu makan minum dengan segala anak raja-raja dan memalu bunyi-bunyian. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah yang meramaikan kerja itu. Seketika ia pergi pada orang memalu bunyi-bunyian, dan seketika ia pergi pada orang bermain pedang, dan seketika ia pergi pada orang berjuangkan gajah dan bermain kuda. Maka dengan seketika ia pergi pada orang bermain catur dan pasung. Seketika ia masuk bermain rebab, kecapi, muri, bangsi, dan seketika ia pergi kepada orang bernyanyi dan bersyair. Setelah itu maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah pergi kepada tempat Raja Syahsyian, meramaikan kerja Raja Syahsyian. Setelah itu maka kembali pula Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah meramaikan kerja Indraputra. Maka Nabat Rum Syah dan Raja Dewa Lela Mengerna dan Dinar Pandai dengan Raja Puspa Pandai dengan segala anak raja-raja itu berbuat perarakan empat

puluh daripada kayu cendana dan khalambak, gaharu, bersendi-sendi gading ditatah dengan emas berumbai-rumbaikan mutiara. Setelah itu maka diperbuatnya pula suatu perarakan besar sembilan pangkat dan di atas kemuncak perarakan itu digantungnya sebuah kemala terlalu indah-indah cahayanya, dan pagar jala-jalanya daripada mutia dikarang dan pualam dikarang, dan pada kedua pangkat pagar jala-jalanya daripada manikam dikarang, dan pada ketiga pangkat pagar jala-jalanya daripada nilam dikarang, dan pada keempat pagar jala-jalanya daripada pirus dikarang, dan pada kelima pangkat pagar jala-jalanya daripada mutia dikarang, dan pada keenam pangkat pagar jala-jalanya daripada zamrut dikarang, dan pada ketujuh pangkat pagar jala-jalanya daripada pualam dikarang, dan kedulapan pangkat pagar jala-jalanya daripada pusparagam, dan pada sembilan pangkat pagar jala-jalanya daripada biduri dikarang, dan segala birainya daripada emas dan perak dan tembaga suasa. Setelah itu maka di atas perarakan itu dibubuhnya hamparan permadani yang keemasan. Sebermula maka Raja Syahsyian menyuruh mengias balairung dan pengadapanan dan menyuruh mengias istana dan menyuruh mengatur pawai alat kerajaan daripada tunggul dan panji-panji, cogan alamat kerajaan dan payung iram-iram kuning, batangnya daripada emas dan kemuncak manikam. Bermula setelah genaplah empat puluh hari dan empat puluh malam, pada ketika yang baik maka tuan putri Mengindra Sari Bunga pun dihias oranglah dengan pakaian yang indah-indah dan bersubang permata intan, berjentera dan bergelang ditatah dengan manikam. Lain daripada itu beberapa pula pakaian yang indah-indah terkena pada tubuh tuhan putri, mangkin bertambahlah baik paras rupa tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka didudukkan di atas puspa pemanjanganan, dan empat orang anak menteri memangku puan yang keemasan, dan empat orang anak raja yang dara-dara memegang kipas yang keemasan, dan empat puluh anak dara-dara yang menyelampai wali kuning keemasan, memangku dian duduk di hadapan tuan putri Mengindra Sari Bunga, dan empat puluh anak raja-raja duduk dari kanan tuan putri, dan empat puluh anak menteri duduk di kiri tuan putri, dan segala bini raja-raja dan bini menteri dan bini orang kaya-kaya duduk mengadap tuan putri seperti bulan purnama dipagar bintang rupanya. Setelah sudah tuan putri Mengindra Sari Bunga dihias, maka Indraputra pun dihias oranglah dengan pakaian yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Setelah sudah dihias maka dinaik[k]ankan di atas perarakan yang di atas sekali. Pada pangkat yang kedua segala anak raja-raja memegang kipas yang keemasan. Pada pangkat yang ketiga segala anak menteri puan yang keemasan. Pada keempat pangkat segala anak petuanan memangku keris yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada pangkat yang kelima segala anak abantara menyandang pedang yang keemasan berhulukan manikam. Pada keenam pangkat segala anak hulubalang memegang perisyai yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Pada ketujuh pangkat segala anak orang kaya-kaya memangku kendi yang keemasan. Pada kedulapan pangkat segala anak biduanda memangku dian yang keemasan, dan pada pangkat yang kesembilan segala orang menaburkan bunga rampai. Setelah itu maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah memacu kudanya, mengatur segala pawai dan tunggul panji-panji. Maka terkembanglah payung mutia dikarang dan berdirilah cogan

alamat kerajaan. Syahdan maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, gendang, gong, serunai, nafiri, serdam, kopak, ceracap, terlalu azmat bunyinya. Maka dibawa oranglah perarakan itu berkisar sendirinya. Maka berpalu-palulah segala rumbai-rumbai mutianya seperti bunyi-bunyian. Maka Indraputra pun diarak oranglah, rupanya seperti matahari baharu terbit, gilang-gemilang. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah memacu kudanya mengantar segala raja-raja dan menteri hulubalang dan mengatur segala gajah dan kuda. Maka Raja Dewa Lela Mengerna memanah ke udara, maka turunlah hujan narwastu. Maka Raja Puspa Pandai melotarkankan cemeti kudanya ke udara, maka menjadi bunga rampai turun dari udara berhamburan. Maka anak raja mambang kedua melotarkankan cemeti kudanya ke udara. Maka turunlah hujan air mawar, maka basahlah tubuh segala orang yang mengiringkan Indraputra itu. Maka segala orang yang dalam negeri itu semuanya heran melihat kesaktian segala raja-raja itu. Hatta maka Indraputra pun sampailah ke istana Raja Syahsyian. Maka Nabat Rum Syah dan Raja Dewa Lela Mengerna pun mengempil kudanya, hampir pada perarakan itu lalu naik ke atas perarakan itu memegang tangan Indraputra itu. Maka didudukkan baginda di atas puspa pemajangan di kanan tuan putri Mengindra Sari Bunga. Maka diperciki orang dengan narwastu dan disiram dengan air mawar. Maka nasi adap-adap pun dibawa oranglah ke hadapan Indraputra. Setelah sudah santap maka tuan putri pun dibawa Indraputra masuk ke dalam peraduan. Maka tirai kelambu dewangga yang keemasan pun dilabuhkan oranglah. Maka Raja Syahsyian pun keluar ke balairung mengatur segala raja-raja. Maka (di hadapan) puan diangkat oranglah ke hadapan segala raja-raja itu. Maka segala raja-raja dan menteri pun makanlah sekalian masing-masing dengan hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Bermula setelah genap tiga hari tuan putri Mengindra Sari Bunga sudah kahawin, maka Raja Syahsyian pun menyuruh berbuat pancapersada, tempat tuan putri dengan Indraputra mandi, dua belas pangkat. Tiangnya daripada pualam bersendi-sendi dengan gading. Maka dihampari dengan suf sahlat ainulbanat. Maka terkembanglah payung kerajaan pada segala pangkat itu, payung mutia dikarang dan payung manikam dikarang, (dan) maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah menyuruh berbuat jempana ratna akan tempat langir dan bedak dan wida. Maka beberapa kumba mayang daripada emas dan perak dan tembaga suasa. Maka langir dan bedak dengan wida itu dibubuh pada batil emas dan batil mutia, ada yang pada batil pirus. Maka nasi adap-adap pun diletakkan orang di atas jempana itu, di atas tabak emas bertatahkan ratna mutu manikam. Maka segala pakaian Indraputra dan tuan putri Mengindra Sari Bunga ditaruh di atas perarakan. Maka diarak oranglah berkeliling negeri tujuh kali. Setelah itu maka dilabuhkan oranglah tirai dewangga yang keemasan. Maka tuan putri Mengindra Sari Bunga dan Indraputra pun dilangir oranglah dan dibedak. Setelah itu maka dimandikan orang di atas pancapersada itu. Bermula maka Raja Puspa Pandai menyuruhkan segala kera dan beruk bermain. Ada yang bergoceh, ada yang bergumul, ada yang bertombak-tombakan,

ada yang bertetakkan pedang, ada yang bermain perisyai, dan lain daripada itu beberapa pula permainan yang lain. Maka segala orang dalam negeri itu semuanya tertawa gelak-gelak melihat kelakuan kera itu bermain. Setelah sudah mandi maka segala raja-raja itu pun mandi. Setelah sudah mandi maka diberi persalin oleh Raja Syahsyian akan segala raja-raja itu dengan pakaian yang indah-indah. Setelah itu maka Indraputra dan tuan putri diarak oranglah kembali ke istana dengan segala bunyi-bunyian. Setelah sampai ke istana maka tuan putri dan Indraputra didudukkan di atas puspa pemajangan makan nasi adap-adap. Setelah itu maka Raja Syahsyian memberi mengatur segala raja-raja dan segala menteri makan. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang. Maka biduan yang baik suaranya pun berbunyilah. Maka segala raja-raja yang muda pun berbangkit menari melakukan kesukaan. Maka segala orang dalam negeri itu semuanya suka sehari-hari melihat orang bermain itu, tiadalah ia ingat akan dirinya dan tiada ingatkan rumahnya. Sebermula setelah berapa lama Indraputra sudah duduk dengan tuan putri Mengindra Sari Bunga makan minum, bersuka-sukaan dengan segala raja-raja, hatta pada suatu hari maka Indraputra pun tercinta akan ayahanda bunda baginda. Maka Indraputra datang mengadap Raja Syahsyian, maka sembahnya, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun patik meninggalkan ayah bundah patik sudah lama. Sekarang patik hendak bermohon ke bawah duli tuanku patik hendak kembali ke negeri patik." Maka titah Raja Syahsyian, "Hai anakku, mana kehendak hati tuan tiada ayahanda tahan. Adapun adinda putri Mengindra Sari Bunga itu telah ayahanda serahkan kepada anakda. Mana perintah tuan." Setelah demikian maka Indraputra menyuruh berbuat bahtera terlalu besar dan panjang. Maka segala raja-raja dan segala anak raja-raja pun menyuruh berbuat lancang dan pilang sebuah seorang. Setelah sudah bahtera itu, maka dibuatnya pula tahta kerajaan dan sehinggasana daripada emas dan perak bertatahkan ratna mutu manikam dan pada kemuncak sehinggasana itu dibubuhnya kemala itu dan diberinya berumbai-rumbaikan mutiara. Maka di hadapan sehinggasana itu dibubuhnya hamparan daripada suf sahlat ainulbanat dan beledu hatipah. Sebermula maka Raja Syahsyian memberi Indraputra beberapa emas dan perak dan ratna mutu manikam dan tuan putri Mengindra Sari Bunga berapa pakaian yang indah-indah dan perkakas yang mulia-mulia. Bermula setelah sudah lengkap bahtera kenaikan Indraputra dan lancang pilang, segala raja-raja itu maka berbuatlah segala lancang dan pilang dan bahtera, Indraputra pun bermuatlah. Maka Indraputra dan tuan putri Mengindra Sari Bunga pun mohonlah kepada ayahanda bunda baginda. Maka Raja Syahsyian laki istri memeluk mencium anakda baginda, maka titah Raja Syahsyian kepada Indraputra, "Hai anakku, petaruh ayahandalah adinda putri Mengindra Sari Bunga kepada tuan." Maka putri Mengindra Sari Bunga pun bertangis-tangisan dengan ayahanda bunda baginda. Maka istri Indraputra yang ketiga itu pun datang bermohon datang menyembah Raja Syahsyian laki istri. Maka

baginda laki istri pun heran melihat baik paras rupa istri Indraputra yang ketiga orang itu. Setelah Indraputra sudah bermohonlah laki istri kepada Raja Syahsyian maka Indraputra pun turunlah ke bahteranya membawa istrinyanya yang keempat itu. Maka Raja Syahsyian pun mengantarkankan anakda baginda turun ke bahtera. Maka segala dayang-dayang itu pun semuanya turun ke bahtera dengan segala inang pengasuh, biti-biti perwara sekalian. Maka Raja Puspa Pandai dan Raja Dewa Lela Mengerna pun bermohon kepada Raja Syahsyian, dan Nabat Rum Syah dengan segala anak raja-raja itu semuanya menyembah Raja Syahsyian. Maka dipeluk dicium oleh Raja Syahsyian segala anak raja-raja itu. Maka Raja Syahsyian berkirim salam doa kepada Raja Bikrama Bispa. Setelah Indraputra turun ke bahtera, maka berbunyilah segala bunyi-bunyian dan terkembanglah payung mutia dikarang dan ratna dikarang. Maka berdirilah segala panji-panji yang keemasan pada segala lancang dan pilang itu bagai-bagai rupanya, syahdan gemuruh bunyi tempik soraknya. Maka bahtera Indraputra dan lancang pilang-pilangpelang segala raja-raja itu berlayarlah. Maka penuhlah rupanya laut itu oleh lancang dan pilang segala anak raja-raja itu. Maka angin yang paksa pun bertiuplah. Maka beberapa melalui harus yang keras. Hatta maka Indraputra dan segala raja-raja itu sampailah kepada sebuah pulau. Maka turunlah Indraputra dengan raja-raja sekalian bermain pada pulau itu mengambil ikan dan kerang-kerangan bagai-bagai rupanya dan bagai-bagai rasanya. Maka barang di mana ada pulau yang baik, di mana singgah bermain dan mandi mengambil ikan dan kerang-kerangan, dan di mana pantai yang baik, di sana singgah bermain dan mengambil buah-buahan. Hatta maka Indraputra dengan segala raja-raja itu tiga bulan lamanya berlayar dalam laut maka sampailah ke laut Negeri Samantapuri. Setelah dilihat oleh segala orang yang mengambil ikan dan orang pemukat dan orang mengail dan orang menjala maka sekaliannya terkejut takut lari pulang memberi tahu perdana menteri. Yang tiada sempat diambilnya jalanya dan pukatnya, ditinggalkannya jalanya dan pukatnya. Maka ia lari ke darat memberi tahu mangkubumi, katanya, "Ya tuhankuku mangkubumi, banyak datang di laut lancang dan pilang. Entah musuh gerangan itu rupanya!" Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera ini demikian bunyinya: Selama Indraputra hilang diterbangkan merak emas itu Raja Bikrama Bispa tiada duduk dalam istana, hanya duduk dalam mesjid juga dengan segala pendeta, berbuat ibadat dan minta doa kepada Allah taala, supaya bertemu dengan anakda baginda Indraputra. Hatta maka perdana menteri pun mengadap Raja Bikrama Bispa, maka sembahnya, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun khabar segala orang yang datang dari laut, banyak lancang dan pilang pada laut kita ini. Entah musuh, entah apa tiada diketahuan." Maka titah Maharaja Bikrama Bispa, "Hai mangkubumi, mana bicara tuan hambalah, hamba tiada tahu." Setelah mangkubumi mendengar titah Maharaja Bikrama Bispa demikian, maka mangkubumi pun menyembah lalu keluar musyawarat dengan segala menteri dan hulubalang. Maka dilengkapinya empat buah perahu,

dua buah pencalang berisi senjata dan dua buah kelolos berisi makanan. Maka keempatnya perahu itu disuruhnya pergi ke laut, maka bertemulah dengan anak raja mambang. Kedua lancangnya terlalu indah-indah rupa lancangnya, panji-panjinya daripada beledu merah beremas, maka kibaranlah rumbai-rumbai mutianya dan gemerlapan rupa daun bedinya. Syahdan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya terlalu riuh bunyinya, tempik soraknya bunyi-bunyiannya terlalu azmat. Rupa lancangnya seperti burung terbang. Maka dilambainya dengan cemara putih. Maka dibalasnya dengan cemara kuning seraya dikercingnya dayungnya ranak-ranak. Maka kata orang melaut itu, "Ini anak raja mambang rupanya." Maka ia pun bertanya, tiada kedengaran oleh daripada gelak bunyi tempik soraknya dengan bunyi-bunyian, maka tiada sempat lagi bertanya. Setelah itu maka bertemulah pula dengan lancang Raja Puspa Pandai, terlalu indah-indah perbuatannya. Panji-panjinya daripada gelam beremas, berkibaran jumbu-jumbunya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya, terlalu azmat bunyi-bunyiannya rupa lancangnya seperti kilat. Segala isi lancang itu kera dan beruk, lutung, ganggang siamang yang juru dayungnya. Maka orang laut itu pun heran melihat. Maka tiadalah sempat bertanya lagi, sabur dengan bunyi-bunyian. Setelah itu maka datanglah lancang Indra Jailani dua bersaudara. Lancang itu daripada kayu cendana ditatah dengan lazuardi, terlalu indah-indah perbuatannya. panji-panjinya daripada hatipah beremas, syahdan berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan gemerlapan rupa daun bedinya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya dan gemercik bunyi dayungnya, gemuruh bunyi soraknya dan gempita bunyi-bunyiannya, terlalu tangkas rupa lancangnya. Maka orang yang melaut itu pun tiada sempat bertanya, karena riuh dengan bunyi-bunyian terlalu azmat. Maka bertemulah pula dengan lancang Raja Gurantar Syah daripada kayu gaharu dan panji-panjinya kemik ungu beremas, berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya, gemerlapan rupa daun bedinya, gemercik bunyi dayungnya, liuk lenggang rupa lancangnya, terlalu azmat bunyi-bunyiannya rupa lancangnya terlalu tangkas. Maka orang melaut itu pun tiada sempat bertanya lagi. Maka bertemu pula dengan lancang segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh di padang Anta Berahi, berbagai-bagai rupa lancangnya, panji-panjinya berbagai-bagai rupanya. Sekalian beremas berkibaran jumbu-jumbu mutianya dan gemerlapan rupa daun bedinya dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya, terlalu azmat bunyi-bunyiannya dan gemercik bunyi dayungnya, liuk lenggang rupa lancangnya gemuruh bunyi soraknya. Maka orang melaut itu pun tiada sempat bertanya. Setelah itu bertemu pula dengan lancang dan pilang terlalu banyak segala anak raja-raja di Tasik Bahrul Asyik bagai-bagai rupa lancangnya, terlalu indah-indah perbuatannya segala lancang dan pilang itu. Syahdan berbagai-bagai panji-panjinya, sekalian beremas, berumbai-rumbaikan mutiara, berkibaran jumbu-jumbunya dan gemerencing dan kemuncak gegetarnya, syahdan gemerlapan daun bedinya dan gemercik bunyi dayungnya dan liuk lenggang rupa lancangnya, gemuruh bunyi

soraknya, terlalu azmat bunyi-bunyiannya dan terlalu tangkas lancangnya. Maka orang yang melaut itu pun tiada sempat bertanya lagi. Maka bertemu pula dengan lancang Nabat Rum Syah daripada kayu khalambak ditatah dengan emas, beberapa ukir dan keluk, panji-panjinya daripada dewangga merah beremas, dan berkibaran jumbu-jumbunya, dan gemerlapan rupa daun bedinya, dan gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya, syahdan gemercik bunyi dayungnya dan liuk lenggang rupa lancangnya. Maka terkembanglah payung mutia dikarang terlalu azmat bunyinya. Maka orang melaut itu pun tiada sempat bertanya. Setelah itu maka bertemulah pula dengan lancang Raja Dewa Lela Mengerna daripada pualam bersendi-sendi dengan gading ditatah dengan emas, panji-panjinya daripada hatipah hijau beremas, berkibaran jumbu-jumbu mutianya, gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya gemerlapan rumbai-rumbainya, liuk lenggang rupa lancangnya, Sambar-menyambar rupa dayungnya, gemuruh bunyi soraknya, terlalu gempita bunyi-bunyiannya. Maka terkembanglah payung ratna dikarang. Maka orang melaut itu pun heran tercengang tiada sempat bertanya lagi. Hatta maka datanglah bahtera Indraputra terlalu besar seperti sebuah pulau rupanya terlalu indah-indah, panji-panjinya daripada kemik kuning beremas, berkibaran jumbu-jumbu mutianya, gemerencing bunyi kemuncak gegetarnya, gemerlapan rumbai-rumbai mutianya. Maka terkembanglah payung intan dikarang, sambar-menyambar rupanya dayungnya, liuk lenggang rupa lancangnya, gemuruh bunyi soraknya, terlalu azmat bunyi-bunyiannya. Maka dilambai oleh orang melaut itu dengan cemara putih, maka dibalasnya dengan cemara kuning. Setelah dilihat Indraputra orang datang melaut itu maka disuruhnya perhentikan segala dayung, maka orang melaut itu pun hampirlah bertanya, katanya, "Bahtera dari mana ini dan siapa nama penghulunya? Apa kehendaknya datang kemari?" Maka disahut oleh orang dalam bahtera itu, katanya, "Bahtera ini bahtera Maharaja Indraputra anak Maharaja Bikrama Bispa, yang diterbang[kan] merak emas. Sekarang baginda ini kembali hendak bertemu dengan ayahanda baginda." Setelah didengar oleh orang yang melaut itu maka dikepilkannya perahunya lalu ia naik mengadap Indraputra serta sujud menyembah kaki Indraputra, seraya menangis katanya, "Selama tuhankuku hilang, paduka ayahanda nentiasa masygul dengan menangis juga, bercintakan tuanku tiada duduk di istana, hanya dalam mesjid juga berbuat ibadat." Setelah Indraputra mendengar kata orang itu maka berlinang-linang air matanya, maka kata Indraputra kepada orang yang datang melaut itu, "Pergilah persembahkan kepada ayahanda bunda, katakan aku datang dan katakan aku empunya sembah kepada ayahanda bunda." Maka orang itu pun menyembah kaki Indraputra lalu turun ke perahunya. Maka segala makanan dan buah-buahan yang dibawanya itu semuanya dipersembahkannya kepada Indraputra. Maka disuruh bahagikan oleh Indraputra kepada segala orang dalam bahtera itu. Maka orang yang melaut itu pun kembali ke darat lalu pergi mengadap Mangkubumi, maka katanya, "Ya tuanku perdana menteri, adapun yang datang itu bukannya musuh. Itulah anak yang dipertuan Indraputra

yang hilang itu." Setelah perdana menteri menengar kata orang itu maka mangkubumi segera pergi mengadap raja dengan orang yang melaut itu. Setelah datang ke hadapan Maharaja Bikrama Bispa maka mangkubumi dengan orang melaut itu pun menyembah Maharaja Bikrama Bispa, maka sembahnya, "Ya tuhankuku Syah Alam, adapun segala lancang dan pilang yang datang itu bukannya musuh. Itulah paduka anakda Indraputra, yang hilang diterbangkan merak emas itu, sekarang ia datang mendapatkan duli tuhankuku." Maka diceriterakannya segala penglihatannya itu. Setelah Maharaja Bikrama Bispa mendengar sembah orang itu maka baginda pun terlalu sukacita lalu berangkat kembali ke istana menyuruh mengimpunkankan segala raja-raja dan menteri hulubalang, dan menyuruh mengias istana dan balai pengadapanan, dan menyuruh membaiki segala jalan dan lorong. Maka dihampari oranglah jalan Indraputra itu dengan permadani dan sahlat. Syahdan sepuluh tabak emas dan sepuluh tabak perak dan sepuluh tabak permata disuruh hamburkan di jalan, jikalau Indraputra naik; dan beberapa air mawar dan narwastu dihadir orang akan disiramkan pada segala raja-raja yang datang dengan Indraputra itu. Pada s[em]uanyanya tabak empat orang menteri yang menjagai dia. Setelah sampailah bahtera Indraputra dengan lancang dan pilang segala raja-raja itu, maka disuruh dapatkan oleh Maharaja Bikrama Bispa anakda Indraputra itu kepada mangkubumi dan segala raja-raja. Maka beberapa gajah dan kuda, syahdan julai jempana ratna dihadirkan orang pergi menjemput Indraputra itu. Setelah mangkubumi dan segala raja-raja itu sampai ke bahtera maka segera ditegur Indraputra. Maka mangkubumi dan segala raja-raja itu sampai ke bahtera menyembah Indraputra seraya berkata, "Tuanku disuruh sambut oleh paduka ayahanda bunda." Maka Indraputra pun memakailah dengan putri keempat itu dengan segala raja-raja. Setelah sudah memakai lalu turun ke darat. Maka putri keempat itu naik usungan jempana ratna diiringkan oleh segala bini menteri dan bini orang kaya-kaya sekalian. Maka Indraputra dengan segala anak raja-raja itu naik gajah; ada yang naik kuda, maka berjalanlah lalu ke dalam kota diiringkan segala raja-raja dan menteri hulubalang dengan rakyat sekalian bunyi-bunyian. Maka segala emas dan perak itu, permata itu ditaburkan oleh segala menteri itu kepada Indraputra dan segala raja-raja itu dengan air mawar, narwastu. Maka Indraputra dengan segala raja-raja itu berjalan di atas permadani itu. Maka segala raja yang bersama-sama dengan Indraputra itu heran melihat kekayaan Maharaja Bikrama Bispa itu. Maka segala fakir miskin pun jadi kayalah daripada memungut emas dan perak permata itu. Maka Indraputra dengan istrinyanya keempat itu pun sampailah ke istana. Maka Indraputra berlari-lari datang sujud menyembah kaki ayahanda bunda baginda, maka segera dipeluk dicium oleh ayahanda bunda baginda seraya menangis. Maka istri Indraputra putri keempat itu pun datanglah lalu menyembah kepada Raja Bikrama Bispa laki istri, maka segera disambut oleh baginda seraya dipeluk dan diciumnya. Maka baginda laki istri pun terlalu sukacita oleh bertemu dengan anakda baginda dan melihat

menantu baginda empat orang itu. Maka di(du)dukkankan di atas peterana yang keemasan. Maka Maharaja Bikrama Bispa dengan anakda Indraputra keluar ke balairung mendapatkan segala raja-raja itu. Maka segala raja-raja itu didudukkan di atas kursi yang keemasan, seorang satu. Maka segala raja-raja itu semua menyembah Maharaja Bikrama Bispa. Maka disambut oleh Maharaja Bikrama Bispa dengan hormatnya. Maka sirih pada jorong emas dan jorong perak dan jorong tembaga suasa pun dibawa oranglah ke hadapan segala raja-raja itu. Maka segala raja-raja itu pun makanlah sirih. Setelah sudah makan sirih maka hidangan pun diangkat oranglah ke hadapan segala raja-raja itu. Maka segala raja-raja dan segala menteri hulubalang sekalian pun makanlah masing-masing dengan hidangannya. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat oranglah. Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan orang. Maka segala bunyi-bunyian pun berbunyilah. Maka biduan yang baik suaranya pun berbunyilah. Adapun Maharaja Bikrama Bispa menjamu segala raja-raja itu empat puluh hari empat puluh malam bersuka-sukaan, makan minum. Setelah itu maka Maharaja Bikrama Bispa memberi persalin akan segala raja-raja itu dengan persalin yang indah-indah serba keemasan. Setelah itu maka Maharaja Bikrama Bispa menyuruh berbuat pancapersada sembilan belas pangkat daripada gading dan kayu harang bersendi-sendi dengan pualam dan berumbai-rumbaikan mutia. Syahdan pada kemuncak pancapersada itu ada dibubuhnya sebuah kemala amat bercahaya-cahaya. Maka diperbuat Raja Dewa Lela Mengerna di hadapan pancapersada itu naga empat ekor terlalu indah-indah rupanya. syahdan maka diperbuat Nabat Rum Syah di atas pancapersada itu seekor gerda tujuh kepalanya terlalu indah-indah. Setelah itu maka diperbuatnya oleh segala raja-raja itu jempana terlalu indah-indah perbuatannya bertatahkan ratna mutu manikam. Tujuh angkat jempana itu diperbuatnya; pada suatu pangkat pagar jala-jalanya daripada biduri dikarang, dan kedua pangkat pagar jala-jalanya daripada nilam dikarang, dan ketiga pangkat pagar jala-jalanya daripada pualam dikarang, dan keempat pagar jala-jalanya daripada mutia dikarang, dan kelima pangkat pagar jala-jalanya daripada puadai dikarang, dan keenam pangkat pagar jala-jalanya daripada ratna dikarang, dan ketujuh pangkat pagar jala-jalanya daripada zamrut dikarang. Maka pada segala pangkat itu diperbuatnya berjentera, pertama gerda mengusir gajah, gajah mengusir harimau, harimau mengusir rusa, rusa mengusir kijang. Demikianlah diperbuatnya jempana itu dan beberapa pula ukir dan nakas awan dan mega, bagai-bagai bunga yang indah-indah. Setelah sudah jempana itu maka Maharaja Bikrama Bispa memulai berjaga-jaga, makan minum dengan segala bunyi-bunyian. Setelah genap tujuh hari tujuh malam makan minum dengan segala bunyi-bunyian, maka Indraputra dengan tuan putri keempat memakai pakaian yang indah-indah serba keemasan. Setelah sudah maka Indraputra dengan tuan putri keempat pun naiklah ke atas jempana ratna itu duduk satu seorang peterana yang keemasan. Maka pada pangkat yang di bawah segala dayang-dayang mengadap tuan putri, dan pada yang sepangkat segala anak abantara memangku pedang kerajaan, dan pada keempat [pangkat] segala anak menteri memangku keris yang keemasan, dan pada kelima pangkat segala anak

petuanan membawa kendi keemasan dan keenam pangkat segala orang kaya-kaya membawa perisyai yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, dan pada ketujuh pangkat segala anak biduanda menyelampai kain yang keemasan. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian terlalu ramai. Maka berdirilah tunggul dan panji-panji. Syahdan terkembanglah payung mutia dikarang dan payung ratna dikarang. Maka terdirilah cogan alamat kerajaan. Maka Indraputra pun diarak oranglah dengan tuan putri keempat seperti dian di dalam tanglung, diiringkan segala raja-raja dan menteri dan hulubalang dengan rakyat sekalian dengan segala bunyi-bunyian terlalu azmat bunyinya. Maka jempana itu pun berkisar sendirinya. Maka berbunyilah rumbai-rumbai mutianya dan gemerlapan daunnya bedinya. Maka Indraputra pun sampailah ke pancapersada itu lalu naik ke atas pancapersada itu dengan tuan putri keempat. Maka dilabuhkan oranglah tirai dewangga yang keemasan itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna mengeluarkan air mawar daripada mulut naga. Maka Nabat Rum Syah mengeluarkan langir daripada mulut gerda itu terlalu harum baunya seperti narwastu. Maka Maharaja Bikrama Bispa laki istri melangiri Indraputra dengan tuan putri keempat. Maka Raja Puspa Pandai mengeluarkan bedak daripada mulut singa, baunya seperti kesturi. Setelah sudah Indraputra dengan tuan putri keempat berbedak dan berlangir lalu mandi air keluar daripada mulut naga itu seperti bau air mawar. Maka segala raja-raja dan menteri hulubalang dan segala rakyat kecil besar semuanya turut mandi. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian, sorak orang seperti tagar. Segala anak raja-raja itu mandi bersembur-semburan terlalu ramai. Maka anak raja mambang kedua turun ke laut menjadikan dirinya naga dua ekor. Adapun naga itu bersisikkan emas dan berculakan manikam terlalu ajaib rupanya. Maka kedua naga itu berjuanglah dalam laut itu, gemuruh bunyinya seperti petir. Maka laut itu pun berombak dan berbuih. Maka Maharaja Bikrama Bispa dengan segala orang banyak semuanya heran melihat naga dua ekor itu berjuang. Maka segala raja-raja itu semuanya bersorak gemuruh bunyinya. Hatta maka Indra Jailani dan Mihran Aradkas menjadikan dirinya gerda dengan burung jentayu, terlalu ajaib rupanya. Maka gerda dan burung jentayu itu pun sambar-menyambar di udara terlalu ramai. Maka keluar api memancar-mancar daripada sayap gerda dan jentayu itu. Maka segala orang yang melihat sekalian heran. Maka Raja Dewa Lela Mengerna melotarkankan bajunya ke laut, maka menjadi sebuah pulau. Maka Nabat Rum Syah melotarkankan bajunya ke udara, maka menjadi mega. Maka mega itu jatuh ke pulau itu menjadi sepohon kayu beraksa. Setelah itu maka Raja Puspa Pandai memanah ke udara, maka anak panahnya itu menjadi hujan air mawar dan narwastu. Maka segala orang isi negeri itu sekalian heran melihat kesaktian segala raja-raja itu. Maka Maharaja Bikrama Bispa memberi persalin akan segala raja-raja dengan pakaian yang mulia-mulia. Maka segala raja-raja itu pun bersalin pakaian. Bermula Indraputra dan tuan putri keempat setelah sudah mandi, maka memakai bau-bauan dan memakai pakaian yang indah-indah.

Setelah sudah maka bunyilah segala bunyi-bunyian dan terkembanglah payung mutia dikarang. Maka terdirilah cogan alamat kerajaan. Maka Indraputra dan tuan putri pun beraraklah berkeliling negeri lalu ke istana. Maka Maharaja Bikrama Bispa memegang tangan anakda baginda Indraputra, didudukkan di atas tahta kerajaan sehinggasana. Maka Raja Bikrama Bispa pun menyembah anakda baginda Indraputra. Setelah itu maka segala raja-raja menyembah Indraputra. Setelah itu maka segala menteri dan mangkubumi dan segala hulubalang, abantara, sida-sida, dan segala rakyat kecil besar, hina dina sekalian menyembah Indraputra dan menjunjung duli baginda Indraputra. Maka berdirilah cogan alamat kerajaan. Maka genderang nobat pun dipalu oranglah. Maka Maharaja Indraputra pun tujuh kali pada sehari ditabalkan dan tujuh kali pada sehari orang menjunjung duli Maharaja Indraputra. Sekalian raja-raja dan menteri hulubalang, abantara semuanya sujud menyembah menjunjung duli Indraputra dan minta doakan Maharaja Indraputra selamat, kekal dalam kerajaan. Maka Maharaja Indraputra digelar oleh ayahanda baginda Paduka Sri Sultan Indra Mengindra. Setelah itu maka segala raja-raja itu pun masing-masing duduk di atas kursi yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam. Maka segala menteri dan hulubalang masing-masing duduk pada tempatnya dengan segala abantara sekalian. Setelah itu maka hidangan pun diangkat oranglah. Setelah sudah makan maka minuman pula diangkat orang, maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam itu pun diperedarkan oranglah. Maka berbunyilah segala bunyi-bunyian empat puluh hari empat puluh malam, makan minum bersuka-sukaan. Setelah itu maka Maharaja Bikrama Bispa menyuruh membuka tujuh buah gedung yang berisi pakaian yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, diberikan persalin akan segala raja-raja dan menteri hulubalang, abantara dan segala orang kaya-kaya sekalian. Setelah itu maka memberi pula sedekah pada segala fakir dan miskin dan memberi sedekah pada segala pendeta dan ulama. Maka habislah arta isi tujuh buah gedung itu disedekahkan. Sebermula setelah selesailah sudah daripada pekerjaanan merajakan Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra itu maka segala raja-raja itu sekalian hendak kembali ke negerinya. Maka Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra pun menangis oleh bercerai dengan segala raja-raja itu. Maka Raja Dewa Lela Mengerna dan Nabat Rum Syah dan Raja Puspa Pandai dengan anaknya Dinar Pandai dan segala anak raja-raja yang kurang esa empat puluh di padang Anta Berahi dan segala anak raja-raja yang pada Tasik Bahrul Asyik dan anak raja mambang kedua dan Raja Gurantar Syah dengan Indra Jailani dan Mihran Aradkas sekaliannya bermohon menyembah Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra dan menyembah kepada Sri Maharaja Bikrama Bispa. Maka segala raja-raja itu dipeluk cium oleh baginda dan bertangis-tangisan. Maka segala menteri dan hulubalang pun turut menangis. Maka segala orang dalam negeri itu semuanya turut menangis oleh sebab bercerai dengan sahabatnya dan pilu hatinya, karena selama Paduka Sri Sultan Indra Mengindra datang itu terlalu ramai segala raja-raja dan anak raja-raja dalam negeri itu. Maka sekalian pilu hatinya, karena bercerai dengan handai taulannya.

Maka titah Paduka Sri Sultan Indra Mengindra pada segala raja-raja itu, "Hai saudaraku sekalian, pada hati hamba, jikalau hamba beroleh kerajaan seperti kerajaan Raja Sulaiman sekalipun, pada hati hamba tiada hamba samakan dengan saudaraku sekalian!" Maka sembah segala raja-raja itu, "Ya tuhankuku Syah Alam, sebenarnyalah seperti titah tuhankuku itu, sepenuhnyalah kepada hamba sekalian." Setelah itu maka Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra pun berkirim sembah kepada Raja Tahir Johan Syah dan kepada Raja Mujtadar Syah dan berkirim sembah kepada Raja Gohar Hinis dan Raja Tulela Syah. Setelah itu maka baginda berpeluk bercium dan bertangis-tangisan dengan perdana menteri dan beberapa arta emas dan perak (dan) diberikan baginda kepada perdana menteri. Maka baginda berkirim sembah kepada Raja Syahsyian. Sebermula maka Nabat Rum Syah pun memohon kepada adinda baginda tuan putri Jumjum Ratnadewi. Maka tuan putri Jumjum Ratnadewi menyembah kakanda Baginda Nabat Rum Syah seraya bertangis-tangisan. Maka Putri Jumjum Ratnadewi berkirim surat kepada ayahanda bunda baginda dan berkirim salam kepada tuan putri Candralela Nurlela. Setelah itu maka Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra pun berpeluk dan bercium bertangis-tangisan dengan segala raja-raja itu. Maka titah baginda, "Hai segala saudaraku sekalian, jangan lupakan hamba! Jikalau ada barang kerja hamba suruh jemput saudaraku sekalian, hendaklah datang; dan segala saudaraku pun jikalau ada barang kerja saudaraku, jangan tidak menyuruh memberi tahu hamba." Maka sahut segala raja-raja itu, "Sebenarnyalah seperti titah tuhankuku itu. Hamba sekalian pun jikalau ada lagi hayat hamba sekalian, setahun sekali datang juga hamba sekalian mengadap tuhankuku." Setelah itu maka segala raja-raja itu pun bermohon menyembah Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra dan Sri Maharaja Bikrama Bispa lalu masing-masing turun ke lancangnya. Ada yang turun ke pilangnyanya lalu berlayar pulang ke negerinya masing-masing, ada yang ke padang Belanta Heran, ada yang ke padang Belanta Ajaib, ada yang ke Pulau Biram Dewa, ada yang ke Tasik Bahrul Asyik, ada yang ke Negeri Rainun, masing-masing pulang ke negerinya selamat sempurna. Maka Paduka Sri Sultan Maharaja Indra Mengindra tetaplah dalam kerajaan dengan adilnya dan murahnya, nentiasa bersuka-sukaan dan ayahanda baginda, memangku baginda kerajaan dalam Negeri Samantapuri seperti air dalam talam, limpah pada segala rakyat. Tamat Hikayat Indraputra pada Hijrat seribu seratus sepuluh esa pada sembilan likur hari bulan Rajab pada hari Arbaa dan pada waktu loha.